ALENA

ALENA
69. Yes, I Do



Mereka tiba dikediaman orang tua Hardi pada sore hari. Kedatangan nya disambut dengan hangat, Seperti sudah lama dinanti.


Kedua orang tua Hardi menyambut mereka di ambang pintu. Si kecil Dilan langsung berlari ke arah mereka begitu diturunkan dari gendongan Alena, dan segera mendapatkan pelukan hangat dari keduanya.


Alena merasakan hatinya juga menghangat melihat pemandangan itu. Dia tersenyum. Kemudian merasakan juga ada sesuatu yang merayap di tangannya. Hardi menautkan jari-jari mereka berdua dengan erat. Mereka berjalan bersisian.


Sekilas pemuda itu menatap pergelangan tangan Alena yang kini dihiasi gelang yang dia ingat diberikannya dulu. Dan dia juga baru menyadari sebuah kalung yang bertaut di leher gadis itu.


"Aku pikir kalung sama gelang ini udah kamu buang," katanya, sambil tersenyum.


"Aku simpan." jawab Alena yang juga tersenyum.


Mereka berjalan tenang memasuki rumah. Tampak suasana yang terasa hangat begitu Alena memasuki ruang keluarga. Foto-foto keluarga dan lukisan menghiasi dinding berwarna krem itu. Beberapa pot bunga terletak di setiap sudut ruangan. Menambah suasana asri di dalam.


"Istirahatlah dulu di atas. Mungkin kamu capek." Linda melirik ke arah putranya yang mengerti, dan segera membawa Alena ke lantai atas, sementara Dilan dia tinggalkan bersama kedua orang tuanya.


Mereka sampai di lantai atas, kemudian memasuki sebuah kamar di deretan paling depan dari ujung tangga.


Kamar yang di dominasi warna putih dan biru. Ada beberapa piala yang terletak di lemari. Buku-buku tersusun rapi di rak dekat meja belajar. Foto-foto saat pertandingan olahraga menempel di dinding.


"Kamar kakak?" Alena segera mengetahui dari keadaan kamarnya.


Hardi mengangguk sambil tersenyum. Sementara Alena memutar bola matanya.


"Kenapa?" Hardi terkekeh.


"Nggak ada kamar lain gitu?" Alena setengah menggerutu.


"Ada kamar kak Hana. Tapi sebentar lagi juga dia datang, sama suami sama anaknya." Hardi meletakkan travel bag di sofa di samping tempat tidurnya.


"Kamar tamu juga boleh." Alena bergumam.


"Gak sempet diberesin, kan kita dadakan kesininya." jawab Hardi, enteng.


Alena mendengus.


"Kenapa sih?? Lagian aku nggak akan tidur disini juga. Takut amat." Hardi terkekeh, kemudian keluar.


*


*


Alena turun saat makan malam tiba, setelah dia beristirahat dan membersihkan diri. Semuanya telah berkumpul di meja makan. Orangtua Hardi, Hana beserta suami dan anaknya.


Keluarga.


Alena jadi ingat ketiga kakaknya. Bagaimana sekarang keadaan rumah setelah dia tinggalkan? Apakah keadaannya masih sama atau sudah berbeda?


Ahh ... aku rindu!! Gumamnya dalam hati.


Hardi meraih tangan Alena dan membimbingnya untuk duduk di kursi di dekat Linda. Senyum hangat menghiasi bibir wanita paruh baya itu.


Ah .. ibu.


Aku lupa bagaimana rasanya punya ibu. Bagaimana suaranya, bagaimana sentuhannya. Bahkan aku agak lupa bagaimana wajahnya.


Tak banyak yang di ceritakan kakak-kakaknya tentang orangtua mereka. Hanya untuk menghindar dari rasa sedih karena mengingatnya.


Alena tersadar dari lamunan ketika Hardi meremat jari tangannya dibawah meja. Dia menoleh.


"Mama tanya, kamu mau makan apa?" katanya.


"Ng ... apa aja aku bisa makan." jawabnya, pelan.


Linda mengambilkan beberapa lauk dan meletakkannya di piring milik Alena.


"Ayo dimakan," katanya, tetap dengan senyuman lembut.


Alena balas tersenyum, kemudian segera melahap hidangan dipiringnya. Matanya membulat sempurna saat dia mengecap rasa yang begitu enak di lidahnya.


"Enak?" Linda dengan binar di matanya menatap ekspresi gadis itu.


Alena mengangguk. Sementara Linda tersenyum puas.


Suasana yang tadinya canggung seketika berubah menghangat. Keluarga ini begitu terbuka dengan kehadiran Alena. Membuat gadis itu mudah menyesuaikan diri. Baru sebentar saja, mereka sudah bisa saling bercanda dengan akrabnya.


"Sebaiknya, kalian menikah." Papa nya Hardi tiba-tiba berbicara saat makan malam telah usai.


"Pfftthh ...." hampir saja Alena menyemburkan minuman yang tengah diteguknya. Dia terbatuk dengan kerasnya, membuat panik semua orang yang berada di meja makan.


"Pelan-pelan, Al!!" Hardi menepuk punggung nya. Mengambil beberapa lembar tisyu, kemudian memberikannya kepada gadis itu.


"Kenapa? Papa cuma menyarankan." sang suami menjawab dengan polosnya.


"Iya. Sebaiknya kalian menikah saja." Hana menyahut.


"Ng .... itu, aku ...." Alena terbata.


"Bukannya kami mau ikut campur, tapi rasanya kurang baik kalau kalian hidup bersama tanpa ikatan. Apalagi ada anak diantara kalian." Papanya Hardi melanjutkan.


"Nggak baik buat Dilan, melihat keadaan orang tuanya seperti ini." Hana menambahkan.


Alena menatap satu persatu orang-orang dihadapannya. Sementara Hardi terdiam.


Linda menyentuh tangan gadis itu yang berada di pangkuannya, "Jangan khawatir, kami akan menerima kamu bagaimanapun keadaannya." katanya, meyakinkan.


"Aku cuma ..." Alena menahan kata-katanya.


"Biarkan Hardi bertanggung jawab sepenuhnya atas diri kalian. Biarkan dia menunaikan kewajibannya." sambung Papanya Hardi.


Alena menoleh ke arah pria di sampingnya. Menatapnya lekat-lekat.


Hardi tersenyum.


"Bagaimana dengan keluargaku?" Alena tertunduk sendu. "Bang Arya gak mungkin mau jadi wali nikah aku. Dia terlalu marah ..." tenggorokan nya tercekat.


"Kita pikirkan nanti. Sekarang yang penting kamu setuju atau nggak?" Hardi menyela, kembali meraih tangan Alena dan menggenggamnya dengan erat.


Gadis itu menghela napasnya dalam-dalam.


"Hmm ..?" Hardi menuntut jawaban.


Alena masih menatap wajah tampan didepannya.


"Aku ...." dia kembali menatap satu-satu anggota keluarga Hardi. Yang saling menyunggingkan senyum penuh harap.


"Aku mau." katanya, tersipu dengan kedua pipinya yang merona. Menundukkan wajahnya karena malu.


Semua orang bertepuk tangan dengan riang. Terlebih lagi Linda yang memang mengharapkan hal itu.


Hardi merangkul tubuh mungil di sampingnya. Mengecup puncak kepala Alena dengan penuh cinta.


"Terimakasih," bisiknya.


*


*


Malam beranjak larut ketika semua orang memutuskan untuk segera beristirahat. Setelah sebelumnya berbincang tentang banyak hal.


Hardi menggendong tubuh kecil putranya yang sudah terlelap sejak tadi. Membaringkannya di tempat tidur miliknya dengan perlahan.


Alena mengikutinya dari belakang, kemudian duduk di tepi ranjang. Menatap kedua orang yang dicintainya dengan binar bahagia. Hardi menoleh, kemudian tersenyum.


"Terimakasih," katanya, mengelus pipi Alena dengan punggung tangannya.


Gadis itu balas tersenyum.


Hardi menyelipkan helaian rambut yang terburai kebelakang telinga Alena. Pandangannya tak lepas dari kedua mata bulat gadis itu yang berbinar.


Seketika tangannya beralih meraih tengkuk Alena. Bibir mereka bertemu. Kehangatan mulai menjalari keduanya.


Mereka berpagutan dengan lembut, merasakan sentuhan masing-masing dengan penuh kerinduan. Tubuh mereka merapat dengan sendirinya.


Ciuman berlangsung begitu dalam sehingga keduanya sempat lupa mereka sedang berada dimana. Hingga akhirnya Hardi tersadar dan menghentikan nya sebelum keduanya semakin lupa diri.


Napas keduanya terengah-engah menahan hasrat yang menuntut. Namun Hardi segera memilih bangkit dari tempat dia hampir berbaring.


"Sudah malam, tidurlah." katanya, segera keluar dari kamarnya dengan tergesa.


Sementara Alena masih terpaku mengumpulkan kesadarannya yang sempat terberai.


*


*


Bersambung ...


As always, like koment sama vote nya selalu aku tunggu.


I love you full 😘😘