
Arya setengah berlari dengan tubuh Alena dalam gendongannya. Sementara gadis itu mencengkeram kuat pundak kakak laki-lakinya tersebut.
"Bertahanlah ...!!"
Seketika ruang UGD yang sempat lengang kini berubah menjadi gaduh. Arya berteriak sejak memasuki pintu.
Dua orang perawat laki-laki membawa blankar dan menyuruh pria itu untuk membaringkan Alena disana. Arya menurut. Namun tak melepaskan genggaman tangannya dari Alena.
"Abang, aku takut!!" Alena hampir menangis.
"Semua pasti baik-baik saja!" katanya, menguatkan.
Pintu ditutup dan Arya terpaksa berhenti mengikuti blankar yang membawa adik kecilnya masuk. Seorang perawat melarangnya.
Dengan gelisah pria itu mondar-mandir di depan pintu. Berharap ada yang keluar membawa kabar baik tentang Alena.
Pintu terbuka. Dokter yang menangani Alena keluar diikuti seorang perawat.
"Tekanan darahnya tinggi, kami harus memberi dia penurun tekanan darah terlebih dahulu untuk menstabilkan tekanan darahnya."
"Dia,... darah!!.." Arya meracau, menunjukkan pakaian yang dikenakannya sebagian besar telah dibasahi cairan yang keluar dari tubuh Alena.
"Tidak apa-apa. itu air ketuban." dokter menenangkan.
Arya manggut-manggut masih dengan wajah panik.
"Suaminya ada?" tanya dokter membuat katiga kakak beradik yang sedang menunggu dengan panik itu terhenyak.
"Kenapa dokter?"
"Dia butuh ditemani. Sebaiknya oleh suaminya." dokter berucap.
"Saya yang akan menemani dia, dokter." Arya maju satu langkah.
"Saya sarankan suaminya yang menemani adik anda, pak." dokter dengan tegasnya.
"Suaminya tidak ada, dokter. Hanya kami yang menemani dia." Arya dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa perih mencabik-cabik hatinya seiring perkataan yang diucapkannya barusan.
Suami.
Adiknya itu bahkan belum menikah ketika mengandung bayi yang kini akan dilahirkannya. Entah nama siapa yang nanti akan dipakai di biodata pasien ataupun akte kelahiran si bayi.
Buliran air lolos dari sudut mata pria 35 tahun itu. Membuat sang dokter kebingungan.
"Atau mungkin kakak perempuan .." melirik ke arah belakang dimana Alya dan Anna duduk menunggu dalam kekalutan.
"Biarkan saya dokter." Arya kembali menawarkan diri. "saya yang akan menemani Alena." katanya, dan dokter pun tak dapat lagi membantah.
Akhirnya Arya dibiarkan masuk ke ruang bersalin untuk mendampingi Alena melalui masa kritis nya menjelang kelahiran si bayi.
Dengan memakai baju khusus Arya menghampiri Alena yang sedang terbaring. Selang infus menggantung mengalirkan cairan bening ke urat nadi tangan gadis itu. Pecah ketuban di awal tadi membuatnya kehilangan banyak cairan.
Beberapa pemeriksaan dilakukan kepada gadis itu untuk mengetahui kondisi terbarunya.
"Pembukaan 8.." dokter memperingatkan. "Ayo ibunya miring ke kiri biar kontraksinya cepat." sang dokter menerintahkan.
Alena menurut. Dibantu perawat dan Arya, dia memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri.
Rintihan terdengar keluar dari mulutnya. Reflek Arya mengusap punggung gadis itu untuk meringankan rasa sakit yang sedang dialami adiknya tersebut.
"Sakit dokter ..." Alena dalam rintihannya.
"Yang sabar ya Bu. sebentar lagi." katanya.
Beberapa menit dalam posisi miring seperti itu membuat sesuatu di dalam tubuh Alena terasa sakit.
Perutnya, atau punggungnya, atau pinggangnya, tak mampu dia definisikan rasanya. Sakit.
Seperti diremas seluruh tubuhnya.
"Kalau mau buang air besar bilang ya Bu." dokter menginstruksikan.
Alena merasakan sakit yang luar biasa pada perut bagian bawahnya, dan pada saat yang bersamaan ada rasa mulas pula.
"Aahh... dokter!!"
"Iya, Bu.?"
"Mau BAB!!" katanya. "Aku mau BAB!!" Alena dengan suara serak menahan sakit. Kedua tangannya meremas pinggiran blankar hingga darah mengalir di sela jarum yang masuk ke nadi tangan kanannya.
Alena membalikan posisinya dengan kaki yang di tekuk.
Dokter itu mengecek lagi.
"Udah siap. Tangannya pegang kuat kakinya ya, Bu. Ayo, ibu yang kuat mengejan!!" perintahnya kemudian memberi aba-aba kepada Alena untuk melakukan apa yang di perintahkan nya.
Alena menoleh ke arah Arya yang mematung di sisinya. Pria itu mengangguk, memberi semangat walau hatinya diliputi kepanikan yang luar biasa.
Alena menurut. Menarik napas dalam lalu mendorong tubuhnya condong ke depan, kemudian mengejan kuat beberapa kali.
Belum berhasil. Gadis itu terkulai.
Seorang perawat memberi Alena minum.
"Ayo Bu, sekali lagi." perintahnya lagi kepada Alena.
Gadis itu menurut dan melakukan lagi apa yang dilakukannya tadi beberapa kali.
Namun setelah beberapa kali si bayi tak kunjung keluar. Alena hampir kehabisan. tenaga dan ingin menyerah saja.
Sakit, lelah dia sudah tak tahan. Dia menggelengkan kepala. Sambil terisak.
"Aku nggak bisa!!" katanya, putus asa.
"Ibu bisa! pasti bisa. Orang lain bisa, masa ibu nggak bisa.?" dokter menyemangati.
Arya hanya mampu menggenggam tangan adiknya mencoba memberi kekuatan.
Alena menoleh lagi. "Abang ... " suaranya sendu.
"Kamu pasti bisa!! Ayo sekali lagi!!" Arya pun ikut menyemangati.
Dan sekali lagi Alena mencoba melakukannya. Namun belum juga berhasil mengeluarkan makhluk yang selama sembilan bulan ini tumbuh didalam rahimnya.
Dia ingin menyerah. Sudah tak kuat. Tenaga nya hampir habis. Begitupun harapannya.
Keringat sudah membanjiri seluruh tubuh mungilnya. Dengan napas yang terputus-putus Alena mencoba tetap sadar.
"Sedikit lagi, Bu. Rambutnya sudah kelihatan!" dokter dengan antusiasnya membuat semangat Alena kembali muncul.
"Ayo. Kamu pasti bisa, Al!!" Arya kembali menyemangati.
Alena mengangguk. Sekali lagi dia menarik napas dalam, mendorong tubuhnya condong ke depan, kemudian mengejan lagi dan...
"Eeeeeee.... " erangan terakhirnya menggema di seluruh langit ruang bersalin.
BLEPP!!
Sesuatu keluar dari ***********. Dokter menariknya dengan hati-hati hingga makhluk mungil itu keluar dari rahim yang selama ini menjadi tempat ia tumbuh.
Alena terkulai ke sandaran blankar. Napasnya masih tersengal. Darah terus keluar dari dalam tubuhnya. Sementara Arya merengkuh tubuh lemah itu dalam dekapannya.
Tapi hening.
"Dokter..." Alena mencicit. "Dia selamat?" katanya, setelah mampu mengatur napasnya.
Tak ada yang menjawab. Yang ada hanya perawat yang bergegas mengambil tabung oksigen di sisi lain ruangan.
"Dokter... " Alena melihat bayi itu tergeletak tak bergerak di dekat kakinya sementara sang dokter tengah melakukan sesuatu padanya. Menempelkan sebuah alat ke mulut si bayi yang dia yakini adalah alat bantu pernapasan yang tadi diambil perawat.
"Dokter, bayinya ... kenapa... diam?" Alena terbata, mulai panik menatap nanar sosok bayi di ujung blankar.
Dokter tak menjawab. Dia terus melakukan sesuatu kepada si bayi yang tak bergerak.
Alena mulai histeris. Dia meronta. Mencoba melepaskan diri dari rangkulan Arya.
"Bayinya!! Abang bayinya!!"
"Oeeeee....." tiba-tiba saja tangisan si kecil menggema. Membuat orang-orang di ruangan itu lega.
"Dia menghirup sedikit cairan ketuban, tapi baik-baik saja." dokter yang merasa paling lega diantara semuanya.
Alena pun tak dapat menyembunyikan perasaannya. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Arya yang tak sedikitpun beranjak dari tempatnya berdiri disampingnya. Sementara pria itu tetap merangkul tubuh ringkih adiknya.
Setelah dibersihkan dari darah dan kotoran, bayi itu kemudian dibungkus dengan kain yang dibawa dari rumah.
Arya tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya menatap bayi mungil didekapannya seolah dialah ayah dari bayi itu. Hingga airmata mengalir lagi di pipinya.
Pria itu menempelkan kepalanya di kening sang bayi, menghirup aroma nya dalam-dalam, menyimpannya dalam memori alam bawah sadarnya.
Airmata terus mengalir seiring kata-kata yang ia bisikkan di telinga bayi mungil tersebut.
Bahkan, dia mengadzani bayi itu seperti yang dia lihat di alpikasi berbagi video yang dia lihat beberapa saat yang lalu.
Arya masih sesenggukan sambil mendekap bayi mungil dalam pelukannya.
Ditatapnya Alena yang tengah mendapat penanganan dari perawat, yang juga menatapnya dengan bercucuran airmata.
Mereka berdua tersenyum.
Aku berhasil ...
Bersambung ....