ALENA

ALENA
43. Family man



Si bayi mungil Dilan kini sudah berumur tiga bulan. Semua orang di sekelilingnya mencintai dia, tanpa terkecuali.


Sejak kelahirannya, semua orang dirumahnya seakan punya tugas baru untuk menjaga bayi tampan tersebut. Terutama Arya. Pria itu akan jadi orang yang terjaga pertama kali ketika suara tangis nya menggema di dalam kamar Alena.


Bahkan Arya lebih sering begadang daripada Alena, untuk memastikan bayi dari adik bungsunya tersebut sudah benar-benar terlelap.


Terkadang pria itu sampai tertidur di kursi goyang tempat Alena biasa menyusui bayinya.


"Sini sama Ayah ..." kalimat yang selalu manjur setiap kali bayi itu sedang rewel di tangan ibunya.


Arya memposisikan dirinya sebagai ayah bagi Dilan. Sesuai janjinya dulu, ketika bayi itu masih dalam kandungan Alena. Bahwa dia takan kekurangan kasih sayang sedikitpun. Dirinya takan membiarkan anak itu merasa kekurangan apapun dalam hidupnya.


Bayi tampan itu pagi-pagi sekali sudah rapi dan wangi. Membuat semua orang selalu gemas. Tak tahan untuk mencium pipi gembilnya yang kemerahan.


"Sarapan dulu, bang. Dilannya taruh dulu di box." Alena yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk ketiga kakaknya. Perannya kini berubah menjadi ibu rumah tangga setelah kelahiran Dilan.


Arya sepertinya tak menghiraukan, dia asyik berceloteh ria dengan bayi di pangkuannya, seakan bayi itu mampu berbicara seperti dirinya.


"Abang ... nanti kesiangan!!" merebut sang bayi dari pangkuan kakak laki-lakinya tersebut, kemudian mengembalikannya lagi ke dalam box bayi di ruang tv.


Si bayi ternyata tak ingin dipisahkan dari pria yang dikenalinya sebagai ayah. Seketika dia menangis dengan kerasnya.


"Tuh kan, nangis!" Arya menggerutu, kembali menggendong si kecil, membawanya duduk di ruang makan.


"Kebiasaan deh, Abang yang bikin Dilan manja!!" Alena mengomel. "nempel terus, kan. Nggak mau ditinggal. Kalau udah begini, aku juga yang repot. Seharian dirumah nggak bisa ngerjain apa-apa." katanya, cemberut.


"Kamu dengar itu, sayang? Mama kamu ngomel terus, udah kayak ibu-ibu." Arya mengejek, sambil terus menggoda bayi di pangkuannya.


Sementara bayi itu hanya tertawa dengan suara yang sangat lucu. Membuat orang yang mendengarnya merasa bahagia juga.


Bahkan Alya dan Anna pun selalu tidak tahan untuk nenciuminya bergantian.


****


Vania datang disaat penghuni rumah satu persatu pergi. Tinggal Arya yang masih betah menggendong si kecil Dilan.


"Kalian hari ini mau pergi?" Arya yang mencurigai kedatangan Vania.


"Nggak. Aku cuma mampir. Ibu nitip ini buat si jagoan." seraya menaruh bungkusan di meja, kemudian menghampiri bayi dalam pangkuan Arya.


"Apa itu?" Arya masih menatap curiga.


Alena membukanya, dan matanya berbinar setelah membuka bungkusan yang dibawa Vania.


"Sweater rajutan?" katanya.


"Iyaa, ibu yang bikin." sahut Vania, bangga.


"Makasih." Alena tersenyum penuh arti.


Wanita paruh baya itu memang sering mengirimkan beberapa barang kepadanya. Kadang berupa makanan atau benda lainnya. Dan itu cukup merasa Alena memiliki keluarga lain yang menyayanginya.


"Sini." Vania mengulurkan tangannya untuk menggendong Dilan dalam pelukan Arya.


"Mau apa?" Arya menarik dirinya.


"Bukannya Abang harus pergi kerja? jadi sini, Dilannya aku yang gendong." Vania, tak menarik tangannya.


Arya menatap gadis itu lama. "Emang bisa?" katanya, mengejek.


"Ya bisa lah ... Abang pikir yang setiap sore jagain dia pas Alena lagi masak siapa? kan aku!" Dengan bangga nya.


"Helleh,... nggak percaya. Nanti dia jatuh pas kamu gendong." Arya mencibir.


"Dasar father compleks!!" Vania menggerutu sebal.


"Maksudnya? ...


"Udahan deh ... pagi-pagi udah berantem. Gak bisa apa sekali aja kalau kalian ketemu itu berdamai. Jangan ribut melulu. Pusing dengernya!!" Alena mengomel lagi. Tak habis pikir dengan kedua orang di depannya itu yang selalu ribut setiap kali bertemu.


"Orang kakak kamu yang mulai." Vania protes.


"Kalian sama aja. Kalau bukan kamu yang mulai, pasti Abang yang duluan. Atau juga sebaliknya." meraih bayi dalam dekapan Arya.


"Kalau udah saling cinta, tau rasa nanti!!" Alena lagi.


"Nggak mungkin!!" Vania dan Arya bersamaan.


"Dih, ... aku nggak selera sama om om." Vania mencibir.


"Kamu juga bukan tipeku, anak kecil!!" Arya balik mencibir.


Arya pun beranjak dari kursinya. Sekali lagi menciumi bayi kesayangannya, kemudian pergi.


Vania meraih Dilan dari pangkuan ibunya. Bayi itu tampak riang.


****


"Minggu depan acara wisuda di adain di kampus, lho." Vania memulai percakapan ketika mereka selesai sarapan.


"Oh ya?" Alena fokus membereskan meja, memasukan semua piring kotor ke bak cuci.


"Kamu benar-benar nggak ada niat nemuin kak Hardi dan kasih tahu semuanya?" Vania yang menggendong si bayi sambil badannya bergoyang-goyang, membuatnya tertidur.


"Kamu gigih ya." Alena terkekeh.


"Hmm ...aku lagi bayangin aja. Pas beres wisuda, kamu datang. Dan kak Hardi tau semua ini. Pasti bakal ada adegan dramatis."


"Lebay." Alena mendelik.


"Serius." Vania antusias dengan bayangan di kepalanya.


"Yang ada di kepala aku, bakalan sekacau apa keadaan nya kalau semua ini dibuka lagi." berhenti sebentar.


"Maksud kamu?" Vania membaringkan si kecil di box nya setelah bayi itu terlelap cukup nyenyak.


"Beberapa bulan belakangan aku merasa tenang. Abang udah nggak lagi nanya-nanya soal siapa Ayahnya Dilan. Nggak ada lagi yang dia permasalahkan soal keberadaan Dilan." menarik napas dalam, seolah melepaskan beban besar. "Bahkan Abang berperan sangat besar dalam tumbuh kembang anakku. Terus apalagi yang aku cari?"


"Tapikan kak Hardi tetap Ayahnya Dilan." Vania menyela.


"Memang. Nggak ada yang bisa merubah itu. Tapi pada kenyataannya siapa yang berperan penting dalam hidup aku sama anakku sekarang?" menatap wajah sahabatnya.


"Abang sudah mau memaafkan kesalahan dan menerima aku lagi, itu udah cukup. Nggak mau menambah beban dia lagi."


"So, its realy over?"


"Aku akan membiarkan semuanya berjalan semestinya, dan berakhir seperti seharusnya."


"Kalau suatu hari kalian ketemu lagi, gimana?"


Alena merenung. "Kalau takdir bilang harus begitu, ya mau gimana lagi. Tapi sebisa mungkin aku akan menghindar, dan menutup rapat semua akses yang memungkinkan kak Hardi untuk mendekat." katanya, mantap.


"Berat bener." Vania menghela napas lagi.


"Jadi aku mohon sama kamu, untuk nggak ungkit-unkit lagi masalah ini. Aku capek mikirinnya."


Vania terkekeh.


"Yang aku fikirin sekarang ini gimana cari jodoh buat Bang Arya." Alena tergelak membayangkan tentang jodoh kakak laki-lakinya itu seperti apa.


Vania mencebik, meraih gelas yang terisi air di hadapannya, kemudian meminumnya karena tiba-tiba saja tenggorokan nya terasa kering.


"Kalau kamu mau daftar boleh. Aku seneng punya kakak ipar sahabat aku sendiri.." tiba-tiba pikiran konyol menyeruak dalam kepalanya.


"Pfftthh..." seketika air yang sudah masuk ke mulut Vania menyembur begitu saja.


"Sebenarnya Abang aku baik, lho. Cuma agak keras aja karena dulu dia harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Menjaga adik-adiknya yang imut ini. hehe.."


"Helleh... PD nya!!" Vania mencibir.


"Serius. Kamu mau jadi kakak ipar aku?" Alena menggoda sahabatnya itu, yang tanpa disadarinya wajahnya sudah semerah udang rebus.


"Dih, males. Seleraku bukan om om tau!!" Vania menghindar.


"Abang itu family man sejati lho. Dia selalu mementingkan keluarga diatas segalanya. Kamu nggak akan nyesel kalau mau sama Abang aku." Alena menaikkan kedua alisnya bersamaan.


"Lah, sejak kapan kamu jadi makcomblang?" Vania terus menghindar.


"Demi Abang aku akan jadi makcomblang dadakan.. hehe.."


Vania merinding mendengar kata-kata yang diucapkan sahabatnya itu. Terlebih lagi saat membayangkan kalau dia mau di jodohkan dengan pria seperti Arya yang usianya jauh lebih dewasa dari dirinya.


"Berasa kayak sugarbaby. hahahaha..." gumamnya dalam hati.


Bersambung....


koment like sama vote nya selalu di tunggu ya.


Iya love you 😘😘😘😘