
30 pesan dan 60 kali panggilan tak di jawab Alena sejak sabtu malam. Hardi menghembuskan napasnya gusar. Pesan terakhir dikirim minggu pagi sebelum dia berangkat ke Jakarta, berpamitan untuk menjemput Lasya. Hingga sore menjelang ketika dirinya sudah sampai di apartemen tak ada satupun notifikasi balasan dari gadis itu.
Kegelisahan menyelimuti hatinya. Sepertinya dia merasa bersalah telah merenggut sesuatu yang paling berharga dalam hidup gadis itu.
Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi.
"Kusut amat lu!?" Raja yang baru saja sampai di kafe tempat mereka biasa nongkrong, mendapati sahabatnya dengan keadaan tak karuan.
"Diputusin Lasya?" Raja terkekeh menggoda Hardi yang kemudian mendengus kasar.
"Gak biasanya lu kayak gini?" sambungnya lagi.
"Chat gue gak di bales, telfon gue juga nggak diangkat" Hardi dengan suara lemah.
"Apaan?" tubuhnya condong ke depan.
Hardi mendengus lagi. Menatap Raja dengan sebal.
"Jangan bilang ini gara-gara si Alena!"
Hardi tak menjawab. Malah menelungkupkan kepalanya di meja.
"Ini kayak bukan elu yang biasanya." melempar kepala yang sedang menelungkup di meja itu dengan tisyu yang tergulung sebesar kepalan tangan yang dia ambil di sudut meja.
"Lu serius emang sama dia? Lu bilang cuma suka, nggak lebih." Raja mengingatkan pembicaraan mereka minggu lalu.
"Gue pikir lu cuma main-main pas bilang lagi deketin dia." lagi, Raja mengingatkan obrolan di lain hari.
"Awalnya gue cuma mau main-main. Tapi ..." kata-katanya tergantung,
"Tapi nyatanya lu terjebak sama permainan yang lu buat." Raja bertepuk tangan di udara seakan menyoraki kelakuan sahabatnya.
"Jenius!! Seorang Hardi Pradpta yang setia, yang baik hati, yang jadi idola semua orang harus terlibat permainan dengan adik kelasnya, dan terjebak dengan permainannya sendiri! Ckckckck!! Bravo bravo!!"
Hardi mendelik mendengar ocehan sahabatnya.
"Gue jadi penasaran, gimana reaksi Lasya kalau tau masalah ini. Abis lu!!"
"Lagian pusing amat. Tinggal lu bilang udahan, kita nggak cocok, atau kata-kata lain semacamnya, dia pasti ngerti." Raja berceramah panjang lebar seolah-olah dia pakarnya dalam bidang percintaan rumit.
"Ini nggak segampang yang Lu pikir." Hardi mulai buka suara.
"Maksud lu?" Raja mengernyitkan dahinya, menunggu jawaban.
"Ini rumit." Hardi mengangkat kepalanya, menatap wajah sahabatnya itu.
"Serumit apa? Gue pikir mah gampang aja. Sebelum semuanya terlanjur dalem. Elu terlalu sayang sama dia. Dia juga sebaliknya. Atau ada sesuatu yang terjadi antara elu sama dia. Itu baru rumit."
"Maksud gue itu."
"Maksud lu yang mana?"
"Terjadi sesuatu antara gue sama dia."
"What?? Terjadi apaan?" Raja mulai serius.
"Itu. Mmm ..." Hardi ragu. Apa tindakannya bicara pada Raja adalah hal yang tepat.
"Kalau udah ciuman masih bisa minta maaf. Bilang aja lu khilaf. Beres."
Hardi terdiam lagi, terus menatap wajah sahabatnya.
Raja menemukan jawaban lain dalam tatapan Hardi terhadap dirinya. Matanya terbelalak ketika satu pikiran melintas di kepalanya.
"Jangan bilang lu udah ngelakuin yang lebih?!" Raja setengah berbisik.
Hardi masih terdiam.
"Astaga!! Lu apain tuh anak?" Raja berbisik lagi.
Hardi tetap menutup mulut nya rapat. Mengusap wajahnya kasar, mengacak rambutnya sehingga terburai tak karuan. Namun hal itu sudah menjadi jawaban bagi Raja.
"Tega lu kerjain anak orang!! Apa sih yang ada di otak lu?" Raja mulai mengomel.
Hardi menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menghela napasnya berat.
"Dia masih perawan pas lu tidurin?" Raja berbisik lagi.
"Gue nggak tau." Hardi memejamkan matanya.
"Eh ****!! masa lu nggak tau bedanya?"
Hardi menggeleng lemah.
"Ini juga yang pertama buat gue" Hardi menggumam, berharap Raja tak mendengar kata-katanya.
Namun sahabatnya itu terbahak karena yang
"Lu serius?" Raja terbahak lagi, "Terus lu ngapain aja selama lima tahun sama Lasya? gue pikir lu udah anuan saking nempelnya dia sama elu!!"
"Gue nggak pernah apa-apain Lasya." jawab Hardi, lemah.
Raja kembali terbahak dengan pengakuan sahabatnya.
"Elu, lima tahun pacaran sama Lasya, tapi nggak berani ngapa-ngapain dia. Alena, yang baru beberapa minggu lu deketin, udah berani lu sentuh. Pikiran lu dimana, bro?!" Raja menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak ngerti jalan pikiran lu! Itu anak orang yang elu rusak masa depannya, ****!!"
"Lu lebay!! pake bilang ngerusak masa depan dia?!" Hardi protes dengan omelan sahabatnya.
"Trus, gue mesti sebut apa kalau bukan ngerusak?"
"Gue nggak maksa dia kali. Itu terjadi begitu aja. Dia juga nggak nolak pas gue gituin!!" Hardi menyanggah.
"Ckckckck!! Ya ampuuunn ... " Raja kembali menggelengkan kepalanya.
"Itu suka sama suka, kan.?!" Hardi menambahi.
"****!! ceritanya beda kalau dia masih perawan!! Anak orang lu gituin sama aja lu merusak masa depan dia! Mending kalau entar jodohnya sama elu, nah kalau sama orang lain gimana? Apa yang bakal di pikirin calon suaminya entar?" Raja kembali melemparkan tisyu yang digulung ke wajah Hardi, namun pemuda itu bergeming.
"Gue lepas kontrol, Ja,??" Hardi membela diri.
"Heleh, giliran udah terjadi aja lu bilang lepas kontrol. Kemana aja lu minggu-minggu in! Elu yang deketin dia. Nah sekarang elu bilang lepas kontrol!!" omel Raja lagi.
"Nggak tau kenapa gue nggak bisa nahan diri kalau deket dia! Semua berasa bener aja gitu. Otak gue suka stuck kalau lagi sama dia."
"Lu udah gila!" Raja mencibir.
"Iya. Kadang gue merasa gila kalau dia nggak merespon sikap gue." Hardi dengan nada sendu.
Berulang kali Raja menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.
***************
Alena menghela napasnya dalam. Memasuki gerbang kampus dengan berdebar tak karuan.
Langkahnya terhenti di area parkir ketika dia menemukan Hardi yang sedang terduduk lesu di bagian depan mobil hitam kesayangannya.
Alena tertegun menatap sosok itu. Hardipun sama. Tak ada sapaan yang keluar dari mulut kedua nya.
Alena menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak di dada. Jari tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya. Menguatkan hati untuk tak menghiraukan sosok yang tengah berdiri beberapa meter di depannya.
"Ckckckck!! kalian kayak anak kecil !!" Raja yang memperhatikan kedua insan itu dari sisi lain parkiran.
Alena menoleh terkejut, namun Hardi sebaliknya. Pria itu tak bergeming. Seperti sudah mengetahui keberadaan Raja di dekatnya.
"Diem-dieman kayak habis rebutan permen!!" Raja terkekeh.
Alena balik menatap Hardi seolah meminta penjelasan.
"Dia tahu!" Hardi menyela.
Alena menoleh lagi ke arah Raja yang sedang menyeringai memandangi mereka berdua. Wajahnya memerah merasa malu.
Hardi mulai melangkah bermaksud mendekati Alena, namun gadis itu pun mulai bergerak lagi, bermaksud pergi dari tempat itu. Sebelum akhirnya dengan cepat tangan Alena di raih Hardi dari belakang.
"Kita harus bicara!" Hardi yang berhasil menahan tubuh Alena.
"Lepas, kak!" Alena memohon. "Ini di kampus!" katanya.
"Terus? Aku telfon gak kamu angkat. Chat aku juga cuma di baca. Terus aku harus gimana?"
"Aku cuma ..."
"Kamu mengabaikan aku! Terus aku harus gimana?" agak berteriak.
"Sstt..!!" Raja bangkit dari tempat dia duduk.
"Nggak usah teriak-teriak apa. Lu kayak lagi tawuran aja!" katanya, menengahi.
Alena meringis, merasakan cengkeraman Hardi di tangannya makin kuat.
"Sakit Kak!!" serunya, hampir menangis.
Hardi tersadar, dan melepaskan cengkeraman tangannya dari Alena.
Begitu terlepas, gadis itu mengambil kesempatan untuk kabur dari hadapan kedua pria di depannya. Berlari sekencang mungkin untuk menghindar.
Bersambung ....
Hai lagi... jangan lupa like koment sama vote ya... perhatian kamu adalah penyemangat aku!! I love you full.😘😘😘