ALENA

ALENA
26. Our Time



Dengan sedikit merajuk dan beberapa


kebohongan, akhirnya Alena mendapatkan ijin untuk pergi dari kakaknya, terutama Arya. Dengan syarat setelah ini dia takan pergi jauh lagi. Masa bodoh, pikirnya toh setelah ini takan ada lagi alasan bagi dirinya untuk pergi bebas keluar selain ke kampus. Karena orang yang selalu membuatnya keluar rumah akhir-akhir ini juga akan sangat disibukkan dengan kegiatan magangnya.


Dengan senyum mengembang Alena berangkat pada hari Sabtu pagi.


Hardi sudah menunggu di halte yang jaraknya beberap blok dari rumah Alena. Duduk di bagian depan mobil kesayangan nya bertumpu pada kedua tangannya dibelakang.


Alena berlari kecil menghampiri pemuda itu.


"Kenapa sih aku nggak boleh jemput ke rumah? Kan kamu gak perlu capek-capek jalan gini." Hardi protes.


"Wah ... itu sih bunuh diri namanya." Alena menjawab.


"Lebay!" Hardi mencebik.


"Kakak sih nggak tahu seberapa ketatnya aturan dari kakak aku." Alena cemberut.


"Nah itu bisa dapet ijin pergi, gimana itu ceritanya??" Hardi agak penasaran dengan kebohongan yang dibuat gadis di hadapannya itu.


Alena tersenyum. "Aku bilang ada reuni SMA."


"Dan kakak kamu percaya?"


"Sepertinya." mengangkat kedua bahu bersamaan. "Dan di tambah drama lainnya sih." tergelak.


Pletak!! Sentilan kecil mendarat di kening Alena.


"Aww ... kakak!!" Alena meringis. Perih dan panas menjalar di kepalanya.


"Dasar tukang bohong!!" Hardi berpura-pura marah.


"Kalau nggak gitu gak akan dapat ijin, tau!!" sambil mengusap-usap keningnya yang agak memerah.


Hardi hanya tersenyum.


"Ayo pergi. Keburu siang!!" ajaknya, segara masuk kedalam mobil.


Setelah memastikan sabuk pengaman yang melilit tubuh mungil Alena terpasang dengan benar, dia pun melakukan hal yang sama pada dirinya, kemudian melajukan mobil membelah jalanan pagi itu.


Senyum Alena merekah sepanjang perjalanan.Gadis itu begitu bersemangat.


"Seneng bener." Hardi memulai pembicaraan.


"Kakak tau, ini kali pertama aku pergi keluar sendirian ke tempat yang agak jauh, tanpa kakak-kakakku." senyum Alena masih terkembang.


"Masa?"


"Hu'um."


"Memang kamu nggak pernah pergi?"


"Pernah lah. Sering Malahan. Tapi harus selalu barengan kakak aku. Gak pernah sama orang lain."


"Kenapa?"


"Kakak aku overprotektif."


Hardi menganggukan kepalanya.


"Kakak kamu galak.?" mulai penasaran.


"Nggak. Tapi agak keras."


Hardi mengangguk lagi.


*******


Dua jam kemudian mereka sampai di Lembang, kota pariwisata terkenal di kawasan Bandung Barat.


Alena bertepuk kegirangan.


"Ini tempat favorit aku!!" matanya antusias menatap keluar kaca mobil.


Hardi tersenyum lagi. Dia suka saat melihat reaksi spontan yang menggemaskan dari Alena. Selalu membuatnya bahagia.


"Kita kemana dulu??" Hardi yang sibuk menyetir.


"Floating market!!" Alena dengan riangnya.


"Oke."


Mobilpun melaju pelan menuju tempat yang disebutkan. Walau harus agak merayap karena kemacetan yang sudah di mulai sejak pagi tadi. Lembang memang terkenal macet di saat liburan atau akhir pekan seperti ini.


Banyaknya spot pariwisata membuat kota sejuk itu menjadi tujuan liburan dari luar kota. Bahkan luar pulau.


Mobil sudah sampai di area parkir. Bahkan disaat baru buka pun, tempat wisata ini sudah dipadati pengunjung, terlihat dari hampir penuhnya area parkir.


Hardi bergegas membeli tiket masuk untuk mereka berdua.


Alena semakin kegirangan ketika mereka sampai didalam area. Pemandangan yang begitu memanjakan mata. Sebuah danau besar yang di kelilingi taman dan bangunan unik. Juga pedagang yang menjajakan barang dagangannya dari perahu yang mengapung di danau. Juga ada toko kelontong, toko makanan dan oleh-oleh. Belum lagi spot untuk berfoto yang terkenal di kalangan pengunjung.


Beberapa jam mereka mengelilingi tempat wisata Floating Market Lembang.


Tangan keduanya tak terlepas sedikitpun. Terus bergandengan sepanjang berkeliling, seperti pasangan kekasih pada umumnya.


"Kamu bahagia?" tanya Hardi ketika mereka beristirahat sejenak di satu spot food court yang ada di bagian atas kawasan itu.


Alena mengangguk sambil menyesap minuman yang dia pesan beberapa menit yang lalu.


Hardi mengacak puncak kepala gadis itu dengan gemas.


Sebentar, Alena mengeluarkan ponselnya. Kemudian memfoto kerumunan pengunjung yang ada tepat di depannya.


Gadis itu membuka aplikasi pesan, edit, kemudian send.


"Kirim chat sama siapa?" Hardi mendekat, menatap layar ponsel Alena.


"Kakak. Biar mereka percaya kalau aku lagi reuinian!" kemudian terkekeh.


"Dasar adik durhaka!!" Hardi semakin gemas dengan kelakuan gadis kesayangannya itu.


Merekapun tertawa.


Sore menjelang. Mereka keluar dari area Floating Market. Kali ini menuju pemandian air panas Sari Ater yang jaraknya agak jauh dari tempat sebelumnya.


Mereka harus menempuh jarak sekitar dua jam untuk mencapai pemandian air panas itu. Yang jika hari biasa bisa di capai hanya dalam waktu tiga puluh menit saja.


Terletak di kaki Gunung Tangkuban Perahu, dikelilingi kebun teh dan hutan pinus, membuat kawasan itu terasa lebih dingin dari area sebelumnya. Kabut mulai naik dari lembah Ci Asem menutupi permukaan hutan gunung Tangkuban Perahu yang mereka lewati.


Pukul 5 sore terasa menjelang malam karena cuaca yang berkabut membuat keadaan diluar agak gelap.


Mobil memasuki area resort Sari Ater. Beberapa bangunan berjejer berdampingan.


Hardi dan Alena memasuki satu bangunan besar yang kemudian diketahui adalah sebuah hotel.


"Kita nginap?" Alena yang mengekor di belakang Hardi.


"Iya." Hardi mengangguk.


"Kok kakak nggak bilang?" Alena mengerutkan dahi.


"Oh iya? lupa." Hardi dengan suara datar.


"Ish ...!!" Alena mencebik.


Setelah membayar dan mengambil kunci kamar, mereka pun naik ke lantai atas.


"Kakak pesan nya satu kamar?" Ketika mereka sudah memasuki kamar hotel tersebut.


"Hmm ..." jawabnya sambil meletakan dua tas yang mereka bawa.


"Apa rencana kakak?" Alena mulai curiga.


"Maksud kamu?" Hardi menoleh.


"Kakak tau maksud aku apa!"


Hardi terkekeh.


"Aku mau kita menghabiskan malam ini bersama." Hardi dengan riangnya.


"Bohong." Hardi tergelak menatap wajah gadis mungil di depannya itu yang nampak memucat. "Kalau aku pesannya dua kamar, uangku nggak cukup." terkekeh lagi.


"Ini ..." tiba-tiba Hardi menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Alena melongo.


"Apa itu?" katanya.


Hardi meraih tangan Alena dan menjejalkan kotak hitam itu ke tapak tangannya.


"Buka!" katanya, memerintah.


Dengan ragu, gadis itu membuka kotak kecil yang diberikan Hardi. Tampak isinya yang berkilauan di terpa cahaya lampu temaram di dalam kamar.


Seuntai kalung perak berwarna putih dengan liontin berinisial huruf A.


"Happy birthday." menatap wajah gadis yang matanya berbinar itu. "Maaf aku nggak tau waktu itu kamu lagi ulang tahun. Aku baru tahu setelah stalking akun medsos kamu." terkekeh.


Alena mengalihkan pandangan ke wajah tampan dihadapan nya. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibir mungilnya. Hanya senyuman yang tertahan. Sedetik kemudian ada air yang lolos dari kedua mata gadis itu.


Dia menghambur ke pelukan Hardi yang berdiri mematung tak jauh darinya.


"Makasih." ucapnya disela isakan yang tertahan.


Hardi membalas pelukan gadis itu. Mengusap punggung Alena yang bergetar menahan tangis.


"Maaf hanya bisa begini. Sementara yang aku ambil dari kamu justru lebih banyak dan lebih berharga dari seluruh dunia." Hardi mengecup puncak kepala Alena. Memeluk tubuh gadis itu lebih erat.


Alena hanya mengangguk-angguk. Sama mengeratkan pelukan di tubuh tinggi Hardi.


*********


Malam menjelelang. Hardi dan Alena turun dari kamar menuju pemandian air panas yang mulai di jejali pengunjung.


"Rame ya?" Alena yang takjub dengan keadaan sekitar.


"Buruan foto, terus kirim lagi ke kakak kamu. bilang juga kamu nggak pulang malam ini!" perintahnya kepada Alena.


"Ish... tadi siang aku gitu bilangnya adik durhaka!!" Alena mencebik.


"Udah lah, tanggung juga kan. Haha.." Hardi tergelak.


Tak urung Alena pun menuruti perintah sang pujaan hati.


Tak lama setelah gambar dikirim, Arya tampak melakukan videocall. Alena mengibaskan tangan kepada Hardi agar pemuda itu menyingkir.


"Ya?" Alena terpaksa menjawab.


"Kamu serius gak pulang?" Arya bersungut-sungut.


"Iya bang. Tanggung."


"Kalau kamu gak bisa pulang sendiri, biar abang yang jemput kamu. Tunggu disana. Jangan kemana-mana." Arya memaksa.


"Nggak usah. Jauh juga kan. Percuma abang kesini juga. Nanti sampai nya malam. Terus mau jam berapa sampai di rumah??" Alena coba meyakinkan.


Arya sejenak berpikir, kemudian menghela napas kasar.


"Ya sudah. Tapi besok kamu harus pulang!!" katanya penuh penekanan.


"Siap boss!!" Alena yang merasa lega. Telpon di tutup.


Mereka berdua saling pandang, kemudian tertawa bersamaan.


"Dasar adik durhaka!!" Hardi mengejek.


"Kakak yang bikin aku jadi durhaka!" Alena membalas. Kemudian tertawa lagi.


*


*


Mereka kembali ke kamar setelah berendam di air panas sekitar pukul 10 malam ketika keadaan di pemandian sudah semakin padat. Angin mulai bergemuruh membawa kabut dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.


Alena berlari kecil mensejajari langkah lebar Hardi.


Setelah berganti pakaian, Alena kembali ke ruangan utama. Ranjang. Tapi dia tertegun setelah mendapati Hardi yang telah terlebih dahulu berbaring di ranjang empuk itu, memainkan ponsel nya.


Alena menelan ludah kasar. Jantungnya berdebar.


Apa itu akan terjadi lagi malam ini??


Hardi menyadari kehadiran gadis itu yang tengah berdiri di samping tempat tidur. Dia menoleh, kemudian bangkit.


"Kakak mau kemana?" Alena dengan kening berkerut.


"Tidur." katanya, meraih bantal yang tadi di pakainya.


"Tidur?" masih heran dengan tingkah Hardi.


Pandangannya mengikuti langkah Hardi yang menuju ke sebuah sofa di sudut ruangan.


"Iya." menjatuhkan bantal di sofa dan bermaksud merebahkan tubuh tingginya disana.


"Kenapa?" Alena bereaksi. "Kenapa kakak tidurnya di kursi?"


Hardi tertegun sebentar, memiringkan kepalanya kemudian tersenyum.


"Aku takut." katanya dengan wajah bersemu merah.


"Takut apa?" Alena masih penasaran.


"Aku takut nggak bisa menahan diri kalau aku tidur di dekat kamu. Aku takut kehilangan kontrol." katanya seraya menjatuhkan dirinya di sofa. Segera berbaring.


"Tidur lah. Pasti capek seharian tadi jalan." katanya membalikkan tubuh tingginya yang tak sesuai dengan sofa kecil yang dia tiduri.


"Kakak?!" Alena berjalan pelan memutari tempat tidur menuju dimana Hardi membaringkan dirinya.


"Hmmm ..." masih membelakangi Alena.


Alena menggigit bibir bawahnya menguatkan hati.


"Aku ...nggak keberatan." katanya dengan lemah.


Hardi mengerjap, kemudian berbalik. Mendapati gadis itu yang kini berdiri di samping sofa tempat dia berniat tertidur.


"Ap-apa?" agak tergagap. kemudian bangkit, merubah posisinya menjadi duduk.


Alena terdiam. Jantungnya berdentam tak karuan. Seakan ingin loncat dari tempatnya.


Hardi mendongak, menatap wajah gadis itu yang tersipu di terpa lampu temaram. Rambut hitam yang kini tinggal sebahu menambah kesan mempesona, membuat nya terlihat eksotis.


"Alena... aku nggak akan memaksa kalau kamu nggak mau." Hardi setengah berbisik.


"Apa rasanya akan sakit seperti waktu itu?" Alena mengingatkan.


Hardi menelan ludahnya kasar, jantungnya pun kini bertalu-talu. Kepalanya menggeleng perlahan.


"Kakak janji?" Alena mendekat.


Hardi mengangguk seperti orang bodoh.


Sedetik kemudian Hardi menarik tubuh mungil di hadapannya sehingga Alena terjatuh di pangkuannya.


Tanpa peringatan apapun keduanya bercumbu. Saling menyentuh, saling menyesap, saling membelai. Menggapai segala yang dapat mereka gapai.


"Kakak, aku takut!!" Alena merintih ketika Hardi membaringkannya di tempat tidur.


Hardi tak menjawab, hanya membelai setiap bagian tubuh Alena yang telah menjadi candu bagi dirinya.


Hingga sesuatu menyeruak ke dalam tubuh Alena, gadis itu mengerang. Memeluk erat tubuh di atasnya.


Napas keduanya memburu, sama-sama berpacu menggapai surga dunia. Hingga sampailah mereka di ambang batas. Hentakan terakhir yang membuat dirinya seperti di lempar ke udara kemudian kembali jatuh ke dasar. Membuat seluruh tulang seperti terlepas dari tempatnya.


*


*


Bersambung ....