ALENA

ALENA
44.Graduation



Hardi tampak gagah dengan stelan jas hitamnya. Sepatu mengkilap, dasi rapih yang berwarna senada dengan jasnya.


"Ah ... pria tampanku, sekarang sudah dewasa. Sebentar lagi kamu akan. meninggalkan Mama." Mama menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Acara wisuda beberapa jam lagi akan berlangsung.


Keluarga Hardi dan ratusan keluarga mahasiswa lainnya telah memenuhi aula tempat acara wisuda akan dilangsungkan, menunggu acara dimulai.


Satu-persatu acara berjalan. Pidato dari rektor dan orang penting lainnya di kampus pun dilaksanakan. Termasuk dari mahasiswa yang menjadi lulusan terbaik tahun itu.


Hardi berdiri di podium mengumandangkan pidato panjangnya sebagai satu diantara lulusan terbaik. Mengenakan toga berwarna navy, menambah pesonanya yang kian bersinar. Membuat semua mata tak mengalihkan pandangan darinya.


Setiap sesi acara berlangsung dengan lancar tanpa halangan. Hingga sore menjelang, setelah selesai acara wisuda beralih ke acara perpisahan mahasiswa.


Hingar bingar musik menggema di seluruh kampus. Keceriaan terpasang di wajah seluruh peserta wisuda yang hadir. Pertunjukkan berbagai kesenian tersaji di panggung acara.


Beberapa grup band kampus mengisi acara. Begitu juga grup band Hardi dan teman-temannya yang menjadi bintang sore itu. Kehadirannya yang begitu ditunggu-tunggu semua orang.


Tepuk tangan dan teriakan riuh menggema seantero aula ketika grup yang ditunggu tersebut naik ke panggung.


[Streaming live nya di FB kampus kalau kamu mau lihat sesuatu yang menarik.] pesan Vania masuk ke aplikasi chat Alena ketika gadis itu tengah menyusui bayi kecilnya.


[Ada apa emangnya?] dia bertanya.


[Tonton aja!] balas Vania.


Tanpa membalas lagi, Alena langsung membuka akun medsos miliknya. Masuk ke akun kampus, dan meng-klik acara live yang tengah berlangsung.


Jantungnya berdebar kencang. Setelah hampitr satu tahun lamanya dia mencoba melupakan wajah tampan itu. Yang menghiasi hari-hari kesepiannya.


Sore itu untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun dia kembali menatap wajah Hardi.


Tak ada yang berubah, hanya saja pemuda itu terlihat makin tampan. Dengan stelan jas hitam berdasi, terlihat seperti seorang eksekutif muda yang sukses.


Hardi meraih gitar di sudut panggung, mengalungkan ke lehernya, sudah terlihat seperti gitaris band terkenal.


Jeritan para gadis terdengar bersahutan dari ponsel Alena.


"Sore temen-temen, ..." sapanya, yang langsung disambut meriah oleh penonton.


Dengan berbasa-basi sedikit, Hardi membuat acara makin meriah sore itu.


"Oke, ada beberapa lagu yang pastinya temen-temen udah tau ... "


Dan mengalun lah musi meriah yang agak keras, khas anak muda.


"The Beginning dari One Oke Rock" katanya


Just give me a reason


to keep my heart beatin'


don't worry it save right here in my arms


As the word falls apart around us


all we can do is hold on


hold on


Take my hand


and bring me back


yeah


I risk everything if it's for you


i whisper into the night


telling me its not my time


and don't give up


I've never stood up before this time


demo yuzurenai mono


tita kono te wo hanasanai


so stand up stand up


just gotta keep on


wake up wake up


just tell me how i can't never give up


kuru wa shimi hodo setsunai


just tell me why baby


they might call me crazy


for saying i'de fight until their is no more


urei wo fukunda senkou gankou wa


kanka katekita shoudou


blinded i can't see the end


So where do i begin?


Keadaan mulai menggila di depan panggung. Tiba-tiba moshing pit tercipta di tengah kerumunan. Keadaan itu bertahan hingga beberapa lagu keras berikutnya dimainkan.


Untuk menenangkan suasana yang memanas diantara penonton, dimainkanlah lagu berikutnya yang agak lembut.


"Oke, yang ini buat pendinginan ya ..." katanya, dengan seringaian khas, sambil mengusap peluh di dahinya.


"Wherever You Are, masih dari One Ok Rock" katanya, yang kembali mendapat sambutan meriah dari penonton yang masih setia menyimak.


Im telling you (oh yeah)


I softly whisper


tonight, tonight


you are my angel


ai shiteru yo (oh yeah )


futari wa hitotsuni


tonight, tonight


i just to say


wherever you are


i'll always make you smile


wherever you are


i'll always by your side


wherever you say


Kimi wo omou kimochi


i promise you forever right now


I don't need a reason( oh yeah)


i just want you baby


alright, alright


day after day (oh yeah)


Kono Saki Nagai koto zutto


douka ko nabo Kuto zuto


shinumade stay with me


we carry on ...


wherever you are


I'll always make you smile


wherever you are


I always by your side


whatever you say


Kimi wo omou kimochi


i promise you forever right now


wherever you are


i'll never make you cry


wherever you are


i'll never say goodby


whatever you say Kimi wo


omou kimochi


i promise you forever right now


bokura ga deata hiwa


futari ni totte ichiban


Me nokine no


Subeki hidane


Soshite Kyoto itu hiwa


futari ni totte niban


me no kinen no


subaki hinane


kokoro ka Ra aiseru hito


kokoro ka ra itoshi i hito


Kono Boku no aino


Mauna kani wa


izuma kimiga iru kara


Semua orang terhanyut dalam alunan musik yang dimainkan. Ditambah emosi yang terdengar dari suara vokalis yang mendendangkan lagu tersebut. Suasana terasa sedih dan haru.


Ada yang berpegangan tangan, ada yang berpelukan sambil menangis, seolah itu adalah hari terakhir mereka bersama.


Keadaan yang samapun terjadi di dalam kamar Alena.


Sebuah tangan kecil menggapai-gapai wajah Alena, menyadarkannya dari lamunan.


"Lihat sayang, ..." memperlihatkan layar ponsel kepada si kecil di pangkuannya.


"Ini papa." katanya, menunjuk wajah yang ada dalam layar.


"Suatu hari nanti kamu akan ketemu papa. Tapi nggak sekarang, ya." katanya, menciumi kepala bayi mungil tersebut yang mata jernihnya sedang fokus menatap layar ponsel.


"Oke. Satu ini lagu terakhir ." Hardi menjeda,


"Aaaa......" penonton terdengar kecewa.


"Buat seseorang yang mungkin nggak lagi menyimak, tapi lagu ini tetap akan aku mainkan." katanya, menarik napas dalam.


"Maaf untuk semuanya." katanya, membuat suasana tiba-tiba hening.


"Anata dari Larc EN Ciel" katanya.


Dan sekali lagi musik mengalun.


Alena terdiam. Itu lagu favoritnya. Pikirannya berlarian kembali ke saat-saat awal kebersamaan nya dengan Hardi.


Pemuda itu mulai menyanyikan bait demi bait dengan penghayatan yang dalam.


Kamera mulai fokus ke wajah si vokalis. Terlihat tetesan air lolos dari kedua sorot matanya. Suaranya terdengar bergetar.


"Apa kakak semenderita itu setelah aku tinggalkan?"


"Aku bahkan lebih menderita dari rasa sakit yang kakak rasakan."


Muneni itsu


nohinimo kagayaku


Anata ga itu kara


Namida kare


hatetemo kaisetsuna


Anata ga itu kara*


Beberapa orang yang menyadari keadaan tersebut tampak terdiam. Sementara yang lainnya ikut menangis.


Hingga di akhir lagu, Hardi tak dapat menahan emosi yang meledak-ledak dalam dadanya dari awal lagu tersebut dimainkan.


"Terimakasih." katanya seraya mengusap wajahnya yang telah basah oleh air mata.


Hardi melepaskan gitar dari genggamannya, dan segera turun dari panggung.


Tampak kamera masih mengikuti langkah pemuda tersebut di kerumunan.


Tiba-tiba sesosok tinggi semampai menghambur ke pelukan Hardi yang masih diliputi emosi.


Bersambung ...


Like koment sama vote nya masih ditunggu ya.


I love you full 😘😘😘😘