
*
*
Hardi sampai di apartemen hampir tengahmalam. Dia terpaksa harus menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terbengkalai dalam beberapa minggu ini.
Ruangan telah dalam keadaan gelap gulita, tentu saja. Sang penghuni telah terlelap di alam mimpi bersama putra semata wayangnya yang dia peluk dengan erat dan dadanya.
Hardi berdiri menyandarkan punggung lebarnya di pintu kamar. Menatap dua pelita hatinya yang terlelap begitu damai. Jas dan dasi masih menempel di tubuh tingginya yang kelelahan.
Pria itu kemudian berjalan menghampiri tempat tidur dimana Alena dan putranya tengah terlelap. Membenahi selimut yang hanya tersampir menutupi sebagian tubuh gadis itu.
Hardi duduk di tepi ranjang. Menatap dua orang yang tertidur berpelukan. Tepatnya Alena yang memeluk anaknya dengan posesif. Sementara sikecil Dilan
dengan nyamannya menempel di dada ibunya.
Seketika Hardi berharap dirinya menjadi balita itu agar bisa tertidur dengan cara yang dilihatnya demikian. Terlelap di dada Alena.
Otakku mulai kacau!! Batinnya, sambil menepuk keningnya pelan.
Dia memutuskan untuk segera membersihkan diri, agar pikiran aneh diotaknya menghilang.
Setelah beberapa menit di kamar mandi, Hardi keluar dengan keadaan yang lebih segar. Namun kemudian rasa lapar menderanya. Dia ingat bahkan dirinya tak sempat hanya sekedar makan malam akibat mengejar deadline yang harus selesai Minggu ini.
Dibukanya tudung saji diatas meja makan. Tersedia beberapa potong ayam goreng dan satu mangkuk capcai yang cukup menggugah selera.
Hardi baru saja akan mengambil nasi dari ricecooker sebelum akhirnya menyadari kehadiran Alena diruang makan.
"Kakak sudah pulang?" katanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Hardi menoleh. Tampak gadis itu yang berjalan tersaruk-saruk dengan mata sayu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Alena menyugar rambutnya yang agak berantakan.
Rasa lapar kian mendera Hardi.
Alena berjalan menghampiri Hardi. Meraih piring di tangannya dan bermaksud mengambilkan nasi dari dalam ricecooker.
"Udah, sana tidur." Hardi menepis tangan Alena yang terulur.
"Nggak apa-apa. Aku juga lapar." dengan polosnya.
"Kamu belum makan?" Hardi agak terkejut.
"Hu'um." mengangguk sambil mengerucutkan bibir mungilnya, menggemaskan.
"Kenapa?" Hardi menelan ludah kasar.
"Nungguin kakak." katanya, membawa dua piring nasi ke meja makan. Kemudian duduk, diikuti Hardi.
"Kan udah bilang aku lembur. Kenapa nunggu segala?" tiba-tiba Hardi merasa bersalah.
"Aku kira kakak lemburnya nggak lama. Pas aku nidurin Dilan dulu, taunya aku malah ikut ketiduran. Tapi akunya malah lapar, jadinya bangun." Alena sambil memindahkan lauk dan sayur ke piring milik Hardi. Melirik jam dinding yang menunjukkan sudah lewat tengah malam.
"Lain kali kalau aku lembur nggak usah nunggu aku untuk makan bareng. Kamu makan duluan aja." Hardi agak menggerutu kesal.
Alena mengangguk pelan.
*
*
Jam sudah menunjukkan setengah tiga dini hari. Namun Hardi tak dapat memejamkan matanya sedikitpun. Dia gelisah.
Pria itu kembali bersandar di balik pintu kamar, kedua tangan dimasukkan kedalam saku joggerpants nya, menatap dua orang yang tengah terlelap di tempat tidur. Tak terganggu.
Dia berjalan pelan menuju ranjang dimana Alena dan putranya tertidur.
Pemuda itu naik keatas ranjang. Merebahkan tubuh tingginya di belakang Alena. Kedua tangannya dilipat dibawah kepala, dijadikan bantal. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih gading. Menghela napasnya pelan.
Sesaat kemudian Hardi memiringkan tubuhnya hingga menghadap punggung Alena yang bergerak pelan naik turun. Bernapas dalam tidurnya yang tenang.
Tangan kanannya menyentuh pundak gadis itu. Meremasnya pelan.
"Al, ..." Katanya, setengah berbisik.
Namun Alena tak terganggu. Gadis itu sudah kembali jauh terlelap dalam mimpinya.
Hardi mendengus kasar.
Dia merangsek, merapatkan tubuhnya di punggung Alena. Tangan kanannya melingkar di perut gadis itu hingga tak tersisa jarak diantara mereka. Kepalanya menempel di tengkuk Alena yang sebagian rambut hitamnya terurai. Wangi shampo seketika menguar begitu ujung hidungnya menyentuh bagian belakang kepala Alena. Terasa tubuh kurus itu menegang mendapat sentuhan tak terduga.
Alena mengerang pelan. Namun tetap terlelap dalam tidurnya. Masih tak terganggu.
Hardi semakin mengeratkan pelukannya di perut Alena.
"Kakak?!" Alena menggeliat ketika merasakan ada sesuatu yang menyentuh bagian belakangnya.
"Hmm.. " Hardi menggumam, merapatkan wajahnya lebih dalam di tengkuk gadis itu.
"Tidur sana!! Sudah malam!" Alena dengan suara parau.
Hardi tak bergeming. Menikmati aroma tubuh gadis dalam pelukannya.
"Kakak!!!" Merengek, kali ini suaranya agak tinggi.
Alena mencoba melepaskan tangan kokoh yang sedang melingkar erat di pinggangnya. Tubuhnya bergerak agar menjauh dari Hardi.
"Sstttt! Diamlah. Aku nggak bisa tidur.!" Hardi berbisik. Menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya. Menyadari sesuatu telah terbangun dibawah sana.
"Tapi jangan begini ..." Alena protes. Kembali menggeliat mencoba melepaskan dirinya.
"Diam!! Jangan bergerak terus, Nanti aku lepas kontrol!!" Hardi sedikit menggeram. Napasnya terdengar berat.
Alena seketika terdiam. Tak ingin bergerak sedikitpun. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia mencoba bernapas setenang mungkin agar tak terjadi pergerakan di tubuhnya.
"Aku hanya mau tidur seperti Dilan." Bisiknya lagi dari balik punggung Alena. Semakin mengeratkan pelukannya.
Dan setelah beberapa saat, dengkuran halus terdengar menandakan pria itu sudah terlelap di balik punggung Alena.
Dan akhirnya dengan perasaan lega Alenapum kembali tertidur menyusul dua orang dikanan kirinya melanjutkan mimpi.
*
*
Kedua orang penumpang didalamnya menatap ke arah rumah minimalis yang beberapa bulan ini ditinggalkan Alena. Gadis itu menghela napasnya dalam.
"Kenapa juga kita kesini?" Alena bergumam.
"Siapa tahu kamu mau ketemu kakak kamu." Hardi menoleh kepada gadis disampingnya. Dia tahu setiap hari Alena memikirkan keluarganya yang berada didalam rumah itu. Merasakan betapa rindunya dia dengan kakak-kakak nya.
"Buat apa?" Alena balik menatap.
"Kita minta restu." jawab Hardi dengan antusias.
"Huh ..." Alena menoleh.
"Aku mau kita menikah secepatnya." balik menatap wajah tirus disampingnya.
"Kakak serius?"
Hardi menghela napas dalam. "Kamu pikir yang di bicarakan orang tua ku kemarin hanya main-main?" mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya bertemu.
"Aku cuma ...masih nggak percaya aja." Alena dengan suara lemah.
Pria 26 tahun itu mendengus kasar.
"Ayo!!" Hardi membuka pintu mobilnya. Berjalan keluar menuju pintu bagian penumpang, kemudian mbuiakannya untuk Alena.
Gadis itupun turun.
Mereka berjalan memasuki pekarangan yang masih nampak asri. Bunga-bunga sudah bermekaran menambah cantik taman mungil di samping rumah.
Tangan keduanya saling bertautan.
Hardi mengetuk pintu dengan semangat. Setelah menunggu beberapa menit, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Membukanya dengan perlahan.
"Kalian?" mulut Anna menganga, merasa terkejut dengan kedatangan dua orang di hadapannya.
"Hai kak." Alena menyapanya dengan ragu.
Anna langsung menghambur ke pelukan adik bungsu yang telah beberapa bulan meninggalkan rumah mereka. Menangis sesenggukan di pundak Alena. Begitupun sebaliknya. Alena merengkuh tubuh kakak perempuannya dengan penuh kerinduan yang teramat sangat.
"Kamu sehat?" katanya, setelah mampu menguasai dirinya. Meraup wajah tirus adiknya, Membolak balikkan tubuh Alena untuk meyakinkan dirinya.
"Seperti yang kakak lihat." Alena dengan isakan yang masih tersisa.
"Siapa Ann?" suara bariton terdengar dari dalam rumah diiringi langkah kaki yang mendekat.
Deg!!
Arya merasakan jantungnya seakan meledak. Menatap dua orang yang berdiri di teras. Kedua rahangnya mengeras.
Berani-beraninya mereka datang kemari!! Gumamnya dalam hati.
Alena meremas tangan Hardi yang masih bertaut erat dengan miliknya. Meminta kekuatan.
"Abang ..." Katanya, pelan.
"Ada perlu apa kalian datang?" Arya dengan tatapan dingin dan suara datar.
"Aku, ...Abang sehat?" Alena dengan ragu-ragu. Menatap wajah teduh di hadapannya yang kini terlihat sangat dingin mengintimidasi. Dia memindai keadaan kakak laki-lakinya tersebut. Arya terlihat agak kurus. Ada guratan halus terlihat di sudut matanya.
"Seperti yang kamu lihat. Kami sehat."Arya masih dengan suara datarnya.
Suasana canggung tercipta.
"Sebaiknya kalian masuk," Anna membuka pintu lebih lebar agar mereka bisa masuk ke dalam rumah.
"Mereka hanya mampir, Ann. Tidak akan lama. Iya kan?" Arya seolah menerangkan bahwa kehadiran mereka tak diharapkan di rumah itu.
Alena menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kalau maksud kamu kesini hanya untuk menanyakan hal tak penting semacam itu, kamu susah dapat jawabannya barusan. Kami baik-baik saja. Dan kalian bisa pergi sekarang." sambung Arya lagi, seakan mempersilahkan pasangan didepannya untuk pergi.
Alena baru saja akan membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk segera pergi dari sana. Dia merasa semuanya akan sia-sia saja. Kakak laki-lakinya tersebut takkan bisa diajak kompromi apalagi berdamai untuk dimintai restu. Bahkan kedatangan mereka disambut dengan kurang baik.
Namun Hardi menahan tangan kurus itu. Dia berdiri kokoh di depan Arya. Menggenggam tangan Alena dengan erat.
"Kami mau menikah." kata-kata itu lolos dari bibirnya. Hardi mengatakannya dengan kepala tegak dan meyakinkan.
Arya sedikit terhenyak. Raut wajahnya berubah. Matanya beberapa kali mengerjap seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kami hanya ingin meminta restu. Dan memohon kamu mau menjadi wali nikah untuk Alena." Hardi dengan tenangnya.
Arya terdiam. Menatap kedua orang di depannya secara bergantian.
"Huh ...tanpa restu akupun kalian sudah bersama." Arya mendengus kasar.
"Urus saja urusan kalian sendiri. Jangan meminta apapun padaku. Karena aku tak Sudi melakukan apapun demi kalian." Arya berbalik memasuki rumahnya. Menutup pintunya rapat-rapat.
Hardi menghela napasnya dalam-dalam. Menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa untuk menetralisir rasa kecewa dalam hatinya.
Sementara Alena merasakan lemas di kakinya. Dia seperti kehilangan tempat bertumpu. Hampir saja tubuh mungilnya tumbang kalau Hardi tak sigap merangkulnya.
Gadis itu terisak pilu dalam pelukan Hardi. Merasakan kekecewaan yang teramat sangat.
*
*
*
Bersambung...
Like vote komentar nya selalu aku tunggu...
I love you full😘😘😘