
*
*
🍃 Flashback on 🍃
Lasya terbangun di dalam ruangan itu lagi. Mengumpulkan kesadaran yang masih samar di kepalanya. Sendiri lagi.
Tapi kali ini dia tak histeris. Hanya lelehan airmata dari kedua sudut netranya yang mengalir begitu saja ketika mengingat apa yang telah terjadi sebelum dia jatuh pingsan.
Kesempatan itu telah pergi bersama bayangan Hardi yang takkan mungkin kembali lagi. Walau seberapa keras dia menolak, tapi hal itu tetap takkan berubah. Takan kembali seperti dulu.
Hardi yang selalu mendukungnya, selalu memperlakukannya dengan sangat baik, menuruti segala kemauannya.
Hardi yang akan selalu datang disaat dibutuhkan. Kini sudah tak ada lagi. Yang tertinggal hanya sebuah kenangan manis untuk diingat.
Sekarang dirinya sudah tak punya alasan lagi untuk menarik pria itu ke sisinya. Bahkan cara paling ekstrim pun kini sudah tak mempan lagi. Sudah ada orang lain yang menempati posisinya terlebih dahulu. Yang membuat Hardi tak ingin lagi kembali kepadanya.
Lasya terisak berjam-jam. Hanya terisak. Tanpa jeritan, tanpa histeris, tanpa drama. Gadis itu menikmati momen patah hatinya dengan tenang. Sendirian.
*
*
Raja menyeruput kopi nya segera setelah waiter menyajikannya di meja. Kopi hitam tanpa gula seperti yang biasa dia pesan.
Sementara Lasya menyesap jus stroberi favoritnya.
"Kamu tahu semuanya?" Lasya memulai percakapan.
"Hhh ... " Raja menghela napas dalam. Menyiapkan jawaban yang tepat kalau-kalau mantan tunangan sahabatnya itu menanyakan hal yang tak ingin dia jawab sama sekali.
"Aku cuma sedang memastikan," Lasya berujar. Menatap wajah Raja dengan penuh harap. Mencari tahu kebenaran yang selama beberapa Minggu ini disangkalnya.
"Memastikan apa?" Raja menyugar rambut coklatnya, sedikit tak percaya kalau dia harus terlibat percintaan rumit sahabatnya.
"Kamu pasti tahu banyak hal tentang Hardi dibanding aku." Lasya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa sih yang lu harapkan lagi? Hardi udah menikah, udah punya anak. Masih juga mau lu deketin?" Raja akhirnya buka suara.
"Jadi itu benar? Hardi nggak bohong?" Lasya dengan suara bergetar.
Raja menggelengkan kepalanya, kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kalian sudah berakhir berbulan-bulan yang lalu. Bahkan jauh sebelum itu." Raja melipat kedua tangannya di dada.
"Ceritakan semuanya. SEMUANYA!!" lasya menekankan.
Maka mengalirkan segala cerita tentang kisah Alena dan Hardi dari mulai awal mereka bersama hingga perpisahan tak diduga keduanya. Segala drama kehancuran dan kepergian Alena yang menyebabkan menggilanya Hardi tanpa sepengetahuan Lasya. Kemudian berakhir di pertemuan dan pernikahan mendadak beberapa bulan yang lalu.
Raja menghela napas dalam, "Jadi, lebih baik drama ini diakhiri sebelum menyakiti lebih banyak orang. Karena bukan hanya kalian yang terlibat, tapi juga ada anak kecil yang nggak tau apa-apa." mengingat wajah polos Dilan.
Lasya terisak.
"Lu tahu, ada yang pernah bilang kalau puncak mencintai seseorang adalah membiarkan dia bahagia dengan pilihannya. Mengikhlaskan orang yang lu cintai bahagia dengan orang lain itu adalah sebenar-benarnya cinta." Raja mengakhiri percakapannya, menyesap kopi di cangkir yang sudah dingin kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
🍃 Flashback Off 🍃
Lasya masih terisak di depan Hardi dan Alena. Ketiganya saling berpegangan tangan.
"Menangis lah sepuas kamu, agar semuanya terasa lebih baik." Hardi mengusap punggung mantan kekasihnya itu dengan lembut.
"Aku akan meninggalkan kalian sebentar, mungkin kalian perlu bicara berdua." Alena berniat bangkit.
Namun segera Lasya menahannya agar tak pergi. "Jangan. Tinggallah." pintanya.
Alena kembali duduk di samping kiri Lasya yang masih tergugu. Menatap lekat wajah sendu itu.
"Maaf." kata itu lolos dari mulut Lasya.
Suami istri itu saling menatap tak percaya.
"Maaf untuk semua yang terjadi beberapa bulan yang lalu." katanya lagi.
"Aku nggak tahu yang sebenarnya terjadi sejauh itu." masih dengan isakan yang lirih.
"Aku nggak tahu kamu menghadapi itu sendirian," melirik ke arah Alena, meremat jarinya dengan lembut.
"Aku nggak tahu kamu hancur sendirian," kemudian menoleh kearah Hardi.
"Aku begitu egois, hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri, sementara orang lain menderita. Maafkan aku!!" katanya, kemudian tangisnya pecah.
Alena merangsek lebih dekat kepada Lasya, kemudian merangkul tubuh semampai itu ke pelukannya.
"Aku juga minta maaf. Karena kehadiran aku, kalian berpisah." Alena mengungkapkan apa yang terpendam dalam hatinya.
Lasya menggeleng, "Mungkin sudah jalannya ... seperti itu." katanya, membuat dua orang disampingnya terheran-heran. "Aku sudah ikhlas. Aku merelakan semuanya."
Hal apa yang mampu merubah kekerasan hati gadis ini sehingga dia berkata seperti itu?
Alih-alih mencari jawabannya, mereka memutuskan untuk diam dan membiarkan Lasya dengan pemikirannya hingga ia puas menangisi patah hatinya.
*
*
*
"Apa mungkin dia sudah lepas landas?" Alena melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore, mengingat Lasya yang tadi pagi berpamitan akan melanjutkan kuliahnya ke Jepang.
"Pasti sudah." Hardi menghampiri istrinya yang tengah menemani putra kesayangannya mereka bernain di depan televisi.
"Apa kak Lasya akan baik-baik saja?" tanya nya lagi.
Hardi mengangguk. "Dia pasti baik-baik saja."
"Kakak yakin?"
Hardi tersenyum. "Apa yang kamu khawatirkan? Dia pergi dengan ikhlas tanpa membawa dendam apapun. Dia pasti akan baik-baik saja." merangkul tubuh istrinya.
"Aku harap kak Lasya menemukan orang baik, yang bisa mengerti dia. Seperti kakak dulu."
"Ck!! Jangan bawa-bawa aku!!" Hardi menyela.
Alena tersenyum. Kemudian menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kita akan baik-baik saja." jawab Hardi, mengeratkan pelukan di tubuh mungil istrinya.
"Kakak janji?" Alena mendongak, menatap wajah tampan yang setiap hari menghiasi hidupnya.
Hardi mengangguk sambil tersenyum. "Aku janji. Asalkan kita terus bersama, semua pasti akan baik-baik saja." katanya, mengecup puncak kepala istrinya.
Mereka memejamkan mata, saling merasakan degup jantung masing-masing, merasakan aliran hangat diantara keduanya. Berbagi rasa yang terus tumbuh membuat ikatan diantara mereka semakin kuat.
"Kakak?" Alena memanggil seolah Hardi berada disisi lain ruangan.
"Hmm??" Hardi menggumam.
"Kakak sayang sama aku?" tiba-tiba ingin bertanya.
Hardi terkekeh, "kamu mulai lagi." katanya.
"Jawab!!" Alena mendongak. "Kakak sayang aku?" katanya lagi.
"Iya, sayang." jawab Hardi, membuat pipi istrinya merona.
Alena tersipu.
"Dih, kayak ABG!!" Hardi terkekeh lagi.
"Kakak akan sayang aku selamanya?
"Iya." menatap mata bulat yang mengerjap-ngerjap itu.
"Kakak janji?"
Hardi mengangguk. "Janji." katanya.
"Apa yang membuat kakak sayang aku?" Alena penasaran.
"Ck!!" Hardi berdecak kesal. "Apa harus dijawab?" tanya nya.
Alena mengangguk sambil tersenyum.
"Apa ya?" memiringkan kepalanya ke samping.
Alena menunggu.
"Mmm ... mungkin karena kamu yang pertama." menyeringai aneh.
"Maksudnya?" Alena agak mengerutkan dahinya.
"Kamu perempuan pertama yang aku sentuh lebih dari hanya sekedar berpegangan tangan atau berciuman." Hardi mengulum senyum. Geli sendiri dengan alasan yang keluar dari mulutnya.
Alena berpikir keras, mencerna kalimat panjang yang dilontarkan suaminya. Kemudian pipinya kembali merona setelah mengerti apa makna kata-kata itu.
"Kakak bohong!!" katanya, tersipu malu.
"Serius." Hardi kembali terkekeh.
"Masa?"
Hardi hanya mengangguk.
"Dengan kak Lasya,...." ragu setelah melihat perubahan di wajah suaminya. Tampak tak senang, "Aku cuma ingin tahu. Nggak lebih." ucapnya, nyengir.
Hardi menggeleng.
"Aku belum pernah menyentuh siapapun lebih dari berpegangan tangan." menjawab keingintahuan istrinya.
"Kalau dengan Lasya, aku hanya berciuman beberapa kali, kalau kamu ingin tahu." jelasnya.
"Masa?" masih tak percaya.
"Terserah kamu percaya atau nggak." Hardi menggendikkan bahu.
"Kalian pacaran lima tahun, masa nggak ..." Hardi langsung membungkam ocehan yang hampir keluar dari mulut istrinya. Tak memberikan kesempatan Alena untuk bicara lebih banyak lagi.
"Kamu berisik!! juga terlalu kepo!!" melepaskan ciuman nya setelah beberapa saat.
"Aku cuma nanya!!" Alena megap-megap.
"Mulai sekarang, jangan banyak tanya lagi, karena semua sudah aku jawab. Mengerti?!" menatap wajah istrinya dengan tegas.
Alena hanya mengangguk, sambil mengulum bibirnya sendiri agak tak lagi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan konyol.
Hardi tersenyum lagi.
"Aku sayang sama kamu, Alena Prameswari, ibu dari anak-anakku!!" merangkul tubuh mungil itu lebih erat.
"Aku juga sayang kakak." berbisik di dada Hardi.
"Aku tahu." jawab pria itu.
"Mau tahu alasannyaa?"
"Nggakk." tukas Hardi dengan cepat.
"Kenapa?"
"Nggak perlu tahu alasan kenapa seseorang menyayangi atau mencintai kamu. Cukup terima dan rasakan semua perlakuannya kepadamu. Sebesar itulah dia menyayangi kamu." Hardi kembali tersenyum.
Alena tak lagi bicara. Hanya tersenyum mendengar penuturan suaminya.
Ya baiklah, .. aku takan membantah lagi. Terserah padamu ya Tuan Hardi Pradipta. Kamu selalu benar.
*
*
The End ...
Terimakasih buat kalian yang selalu mampir kasih like koment nya. Juga yang mendukung karya ini bisa selalu update.
Nantikan karya selanjutnya ya
I love you full.😘😘