
Alya terhenyak ketika pagi hari saat berniat membangunkan Alena, gadis itu tak ada di kamarnya. Hanya selembar kertas dengan tulisan kata pamit. Dia pergi tanpa seorangpun tahu.
Alya dan Anna masih terisak di teras selepas kepergian Alena.
"Biarkan dia merasakan berjuang sendirian. Agar dia tau cara menghargai pengorbanan orang lain." Arya yang sedari tadi memperhatikan dari dalam rumah.
"Kamu keterlaluan!!" Alya menghampiri kakaknya yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku memberi dia dua pilihan. Dan dia memilih keluar dari rumah."
"Daripada harus membunuh anaknya sendiri?" Alya menggeram.
"Hhh... anak." Arya mendengus.
"Kamu akan menyesal membiarkan dia menderita diluar sana!!"
"Dia akan pulang. Dia tak terbiasa hidup susah."
"Alya, selama ini kamu yang paling tahu perjuangan aku seperti apa. Aku yang merawat dia sesaat setelah ibu meninggal. Dia bahkan lahir waktu aku masih butuh sandaran. Butuh penopang hidupku. Kamu paling tau kita seperti apa dulu." Arya menekan. Dia ingat masa-masa sulit berjuang demi kehidupan mereka bahkan ketika umurnya masih sangat belia.
Pria 35 tahun itu masih ingat harus selalu membawa Alena kemanapun dia pergi. Adik bungsunya itu tak mau lepas dari dirinya sepeninggalnya ibu mereka.
"Kamu pikir aku kejam? Tolong di ingat siapa yang sudah meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu sekarang."
"Bukan aku!" katanya, menahan marah setiap kali harus mengingat keadaan Alena kini.
********
Vania tak dapat menutupi keterkejutannya saat Alya membuka permasalahan pelik yang menimpa adik bungsunya. Akhir-akhir ini memang Alena sering menghilang tiba-tiba, tapi dia tak menyangka dengan yang telah terjadi.
Alena memang agak tertutup. Gadis itu jarang membuka permasalahn pribadi dengan mudah pada siapapun yang tak diinginkannya.
"Tapi selama ini dia nggak terlihat murung, kak. Biasa aja. Bahkan lebih sering terlihat ceria." Vania di suatu sore saat Alya menemuinya di kantin kampus. Masih
"Aku sempat berpikir, mungkin dia dilecehkan, tapi ...." Alya menggantung kata-katanya.
"Aku akan cari tahu, kak." Vania menyentuh tangan Alya, seakan menguatkan.
Dia sempat mencurigai seseorang, namun kemudian segera di tepisnya.
Tidak mungkin!! Dia tak pernah terlihat berdekatan dengan orang itu. Arrgghhh ....!!! Alena! Kamu dimana?!
*******
Alena menjejakkan lagi kakinya di tempat itu. Tempat favorit dia. Tempat dimana dia merasa begitu bahagia. Lembang. Kota sejuk dengan sejuta pesona bagi Alena.
Kota dengan sejuta kenangan indah tentang dirinya yang bahagia dengan Hardi.
Setelah bertanya pada beberapa orang, akhirnya dia menemukan sebuah kost-kostan sederhana. Cukup untuk tempat tinggalnya sementara.
Dimasukinya bangunan sederhana itu setelah dia menyerahkan beberapa lembar uang kepada pemilik kost.
Hanya satu ruangan yang sederhana, tak lebih besar dari kamarnya di rumah. Sebuah kasur busa ukuran kecil dan lemari plastik. Kemudian kamar mandi kecil di sudut ruangan.
Alena meletakkan travel bag yang dibawanya dari rumah. Hanya berisi pakaian seadanya yang mampu dia bawa. Beserta sedikit uang tabungan yang biasa disisihkannya dari uang bulanan yang diberikan kakaknya.
Alena jatuh terduduk di kasur lantai. Menangis tersedu meratapi nasibnya. Ada sakit dan rasa takut yang menghinggapi relung hatinya. Dia sendirian.
***********
Sementara di tempat lain ada sebuah keluarga yang tengah menelan kekecewaan atas pengakuan putra bungsu mereka.
"Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya? Kamu membuat Mama Dan Papa membuat keputusan yang mungkin salah, Hardi!!"
"Aku berusaha, Ma! Tapi Mama tidak mendengarkan!!"
"Kami tidak tahu yang sebenarnya! Yang kami tahu kamu sudah berhubungan lama dengan Lasya, dan kami khawatir akan terjadi sesuatu seperti ini. Dan ternyata firasat Mama benar!"
Hardi menghela napas dalam . Tubuhnya terasa begitu lemah.
"Sekarang Hardi harus apa, Ma, Pa?!"
Sang Ayah menepuk pundak putera nya yang tengah dilanda kekalutan.
"Bertanggung jawablah."
Hardi mendongak.
"Mungkin sekarang dia sudah menggugurkan kandungan nya, Pa." Hardi sesenggukkan.
"Apa? Kenapa bisa?" sang Mama mendekat.
"Hardi belum siap, Hardi menyuruh dia melakukannya."
PLAAKK!!
Tamparan keras mendarat di pipi pemuda itu. Hana, kakak perempuannya yang baru saja datang mendengar percakapan mereka.
"Keterlaluan!!"
"Ibumu perempuan, kamu juga punya kakak perempuan. Apa kamu tidak punya perasaan??" katanya penuh emosi.
"Hardi bingung, Kak! Bagaimana dengan semua rencana yang sudah Hardi buat. Hardi hanya ...."
"Papa tidak pernah mengajarimu untuk jadi pecundang, Nak. Jangan jadi pengecut. Berani berbuat kamu harus berani bertanggung jawab. Kalaupun cita-cita kamu hancur, semata-mata itu hanya resiko atas perbuatan yang kamu lakukan."
Hardi bersandar pada kursi yang didudukinya.
"Tapi Lasya, .... dia depresi ...
***********
Vania termenung di dekat jendela ketika sesorang menepuk pundaknya.
"Ada yang nyari kamu, Van." Sally, teman sekelasnya.
"Siapa?"
Sally menggendikkan dagunya ke arah pintu keluar. Tampak Hardi sedang berdiri menunggu. Gadis itu mengerutkan keningnya.
"Ada masalah apa?" tanyanya, heran.
Sally hanya mengangkat kedua bahunya.
Vania segera menghampiri Hardi yang mematung bersandar ke bingkai pintu.
"Iya kak?" sapanya, ragu-ragu.
"Bisa bicara sebentar?"
"Iya. Soal apa ya?" tanya nya, masih heran.
"Kamu temannya Alena?"
Vania mengerutkan keningnya, kemudian mengangguk.
"Bisa keluar? Disini nggak enak." mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong.
Vania mengikuti langkah lebar Hardi ke arah luar. Dengan pertanyaan di kepalanya.
Mereka berdiri di samping perpustakaan.
"Kamu tau Alena kemana? Beberapa hari ini saya cari dia nggak ada di kampus." Hardi memulai pembicaraan.
Vania makin mengerutkan keningnya. Pertanyaan mulai bermunculan di benaknya.
"Alena udah keluar dua minggu yang lalu." katanya.
"Apa?" Hardi terhenyak. Dia mengacak rambutnya kasar. "Maksud kamu, keluar, dia.."
"Alena berhenti kuliah, kak." sambung Vania lagi. Semakin keheranan dengan tingkah kakak kelas dihadapannya itu.
"Kenapa bisa?! Alena!!" memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Ada masalah apa sama Alena kak?" Vania mulai memberanikan diri.
Hardi terdiam. Menoleh ke arahnya.
"Sekarang dia dimana? Dirumahnya atau .... " menelan ludah kasar. "Saya nggak bisa menghubungi nomer hapenya. Sepertinya nomer saya di blokir." Hardi mulai panik.
Vania mengerjap. Segala perkiraan muncul di kepalanya. Dengan sikap Hardi yang tak biasa. Jangan-jangan ...?!
"Nggak ada yang tahu, kak. Sudah dua minggu ini Alena menghilang. Keluarganya juga mencari dia .."
"Apa?" spontan Hardi mencengkeram bahu Vania. "Dia pergi kemana? Apa dia mengatakan sesuatu atau ..."
"Kakak kenapa? Apa kakak ada hubungannya dengan kepergian Alena?" Vania mulai membuka kecurigaan nya.
Hardi terdiam. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang seolah memaksa keluar.
"Apa dia tidak bilang sesuatu sama kamu?" Hardi balik bertanya.
"Alena bukan orang yang terbuka. Dia nggak pernah mengatakan apapun." Vania sedikit menggeram.
Hardi masih terdiam menatap wajah yang mulai terlihat marah itu.
"Apa kakak yang menghamili Alena?" kalimat itu meluncur dengan sendirinya dari mulut Vania.
Kedua bola mata Hardi membulat sempurna. Napasnya tertahan di kerongkongan.
Diamnya pemuda itu memberi jawaban pasti bagi Vania.
Dan, lagi, tamparan keras kembali di terima Hardi.
"Brengsek!!"
"Bisa-bisanya kakak memanfaat kan kepolosan Alena untuk kesenangan kakak sendiri!!"
Hardi memejamkan matanya. Bersiap menerima makian dari gadis itu.
"Kakak tau, sekarang ini kakak nya Alena sedang mencari orang yang telah meninggalkan Alena dalam keadaan seperti itu. Kalau saja kakaknya sudah menemukan kakak, aku jamin kakak nggak akan selamat." Vania bermaksud meninggalkan Hardi.
"Aku mau bertanggung jawab, Vania."
"Hhh..." Vania mendengus. "Kakak terlambat. Alena bahkan sudah kabur entah kemana. Tidak ada orang yang tahu keberadaan dia."
"Vania, aku ..."
"Selamat menikmati rasa bersalah seumur hidup kakak.!" Vania menghentakkan langkahnya meninggalkan Hardi terpaku sendirian.
Hardi jatuh terduduk. Tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Dia kalut.
Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Alena, kamu dimana?!!
Bersambung ....