ALENA

ALENA
22. Menyesal?



Hardi baru menyadari kesalahnnya ketika Alena sudah menghilang di antara orang yang berlalu lalang. Dia sudah membentak gadis itu. Sekilas tampak air mengalir dari sudut mata Alena sebelum dia berlari menjauh dari tempatnya berdiri.


Hardi menghela napas dalam sambil memejamkan mata, mengacak rambutnya secara kasar. Tak sadar melemparkan tas yang tadi di sampirkannya di pundak ke atas tanah.


Sedetik kemudian dia bermaksud akan mengejar gadis itu, namun urung dilakukan karena Raja menghalanginya.


"Kagak usah lu kejar." Raja menarik jaket bomber navy yang dikenakan Hardi pagi itu.


"Gue harus ngomong sama dia, Ja!"


"Kagak usah!!" Raja masih menahan, "Biarkan dia tenangin dirinya dulu. Lu juga. Gak baik ngomong sambil emosi." Raja menasehati.


"Tapi ..."


"Udah!! Malu juga di kampus. Lu berantem sama adek kelas tar ada hoax yang nyebar.!!"


Hardi berpikir sejenak. Raut wajahnya masih panik.


"Lu mau si Alena di serang netizen dikira ngegoda pacar orang? Lu nggak kasian sama tuh anak?" Raja mengingatkan.


Wajah Hardi berubah muram. Benar juga apa yang dikatakan Raja. Akan ada banyak orang yang salah faham jika itu terjadi.


Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kelas.


***************


Tak di temukannya gadis itu dimanapun. Di kantin, di taman atau di atap gedung kampus sekalipun. Alena seperti menghilang di telan bumi. Hardi sudah hafal jam berapa dan di area mana saja gadis itu biasanya muncul. Namun kali ini Alena tak menampakkan batang hidungnya.


Bahkan di halte bis tempat biasa gadis itu menunggu dirinya saat pulang kuliah pun tak ada. Dua malam berturut-turut pemuda itu selalu berhenti di depan rumah Alena, hanya sekedar memastikan keberadaan gadis yang telah menjungkir balikkan dunianya tersebut. Tapi nihil. Hanya dua mobil kakak Alena yang datang pada malam hari, dan setelah itu tak ada apapun lagi. Hardi pulang ke apartemen dengan kecewa.


Sudah tiga hari berlalu. Alena tetap tak datang ke kampus. Ponselnya tak bisa dihubungi. Seperti sengaja dimatikan.


Berkali-kali Hardi mengusap wajahnya kasar. Dia tak bisa fokus dengan mata kuliah yang tengah dibahas di depan kelas. Dia berantakan.


"Kamu lagi ada masalah?" Lasya yang agak heran dengan keadaan kekasihnya yang tak seperti biasanya. Makanan yang di pesannya di kantin itu tak di sentuh sedikitpun


Raja melirik pelan. Agak takut kalau-kalau Hardi akan mengoceh tak karuan di depan Lasya tentang penyebab dirinya berantakan beberapa hari ini.


Hardi tak bergeming. Sepertinya dia tak mendengar pertanyaan kekasihnya. Hingga akhirnya Lasya harus menepuk pundak pria itu. Dan Hardi pun tersadar dari lamunannya.


"Iya, ap-apa?" Hardi tergagap.


"Kamu nggak dengerin aku?" Lasya protes.


"Maaf. Aku kurang fokus " menatap Lasya sekilas.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Lasya lagi.


"Heuh??. ..Aku.. cuma butuh istirahat kayaknya. Aku pulang dulu ya." Hardi bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu kan masih ada kuliah?" Lasya protes.


"Aku mau ijin dulu. Aku nggak enak badan." katanya, tetap melanjutkan langkahnya sebelum dia berhenti sebentar dan berbalik ke arah Lasya.


"Maaf." tenggorokkannya tercekat. Sementara Lasya mengerutkan dahinya, heran.


"Sekali ini kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?" katanya lagi, hampir dia membuat kesalahan mengucapkan sesuatu yang akan menimbulkan kiamat di hari itu.


Lasya mengangguk pelan. Masih dengan tatapan heran.


Hardi pun berlalu.


"Akhir-akhir ini dia aneh. Sering menghilang tiba-tiba." Lasya mengeluh, sementara Raja hanya mangut-manggut sambil mencari alasan yang tepat kalau-kalau gadis itu mencurigai sesuatu.


"Emang tugas kuliahnya banyak banget ya?"


"Hah?!"


"Hardi bilang tugas kuliahnya banyak. Dia sampai nggak sempat kemana-mana sepulang dari kampus."


Raja hanya mengangguk saja mendengan obrolan kekasih sahabatnya itu.


Dia sibuk mikirin cewek lain tau!! Lu aja yang nggak nyadar. Batinnya.


**********************


Hardi melewati tangga yang menuju ke atap gedung tempat dia dan Alena sering bertemu ketika ada kesempatan. Dia tertegun.


Apa dia sekarang ada di sana?


Hardi menghembuskan napas nya kasar. Kemudian melangkah menuju tangga itu. Menapakinya satu persatu. Tak berharap banyak, namun tetap saja dia ingin kesana.


Angin semilir masuk lewat celah pintu yang sedikit terbuka, membuat pintu itu bergerak maju-mundur.


Tangan Hardi terulur untuk membuka pintu. Melangkahkan kaki panjangnya ke area atap yang sepi.


Matanya membulat sempurna manakala terlihat sosok yang di carinya beberapa hari ini. Bahkan dia harus mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu bukan ilusi.


Alena bersandar di dinding paling pinggir atap itu, menghadap ke arahnya seakan tau pria itu akan datang kepadanya.


Mereka sama-sama tertegun tanpa ekspresi. Namun sedetik kemudian senyuman kecil terbit di sudut bibir keduanya.


Seketika pikiran Hardi kosong. Yang ada hanya suara yang menyuruhnya segera berlari ke tempat dimana Alena berdiri sekarang.


Alena bicara tepat beberapa langkah sebelum Hardi mencapai tempatnya berdiri. "Kenapa lambat sekali??!" Katanya, teriakannya berlomba dengan angin yang berhembus kencang.


Bruukkk!!


Tubuh tinggi itu mencapai dirinya yang telah bersiap dari tadi. Memeluknya dengan erat seakan tak ingin terlepas. Mengangkat tubuh kecil Alena hingga tinggi mereka sejajar.


Hardi mengeratkan pelukan seolah-olah ingin mereka bersatu, hingga Alena merasakan tubuhnya akan remuk dalam pelukan pria jangkung itu.


"Kakak!!" Alena ingin protes.


"Ssstt!! Biarkan bgini dulu sebentar. Sebentaaarrrr saja!!" bisik Hardi, memohon.


"Tapi aku ...


"Aku kangen!!" Hardi berbisik lagi.


"Aku tau"


Hardi makin mengeratkan pelukan.


"Kakak!!" Alena protes.


"Diam, bodoh!!"


"Nanti badan aku remuk!!" Alena ikut berbisik di telinga Hardi. Dalam sekejap, pria itu tersadar. Melonggarkan pelukan nya dari tubuh mungil gadis yang beberapa hari ini dinantikannya tersebut.


Hardi menurunkan Alena dari pelukannya. Membiarkan tubuh gadis itu berdiri dengan kakinya. Meski agak terhuyung karena keseimbangannya belum sepenuhnya terkumpul karena dia mengangkatnya barusan.


Hardi meraup wajah Alena yang terlihat lebih tirus dari sejak terakhir mereka bertemu. Kulit wajahnya agak pucat. Cekungan di lingkaran matanya terlihat jelas. Sepertinya gadis itu tak tidur dengan baik beberapa hari ini.


Dengan tak sabar dia memagut bibir mungil Alena yang masih menyunggingkan senyuman bahagia karena mereka telah bertemu setelah tiga hari menjauhkan diri.


Bibir keduanya bergetar menahan kerinduan yang teramat sangat. Alena membiarkan saja Hardi melakukan apa yang dia inginkan atas dirinya. Memilih menerimanya dalam diam.


Setelah puas berciuman, merekapun duduk di kursi semen di tengah area atap. Tangan keduanya saling bertautan seolah tak ingin terlepas.


"Kamu potong rambut?" Hardi setelah menyadari ada yang berubah dari


penampilan gadis mungilnya tersebut.


Alena hanya tersenyum sambil mengangguk.


Hardi menyelipkan beberapa helai rambut yang terurai bebas di terpa angin ke belakang telinga Alena. Pandangannya tak lepas dari wajah tirus itu.


"Kamu sakit?" Hardi bertanya lagi.


Alena menggeleng.


"Kamu pucat."


"Terus pergi kemana tiga hari ini.?"


"Cuma pergi ke suatu tempat." Alena balik menatap wajah tampan yang beberapa hari ini dirindukannya.


"Kemana?" Hardi penasaran, tempat mana yang mampu membuat gadis di sampingnya ini melupakannya beberapa hari.


"Kamu curang!! Pergi nggak bilang-bilang Hardi berpura-pura marah.


"Kalau aku bilang, nanti kakak ikut." jawab Alena, membuat Hardi membelalakkan matanya.


"Kenapa?" katanya, matanya tak lepas dari gadis itu.


Alena tersenyum, "Hanya menenangkan diri." katanya.


Hardi faham dengan maksud gadis itu. Wajahnya berubah muram.


"Maaf," katanya kemudian, membelai kepala Alena yang rambutnya kini tinggal sebahu. "Beberapa hari ini pasti berat buat kamu." katanya, sendu.


"I'm ok, Kak." tangannya kini meremas jari-jari Hardi di genggamannya. Tersenyum.


Hardi hanya menatapnya lekat.


"Kamu menyesal?" Hardi setelah beberapa saat terdiam.


"Apa?" Alena mengernyit.


"Setelah kita .. melakukannya waktu itu" Hardi dengan agak malu tapi dia merasa tetap harus membahas kejadian tempo hari.


Alena tertegun. Menghela napasnya pelan.


Sementara Hardi menunggu jawaban.


"Menyesal?" Alena mengulang pertanyaan.


Hardi mengangguk pelan.


"Kalau aku menyesal apa semua akan kembali ke keadaan semula sebelum aku ketemu kakak??" Alena dengan tenangnya.


Hardi mengerutkan dahinya.


"Apa dengan menyesal bisa membuat aku jadi Alena yang dulu?"


"Apa kalau aku menyesal aku akan kembali seperti dulu, sebelum kakak menyentuh aku?" Alena bertubi-tubi.


"Semua sudah terjadi. Percuma kalau aku menyesal, nggak akan merubah keadaan." Alena menggendikkan bahu. Menghembuskan napas, seolah merasa lega telah mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Kemudian tersenyum.


Hardi menempelkan kepalanya dengan kepala gadis itu. Mengecupnya dengan lembut. Menghirup aroma tubuh gadis itu yang sangat ia rindukan. Berpelukkan hingga malam merangkak naik di atap gefung kampus yang sunyi.


Bersambung ...


Happy reading. Jangan lupa like koment sama vote. I love you full😘😘😘