
Arya berdiri tegap menatap kedua insan dihadapannya. Tanpa ekspresi. Tiba-tiba rasa dingin menyeruak dalam hati Alena. Nyali gadis itu seketika menciut. Tubuh mungilnya mengkerut disudut kursi.
"Ada urusan apa kamu dengan adik saya?" Arya menggeram, menatap jari tangan keduanya yang saling bertautan diatas meja.
Alena menggerakkan tangannya, bermaksud melepaskan jari-jari mereka. Namun Hardi malah mengeratkan tautannya di jari tangan Alena.
"Hanya urusan pribadi, Pak." katanya.
Arya menghela napasnya dalam-dalam. Menatap wajah tirus adiknya yang terlihat pias, ketakutan. Seperti tertangkap basah telah melakukan kejahatan.
"Pulang." katanya, segera menghampiri Dilan yang asyik menatap layar ponsel di depannya. Meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya di pelukan. Kemudian berjalan keluar.
Alena bangkit, berusaha melepaskan genggaman tangan Hardi yang begitu erat.
"Please!!" Alena mengiba.
Hardi menggeleng. "Mungkin ini saatnya!" katanya, berbisik.
Alena pun menggeleng. "Nggak sekarang!" katanya, balas berbisik.
"Alena!!" suara Arya menggelegar, membuat sebagian pengunjung kafe mengalihkan perhatian mereka.
Alena terhenyak, segera menyentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Hardi.
Setengah berlari gadis itu mengikuti langkah Kakak laki-lakinya, setelah mampu melepaskan tangannya dari genggaman Hardi.
Sementara, pria 26 tahun itu hanya mematung menelan kekecewaan.
*
*
*
Suasana hening di dalam mobil. Tak ada yang berniat memulai percakapan. Alena menutup mulutnya rapat-rapat, memeluk erat tubuh kecil putranya yang terlelap di dekapannya. Sambil berharap Arya pun tak memulai pembicaraan.
"Kamu ada hubungan apa dengan dia?" Arya mengakhiri keheningan itu.
Alena terdiam, memutar otaknya mencari jawaban yang tepat.
"Ee ... nggak ada," katanya, mencoba menyelamatkan diri.
"Apa kecurigaan Abang selama ini benar?" Arya kembali bertanya, geraman kemarahan terdengar jelas.
"Aaapa?" Alena tergagap, menoleh ke arah kakak laki-lakinya tersebut.
Arya menghela napasnya dalam-dalam. kedua tangannya mencengkeram stir begitu kuat hingga terlihat urat-urat tangannya yang menonjol. Menahan amarahnya.
Sementara adik perempuannya memejamkan mata, bersiap menerima semburan kemarahan yang mungkin akan segera terjadi.
"Entah kenapa, Abang merasa kalau dia sangat mirip dengan Dilan." Arya dengan suara bergetar. "Semakin lama di perhatikan, mereka terlihat semakin mirip. Dan Abang benci mengingat itu semua.!" kedua rahangnya mengeras.
Alena masih bungkam, mencerna kata-kata yang keluar dari mulut kakaknya tersebut. Terdengar seperti pertanyaan yang mengandung jebakan.
"Katakan kalau itu bukan dia!!" nada suaranya masih mengandung geraman.
Alena mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Dilan yang terlelap. Air mata tiba-tiba saja mengalir di pipinya. Gadis itu tertunduk menempelkan wajahnya di kepala putranya.
Kedua lututnya terasa lemas, tak percaya dia harus menghadapi ini sendirian. Menghadapi kemarahan Arya sendirian.
"Katakan, dia bukan si pecundang yang telah meninggalkan kamu dulu!!" Arya kembali mencercanya dengan pertanyaan yang tak mampu dijawab.
Terdengar isakan lolos dari bibir gadis itu.
Arya memejamkan matanya sebentar, lagi-lagi berusaha menahan amarahnya yang bertubi-tubi menyerangnya.
*
*
Mereka telah sampai di pekarangan. Alena segera berlari keluar dari dalam mobil dan memasuki rumah, langsung menuju kamarnya dilantai dua bangunan minimalis itu.
Menutup pintunya rapat-rapat, kemudian menidurkan tubuh kecil putranya.
Gadis itu tertegun di tepi ranjang menatap wajah tampan anaknya yang terlelap.
Ya, mereka memang mirip. Sangat mirip. Siapapun yang memandang keduanya ketika bersama pasti akan menyangka kalau mereka memang ayah dan anak. Tak bisa dipungkiri.
Hanya saja Alena tak mampu menjawab pertanyaan Kakak laki-lakinya tersebut dengan jujur. Dia ingin menghindar, kalau perlu berlari dari hadapan Arya. Dia tak mampu menghadapi kemarahan yang mungkin akan segera meledak dari kakaknya tersebut.
Apa sekarang memang sudah saatnya? Oh ... tidak mungkin seperti ini!! Aku tak bisa!!
Mendadak dia berharap Hardi datang dan segera membawanya pergi dari rumah ini. Kabur sejauh mungkin. Lari dari kemarahan Arya.
*
*
Gadis itu menggeser tombol hijau,
"Kamu baik-baik aja?" suara dari seberang sana terdengar panik.
"Bang Arya tahu." jawabnya, setengah berbisik.
"Apa? kenapa?" Hardi tergagap.
"Bang Arya sudah tahu." Alena dengan terisak.
Hening dari seberang sana.
"Kak?? Aku harus apa?" Alena dengan suara terputus-putus.
Terdengar deru napas yang memburu.
"Bersiaplah, aku kesana sekarang.!!" jawab Hardi dari seberang sana. Kemudian telpon ditutup.
Tubuh gadis itu melorot, rasa lemas mulai menyerangnya. Dia merasa bagai kriminal yang tengah menanti hukuman mati.
*
*
Hardi memacu kendaraan nya secepat mungkin. Saat ini tak ada hal lain dalam kepalanya selain membawa Alena dan Anaknya pergi dari sana. Walaupun harus menghadapi gunung es bernama Arya terlebih dahulu. Tak ada hal lain.
Hardi sampai di depan rumah minimalis itu dalam hitungan menit. Kini dia tengah berdiri di depan pintu, menanti seseorang muncul.
Pintu pun terbuka. Seorang pria tinggi setara dengannya muncul dari balik pintu. Dengan wajah dingin dan tatapan menusuk, menggetarkan sedikit nyalinya. Namun Hardi tak lagi punya waktu untuk mundur.
"Aku mau ketemu Alena." katanya, tanpa basa basi. Menyadari dirinya telah tertangkap basah.
"Pergilah, tak ada yang menginginkanmu disini!!" Arya melipat kedua tangannya di dada.
"Aku mau ketemu Alena!!" katanya lagi, mengeraskan suara.
Terdengar suara langkah dari lantai atas. Alena setengah berlari menuruni tangga. Hingga di dua tangga terakhir gadis itu berhenti. Menatap keluar, mendapati ayah dari anaknya tengah berdiri di ambang pintu.
Hardi mendongak. Menatap sosok yang berdiri ditangga. Kemudian kembali menoleh ke arah Arya.
"Aku akan meminta dengan baik-baik." menarik napasnya pelan. Mencoba tenang.
Arya masih berdiri kokoh ditempatnya.
"Aku meminta kepadamu, untuk mengijinkan aku membawa mereka pergi." Hardi menatap wajah dingin diambang pintu.
"Apa hakmu meminta hal semacam itu.? Kamu bukan siapa-siapa bagi mereka." Arya tak bergerak di tempat dia berdiri.
"Dilan anakku!" katanya, dengan suara bergetar.
"Hhh ..." Arya mendengus, "Anak." Dengan tatapan makin menusuk seakan ingin mencabik-cabik pemuda di hadapannya.
"Aku tak ingat ada yang pernah datang dan mengakui perbuatannya pada adikku. Yang aku ingat adikku menanggung beban itu sendirian."
Hardi kembali melirik Alena yang masih terpaku ditangga.
"Dia tak membutuhkan kamu. Aku bisa merawatnya sendiri."
"Alena,?" Hardi menatap mata bulat yang berkaca-kaca itu.
"Aku tidak akan menyerahkan dia pada pecundang sepertimu. Kamu tak pantas bersama dia!!" Arya berniat menutup pintu ketika Hardi mengulurkan tangan untuk menahannya.
"Pergilah, selagi aku masih bisa mengendalikan diri!" Arya masih dengan wajah datar dan tatapan dinginnya.
"Dilan anakku!!" Hardi dengan kedua tangan yang masih bertumpu di pintu.
"Yang kamu tinggalkan!!" Arya dengan gerakannya.
"Aku tidak akan pergi sampai Alena ikut denganku." Hardi mendorong pintu pintu perlahan, pandangannya tetap tertuju pada sosok yang terpaku di tangga.
*
*
*
Bersambung ....