
Arya mengalah, melingkarkan kedua tangannya ditubuh gadis itu dengan erat, yang bergetar mengeluarkan tangis kerinduan.
*
*
*
Hana melepaskan pelukannya setelah beberapa menit. Tangisnya mereda. Diusapnya wajah yang telah basah oleh air mata itu, kemudian menatap wajah teduh pria di hadapannya.
"Maaf." katanya, lirih.
Arya tersenyum lembut.
Seseorang berjalan menghampiri mereka, menggandeng tangan seorang anak perempuan cantik berusia tiga tahun.
Tatapan mereka bersirobok. Tubuh Arya menegang.
"Mami?" anak perempuan itu memanggil ibunya.
Hana menoleh, tersenyum kemudian mengulurkan tangannya, meminta mereka mendekat.
"Mas Bram, suami aku. Dan Lana, anakku." katanya, memperkenalkan mereka berdua.
Arya menatap keduanya, kemudian tersenyum.
Bram mendekat, juga dengan menyunggingkan senyum ramah.
"Aku menikah di Turki, waktu itu Mas Bram bertugas di kedutaan." katanya, menjelaskan.
Arya mengangguk.
"Maaf." katanya, ditujukan kepada pria disamping Hana.
Bram tersenyum. "Hana banyak bercerita tentang kalian sebelum kami menikah. Baginya, tak ada pria sempurna selain kamu." katanya, menatap sosok Arya dengan ekspresi yang tak bisa dijabarkan.
Mengetahui istrinya telah menemukan seseorang dari masa lalu, dan meminta dirinya untuk menemui pria tersebut bersama-sama.
"Tapi setelah dua tahun mencoba, akhirnya aku berhasil meluluhkan hatinya." sambung Bram, merangkul pundak Hana dengan lembut.
Arya kembali tersenyum.
"Aku bahagia, kamu telah menemukan orang yang tepat. Semoga kalian selalu bahagia dan selamanya bersama." katanya, kembali menatap wajah perempuan yang pernah mengisi hari-harinya dulu.
"Aku titip Hana, jaga dia seperti aku menjaganya dulu." Arya kemudian beralih kepada Bram.
Pria itu mengangguk.
Kini Arya beralih kepada gadis kecil didamping Bram.
"Hey, sayang. Aku Arya." berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan gadis tiga tahun itu.
"Jaga mami kamu ya, jadi anak yang baik." katanya, mengusap puncak kepala gadis kecil itu.
Lana mendongakkan kepalanya kearah Bram, menatap sang ayah dengan sorot bingung. Bram hanya mengangguk.
Merekapun berbincang, menumpahkan perasaan yang sempat tertunda dan memastikan tak ada yang tertinggal setelahnya antara Arya dan Hana.
Kemudian berpisah setelah beberapa saat.
*
*
Arya tertegun menatap mobil yang membawa Hana dan Bram beserta Lana, putri mereka hingga menghilang ditelan gelapnya malam. Kemudian segera memutuskan untuk pulang.
***********
Dua Minggu telah berlalu sejak pernikahan Alya. Rumah sudah kembali ke keadaan normal. Telah terbiasa dengan kehilangan satu anggota keluarga mereka.
"Hari ini kamu kerja?" Arya yang tengah sarapan sambil menyuapi si kecil Dilan.
Alena mengangguk. "Mungkin mulai Minggu depan aku kerja tiap hari." jawabnya.
"Dilan gimana?"
"Ada daycare di dekat kafe. Aku bisa titip disana." jawabnya lagi.
"Memangnya Dilan mau?" tanyanya, ragu.
Alena mengangguk. "Aku udah coba beberapa kali. Dan Dilan bisa aku tinggal. Dia udah terbiasa." katanya lagi.
"Padahal kamu nggak usah kerja, fokus urus Dilan aja. Biar Abang yang kerja." Arya mengemukakan pendapatnya.
"Mau sampai kapan aku bergantung terus sama Abang? Abang juga harus memikirkan hidup Abang, aku nggak mau selamanya jadi beban, apalagi sekarang ada Dilan." Alena menatap wajah teduh kakak laki-lakinya tersebut.
"Kamu tahu, kamu bukan beban. Kalian tanggung jawab Abang." Arya menyanggah, menatap satu persatu ketiga Anggota keluarganya.
"Iya, iya. Tapi mau sampai kapan?"
"Sampai ada orang yang tepat yang bisa menjaga kalian seperti Abang menjaga kalian." katanya, mantap.
Alena menghela napas.
"Oke, sambil nunggu orang yang tepat itu datang, biarkan aku belajar mandiri dulu. Biar nanti aku terbiasa." Alena meyakinkan.
"Kamu keras kepala!!" Arya memicingkan matanya kepada adik bungsunya tersebut.
"Sepertinya sedikit keras kepala itu perlu, apalagi aku ini seorang ibu. Aku harus keras kepala biar biasa bertahan menghidupi anakku, kan?" Alena seolah akan berjuang di medan perang.
Arya terkekeh. "Ngomong apa sih."
Alena tergelak.
Sementara Anna hanya menggelengkan kepalanya menyimak obrolan dua saudara di hadapannya itu.
*
*
*
*
Alena sampai di kafe tepat saat pintu depan telah dibuka oleh Vania. Setelah sebelumnya mampir ke daycare untuk menitipkan Dilan selama delapan jam kedepan.
Kini, balita tampannya itu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran orang lain. Sudah bisa berinteraksi dengan orang selain keluarganya dirumah. Hal yang cukup melegakan untuk Alena. Mengingat keputusannya untuk segera bisa mandiri tanpa sokongan Arya.
"Dilan?" Vania menatap heran kepada sahabatnya itu karena tak membawa serta anak semata wayangnya.
"Udah mulai di daycare." jawab Alena, yang mulai merapikan beberapa barang di meja kasir.
"Serius? Emang bisa?" Vania yang juga mulai mengerjakan tugasnya.
Alena mengangguk.
"Sekarang udah nggak ngamuk kalau ditinggal?" Vania terlihat agak khawatir.
"Nggak. Dia mulai terbiasa." Alena sejenak menghentikan kegiatannya.
"Kak Hardi?" Vania menatap wajah sahabatnya itu dengan kening berkerut, membuat kedua alisnya bertemu.
"Kenapa dengan kak Hardi?"
"Di tahu Dilan kamu titip di daycare?"
Alena terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya. "Nggak."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? Nggak penting juga ngasih tahu kak Hardi aku harus gimana sama Dilan."
"Kan dia bapaknya!" Vania seakan menegaskan.
"Ya terus?" Alena terkekeh seakan ada hal lucu terlintas di benaknya.
"Ya, se nggak ya dia tahu gitu."
"Nggak usah. Nggak penting juga." Alena kembali dengan kegiatannya.
"Lho, bukannya sekarang hari Jum'at.? Biasanya dia datang, kan?"
Alena menggendikkan bahu. "Nggak tahu. Dia kan sibuk. Dua Minggu ini kan nggak dateng." katanya, berusaha acuh.
Vania mengangguk.
"Sibuk dengan tunangannya juga, kan?" gumamnya, berusaha agar tak didengar oleh sabahatnya itu.
"Heleh ..." Vania memutar bola matanya.
Bersamaan dengan itu, terdengar ada yang masuk kedalam kafe.
"Selamat datang di Rumah kayu kafe!!" keduanya bersamaan, dan sama-sama agak terhenyak ketika mendapati siapa yang tengah berjalan menghampiri meja kasir.
Hardi berdiri tepat di hadapan Alena dengan senyum secerah mentari. Hati gadis itu berdesir hangat. Hampir melupakan kekesalannya selama dua Minggu ini kepada pria dihadapannya.
Dengan mengenakan kemeja hitam berlengan pendek, celana jeans dengan warna senada membuatnya terlihat mempesona.
Alena menelan ludah kasar.
Hardi berdiri dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Senyum terus tersungging di bibir merahnya seakan ada hal baik yang telah terjadi padanya.
"Aku mau sarapan." katanya, satu tangannya nenyugar rambut hitamnya yang terburai, lalu menatap si mata bulat yang masih mematung dihadapannya. Terpesona.
"Iya?" Alena menatap wajah tampan itu tanpa berkedip.
"Kopi hitam, pancake?" Vania menawarkan.
"Oke." Hardi menoleh kepada Vania, kemudian mengangguk. Masih dengan senyum sejuta Watt nya.
Vania segera berlalu membuatkan pesanan pemuda itu.
"Ceria bener?" Alena bergumam.
"Ada sesuatu ...." Hardi mengedarkan pandangan mencari sosok yang dia rindukan selama dua Minggu ini. "Mana Dilan?" tanya nya kemudian.
"Di daycare." jawab Alena, pendek.
"Daycare?" tubuh Hardi menegang. "Kenapa di daycare?" tanyanya kemudian.
"Minggu depan aku mulai kerja tiap hari. Jadi aku mulai titip disana. Biar dia terbiasa." katanya, melanjutkan kegiatannya di meja kasir.
"Ck!!" rasa kesal tiba-tiba menyeruak.
"Ada yang harus kita bicarakan." katanya, serius.
"Apa?" Alena mendongak.
Hardi menggerakkan kepalanya, menunjuk meja di sudut ruangan. Kemudian segera berjalan kesana.
Kebetulan belum ada pengunjung yang datang, jadi memudahkan mereka untuk berbincang sebentar.
Alena menghela napasnya pelan, lalu mengikuti langkah pria 26 tahun tersebut.
Keduanya duduk berhadapan.
"Aku akan datang kerumah kamu, menjemput kalian. Kita ke Jakarta." katanya, memulai percakapan.
"Buat apa?" Alena mengerutkan dahinya.
"Buat apa? ya biar kita bisa sama-sama lah!" Hardi meninggikan nada suaranya.
"Aku nggak bisa." Alena menolak.
"Kenapa nggak bisa.?" Hardi kembali menegang.
"Ya nggak bisa aja. Aku disini udah kerja juga. Sayang kalau di tinggal."
"Kamu nggak usah kerja."
"Aku harus kerja."
"Buat apa?"
"Ya buat hidup aku lah. Buat Dilan juga."
"Ada aku!"
"Nggak usah. Aku bisa." Alena menolak.
Percakapan mereka terhenti saat Vania datang membawa pesanan. Wajah keduanya tampak tegang.
Hardi menatap lekat wajah Alena yang menampakkan raut kekesalan.
"Katakan kapan aku bisa datang kerumah kamu, dan bilang semuanya sama Arya?" Hardi sembari melahap sarapan di hadapannya.
Alena terhenyak, " Buat apa?"
"Kok buat apa? Ya biar aku bisa bawa kalian lah." katanya, mengungkapkan hal tersebut dengan ringan seringan bernapas.
"Nggak usah!" Alena kembali menolak.
"Kenapa nggak usah.?"
Alena terdiam, menatap wajah pria didepannya.
"Kakak nggak bisa datang begitu saja kemudian mengatakan semua nya seolah ini bukan hal besar." menghela napas nya dalam-dalam. "Ini nggak akan mudah."
"Kita nggak tahu karena belum mencoba." Hardi menyanggah.
"Kakak nggak tau seperti apa Bang Arya." Alena menyela.
"Iya karena kita belum mencoba." lagi-lagi Hardi menyanggah.
"Ck!!" Alena berdecak kesal.
"Aku mau kita sama-sama lagi. Aku, kamu, dan Dilan." Hardi sejenak menghentikan kegiatan makannya.
"Nggak usah, kak!" kembali, gadis itu menolak.
"Kenapa nggak usah?"
"Jangan memaksakan apa yang susah untuk di wujudkan!" Alena menatap kedalam manik coklat itu.
"Maksud kamu?"
Hardi menjatuhkan garpu yang dia genggam dengan keras ke atas piring di meja di hadapannya, hingga menimbulkan bunyi berdentang yang cukup nyaring. Cukup mengagetkan bagi Alena yang berada di dekatnya.
"Kamu fikir aku bisa pura-pura diantara kita nggak ada apa-apa, sementara aku tahu ada Dilan yang kamu urus.?" suaranya mulai naik satu oktaf.
"Aku baik-baik saja, kak!" Alena meyakinkan, walau sebenarnya dia tengah meredam rasa takut akan ada kemarahan yang meledak dari Hardi.
"Aku nggak bisa!" Hardi menyela.
"Atau kita bisa tetap seperti ini, kita urus Dilan sama-sama, jika itu yang kakak mau. Tanpa harus membuka masalah yang lalu sama Bang Arya." katanya, menawarkan opsi lain yang dirasa cukup masuk akal.
"Nggak. Yang aku mau, kita bertiga sama-sama. Nggak ada pilihan lain. Aku akan bicara sama Arya. Titik." katanya, teguh dengan pendiriannya.
"Tapi kak, ..."
"No!!" Hardi menggelengkan kepala, kemudian menyeruput kopi hitamnya yang berada di sisi lain meja.
Alena menghela napas lagi.
"Sekali saja kita coba.!" Hardi kemudian, kali ini suaranya agak lembut.
"Aku nggak kebayang akan gimana nanti kalau Bang Arya tahu yang sebenarnya." Alena dengan raut wajah sendu.
"Jangan takut. Kita hadapi sama-sama." Hardi meyakinkan.
"Aku nggak takut. Aku hanya nggak tega menyakiti dia lagi. Selama ini aku udah cukup membebani dia, dari kecil hingga dewasa rasanya aku belum pernah berbuat sesuatu yang bisa bikin Bang Arya bangga. Tapi malah menambah beban dia." Alena menatap keluar jendela, seolah mencari cara.
"Satu-satunya jalan agar dia lepas dari beban itu ya dengan kita bersama." Hardi kembali meyakinkan. "Harusnya kalian jadi tanggung jawab aku!"
Alena kembali mengalihkan tatapannya ke wajah di hadapannya. Mencari celah keraguan di wajah tampan itu. Tapi dia tak menemukannya, raut wajahnya begitu meyakinkan.
"Tapi kakak masih dengan kak Lasya," katanya, tiba-tiba ingat kejadian tempo hari di resepsi pernikahan Alya.
"Tunangan," katanya lagi, menekankan kata tunangan.
Hardi terdiam.
"Ayolah, ... jangan menambah korban lagi. Akan ada banyak orang yang terluka kalau kakak tetap memaksakan ini." Alena mencoba meredam sesuatu yang terlihat akan segera meledak dari Hardi.
Dering ponsel membuat percakapan mereka terjeda. Hardi meraih ponsel di sisi lain meja, menatap layar, kemudian menggeser tombol hijau.
"Iya?" raut wajahnya berubah.
Alena menatap dengan pikiran yang menerka-nerka.
"Oke nanti aku kesana." katanya, segera mengakhiri percakapan di telepon.
Hardi menaruh ponsel di sisi kirinya. Kembali menatap wajah gadis dihadapannya.
"Keluarlah sebentar, bawa Dilan juga. Ada yang mau ketemu." katanya.
"Tapi aku lagi kerja, ..." Alena mencoba menghindar.
"Vania,?" Hardi berteriak sehingga Vania segera menghampiri mereka.
"Ya?" katanya.
"Aku mau pinjam Alena keluar sebentar. Ada hal penting." katanya, meminta ijin.
Vania menoleh ke arah sahabatnya yang menggelengkan kepala dengan samar, meminta pertolongan. Kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah Hardi yang menatapnya dengan penuh intimidasi.
"Oke." tiba-tiba, menyetujui permintaan pria 26 tahun itu.
Hardi tersenyum puas dengan jawaban itu. Sementara Alena mendengus kesal.
"Ayo, keburu siang." Hardi seraya mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu dan menaruhnya di trey bill disisi kanannya. Kemudian bangkit. Menunggu Alena untuk mengikutinya.
Dengan malas gadis itu bangkit, dan mengikuti langkah lebar Hardi keluar dari kafe memasuki mobil hitam kesayangannya.
*
*
*
Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju taman kota, setelah sebelumnya menjemput Dilan yang berada di daycare terlebih dahulu.
Setelah sepuluh menit mereka pun sampai. Keduanya berjalan bersisian dengan Hardi yang menggendong balita tampan itu di pelukannya. Tampak seperti sebuah keluarga yang bahagia.
Senyum terus tersungging di bibir pria 26 tahun itu seakan itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.
Mereka sampai di sebuah kursi taman dibawah pohon beringin besar yang menaunginya. Tampak ada sepasang paruh baya yang duduk seperti sedang menunggu sesuatu, atau seseorang.
Hardi mempercepat langkahnya, menghampiri kedua orang tersebut yang ternyata adalah kedua orang tuanya.
Alena terhenyak. Tak menyangka dengan pemandangan di depannya. Dadanya berdebar dengan kencang.
Seperti mau bertemu calon mertua. Batinnya.
Hatinya terkikik geli mengingat pikirannya barusan. Kemudian menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.
Kedua orang tua Hardi menyambut mereka dengan riang. Terutama Dilan yang dengan mudahnya berpindah ke pangkuan Linda, mama nya Hardi.
Tubuh kecil Alena sedikit menegang, terheran-heran dengan putra semata wayangnya yang bertingkah diluar kebiasaannya.
Bahkan dia pun merasakan kenyamanan dengan siapa yang tengah dia temui sekarang. Batinnya lagi.
Matanya agak berkaca-kaca.
Perhatian kedua orang tua Hardi kemudian berpindah ke sosok di belakang putra mereka. Alena.
Linda dengan senyum lembut menyambut gadis itu untuk mendekat. Begitupun dengan suaminya.
Alena menyambut tangan kedua orangtuanya Hardi bergantian. Menciumnya dengan takdzim.
Meski canggung, dia berusaha bersikap biasa apalagi melihat sikap kedua orang tua dihadapannya yang begitu terbuka menyambut dirinya dan putranya.
"Kami kangen Dilan," Linda dengan senyum yang merekah, namun kedua matanya berkaca-kaca. Sementara suaminya mengelus punggungnya dengan lembut.
"Tadi malam mama mu nggak bisa tidur karena rencana kita mau kesini." suaminya menimpali.
"Mama nggak sabar ingin ketemu Dilan!!" sambungnya lagi, menciumi kepala bocah kecil itu yang anteng di pangkuannya.
Hardi terkekeh. Melirik ke arah Alena, menatapnya lama. Sementara gadis itu masih terdiam menyimak adegan demi adegan di depan matanya.
"Maaf atas semua yang terjadi selama ini, ..." Linda mengalihkan perhatiannya lagi kepada Alena yang masih tertegun. Menatap kedua bola mata itu yang kini berkaca-kaca.
Alena tersenyum, namun tetesan air lolos dari kedua sudut matanya. Gadis itu tersedu.
Hardi berpindah tempat ke sisinya, merangkul pundak Alena yang tengah tergugu. Menyandarkan kepala gadis itu di dadanya.
"Aku yang banyak salah, sekarang meminta kamu untuk kembali bersama. Orang tuaku saksinya, kalau aku serius dengan ucapanku." katanya terus meyakinkan gadis di pelukannya.
"Maafkanlah anak kami, dia tak bisa hidup tanpa kalian, " Papanya Hardi mengiba.
Alena makin tergugu. Semakin dalam membenamkan wajahnya di dada Hardi.
"Kamu mau kan kita sama-sama lagi.?!" pinta Hardi, mengeratkan pelukannya di tubuh kecil Alena.
"Kakak curang!" Alena yang kini telah mampu menguasai dirinya lagi.
"Curang apanya?" Hardi terkekeh menatap wajah sembab ibu dari anaknya tersebut. Mengusap sisa-sisa airmata dari pipinya.
"Bawa-bawa orang tua biar bisa merayu aku!!" katanya, merengek.
Hardi kembali terkekeh, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Alena. Kebahagiaan menyeruak dalam dadanya.
"Tapi kak Lasya, gimana?" tiba-tiba ingat dengan hal itu.
Ketiga orang didekatnya hanya tertawa seolah ada hal lucu yang tengah berlangsung.
🌻 Flashback on 🌻
Hardi berjalan melewati koridor lantai lima apartemen tempat Lasya tinggal di Jakarta. Setelah perbincangan dengan Papanya beberapa hari lalu dia telah memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Lasya tentang kelanjutan hubungan mereka yang tak tentu arah.
Walau dengan sedikit ketakutan akan kejadian serupa seperti tiga tahun yang lalu yang mungkin akan terulang.
Tapi tekadnya sudah bulat. Ini harus diakhiri.
Dengan berdebar dia berdiri di depan pintu apartemen yang sedikit terbuka.
Hardi mengulurkan tangannya hendak mengetuk pintu, namun telinganya menangkap suara dari dalam apartemen.
Hardi mendorong pintu yang memang sudah sedikit terbuka. Dadanya seakan meledak melihat pemandangan di depan matanya.
Disana, di sofa di tengah ruangan seorang pria tengah merangkul tubuh semampai Lasya, mencumbunya dengan mesra. Dan hebatnya, gadis itu membalas dengan tak kalah mesranya.
Kejadian itu berlangsung beberapa menit sebelum akhirnya Lasya menyadari ada yang tengah berdiri di ambang pintu.
Gadis itu terhenyak. Segera melepaskan tautan tubuh keduanya dan kemudian bergerak menjauh.
Hardi terpaku, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.
Menatap kedua orang di depannya secara bergantian.
Entah kenapa hatinya terasa lega.
Lasya bergerak menghampirinya setelah sebelumnya membenahi pakaiannya yang sempat terlihat kacau.
"Ini, nggak seperti apa yang kamu lihat." Lasya segera menjelaskan.
"Oh iya? Sepertinya sangat jelas." jawab Hardi, datar.
"Nggak! Bukan begitu!!" tukas Lasya, panik.
"Sudahlah, mungkin ini sudah waktunya. .." pria yang bersama Lasya, yang Hardi kenali sebagai manager kekasih nya itu menyela.
"Apa?" Hardi merangsek masuk.
"Kami berhubungan . sudah enam bulan." jawab pria itu, dengan mantap.
"Oh ya?" Hardi berdiri dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celanya. Berusaha tenang.
Hardi menatap keduanya bergantian.
"Maaf." Lasya kemudian. Menyerah. Isak tangis lolos dari bibirnya.
Hardi menghela napas dalam.
"Jadi, aku harus bagaimana?" Hardi masih dengan ekspresi datarnya.
"Aku akan meminta dengan baik-baik. Lepaskan Lasya untukku.!" pinta sang manager.
"Kamu yakin?" Hardi menyeringai. Kemudian menoleh ke arah Lasya yang masih tergugu.
"Aku yakin. Aku akan membuat dia sukses disini. Mendukungnya sekeras yang aku bisa." jawab pria itu.
Hardi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oke." jawabnya, pendek. Membuat gadis yang tengah tergugu itu terhenyak menghentikan tangisnya. Tak menyangka sedikitpun dengan reaksi pria yang disebut sebagai kekasihnya itu.
"Aku pegang janji kamu. Jaga dia baik-baik." katanya lagi.
"Kamu nggak marah?" Lasya yang mulai bisa menguasai dirinya kembali.
Hardi berjalan mendekati gadis itu, menatapnya lekat-lekat. "Kamu bahagia dengan aku? atau lebih bahagia dengan dia?" balik bertanya.
"Maaf. Kamu selalu nggak ada waktu buat aku. Aku butuh seseorang yang mendukung aku. Memperhatikan aku. Selalu bersama aku. Dan kamu nggak ada waktu aku butuh kamu." Tangis Lasya pecah.
"Apa dia selalu ada waktu kamu membutuhkan?" Hardi kembali bertanya.
Lasya menganggukkan kepalanya.
Hardi menghela napas. "Oke kalau begitu. Aku akan melepaskan kamu."
"Kamu nggak marah, Di?" Lasya mengulangi pertanyaannya.
"Untuk apa aku marah? kalau kamu memang bahagia dengan dia." jawabnya, ringan.
Lasya kembali terhenyak dengan jawaban Hardi.
"Aku senang kalau kamu juga bahagia." menghela napas lagi. "Aku yang akan memutuskan pertunangan kita."
"Tapi ...."
" Aku yang akan bilang ke orang tua kamu. Kalau kita udah nggak cocok." katanya lagi.
Dan semua berjalan begitu saja sore itu. Hardi keluar dari apartemen sang mantan tunangan dengan langkah yang ringan.
Tak pernah merasa sebahagia ini ketika memutuskan hubungan.
🌻 Flashback off 🌻
"Dia sudah kena batunya, Alena." Papanya Hardi berkelakar. Membuat mereka tertawa, kecuali Alena yang masih mencerna cerita dari Hardi.
"Udah nggak usah dipikirin! Sekarang yang aku pikirin itu cari cara yang tepat untuk ngomong sama kakak kamu." Hardi yang telah melepaskan pelukannya dari Alena.
"Jangan sekarang, aku belum siap." Alena menggelengkan kepala.
"Terus kapan siapnya?"
"Nggak tau. Aku mikir dulu."
"Ck!! jangan kelamaan mikir."
"Sabar," Linda menyela keduanya. "Alena butuh waktu." katanya lagi.
Hardi mendelik sebal, kedua orang tuanya hanya tergelak, melihat kelakuan putra mereka.
*
*
*
Bersambung ...
Wow... part ini kepanjangan, tapi nanggung kalau nggak diterusin..😅😅😅
By the way, like koment sama vote nya selalu aku tunggu.
I love you full 😘😘😘