ALENA

ALENA
54. Ketahuan#2



Sesi berfoto berlangsung beberapa menit. Dimulai dengan foto keluarga terlebih dahulu. Kedua mempelai, Arya, Anna, dan tentu saja Alena bersama sikecil Dilan. Kemudian diikuti oleh orang-orang lainnya. Diantaranya keluarga mempelai pria, kerabat dan teman kedua mempelai.


Hardi memperhatikan perempuan yang mondar mandir di depannya dengan pertanyaan yang terus berputar dikepala. Mengingat kembali kata-kata yang keluar dari mulut Arya beberapa saat yang lalu.


"Adik?" gumamnya, terus mencerna kata-kata itu.


Kalau Alya adiknya Arya, terus Alena bilang Alya itu kakaknya, berarti ....


"Bro!!" seseorang menepuk pundak Hardi dari belakang.


Pemuda itu menoleh. Dia mendapati Raja yang baru saja datang.


"Kenapa lu malah diem aja?" tanyanya.


"Tuh ..." menggendikkan dagu, menunjuk ke arah pelaminan, dimana Alena dan ketiga saudaranya sedang berfoto lagi.


"Alena disini? Temennya pengantin?" Raja menoleh ke arah pelaminan.


"Katanya adik pengantin perempuan." jawab Hardi tak mengalihkan pandangannya.


"Oh iya?" Raja mengerutkan dahinya.


"Dan yang lebih bikin bingung, Arya bilang Alya itu adiknya. Menurut lu ..."


"Raja, kamu juga kesini?" Arya yang tiba-tiba menghampiri dua pemuda itu.


"Pak," Raja mengangguk sopan.


"Kamu juga kenal dengan pengantin pria?" tanya Arya.


"Atasan kita di kantor pusat pak." jawab Raja.


"Oo ..." Arya pun mengangguk.


"Oh iya, istri bapak nggak ikut, pak?" Raja tiba-tiba bertanya.


"Istri saya?" Arya mengerutkan dahinya.


"Iya. Mamanya Dilan." Raja lagi.


"Alena?" Arya makin terheran.


"Iya. Alena istri bapak, kan?" Raja kembali melontarkan tanya.


"Haha ... Bercanda kamu! Alena itu adik saya."


Jleb!!


Sesuatu seperti menusuk hatinya. Hardi menggigit bibir bawahnya dengan kencang, memastikan apa yang didengarnya bukan ilusi.


Pemuda itu menarik napas dalam. Rahangnya mengeras, giginya gemeletuk saling beradu.


Berminggu-minggu pikirannya terjebak dalam prasangka. Bukan!! Alena tengah mempermainkannya. Dengan membiarkan dirinya mengira bahwa Arya adalah suaminya.


Raja pun terhenyak.


"Saya kira, Alena itu istri bapak." katanya lagi.


"Bukan, bukan. Memang kami sering dikira suami istri, saking seringnya kami jalan berdua ditambah Dilan selalu saya bawa, dan lagi, kami memang sangat dekat." Arya menjelaskan.


"Oo ..." Raja mengangguk-angguk.


"Alya, adik saya yang pertama, kedua Anna, dan Alena paling kecil. Kami berempat." jelasnya lagi.


Membuat Hardi makin mengeraskan lagi rahangnya. Menahan amarahnya yang entah kenapa terus menyeruak.


Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.


Dia sedang mempermainkan aku! Batinnya berteriak.


Ditatapnya gadis yang sedang menyapa beberapa tamu undangan. Dia tampak tak terganggu. Seperti tak merasa telah melakukan satu kejahatan padanya.


Hardi berjalan menghampirinya, tak menghiraukan panggilan Raja.


Meraih tangan Alena dan berusaha menariknya dari sana.


"Apa yang ... " langkah gadis itu tersaruk-saruk mengikuti langkah lebar Hardi. Tentu saja membuat beberapa pasang mata mengalihkan perhatian mereka.


*


*


*


Alena menghentakkan tangan nya. Mencoba melepaskan diri.


"Apa-apaan ini? Lepas, kak!" katanya.


Hardi tak bergeming. Dia terus melangkahkan kakinya ke suatu tempat. Sementara Alena terus meronta.


Pemuda itu menemukan sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka. Segera menarik Alena masuk kedalam sana.


"Apa-apa? Mau apa?" Alena ketakutan. Dia mencoba bertahan di ambang pintu dengan memegang erat bingkai pintu itu dengan sebelah tangannya.


Klek!!


Pintu tertutup, tampak ruangan temaram dengan beberapa barang bertumpuk. Ruang penyimpanan barang.


Alena sedang menjernihkan pikirannya ketika Hardi berbalik ke hadapannya, merangsek dan mendorong tubuh nya hingga membentur pintu.


Gadis itu terhenyak.


Terdengar helaan napas Hardi yang menderu kasar. Kedua tangan pemuda itu mengungkung tubuh kecilnya hingga tak mampu berkutik sedikitpun.


"Apa yang mau kakak lakukan?" geramnya, berusaha mendorong tubuh tinggi Hardi yang telah menghimpitnya.


"Kamu berhutang penjelasan!" Hardi menggeram setengah berbisik. Napasnya berhembus di wajah Alena, membuat gadis itu nengerjap-ngerjapkan matanya.


"Maksudnya?" Alena mulai gelisah. Mendongakkan wajahnya, berusaha menatap mata coklat itu.


Dada pemuda itu naik turun, napasnya kian menderu tak terkendali.


Alena berusaha mendorong tubuh tinggi yang sedang menghimpitnya, "Aku lagi nggak ada waktu ...."


Tiba-tiba, Hardi memagut bibirnya, mencumbunya dengan kasar. Alena yang tak siap berusaha meronta melepaskan diri. Namun tubuh tinggi itu makin merapatkan dirinya.


Kedua tangan gadis itu terkepal di dada Hardi, berusaha memukulnya agar bisa melepaskan diri. Namun Hardi malah meraih kedua tangan yang sedang memukul-mukul dadanya, kemudian menariknya keatas kepala gadis itu. Menguncinya dengan satu tangan nya, sementara tangan lainnya mencengkeram dagu Alena yang terus berusaha menghindar.


Ciumannya semakin liar dan tak terkendali. Sesekali menggigit kecil bibir mungil Alena, membuat gadis itu merintih kesakitan.


Semakin kuat Alena meronta, semakin kuat pula cengkeraman pada tangan dan dagunya. Gadis itu tak mampu melepaskan diri. Tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Hardi yang sedang diliputi amarah.


Cengkeraman didagunya melemah, Hardi malah menurunkan ciuman nya di rahang, kemudian ke leher gadis itu, membuatnya menahan napas, karena merasakan sesuatu menyengat tubuhnya ketika tangan Hardi merayap dibalik kebaya yang dipakainya.


Napas Alena mulai memburu. Dengan semakin intensnya cumbuan Hardi di leher dan pundaknya yang terbuka entah sejak kapan. Desahan kecil lolos dari bibir mungilnya. Membuat pemuda itu makin menggila dengan aksinya.


Alena menjerit ketika merasakan sakit atas cumbuan Hardi, sebuah gigitan meninggalkan bekas di dadanya.


"Menjeritlah!! Berteriak!! Panggil dia! Panggil suamimu! ... atau kakak mu!!?" bisiknya di telinga Alena.


Seketika membuat gadis itu tersadar, ada yang telah terjadi pada pemuda yang sedang mencumbunya.


Otaknya tengah menerka-nerka, apa yang telah Hardi ketahui tentang dirinya.


Sementara pemuda itu terus saja melakukan aksi pada tubuhnya.


*


*


*


*


Dering ponsel berbunyi memekakan telinga saat Hardi telah selesai dengan urusannya.


"Ya?"


"Lu dimana?" Raja berteriak dari seberang sana.


"Kenapa?" Hardi yang tengah membenahi pakaiannya.


"Orang-orang nyari lu.! Ada telpon bukannya diangkat, malah didiemin!"


"Berisik lu!" memutuskan sambungan telpon. Membuka aplikasi, dan melihat ada beberapa nomor yang telah menghubunginya sejak satu jam yang lalu.


Dia kembali memasukkan ponsel ke saku celana nya.


Hardi menyisir rambut nya yang terburai dengan jari-jarinya, kembali merapikan pakaiannya yang berantakan.


Menatap Alena, kemudian menghampirinya yang duduk meringkuk disudut ruangan. Dia meraih tangan gadis itu, namun ditepisnya dengan kasar.


"Diamlah!!" katanya, menarik tubuh ringkih itu, membuat mereka berhadapan. Hardi membenahi pakaian Alena yang tak karuan. Merapikan rambut gadis itu yang sempat terburai.


"Bersiap-siaplah, aku akan menjemput kamu dan anak kita kerumah." katanya, menempelkan kening mereka berdua.


Isakan terdengar dari gadis itu.


"Kakak menyakiti aku!" Alena merintih dalam isakan nya.


"Aku tahu, maafkan aku!" katanya, merengkuh tubuh Alena kepelukannya.


*


*


*


Bersambung ....


like komen sama vote nya Doong... aku tunggu.


I love you full 😘😘😘