
*
*
Linda memang begitu bersemangat mempersiapkan 'pesta kecil' dirumahnya untuk merayakan pernikahan Hardi, anak laki-laki kebanggaan nya.
Beberapa orang saudaranya menyempatkan hadir untuk membantu menata rumah agar lebih nyaman untuk pesta kecil mereka.
Rumah yang memang sehari-harinya selalu hangat kini semakin ramai dengan kedatangan beberapa anggota keluarga lain.
Awalnya Alena merasa canggung dengan kehadiran mereka, karena dia tak terbiasa bertemu dengan banyak orang. Selama ini yang biasa ditemuinya hanya Hardi dan kedua orang tua beserta Hana, kakaknya.
Namun lambat laun gadis itu mampu menyesuaikan diri. Ditambah sambutan hangat yang diterimanya dari mereka. Membuatnya merasa nyaman berada ditengah keluarga itu.
Apalagi ketika mereka langsung mengenali Dilan sebagai anaknya Hardi, dan memperlakukannya dengan baik. Hatinya menjadi tenang. Tak ada lagi ke khawatiran dan ketakutan yang sebelumnya dia rasakan. Hardi benar.
Ah ... kak Hardi, aku rindu..
Tiba-tiba hatinya terasa sepi. Dua hari ini Hardi tak menghubunginya. Terakhir hanya chat pagi kemarin yang menerangkan bahwa calon suaminya tersebut tengah menyelesaikan target pekerjaannya. Hatinya ingin menelfon sekedar untuk mengetahui keadaannya, namun diurungkannya niatnya itu karena takut mengganggu.
Alena menghela napasnya pelan. Memejamkan kedua matanya, menikmati sejuknya semilir angin sore di bangku taman belakang rumah. Yang rimbun dengan tanaman dan pepohonan, membuatnya tak menyangka rumah itu berada tepat di tengah kota Jakarta.
Suara riuh makin terdengar dari dalam rumah, menandakan makin banyak orang yang berdatangan.
"Kenapa malah disini?" Linda menghampiri, setelah tak menemukan calon menantunya itu di dalam rumah.
Alena menoleh, kemudian tersenyum.
"Berisik, ya?" Linda menjatuhkan bokongnya di atas kursi taman didamping Alena.
Gadis itu menggeleng. "Rame, Ma." katanya. "Seru." dia tersenyum.
"Hardi sudah menelfon?" tanya Linda, tau kegundahan yang sedang melanda sang calon menantu.
Alena menggeleng.
"Dia sibuk. Sedang membereskan pekerjaannya." katanya, menghibur.
"Aku tahu," Alena mengangguk.
"Besok juga dia pulang." Linda berujar lagi.
Gadis itu tersenyum. "Dilan?" dia baru ingat dengan anaknya yang tadi bersama Linda.
"Ada sama Tante Merry. Sama cucu-cucunya juga. Mereka udah akrab aja." katanya, menunjuk kebelakang dimana Kakak perempuannya sedang bercengkerama diteras dengan beberapa anak kecil, termasuk Dilan, anaknya. Alena menoleh, kemudian tersenyum.
"Mama bilang apa saja ke mereka soal Dilan.? Pasti mereka tanya." Alena penasaran.
"Mama bilang kalau Dilan anaknya Hardi." dengan entengnya.
"Serius?" Alena terkejut.
Linda mengangguk. Sementara Alena menatap ibu dari calon suaminya tersebut.
Linda mengatakan kepada keluarganya jika Hardi telah menikah secara siri saat masih kuliah. Dan pernikahannya yang akan dilangsungkannya besok lusa adalah sebagai pengesahan secara hukum negara.
Bukankah ada beberapa hal yang seharusnya disimpan secara rapat agar tak menimbulkan spekulasi berlebihan?
Itulah yang telah dilakukan Linda demi kenyamanan calon menantunya.
"Tidak usah dipikirkan. Jangan jadikan hal tak penting sebagai
penghambat kehidupan kamu." menghela napas pelan.
"Yang penting sekarang kalian berusaha lebih baik kedepannya." katanya lagi.
"Mau masuk?" ajak Linda, bangkit dari duduknya.
"Aku disini dulu sebentar lagi." jawab Alena. Kemudian wanita paruh baya tersebut meninggalkan Alena, membiarkan gadis itu menikmati kesendiriannya.
*
*
*
Alena tertidur begitu nyenyak hingga dia tak menyadari hari telah menjelang subuh. Mungkin efek dari persiapan pernikahannya yang cukup menguras energi dan pikirannya. Sehingga membuat dia bermimpi.
Alena merasa mimpinya begitu nyata.
Wajah tampan itu kini berada di depannya, tengah menatapnya dengan senyum secerah mentari.
"Bahkan dalam mimpi pun kakak terlihat begitu tampan!!" gumamnya, pelan. Dia mengigau.
Hardi kembali tersenyum.
"Aku rinduuuuuuu." katanya, menggeser tubuhnya ke dekat Hardi yang terbaring miring seperti dirinya. Merangkul tubuh tinggi itu hingga tubuh mereka berdua kini tak berjarak.
"Dalam mimpi pun wangi kakak terasa nyata.!" gumamnya lagi, menghirup aroma tubuh yang tengah dirangkulnya dengan posesif.
"Hangat." katanya, dengan suara yang serak dan makin mengeratkan pelukannya. Menyurukkan wajahnya di leher Hardi.
Mimpi ini terasa begitu nyata. Oh... Rindu ini begitu menyiksa!!
Deg!!
Alena menyadari sesuatu. Dihirupnya lagi aroma yang menguar di hidungnya. Wangi parfum Hardi yang bercampur dengan aroma tubuh asli pria itu. Digerakkan pula tangannya yang tadi tengah memeluk tubuh itu dengan posesifnya. Terasa hangat dan nyaman.
Alena menggerakkan kepalanya sehingga tercipta jarak antara wajahnya dengan wajah di hadapannya.
Terpampang jelas wajah tampan itu. Mata coklat sayunya tengah menatap dengan binar bahagia. Senyum tersungging dari bibir kemerahan nya.
"Kak Hardi?" panggilnya, dengan suara serak dan mata yang mengerjap-ngerjap, mengumpulkan kesadarannya.
"Iya, Al?" jawab Hardi, masih dengan senyum secerah mentari nya.
Alena mengerutkan keningnya. Tangannya terulur menyentuh wajah di depannya. Terasa hangat.
"Aahh!!" gadis itu menjerit dengan kencang. Kemudian mundur menjauh. Begitu terkejut dengan apa yang didapatkan nya dipagi itu.
BRAAKK!!
Pintu kamar terbuka dengan keras. Beberapa orang menerobos masuk karena mendengar teriakan dari kamar yang ditempsti Alena.
"Ada apa, Ada apa??" Linda yang panik takut terjadi sesuatu dengan calon menantunya.
Seketika suasana menjadi hening. Beberapa pasang mata tertuju kepada pasangan itu yang berada diatas ranjang. Hardi yang tengah berbaring miring, dan Alena yang terduduk disampingnya.
"Astaga!! Ini masih pagi!!" Hana yang datang terakhir menerobos kerumunan beberapa orang kerabat di ambang pintu.
"Tidak bisakah kalian menunggu sampai Ijab kabul selesai besok?" Hana berdiri di tengah ruangan.
"Ngomong apa sih??" Hardi bangkit dari posisi miringnya.
"Sudah, kalian bubar!!" Linda mengurai kerumunan di ambang pintu. Membuat orang-orang itu membubarkan diri.
"Tunggu besok, kenapa!!" Linda melempar bantal di sofa dekat pintu ke arah anak laki-lakinya tersebut.
"Apa sih, ma?!!" Hardi tak mengerti kenapa kakak dan ibunya bereaksi begitu.
Hana memutar bola matanya. "Sabar dong!! Tinggal sehari lagi!! Setelah sah, kalian bebas mau ngapain aja. Nggak sekarang!! Mana diluar lagi banyak orang lagi! Ck!!" kemudian berdecak kesal.
Hardi baru mengerti, mereka salah faham.
"Hmm... " pria itu mencebik.
Sementara Alena menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Malu.
🍃 Flashback On 🍃
Hardi membereskan peralatan kerjanya, segera setelah dia merampungkan gambar rancangan nya yang beberapa hari ini dia kerjakan.
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, pria yang sehari lagi akan menjadi pengantin itu segera keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja.
Hampir tengah malam, tapi dia tak mau menunggu lebih lama lagi untuk segera pulang ke Jakarta.
Hardi memacu Mercedes Benz hitam kesayangannya membelah jalanan kota yang sudah lengang. Memasuki tol untuk kemudian menuju kota tempat kediaman orang tuanya, dimana sang calon istri tengah menunggu kehadirannya setelah hampir dua Minggu mereka terpisah.
Rasa lelah sudah tak dihiraukannya lagi. Pikirannya hanya terfokus pada satu tujuan. Alena.
Musik mengalun keras dari speaker diatas dashboard. Menjadi teman perjalanan pulangnya tengah malam itu.
Yume wo ekagu Yo
yume wo ekagu Yo
yume wo ekagu Yo
My heart draws a ******
Alunan menghentak dari Larc EN Ciel seperti biasa, memacu semangatnya yang sempat surut karena kelelahan. Hingga tiga jam kemudian dia telah berhasil sampai di kota tempat kediaman orang tuanya.
Tepat jam 4 pagi pria itu sampai di depan rumah orang tuanya. Dia menghela napas lega karena telah sampai dengan selamat.
Setelah memarkirkan mobil kesayangannya di garasi samping rumah, Hardi bergegas memasuki rumah yang pintunya sudah tak dikunci karena memang sebagian penghuninya telah terbangun.
Beberapa orang yang menyadari kedatangannya menyapanya dengan antusias.
Setelah bertegur sapa sebentar, Hardi bergegas naik ke lantai atas. Apalagi tujuannya kalau bukan melihat calon istrinya yang sangat dia rindukan dalam dua Minggu ini.
Hardi berdiri menyandarkan punggungnya di balik pintu. Dadanya berdegup kencang.
Alena tengah terlelap begitu damai. Sesekali tubuh mungilnya menggeliat.
Pria itu berjalan pelan ke arah tempat tidur dimana calon istrinya tengah terlelap. Hardi tertegun sebentar, menatap wajah damai di depannya. Seulas senyum terbit di sudut bibirnya.
Hardi mendekat. Menundukkan tubuh tingginya ke arah Alena. Samar-Samar terdengar gadis itu mengigau.
Hardi terkikik geli. Sebelah tangannya menutupi mulutnya agar suara tawa tak lolos darisana.
Kemudian pemuda itu naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuh tingginya di samping Alena yang saking nyenyaknya tak menyadari kehadiran orang lain disisi lain tempat tidur itu.
Hardi memiringkan tubuhnya, pandangannya tetap tertuju kepada gadis disampingnya. Senyuman masih terukir di bibir merahnya. Menatap gerak gerik calon istrinya dengan tawa yang tertahan.
🍃 Flashback Off 🍃
"Sudah!! Keluar sana!!" Hana mengusir adik laki-lakinya itu agar segera keluar dari sana.
"Aku capek. Aku mau tidur." Hardi mendelik, kembali merebahkan tubuh tingginya di tempat tidur.
"Di kamar tamu!" Hana menggerakkan tangannya ke arah luar.
"Nggak mau. Ini kamarku!!" Hardi merajuk.
"Dikamar tamu!!" Hana setengah berteriak.
"Ck!!" Hardi berdecak sambil memutar bola matanya, sebal. Namun akhirnya menurut juga.
Dengan langkah gontai dirinya menyeret tubuh tingginya keluar dari kamar itu. Sekilas menoleh ke arah Alena yang masih terdiam menahan rasa malunya.
"Nanti kita lanjutin ya kangen-kangenannya." Hardi dengan seringai jahilnya. Kemudian segera kabur sebelum bantal yang dilemparkan Hana melayang ke arah kepalanya.
*
*
Bersambung....
Again and again like komen sama vote nya aku tunggu.
I love you full 😘😘😘