
Pusing dan mual terkadang masih dirasakan Alena di pagi hari. Beberapa menit berdiam dikamar mandi untuk sekedar merasakan morning sickness yang dia alami. Sering kali Alena pingsan saat mengalami gejala tersebut, membuat panik seluruh penghuni kost.
Sampai kapan ini berlangsung? ini sudah lima bulan, oh... nak, jangan menyiksaku seperti ini!!
Alena tengah bersiap. Dia mengenakan seragam kerjanya. Tiga bulan sudah gadis itu bekerja di tempat rekreasi keluarga dekat tempat kost nya. Atas ajakan anak pemilik kost.
Dia harus mampu menghidupi dirinya sendiri bukan? Juga bersiap untuk kelahiran sang bayi, walaupun masih beberapa bulan lagi.
Sekarang tak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri. Dia harus bekerja keras dan berhemat. Sering kali dia makan hanya sebungkus nasi sehari, yang dibelinya dari warung depan kost. Agar dirinya mampu menyisihkan sebagian besar gaji kecilnya untuk membayar kost dan menabung.
Dengan berderai air mata dan raungan dalam hatinya.
Anak rumahan terpaksa menjelma menjadi gadis mandiri, demi bayi dalam kandungan.
Sering juga terlintas dalam pikirannya untuk pulang kerumah. Tapi dia takut tak akan ada yang menerimanya kembali. Apalagi dengan keadaannya yang seperti sekarang ini.
Bersyukur selalu saja ada orang baik kemanapun dia pergi. Pemilik kost begitu baik terhadapnya yang sebatang kara dalam keadaan hamil pula, tak ada yang gadis itu tutupi, semua dia ceritakan kepada ibu pemilik kost dan dia memahami permasalahan yang di alami Alena.
"Besok kita bersiap ya, ada gathering dari Build N Construction Corp." sang manager menjelaskan jadwal kerja dan tugas masing-masing pegawai.
"Siap bu!!" semua karyawan menimpali.
"Alena, kamu masih bisa kerja, kan?" manager melirik posisi Alena yang berada tepat di depannya. Terlihat perutnya yang mulai membesar.
"Bisa bu. Nggak usah khawatir." Alena tersenyum ceria.
"Oke. Tapi nggak usah kerja terlalu keras. Semampunya saja. Ingat kondisi kamu."
"Iya bu." Alena tersenyum lagi.
Rapat pagi itupun selesai, semua pegawai kembali pada tugasnya masing-masing.
******
Pagi-pagi sekali area rekreasi telah bersiap. Hari ini ada perusahaan besar mengadakan gathering. Sekitar dua ribuan pegawai perusahaan itu berkumpul disana.
Alena dan pegawai lain turut bersiap membereskan segala sesuatunya. Sementara beberapa bus sudah mulai memasuki kawasan parkir.
Hari itu area wisata sudah di sesaki pengunjung yang sebagian besar adalah karyawan dari perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia yang sedang mengadakan gathering.
Semua pegawai disibukkan dengan tugasnya masing-masing. Ada yang di bagian tiket, kebersihan, maupun waitress. Sementara Alena, duduk manis di meja kasir.
Suasana area wisata riuh oleh kegiatan pengunjung gathering, Alena pun tengah sibuk melayani pembayaran saat dia dikagetkat sapaan seseorang.
"Alena? Kamu Alena?" seorang pria berkaus navi seperti beberapa anggota gathering yang memenuhi area itu.
Alena mendongak.
Deg!!
Wajah yang dia kenal.
Pria itu berdiri di depan meja kasir hendak melakukan pembayaran.
"Kak Raja?" Alena dengan wajah memucat.
"Kamu disini?"
Gadis itu terpaku. Diedarkan pandangannya ke sekitar. Mewaspadai seseorang.
Raja harus bergeser karena pengunjung lain ingin melakukan pembayaran. Dengan sabar dia menunggu keadaan hingga antrian di depan kasir berkurang.
"Elu kok bisa disini?"
Alena tak menjawab. Pandangannya terus beredar mencari keberadaan seseorang.
"Hardi nggak ikut." Raja yang mengerti dengan kegundahan Alena.
Gadis itu menoleh.
"Sayangnya dia nggak ikut. Bayangin bakal seheboh apa tempat ini kalo dia ikut dan nemuin elu ada disini." Raja menatap wajah Alena dengan lekat. "Apa gue telfon ya dia." merogoh ponsel di saku celananya.
"Jangan!!" Alena berteriak, menarik perhatian sebagian besar pengunjung, juga sang manager datang menghampirinya.
"Alena, ada masalah?" manager curiga dengan percakapan dua orang itu di meja kasir.
"Nggak ada bu." cepat menjawab.
"Maaf pak, ada masalah dengan pegawai kami?" manager beralih kepada Raja.
"Owh ... nggak. Hanya kaget bertemu teman, bu." katanya.
"Maaf pak, disini pagawai dilarang mengobrol dengan pengunjung pada jam kerja." seru manager, mengingatkan Alena.
Raja terpaksa menunggu hingga tiba giliran jam Alena beristirahat karena penasaran ingin mendengarkan penjelasan dari gadis itu. Meskipun harus melewatkan beberapa acara yang di selenggarakan perusahaan tempat dia magang.
"So,... udah berapa bulan?" tanya nya, menunjuk perut Alena yang mulai membuncit.
"Sekarang lima bulan."
"Ckckck!! Tokcer juga tuh anak." katanya, membuat wajah Alena memerah. "Eh ... maaf." kemudian menutup mulutnya sendiri.
"Kak Hardi masih magang?" Alena penasaran.
"Iya. Kan bareng gue." Raja mengangguk.
"Dia nggak pernah ikut acara perusahaan. Dia milih lembur beresin deadline." bersandar pada kursi. "Dia pekerja keras!!" penuh penekanan.
"Elu sendiri, kenapa kabur?" Raja mengalihkan pembicaraan.
Alena terdiam.
"Hardi nyari elu kemana-mana. Dia hampir gila. Kalau nggak Vania larang, dia pasti udah datang kerumah Elu. Alamat perang deh sama abang elu." Raja menjelaskan.
"Hmm..." Alena hanya menggumam.
"Elu sendirian, Al?"
"Iya."
"Kenapa nggak lu kasih tau Hardi kalau elu ada ada disini? Dia pasti dateng."
Alena menggeleng. "Nggak mungkin, kak."
"Kenapa nggak?? Lu lagi mengandung anaknya dia." Raja menunjuk lagi.
"Gimana hubungan nya sama kak Lasya?"
Alena balik bertanya.
"Ya ... mereka tunangan." Raja menjawab ragu.
"Hhhh.... " Alena mendengus.
"Lu tahu dia sayang sama elu."
"Hh... sayang." menghela napas pelan. " boleh aku minta satu hal sama kakak?"
"Apa.? minta deh yang banyak."
"Kakak mau janji nggak akan kasih tau kak Hardi kalau aku ada disini?"
"Maksud lu?"
"Aku harap kakak nggak bilang kalau udah ketemu aku."
"Hardi nyariin elu, Al"
"Nggak penting. Aku mau kakak janji. Jangan bilang ke kak Hardi aku ada disini."
"Nggak bisa. Gue pasti bil ..."
"Nggak apa-apa. Aku pasti bakal pergi juga dari sini."
"Al ...
"Lebih jauh dari sini."
"Tapi, Al ...
"Aku mohon." mata Alena berkaca-kaca.
Tak tega juga akhirnya melihat wajah polos Alena yang matanya berkaca-kaca hampir menangis.
"Sesakit itu hati lu sama Hardi?!""
Alena menggeleng. "Aku cuma lagi melindungi diri aku sendiri "
"Hhh .. serah elu deh." Raja menghela napas gusar.
"Kakak Janji??" Alena lagi.
"Iya, gue janji."
"Makasih." Alena tersenyum.
"Tapi ..." Raja merogoh ke dalam tas nya," kemudian memberikan beberapa lembar uang merah kepada Alena.
"Nggak usah, kak." gadis itu menolak.
"Terima, Al."
"Nggak usah, kak. Aku ada kok." menolak lagi.
"Elu terima deh, kalaupun elu gak mau gue kasih buat anak lu."
Alena masih menggeleng.
"Ya udah ... gue telpon Hardi deh biar dia kesini." Raja mengancam.
"Aaa... jangan!! yaudah, aku terima." menyambar lembaran uang dari tangan Raja. "Makasih." memasukkannya ke dalam tas kerjanya.
Raja tersenyum.
Merekapun berpisah setelah makan siang Alena usai, dan gadis itu kembali bekerja.
Bersambung ...