ALENA

ALENA
Alena-11



Setelah bel pulang berbunyi nyaring, seluruh murid berhamburan keluar dari kelas menuju parkiran dan segera kembali ke rumah untuk beristirahat. Mulai hari ini pelajaran tambahan ditiadakan, sebab banyak anak-anak kelas 12 yang tidak setuju. Kata mereka lebih baik mereka les private saja daripada harus di sekolah sampai sore, belum lagi jika yang ada kegiatan nantinya.


Alena dan Helena masih di dalam kelas, hari ini adalah tugas mereka untuk membersihkan kelas. Tugas cowok hanya buang sampah dan cewek menyapu kelas. Setelah selesai menyapu, Alena dan Helena kembali duduk dibangku mereka sebentar.


"Lo gak ke kantin yah, tadi?" tanya Helena seraya menutup kembali botol tupperware berwarna ungu miliknya.


"Kantin, kok. Kamu aja yang gak ada," jawab Alena. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengirim pesan kepada sang Bunda.


"Lah," Helena mengernyit. "Gue tungguin lo di kantinnya Bude, sampe karatan tau gue nunggunya,"


"Yah, aku mana tau kantin Bude itu yang mana."


Helena menggelengkan kepalanya. "Yaudah, besok deh kita bareng. Jadi, tadi gimana? Balik kelas, gitu?"


Alena menggeleng. "Sama Gatra."


Mata Helena sontak terbelalak. "Anjir! Serius?!"


"Duh," Alena mengusap telinganya yang terasa pengang akibat Helena yang berteriak keras tepat didekat telinganya. "Kagetnya berlebihan banget, sih! Cuma makan juga, gak ngapa-ngapain,"


Helena gemas sendiri melihat tingkah Alena. "Apanya yang gak ngapa-ngapain? Makan bareng itu udah termasuk ngapa-ngapain kalo sama Gatra. Gimana, sih? Gak sukur banget, lo."


Alena membalasnya dengan memutar bola matanya. Benar kata Rana, Helena kelewat lebay.


Tak lama dari itu, sosok Rana masuk ke dalam kelas. Dengan santainya cewek itu langsung duduk diatas meja milik Helena.


"Siapa, nih?" Helena menatap Rana seolah mereka tak saling kenal.


Alena hanya terkekeh melihat itu.


"Alessia Cara." jawab Rana dengan bangga.


Alena langsung tertawa. Wajah Rana itu seperti minta dibungkus. Terlalu imut. Apalagi dia menyebut dirinya Alessia Cara, Alena tidak bisa menahan tawanya.


"Najis, kemauan banget!" Helena bergidik ngeri. "Maggie Lindemann dong, gue."


Rana memasang wajah seolah dia akan muntah. "Maggie Lindemann tiruan ke 999+, hahaha.."


"Kembaran aku, tuh," sahut Alena seraya menyampirkan tasnya dipunggung.


"Ye, ini lagi satu, ngomong kembaran, minta disetrika tuh mulut." Helena ikut menyampirkan tasnya dan mulai berdiri saat Alena juga berdiri.


Rana mulai turun dari atas meja dan mengambil tasnya. "Udah lah, intinya gue sodaraan sama Alessia Cara." lalu, dia berjalan lebih dulu keluar dari kelas.


"Iye iye, semerdeka lo aja." Helena memutar bola matanya dan mulai menyusul Rana. Begitupun Alena.


...****************...


"Tentram banget hidup gue, pelajaran tambahan diilangin," seru Helena saat mereka sudah berjalan di koridor utama untuk keluar dari sekolah.


"Beneran apa, yah? Gue kira hoax." kata Rana sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tas.


Setelah sampai di parkiran, Helena pulang lebih dulu sebab sudah ada sang Kakak yang menjemputnya. Tersisa Alena dan Rana disana. Rana berniat menemani Alena sampai cewek itu dijemput, Rana tidak bisa mengantar Alena pulang karena ia harus ke Bogor lagi.


"Pulang aja, Na. Aku gapapa, kok." kalimat itu sudah Alena lontarkan lebih dari 10 kali, tapi Rana bersikeras untuk tetap menemani Alena disana.


"Nggak, ah. Ntar lo kenapa-kenapa," balas Rana.


Alena hanya menghela nafasnya. Kalau Helena lebay, maka Rana keras kepala. Alena kembali mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, pesannya tadi sama sekali belum di balas oleh Nova, Bundanya.


"Heh,"


Seruan itu membuat Alena dan Rana yang tadinya menunduk segera mendongak melihat siapa gerangan si pemilik suara itu.


"Apa?" tanya Rana ketus saat melihat bahwa Jenny lah yang berada dihadapan mereka sekarang.


"Gue gak manggil lo," tatapan Jenny beralih pada Alena. "Gue mau nanya dia."


"Aku?" tanya Alena sambil menunjuk dirinya.


Jenny berdecih. "Sok imut pake aku-aku,"


"Eh, dia emang imut kali." balas Rana tanpa melihat kelawan bicara.


"Ah, yaudah lah ya, gue gak mau buang waktu sama lo pada." Jenny mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah gambar pada Alena. Karena penasaran, Rana juga ikut melihat.


"Itu elo, kan?" tanya Jenny seperti sedang mewawancarai.


Alena langsung mengangguk saat melihat bahwa memang dirinya yang sedang duduk bersama Gatra dan teman-temannya di kantin Mbah Geng. "Kenapa?"


"Kenapa?!" suara Jenny mulai meninggi membuat Rana langsung siaga, bisa saja saat itu Jenny akan langsung menerkam Alena.


"Lo masih bisa nanya 'kenapa'?" Jenny menatap Alena dengan berapi-api. "Jauhin Gatra dari sekarang, sebelum gue yang jauhin lo dari dia!"


Rana hanya berdecih. Oke, Rana memang tidak suka pada Gatra tapi Rana juga tidak suka Jenny mengancam seperti itu. "Lo pikir lo apa? Seenak jidat ngomong berasa lo kayak penguasa,"


Jenny menatap Rana tidak jauh berbeda seperti dia menatap Alena. "Lo pikir gue ngomong sama lo?"


Alena langsung melerai mereka berdua dengan melontarkan pertanyaan, "Kenapa aku harus jauhin Gatra? Aku sama Gatra cuma temenan, gak lebih dari itu."


"Heh!" Jenny menunjuk wajah Alena. "Lo itu cewek pertama yang dibawa Gatra ke kantin Gangster, dan asal lo tau lo hancurin harapan gue! Harusnya, gue yang pertama dibawa Gatra kesana bukan elo! Gue gak terima, makanya gue tegasin sama lo buat jauhin Gatra. Jangan sampe banyak kejadian antara lo sama Gatra sehabis ini!"


Setelah itu, Jenny langung melongos pergi dengan emosinya yang menggebu-gebu. Sedangkan Alena, cewek itu masih mencerna semua ucapan Jenny.


"Udah lah, gausah dengerin si nenek lampir." ucap Rana seraya menepuk pundak Alena.


Alena tersadar. "Eh-- iya, enggak."


"Gue anterin pulang deh, gue gak jadi ke Bogor. Yuk!"


Alena mengangguk dan mulai masuk kedalam mobil Rana.


...****************...


Setelah sampai, Alena langsung membeli beberapa camilan yang memang untuk dirinya sendiri. Malam ini ia berencana untuk menonton film Korea yang diusulkan oleh Dinda, teman sekelasnya. Judulnya adalah The Battleship Island, kata Dinda difilm itu ada Song Jong Ki. Nah, karena satu-satunya aktor Korea yang Alena suka adalah Song Jong Ki, maka Alena meminta Dinda untuk mengirimkan film itu padanya.


Ditengah sibuknya Alena memilih makanan ringan, suara cowok-cowok langsung terdengar ditelinga Alena. Mereka sangat berisik, seakan alfamart ini adalah milik mereka.


"Enggak, tolol. Argus tuh jago, elonya aja yang gak tau make!"


"Jago, apanya? Gue udah sering pake dia, hasilnya sama aja."


"Makanya, cyclops dong!"


"Apaan, bagusan Layla kali."


"Gatot Kaca deh, hahaha..."


Dahi Alena berkerut. Sebenarnya mereka itu sedang membahas apa. Perlahan Alena mulai berjalan menuju asal suara cowok-cowok itu, dan tempatnya hanya di rak sebelah.


"Mending-- Ibu Peri!" seru Firly saat melihat Alena diujung rak.


Keempat sahabatnya itu sontak mengernyit.


"Mana ada Ibu Peri, bego!" Gatra menjitak kepala Firly.


Langsung saja Firly berdecak kesal seraya mengusap kepalanya yang bekas jitakan Gatra. "Tuh, sana tuh, Ibu Peri!" tunjuk Firly pada ujung rak.


Gatra, Pandu, Rega dan Zidan langsung melihat kearah tangan Firly menunjuk. Dan benar, disana ada Alena berdiri dengan keranjang belanja ditangannya, menatap heran kearah mereka berlima.


"Lah, iya bener, hahaha.." Rega tertawa dan memukul belakang Gatra. "Udah buru sana samperin!"


Gatra langsung mengangguk cepat dan senyumnya mulai mengembang saat dirinya mulai berjalan mendekati Alena.


"Gat, kita tunggu di luar!"


"Sip!"


"Alena," panggil Gatra, sesaat setelah mengacungkan jempol pada keempat sahabatnya.


"Ya?" jawab Alena, cewek itu kembali ke rak sebelumnya untuk mengambil beberapa makanan ringan dan juga cokelat.


"Ngapain?" Gatra terus mengekor pada Alena dan terus memperhatikan gerak-gerik cewek itu.


"Oh ini, beli camilan."


Gatra langsung mengambil keranjang belanja yang dipegang Alena.


"Eh, gausah Gatra," Alena berusaha merebut keranjang itu kembali.


Gatra menjauhkan tangannya. "Biar gue aja, cewek gak boleh bawa berat-berat."


"Tapi itu gak berat, aku masih bisa kok bawanya," Alena masih berusaha mengambil keranjang itu dari tangan Gatra. "Biar aku aja,"


Gatra langsung menahan kedua tangan Alena dengan tangan kanannya yang bebas. "Udah, gue aja."


Melihat mata Gatra yang seakan membuat Alena terhipnotis dan pada akhirnya Alena mengangguk. Lalu, Gatra tersenyum lebar kembali melepaskan tangan Alena dan tangan kanannya mengacak-acak rambut Alena.


"Kesini sama siapa?" tanya Gatra saat Alena mengambil beberapa cokelat kit-kat.


"Sendiri aja." jawab Alena sambil menaruh cokelat yang dipilihnya kedalam keranjang.


Gatra manggut-manggut dan mengikuti Alena lagi yang berjalan menuju lemari pendingin. Cewek itu mengambil satu kotak ultra milk berukuran besar.


"Jalan kaki?" tanya Gatra lagi.


Alena mengangguk. "Iya," kemudian menutup pintu lemari pendingin itu dan berjalan mendekat pada Gatra untuk menaruh susunya pada keranjang. "Kan deket."


"Gak pake jaket? Diluar dingin, Al."


Alena menatap Gatra lalu tersenyum. "Gapapa, kok. Keranjang aku? Aku mau ke kasir,"


Gatra berjalan lebih dulu menuju kasir masih sambil membawa keranjang belanja Alena. Alena hanya terkekeh dan menggeleng pelan melihat itu.


"Gue anterin, yah?" tawar Gatra begitu mereka berdua keluar dari alfamart. Cowok itu kembali memegang kantung plastik yang berisi belanjaan Alena. Tadinya, Alena bilang akan membawanya sendiri, tapi Gatra masih memaksa.


"Gak usah, Gatra. Deket kok, aku gak bakal kenapa-napa,"


Gatra berdecak. "Tau darimana gak bakal kenapa-napa? Emang Tuhan udah bilang tadi sama lo? Udah ah, pokoknya gue anter, liat tuh jalan sepi, gelap, terus lo pake kaos pendek gitu sama celana pendek."


"Cie perhatian,"


"Cie so sweet,"


"Cie mau dong,"


"Cie belanjaannya dibawain,"


"Diem, setan!"


Dan mereka berempat berusaha menahan tawa saat tahu bahwa Gatra memang tidak sedang bermain.


"Yaudah yaudah, buruan kalo gitu, nanti aku dicariin." pasrah Alena akhirnya. Kemudian cewek itu berjalan lebih dulu.


Gatra berseru senang dan melihat kearah keempat sahabatnya. "Buru!" tapi, sebelum dia menyusul Alena, Gatra memberikan plastik belanjaan Alena itu pada Rega. "Bawain, tangan gue pegel."


"Apaan?! Eh, Gatra! Babi, lo sialan!" maki Rega tidak terima saat plastik itu sudah berada ditangannya.


"Anjing emang si Gatra!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...