ALENA

ALENA
49. No!!!



Suasana hening di dalam mobil tak seperti biasanya. Hanya celoteh riang balita tampan itu yang sesekali mencairkan suasana.


Alena merasakan jantungnya masih berdentam tak karuan. Tubuhnya gemetar. Dipeluknya erat putra kesayangannya itu seakan takut kehilangan.


"Udah lama Abang kerja sama mereka?" Alena memberanikan diri bertanya.


"Sebulan ini. Kenapa?" Arya fokus mengemudikan mobilnya.


"Berapa lama mereka kerja sama Abang?" masih penasaran.


"Paling lama enam bulan. Tergantung proyek yang lagi dikerjain. Atau tergantung juga proyek selanjutnya Abang sama mereka lagi atau nggak." Arya menjelaskan.


"Jadi nggak tetap gitu ya." Alena menoleh ke arah kakak laki-lakinya itu. "Maksudnya, mereka nggak tiap hari datang ke kantor Abang, kan?" nadanya terdengar khawatir.


"Memangnya kenapa? kamu ada masalah sama mereka?" Arya mulai heran.


"Euh?? ... nggak." Alena berpaling, takut Arya menyadari sesuatu.


"Sekenal apa kamu sama mereka?" Arya balik bertanya.


"Kenal biasa aja."


"Serius? kayaknya ada sesuatu..."


"Nggak!! Biasa aja. Mereka kakak kelas aku waktu kuliah, udah itu aja!" Alena meracau, panik.


"Biasa aja , kenapa sih. ..." Arya terkekeh. "Kirain salah satunya dari mereka pernah deket sama kamu gitu." Arya tergelak.


Sementara Alena bungkam seribu bahasa. Tak ingin melanjutkan obrolan, takut tak bisa mengendalikan mulutnya.


*********


Hardi menatap nanar layar ponsel di tangannya. Tak biasanya dia penasaran dengan postingan orang-orang yang ada dalam daftar kontaknya.


"Ketika kamu bahagia bersama keluargamu, maka lengkaplah hidupmu." begitu caption dari status WhatsApp Arya, lengkap dengan foto dirinya, Alena dan sikecil Dilan. Sepertinya sedang menghadiri ulang tahun.


Kemudian muncul lagi beberapa status WhatsApp lainnya yang menampilkan foto dengan beberapa pose berbeda. Tetap mereka bertiga. Dan ada beberapa yang bersama orang lainnya.


Nyeri dan sesak memenuhi rongga hatinya. Ada rasa marah menyeruak.


Kembali, Hardi menatap lekat layar ponselnya. Status baru lima detik yang lalu. Foto balita berumur dua tahun yang begitu menggemaskan. Memakai kaos berwarna hijau tosca, dan celana jeans.


Sedang menyeruput minuman dingin.


Diusapnya gambar tersebut. Rasa sesak mulai menyerangnya lagi. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Sakit dan sesak.


Hardi meng-screenshot gambar sikecil Dilan, kemudian segera mengirimkan gambar tersebut ke nomer ibunya.


[Mama kenal nggak dengan yang di foto ini?] katanya.


Dua menit kemudian muncul balasan.


[Kayak kamu waktu kecil.]


[Serius?] Hardi menanggapi.


[Iya. Tapi Mama lupa sama baju yang kamu pakai. Nggak ingat pernah beli itu.] balasnya.


[Tempatnya juga, Mama nggak ingat pernah kesana.] tambahnya.


Hardi mengusap wajahnya kasar.


Apa dia anakku? batinnya.


Apa ini rasa rindu dan debaran yang tak dia mengerti saat menatap wajah balita itu?


Apa benar Dilan adalah darah dagingku? Janin yang sempat aku tolak lebih dari dua tahun yang lalu?


Apa mereka menikah? Suami istri?


"Aaarrgghhh ....!!!" Hardi meremat kuat rambut dikepalanya. Berbagai pertanyaan muncul secara bersamaan. Menyerang akal sehatnya yang tengah rapuh.


Diraihnya botol obat anti depresan yang tergeletak begitu saja di meja. Mengeluarkan beberapa butir, lalu menelannya tanpa air.


Napasnya memburu. Jantungnya berdetak lebih kencang. Keringat membanjiri dari kepala hingga kaki.


Pandangannya mulai kabur. Perlahan tubuhnya terasa melayang. Matanya terasa berat. Seketika semuanya gelap. Hardi ambruk di lantai.


******


Raja mengemudikan mobilnya bagai orang kesurupan. Panik karena tak mendapatkan jawaban ketika beberapa kali melakukan panggilan telpon ke nomer ponsel Hardi.


Jangan-jangan dia ....


Sahabatnya itu memutuskan untuk pulang usai pertemuan mengejutkan dengan Alena tadi sore. Raut wajahnya menggambarkan kefrustasian mendalam. Dia bahkan meminta Raja untuk tak menghubunginya dulu. Dia bilang tak ingin diganggu.


Keluar dari lift, dia langsung berlari menuju unit yang ditinggali Hardi.


Pintunya terkunci rapat.


Raja mencoba mengingat pasword apartemen itu. Satu menit, dua menit, tiga menit.


Klik!!


Setelah beberapa kali mencoba pintu itu terbuka. Raja langsung menerobos kedalam ruangan gelap itu.


Meraba tembok, mencari saklar lampu.


Kemudian menyalakannya.


Tampak ruangan yang tak karuan. Lampu duduk tergeletak di bawah meja. Beberapa barang berserakan dilantai. Sepertinya ada yang sudah mengamuk di ruangan itu.


Deg!!


Raja merasakan jantungnya hampir copot ketika pandangannya menemukan tubuh tinggi sahabatnya yang tertelungkup dilantai dengan butiran obat yang berserakan disampingnya.


"Hardi!!" dia segera menghampiri.


Membalikkan tubuh Hardi, kemudian mencoba membangunkan pemuda itu.


Raja mencoba menepuk wajah Hardi berulang kali. Tapi tak berhasil. Sahabatnya itu tak bergeming.


Malah dia semakin panik manakala ada cairan berbusa mengalir dari mulut Hardi.


"Shitt!!"


Raja segera merogoh ponsel di saku celananya dan melakukan panggilan ke rumah sakit.


Ambulans segera datang, membawa tubuh Hardi yang tak sadarkan diri. Sementara Raja menyusul dengan mobilnya di belakang.


Bersambung ...


Hai ...


Aku Dilan.


Dukung terus mama Na ya.


Aku tunggu like, komentar sama vote nya.


I love you full😘😘😘😘