
Vania setengah berlari melewati lorong rumah sakit tempat Alena melahirkan. Hampir meninggalkan ibunya yang tergopoh-gopoh. Dia langsung meluncur ke rumah sakit begitu pagi hari mendapat kabar bahwa sahabatnya telah berhasil melewati proses menyakitkan itu.
Gadis itu langsung menerobos masuk begitu sampai di depan kamar rawat.
Tampak Alena yang masih terbaring dengan selang infus yang menggantung di tangan kanannya.
Alena tersenyum. Sementara Vania menghambur memeluk tubuh yang masih lemah tersebut. Air mata menetes di pipinya.
"Kamu berhasil!!" katanya, mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Alena mengangguk.
Ibunya pun segera menghampiri Alena dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Selamat, sayang" katanya dengan senyuman hangat.
"Makasih Tante"
"Mana bayinya? Diruang perawatan kah?" Vania penasaran.
"Tuh..." menggendikkan dagu ke arah sofa dimana Arya tengah terlelap memeluk si kecil di dada dengan posesif nya.
"Helleh ... bayinya dipelukin aja." Vania bersungut-sungut.
"Dari semalam gitu." katanya,
"Jangan berisik. Nanti Abang marah." Alena berbisik.
"Tapi aku mau lihat bayinya." Vania menghampiri sofa dimana Arya berbaring.
Agak mengendap-endap gadis itu berjalan. Takut juga mengganggu yang sedang terlelap. Sepertinya Arya sangat kelelahan, pikirnya.
"Ganteng!!" gumamnya, menatap wajah lelah yang tengah terlelap itu. Bukan bayinya.
"Eh ...ngaco!!" menepuk dahinya sendiri, kemudian terkekeh.
Tiba-tiba mata yang terpejam itu terbuka membuat terkejut yang sedang memperhatikannya dalam jarak dekat.
Vania gelagapan.
"Kamu?!" Arya bangkit perlahan.
Vania mundur dua langkah.
"Maaf, aku cuma mau lihat bayinya!!" salah tingkah.
Arya mengerutkan dahinya. Menoleh ke arah Alena bersama ibunya Vania yang menganggukkan sambil tersenyum ramah. Pria itu balas tersenyum.
"Aku juga mau gendong." katanya, mengulurkan kedua tangannya hendak meraih bayi dalam pangkuan Arya.
Pria itu menggerakkan tubuhnya membelakangi Vania, menolak keinginan gadis itu.
"Ih ... aku mau gendong!" Vania merengek.
"Nggak boleh!" katanya, sambil mendelik.
"Lho? kenapa nggak boleh?" Vania protes.
"Nanti jatuh." Arya mengeratkan pelukan dengan posesifnya.
"Lah, ...
Ibunya cepat menghampiri dua orang itu sebelum terjadi pertikaian diantara mereka. Dia tau betapa keras kepalanya anak gadisnya tersebut.
"Tante boleh?" katanya, yang juga mengulurkan kedua tangannya.
Arya menoleh. Tersenyum, kemudian menyodorkan bayi dalam gendongannya kepada wanita paruh baya tersebut.
"Ih ... sama ibu boleh?" Vania protes lagi.
Arya hanya melirik sekilas.
"Dasar nyebelin. Untung ganteng!!" gumamnya pelan. "Aish!!! ngaco lagi!!"
Bayi itu menggeliat pelan. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Mulut mungilnya terbuka.
"Namanya siapa?" Vania mengalihkan perhatian lagi kepada Alena.
"Jangan nama jelek itu!! Abang nggak suka!" Arya menyela.
Alena tersenyum. "Dilan." katanya.
"Hissstt!! udah dibilangin jangan pakai nama itu!! jelek!" Arya protes.
Vania tertawa melihat tingkah pria dewasa di hadapannya.
"Aku maunya itu, bang." Alena menyanggah. "Udah di catat juga sama perawat." katanya.
Arya memutar bola matanya, sebal.
"Kayak nama tokoh film." Vania menyela perdebatan adik kakak tersebut.
"Emang." Alena terkekeh.
"Ada kenangan dengan film itu?" Vania penasaran.
"Nggak. Cuma mengingatkan sama seseorang aja." jawab Alena, ringan.
"Mungkin ada hubungannya dengan Ayah si bayi." Arya menyindir.
Vania menaikan satu sudut bibirnya.
"Nggak lah!!" Alena cepat menyangkal.
"Terus?" Vania masih penasaran.
"Ya mau aja pakai nama itu. Nggak ada alasan apa-apa. Kenapa sih.?!" Alena menjelaskan. Meskipun pada kenyataannya memang ada sedikit alasan kenapa dia memberikan nama itu pada bayi mungilnya. Untuk mengingat pemuda yang dicintainya.
Vania hanya manggut-manggut.
"Kamu sepertinya kelelahan." Ibu Vania yang memperhatikan keadaan Arya yang memang agak kusut.
"Lumayan. Habis gendong ibu hamil, terus nungguin bayinya lahir juga diruang bersalin." katanya, mengusap wajahnya.
"Apa?" Vania yang hampir berteriak. "nungguin lahiran? lihat dong pas bayinya keluar?" Vania merasa badannya merinding. Tapi kemudian entah mengapa ada perasaan lain yang dia rasakan. Kagum, mungkin.
"Kamu serius?" Ibunya Vania agak terkejut.
"Ya, terus siapa lagi. Dokternya bilang harus ada yang mendampingi." jawab pria itu lemah, mengingat kembali kejadian semalam.
Wanita paruh baya itu manggut-manggut.
"Kamu kalau mau pulang, pulanglah dulu. Alena biar kami yang jaga." ibu Vania menawarkan.
"Nggak usah, Tante, saya nggak apa-apa." Arya menolak dengan halus.
"Serius, kamu kelihatan lelah. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kami punya banyak waktu kok." katanya lagi, setengah memaksa.
Arya menoleh ke arah Alena.
"Kamu nggak apa-apa Abang tinggal sebentar?" tanya nya.
Alena mengangguk. "Nggak apa-apa. Abang kalau mau pulang aja." jawabnya.
"Yasudah kalau begitu." Arya bangkit dari duduknya. Kemudin meninggalkan kamar rawat setelah berpamitan kepada dua orang perempuan lain di hadapannya.
******
"Lu nggak tidur semalam?" Raja memperhatikan sahabatnya yang sejak meeting tadi pagi terlihat kurang fokus.
Tak seperti biasanya, Hardi banyak melewatkan detil penting dalam beberapa pekerjaannya hari ini.
"Perasaan gue nggak enak. Semalaman gak bisa berhenti mikirin Alena." keluhnya, menjatuhkan kepalanya di meja kerja.
Raja terdiam, pikirannya melayang.
"Setelah berbulan-bulan, baru tadi melam gue gitu lagi." katanya.
"Hampir kacau meeting barusan." Raja menggerutu.
"Sorry, lain kali gak bakalan gitu lagi."
"Ya jangan lah. Bisa ancur nilai kita nanti."
Hardi hanya diam.
"Skripsi lu udah beres? Awas jangan sampai lewat deadline!" Raja mengingatkan.
"Nggak lah.. dikit lagi rampung." jawabnya masih lesu.
"Ya bagus. Jangan sampai lu kehilangan fokus. Udah susah-susah kita masuk sini jangan sampai semuanya kacau gara-gara elu mikirin yang nggak penting!" Raja mulai mengomel.
"Elu berisik. Kayak emak-emak yang lagi belanja di kang sayur." Hardi mengeluh.
"Kalau elunya fokus gue kagak bakalan berisik, Pea!!" memukul kepala sahabatnya itu dengan koran yang di gulung.
"Apa Alena baik-baik aja, ya?" Hardi setelah terdiam cukup lama.
Raja menghela napasnya pelan.
"Lu nggak denger apa-apa gitu dari Vania?" katanya lagi.
"Lu pikir gue gak ada kerjaan gitu hubungin tuh anak mulu?" Raja mulai gusar.
"Elu kan sering ketemu dia."
"Siapa bilang? Seringnya gak sengaja."
"Lu kalau tau sesuatu pasti ngasih tau gue kan?" Hardi menatap wajah sahabatnya itu yang terlihat tegang.
"Ya iyalah. Gue pasti bilang" Raja dengan berapi-api.
"Janji?!" Hardi meyakinkan.
"Hissstt!! Elu ..."
"Lu janji ya!!"
"Iya gue janji."
Nggak kebayang kalo sekarang gue bilang pernah ketemu Alena di tempat itu. Apalagi kalo tau tuh anak nggak gugurin kandungannya. Bakal sekacau dan segila apa elu, bro?! Tapi gue udah duluan janji sama Alena untuk nggak bilang. Sekarang terserah takdir bakalan gimana sama elu berdua. Gue nggak mau ikut campur. Batin Raja.
Bersambung ......
Jangan lupa like koment sama vote ya.
i love you full😘😘😘