ALENA

ALENA
36. Usaha Vania



Vania memarkirkan motor matic nya di depan toko swalayan. Masuk kedalam, kemudian membeli sebotol minuman ringan dan sedikit camilan. Setelah itu, dia keluar dan memilih duduk di teras swalayan tersebut.


Istirahat sambil sesekali meneguk minuman dari botol disampingnya. Dan menyuapkan sedikit camilan. Sambil matanya tak lepas dari layar ponsel di tangan.


Online di sosial media berharap menemukan setitik petunjuk tentang keberadaan sahabatnya, Alena.


Ribuan kali gadis itu mengecek akun medsos nya, mencari tahu apakah Alena memperbaharui laman miliknya. Tapi nihil. Sahabatnya itu tak pernah sekalipun membuat status atau mengirim foto apapun selama beberapa bulan ini. Yang bisa menjadi petunjuk keberadaan nya kini.


"Kamu dimana, Alena.? Semua orang mencari kamu.!!" gumamnya dalam hati, sesekali menghela napas dalam.


Keinginannya mencari Alena tak dapat di bendung. Dia merasa harus melakukan sesuatu. Mengetahui keadaan sahabatnya sebelum menghilang membuat Vania khawatir.


Sebuah mobil Avanza silver memasuki area parkir swalayan tempat Vania beristirahat.


Orang yang berada di belakang kemudi mengernyitkan dahinya, mengenali gadis yang sedang duduk merenung di emperan swalayan.


"Vania?" Raja menyapa sesaat setelah turun dari mobilnya.


Vania menoleh, memutar bola matanya, jengah. Orang itu lagi. Ck!


"Ngapain?" Raja berdiri tak jauh dari gadis itu, menatap nya dengan heran.


"Lagi ngaso." jawabnya, jutek. Selalu merasa sebal tiap bertemu dengan orang yang berhubungan dengan Hardi.


"Dari mana?" Raja menghampiri.


"Main." jawabnya, pendek.


"Main? Sendiri?" melihat sekitar, dan tak menemukan siapapun selain gadis itu di sana.


"Memangnya mau tawuran harus bawa banyak orang?" Vania masih jutek.


"Hhh ... " Raja mendengus.


"Sister compleks." katanya, mencibir.


Menyadari sikap menyebalkan gadis itu karena ada hubungannya dengan Hardi.


Vania memutar bola matanya lagi. Bangkit, berniat pergi dari tempat itu.


"Elu masih cari Alena?" Raja yang tiba-tiba ingin menggoda Vania.


"Masih." Vania mengangguk.


"Ketemu?" Raja menyeringai.


"Belum." kemudian menggeleng. Wajahnya berubah sendu.


Raja tertegun. Menimbang sebentar.


Kasih tahu jangan ya. Tapi gue udah janji sama Alena untuk nggak ngasih tau kalau gue udah ketemu sama dia. Tapi gue nggak tega lihat nih anak terus kebingungan. Eh tapi Alena kan cuma bilangnya jangan ngasih tau Hardi. Mmmm ....


Batinnya.


"Gue ketemu sama Alena." katanya, tiba-tiba. Membuat Vania mengubah posisi berdirinya sehingga menghadap ke arah Raja.


"Oh iya?" berjalan mendekat.


"Hmm .. " mengangguk.


"Dimana?" mulai penasaran.


Raja menyeringai.


"Kakak bohong!!" Vania gusar.


"Serius." Raja meyakinkan.


Vania terdiam menatap wajah pemuda di depannya.


"Perutnya udah Segede ini lho." memperagakan kedua tangannya di depan perutnya.


Vania kembali mendekat.


"Alena masih hamil?" makin penasaran.


"Hmm ..." Raja mengangguk sambil tersenyum. "Katanya udah lima bulan."


"Kakak serius?" Vania meyakinkan.


Raja mengangguk sambil tersenyum lagi.


"Dimana?" menatap wajah Raja yang masih mengulas senyum, menikmati pemandangan didepannya.


"Alena bilang gue nggak boleh ngasih tau siapapun dia ada dimana."


Vania tertegun, hampir kecewa dengan penuturan pemuda di hadapannya.


"Tapi karena Elu temennya, gue bakal kasih tahu." katanya lagi.


Kedua mata Vania membulat sempurna mendengar apa yang diucapkan pemuda itu.


Segera setelah Raja selesai memberikan keterangan tentang Alena padanya, gadis itu menghambur begitu saja memeluk tubuh tinggi Raja yang berdiri sempurna di hadapannya.


Raja tampak kaget dengan reaksi gadis itu yang tak terduga. Membuat kedua pipinya memerah.


"Makasih kak!! Aku akan kesana cari Alena." setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Raja. Sementara pemuda itu masih terpaku.


Vania segera menghampiri motor matic nya, kemudian segera pergi dari sana.


****


Hatinya begitu bersemangat setelah perbincangan dengan Raja beberapa saat lalu. Setelah meminta ijin pada ibunya, Vania langsung meluncur ke tempat yang di tuju.


Senyum Vania mengembang begitu dirinya sampai di tempat yang dimaksud.


Segera setelah membeli tiket, Vania masuk ke dalam area wisata. Dirinya dibuat takjub dengan pemandangan sekitar yang begitu memanjakan mata.


Hampir lupa tujuannya datang kesana.


Vania melewati beberapa stand dan toko, mencari sosok Alena.


Ditatapnya seseorang yang berada di meja kasir seperti yang di katakan Raja padanya.


Vania mendekat.


"Alena?" katanya setelah berada di depan meja kasir.


Yang dimaksud tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.


"Vania?" Alena setelah meyakinkan dirinya bahwa yang sedang berdiri di hadapannya adalah sahabatnya.


"Ternyata benar kamu disini." katanya, dengan mata yang berkaca-kaca.


Vania dengan setia menunggu sahabatnya hingga selesai bekerja di sore hari, hingga akhirnya mereka pulang ke kosan pada saat malam hampir turun.


Begitu terkejut dengan keadaan di dalam kosan yang sangat sederhana, jauh dari kehidupan Alena sebelumnya.


Bahkan Vania hampir menangis saat mengetahui jika sahabatnya itu hidup sangat berhemat demi menabung dan membayar sewa kamar.


"Kamu hutang banyak penjelasan, Al!!" Vania yang kini tengah duduk di kasur busa kecil tempat Alena tidur di malam hari.


Alena menceritakan dari awal kisahnya hingga dia sampai terdampar di tempat dia tinggal sekarang. Membuat dua sahabat itu bercucuran air mata.


"Kenapa kamu nggak bilang. Kan kita bisa cari solusi." Vania setelah mereka berhenti menangis.


"Solusi apa? Aku yakin semua orang akan bilang apa yang Abang bilang."


"Aku nggak. Aku lebih setuju kamu dengan keputusan ini."


"Hmm... kabur." mereka berdua tergelak.


Vania memutuskan untuk menginap. Masih penasaran dengan cerita cinta rahasia sahabatnya itu. Dan malam itu mereka berdua hampir tak tidur akibat keasyikan mengobrol.


*****


Saat pagi menjelang, Vania berpamitan.


"Boleh kan kalau aku nanti ksini lagi?" Vania dengan mata berkaca-kaca, tak ingin berpisah dari sahabatnya itu.


"Hu'um ..." Alena mengangguk.


"Baik-baik ya baby sayang, nanti kita ketemu lagi. Jangan nakal!!" katanya sambil mengelus perut Alena yang memang sudah terlihat membuncit. Keduanya pun tertawa lagi.


Bersambung ...


Like, komentar, dan vote mu menyemangati aku!!!


Itu love you full😘😘😘