
Selamat menikmati rasa bersalah seumur hidup kakak karena telah menghancurkan hidup seseorang!
Suara Vania terus berdengung di kepalanya. Bagaikan segerombolan lebah ganas yang terus menyerang tak henti. Ingin menghancurkannya.
Sebuah lubang terasa seperti menekan dadanya.
Hardi terbangun dalam keadaan yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Keringat membasahi seluruh tubuh. Napasnya menderu.
Mimpi yang terus berulang.
Wajah perempuan yang menangis pilu, terisak tanpa suara.
Pemuda itu meremat kepalanya kasar kala pening menyerang. Hardi siuman setelah dua hari tak sadarkan diri.
Slang infus masih mengalirkan cairan bening itu ke tubuhnya setetes demi setetes.
Pintu terbuka. Seseorang masuk menghampiri Hardi yang masih terbaring.
"Udah sadar lu?" Raja yang segera mendekat, mengecek keadaan sahabatnya.
Hardi hanya mengangguk.
"Makan, gih." menyodorkan nampan berisi menu sarapan kepangkuan sahabatnya itu.
Hardi Hanya menatap.
"Makan! Jangan minta gue suapin ya. Ogah gue" Raja mencebik.
Hardi memutar bola matanya, sebal.
"Lu ya, temen baru sadar udah dijutekin." keluh Hardi, seraya menyuapkan makanan kemulutnya.
"Yang bikin nggak sadar siapa? Kan bukan gue."
Hardi menghela napas.
"Pagi ini ada meeting sama Pak Arya. Elu malah OD. Jadinya gue sendiri meeting sama dia."
Hardi menoleh. Otaknya langsung mengingat peristiwa sebelum dia tak sadarkan diri di Sabtu malam lalu.
"Hape gue mana?" katanya, mencari keberadaan benda pipih itu di meja samping tempat tidurnya.
Raja menunjuk ke arah bawah bantal.
"Lu nggak ngasih tau orang tua gue soal kejadian ini, kan?" katanya seraya membuka aplikasi di ponsel.
Raja menggeleng. "Nggak tega gue harus lihat Tante Linda nangisin keadaan elu yang begini." jawabnya.
Hardi membuka galeri, mencari foto yang terakhir kali di tatapnya sebelum dia menenggak butiran pil antidepresan sabtu lalu.
Hardi berhenti pada sebuah foto.
Ditatapnya dengan lekat foto yang didalamnya ada si balita tampan dengan pipi gembil yang menggemaskan.
Hardi menghela napasnya pelan.
"Dia anak gue." menunjukkan layar ponselnya kepada Raja.
"Elu yakin?" katanya, Raja seolah menyangkal, padahal benaknya tengah menyimpan sejuta rasa bersalah karena merahasiakan sesuatu.
"Lu nggak lihat dia mirip siapa?" katanya lagi, kembali memperlihatkan foto dengan tiga orang didalamnya. Alena, Arya dan Dilan.
"Mirip emaknya lah."
"Ck!! orangtua gue aja bilang kalau dia mirip gue waktu kecil."
Raja tak menjawab. Hanya menatap wajah Hardi yang nampak tengah memikirkan sesuatu.
"Dia pasti masih dirumah itu." katanya, seraya bangkit dan hendak turun dari tempat tidur.
"Lu mau kemana?" Raja menahan sahabatnya tersebut.
"Gue mau nemuin mereka dan tanya Alena langsung." mencabut jarum yang menancap di tangannya.
"E ... elu masih belum pulih, bro!" Raja tetap menahan.
"Gue harus cari tau sendiri. Kalau nggak, gue bisa gila!" katanya.
"Iya. Tapi nanti, setelah lu sembuh. Sekarang gak memungkinkan!"
"Kapan? Nunggu Alena kabur lagi?"
"Dia nggak bakalan kemana-mana, lu masih punya banyak waktu."
"Nggak, harus sekarang." Hardi tetap dengan pendiriannya.
"Nggak usah!"
"Gue harus tahu! Dia beneran anak gue atau bukan!!" Hardi berteriak.
"Iya iya. Dia anak lu! Gue tau. Gue udah tau!!" Raja menahan tubuh Hardi yang hendak keluar dari ruang perawatan.
Hardi mematung.
"Apa yang lu tau?" berbalik menghampiri Raja.
Sahabatnya itu diam membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Lu tau semuanya?" Hardi berteriak.
"Waktu itu, lagi gathering di floating market. Gue ketemu Alena. Kandungannya udah lima bulan." Raja menceritakan kejadian lebih dari dua tahun lalu itu secara terperinci.
Hardi merasakan tubuhnya lemas. Mengingat dirinya ada dimana pada saat gathering perusahasn tempat magangnya itu berlangsung.
Dirinya tengah berkendara ke Jakarta untuk menemui Lasya yang Minggu itu tak bisa pulang ke Bandung karena jadwal syuting yang padat.
Seharian itu dirinya berada di lokasi syuting menemani tunangannya tersebut bekerja. Dengan keterpaksaan Hardi menuruti kemauan Lasya yang tengah dalam pemulihan mental pasca depresi nya.
"Lu ketemu Alena, tapi lu nggak bilang sama gue?!" Hardi bereaksi setelah Raja selesai bercerita.
"Gue terpaksa." jawabnya, sendu.
"Lu sahabat gue, Ja!" Hardi dengan frustasinya.
"Alena minta gue nggak ngasih tahu lu. Dia ngancem bakal pergi lebih jauh kalau gue bilang ke elu." Raja dengan penyesalannya.
"Tapi lu udah janji ke gue, Ja!!"
"Iya, sorry. Gue terpaksa."
"Kita cari tahu nanti. Sekarang lu istirahat lagi deh."
"Nggak!!" sergahnya, "Gue harus tahu hari ini juga. Kenapa nggak lu tanyain langsung aja ke Arya siapa dia sebenarnya?" terdengar seperti permintaan.
"Gila lu! Kalau dia tanya ada urusan apa gue tanya-tanya soal itu, gue harus jawab apa? gue jawab kalau tu bocah sebenernya anak lu?" Raja meringis hanya dengan membayangkannya saja.
"Bisa perang dunia ketiga, bro." katanya lagi.
"Tapi gue ....
"Udah, tunggu lu sembuh dulu! Lagian, lu nggak kasian sama Alena, udah bikin dia susah selama ini, terus pas ketemu tau-tau elu bikin kacau hidup dia lagi?" Raja menegaskan.
Hardi terdiam.
"Jangan nurutin emosi lagi, lah. Kita udah dewasa. Udah bukan waktunya lagi. Lu sendiri yang ngerasain akibatnya kan karena nurutin emosi." Raja mengingatkan.
"Bukan cuma tentang elu sama Alena doang, disana ada anak lu juga yang harus dipikirin, ada orang lain juga."
"Bayangin bakal sekacau apa keluarga Alena kalau elu tiba-tiba datang dan ngomong soal anak itu."
Hardi terduduk dengan lemas di sisi tempat tidur.
******
"Aku nggak nyangka kak Hardi sampai begitu." Vania menatap sendu.
Raja berhasil membujuknya untuk bertemu, tepatnya memaksa Vania untuk menemuinya di taman kota saat jam makan siang.
"Lu nggak tau sekacau apa dia." Raja menyandarkan kepalanya pada kursi taman, sedikit memejamkan matanya.
Vania ingat sepanik apa sahabatnya pada Sabtu lalu setelah pertemuan mengejutkannya dengan Hardi dan Raja.
"Sekali aja kita biarin mereka ketemu." Raja memulai ide gilanya.
"Tapi ...
"Dimana tempat kerjanya?" Raja bertanya.
"Tapi kakak ....
"Gue tanya dimana tempat kerjanya.?"
"Di restoran ibu aku." Vania akhirnya menyerah. Memberi tahu tempat Alena bekerja tiap akhir pekan.
Raja menatapnya seakann tak percaya.
"Gue Beberapa kali makan disana! Bahkan Arya pernah ngajak kita makan siang!"
"Masa? Kapan?" Vania menoleh.
"Nggak penting. Sekarang yang penting bikin tu dua orang ketemu. Biar masalahnya nggak berlarut-larut." Raja bangkit.
Vania mengangguk-angguk.
*********
Alena membeku saat menatap seseorang yang dikenalnya berjalan memasuki restoran tempat dia bekerja.
Dadanya bergemuruh. Ingin berlari tapi kakinya seperti dipaku ke lantai tempat dia berpijak.
Hardi sampai tepat dihadapannya.
"Aku ingin bicara!" katanya, datar.
Alena masih mematung.
"Jangan menghindar sekarang. Aku nggak akan melepaskan kamu kali ini." ancamnya, sungguh-sungguh.
"Dimana Dilan?" tanyanya, mengedarkan pandangan mencari sosok yang dia rindukan setengah mati.
"Sama Bang Arya, ..." Alena setengah berbisik. Terdengar ketakutan.
"Shitt!! Alena!" Hardi setengah membentak. Membuat Alena mundur dua langkah kebelakang.
Dia raih tangan Alena dan menariknya keluar dari restoran. Memasukkannya kedalam mobil kemudian membawanya ke suatu tempat.
Mobil berhenti di parkiran taman kota, tempat mereka sering bertemu dulu.
Hardi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas berat. Sementara Alena diam seribu bahasa.
"Kenapa kamu malah menyembunyikan dia dari aku?!" Hardi dengan pandangan lurus keluar mobil.
Alena masih bungkam.
"Kenapa kamu malah kabur?"
"Aku hampir gila mencari kamu."
"Apa dia anakku? katakan! Dilan anakku, kan?" katanya, lirih. Pandangannya kini beralih ke arah Alena yang masih membeku di kursi penumpang.
"Alena!! Dia anakku, kan?" Hardi berteriak, menarik lengan Alena yang berada disisi kirinya.
Gadis itu tersentak. Dua tahun lebih tak bertemu, namun sikapnya kini tak selembut dulu.
Ditatapnya wajah frustasi Hardi yang menantikan jawaban.
"Katakan, dia anakku!" katanya, kini agak berbisik.
"Dilan .... anakku. Hanya anakku." Alena menatap kedalam mata coklat yang berkaca-kaca itu.
"Tidak ada yang menginginkan dia selain aku." suaranya bergetar menahan tangis. "Seseorang bahkan menyuruh aku menggugurkannya, ingat??!" menekankan kalimat itu dengan pasti.
"Alena, "
"Hanya aku. Dilan hanya anakku.!" katanya, segera keluar dari mobil dan berlari menjauh.
Bersambung ...
aku mau ngitungin berlian buat mama Na..
jangan lupa like d komentar sama vote nya
I love you full😘😘😘😘.