ALENA

ALENA
Alena-12



"Alena, bangun! Ini udah jam berapa, astaga. Kamu kesiangan!"


Teriakan itu sontak membuat Alena langsung terduduk dari posisi tengkurapnya. Dilihatnya jam berwarna pink miliknya diatas nakas, sudah menunjukkan pukul 07.00, sip Alena telat.


"Ah, Bunda! Kenapa gak bangunin Alen, sih? Telat kan jadinya," cerocos Alena dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamar mandi.


Nova hanya menggelengkan kepala. "Anak sekolah jaman sekarang, udah dibangunin cepet gak bangun-bangun, giliran udah telat aja ngomel-ngomel."


Tidak sampai 20 menit, Alena sudah siap untuk bergegas ke sekolah. Cewek itu keluar dari kamarnya dengan berlari-lari kecil.


"Gak usah lari-lari ah, entar jatoh kamunya." tegur Nova begitu melihat Alena lari-larian turun dari tangga.


"Ini udah telat, Bun. Alena buru-buru, nanti kena hukum." Alena langsung mengambil roti yang sudah Nova sediakan, dan meminum susunya sampai habis.


"Udah, Bun, ayo buruan!"


Nova menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, dengan segera wanita itu mengambil kunci mobil lalu mengantar Alena ke sekolahnya.


...****************...


Alena menghembuskan nafasnya kasar saat melihat pagar sudah tertutup. Jelas saja, dia tiba di sekolah pukul 07.40, dua puluh menit lagi tepat jam delapan. Ingin pulang pun, Bundanya sudah terlanjur pergi.


"Apes banget," gumam Alena pelan. Kepalanya menengok kekanan dan kekiri, melihat apakah ada seseorang yang bernasib sama sepertinya, namun sayang, semuanya nampak sepi hanya kendaraan yang berlalu-lalang kesana kemari.


Alena menghembuskan nafas lagi secara kasar. Ini semua pasti karena ia begadang menonton film Korea yang disarankan Dinda. Hah, jika saja tidak ada Song Jong Ki, Alena tidak akan mau menonton film itu dan tidak akan pernah rela begadang.


"Trus ini gimana..," desah Alena, cewek itu menggaruk kepalanya frustasi. Tiba-tiba sebesit ide muncul dikepala Alena. Dengan segera ia berlari menuju bagian belakang SMA Taruna. Ya, Alena akan panjat pagar. Lagian ini adalah yang pertama, hitung-hitung menambah kesan manis dalam masa SMA-nya.


Mulut Alena terbuka setengah saat melihat pagar belakang sekolah tidak seperti apa yang ia pikirkan. Pagar itu, sangat tinggi. Berbeda sekali dengan pagar bagian depan.


"Duh, tinggi banget lagi, gimana aku bisa manjat.." Alena semakin frustasi saja. Sial benar-benar menimpanya hari ini.


Tiba-tiba tubuh Alena terdorong kesamping saat seseorang tidak sengaja menabraknya.


"Eh, sori gak sengaja," kata orang itu sambil memutar badannya menghadap pada Alena. "Alena?"


Alena berhenti mengaduh kemudian balas melihat orang itu. "Gatra?"


"Lo ngapain disini?" tanya Gatra dengan kerutan didahinya.


Alena menggaruk kepalanya sebentar. "Aku.. telat,"


Gatra terkekeh pelan. "Mau manjat, gitu? Emang bisa? Pagarnya tinggi,"


"Ya itu, masalahnya disitu, andai aja pagarnya pendek aku bakal langsung manjat."


Gatra tersenyum. "Gue bantuin, deh. Mau?"


"Serius?"


Gatra mengangguk pasti. Kemudian, cowok itu mulai mengambil tas Alena dari punggung cewek itu lalu dilemparkan kedalam sekolah bersama dengan tasnya.


"Gatra! Dalem tas itu ada hp aku," pekik Alena saat ia sadar ada barang elektronik didalam tasnya.


Gatra melotot. "Yang bener?" cowok itu langsung ikutan panik. "Yah elo, gak bilang kalo ada hp, udah keburu kelempar itu gimana dong?"


Mata Alena mulai berkaca-kaca, dia tidak bisa bayangkan bagaimana wujud benda berwarna rose gold itu sekarang.


"Kamu sih gak nanya dulu ada apa aja dalem tas aku!" rengek Alena.


Gatra menggaruk kepalanya melihat Alena yang seperti hendak menangis.


"Yaudah maaf, ntar kalo rusak bakal gue ganti. Jangan nangis, yah?" bujuk Gatra sambil mengelus kedua pipi Alena.


Akhirnya, Alena hanya bisa mengangguk pasrah. Selamat tinggal  my pinky, batin Alena.


...****************...


"Kamu yakin kita gak bakal ketangkap?" tanya Alena yang kedua kalinya. Yang pertama saat mereka sudah berhasil memanjat pagar.


Gatra mengangguk. "Tenang aja, kantin Mbah Geng itu selalu aman."


Genggaman Gatra semakin menguat saat melihat ada Guru Jaga yang berdiri didepan toilet perempuan. Mampus, batin Gatra.


"Gatra.. Itu ada guru," bisik Alena hampir tidak terdengar.


Gatra menguatkan genggamannya lagi, dan menarik tangan Alena agar merapat pada tubuh bagian belakangnya. "Kita sembunyi disini dulu sebentar."


Alena hanya mengangguk saja. Semuanya ia serahkan pada Gatra sebab Alena tidak berpengalaman dalam hal ini.


Tak lama kemudian, guru yang Gatra lihat tadi sudah beranjak pergi membuat Gatra langsung menghela nafas lega. Sebenarnya tidak masalah jika Gatra tertangkap, yang masalah sekarang Gatra tidak sendirian, dibelakangnya ada cewek yang sama sekali tidak pernah tahu hal-hal semacam ini.


"Udah gak ada, yuk!" dengan segera Gatra langsung berlari dengan cepat tanpa melepaskan genggamannya pada Alena. Mau tidak mau Alena juga berlari cepat mengikuti Gatra.


"Hah.. Hah.." Alena langsung ngos-ngosan begitu mereka sampai di kantin Gangster. Gatra pun sama.


Mbah Geng yang melihat itu langsung saja berdiri dari duduknya dan menghampiri Alena dan Gatra yang baru masuk kedalam kantin.


"Kenapa ini pada ngos-ngosan?" tanya Mbah Geng seraya mengelus rambut panjang Alena.


"Mbah, air dua," pinta Gatra.


Mbah Geng langsung mengangguk dan bergegas mengambilkan air untuk Gatra dan Alena. Setelah kembali, dua gelas yang dipegang Mbah Geng itu langsung diberikan pada Gatra dan juga Alena.


"Makasih, Mbah." ucap Alena tak lupa tersenyum.


"Sama-sama, neng cantik."


"Yang lain mana, Mbah?" tanya Gatra setelah selesai meneguk habis air dalam gelasnya.


"Mereka kagak kesini, kata Pandu mereka masih pada tidur mumpung lagi diskors,"


Gatra hanya manggut-manggut mendengar jawaban Mbah Geng.


"Kamu ini telat gak usah bawa-bawa cewek, kasihan ceweknya mau masuk kelas malah ikut telat sama kamu, kamu kan enak lagi diskors." kata Mbah Geng.


Alena tersenyum. "Enggak kok Mbah, aku emang telat sendiri tadi terus ketemu Gatra dibelakang, jadinya barengan."


Gatra mengangguk membenarkan.


"Oh, kirain Gatra ngajak-ngajak kamu. Jadi, kamu gak masuk kelas?"


Alena menggeleng dua kali masih terus tersenyum.


"Mbah tinggal dulu yah, mau nyiapin pesenan anak-anak, katanya mereka mau keluar jam sembilan." Mbah Geng mulai berdiri.


"Iya, Mbah." balas Gatra.


Seperginya Mbah Geng, Gatra kembali menggenggam tangan Alena. Alena yang saat itu sedang memerhatikan isi kantin Gangster dengan saksama sontak merasa kaget. Namun, Alena berusaha untuk terlihat biasa.


"Kenapa?" tanya Alena melihat tangannya yang digenggam oleh Gatra lalu beralih menatap mata si cowok.


Gatra tersenyum tipis. "Gue suka genggam tangan lo, rasanya pas aja ditangan gue. Gapapa, kan?"


Alena masih terlihat bingung. Rasanya sedikit beda melihat Gatra yang tiba-tiba jadi seperti ini. Belum lagi jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya. Alena benar-benar tidak mengerti, sebenarnya, ini semua pertanda apa?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...