ALENA

ALENA
23. Sick



Ting!!


Bunyi notifikasi chat di aplikasi pesan ponsel Alena.


[Aku pergi dulu ke Jakarta. Jangan kangen ya. Kangen itu berat, biar aku saja] diikuti emot tertawa.


[Kakak bucin!] emot lidah menjulur.


[Bukan. Itu nyontek di film yang lagi booming.] emot tertawa lagi.


Alena mengirimkan beberapa gambar stikker lucu pada Hardi. Membuat kedua orang di tempat yang berbeda itu sama-sama tertawa. Kemudian memasukkan ponsel pintarnya itu kedalam saku jaketnya.


Jum'at ini seperti biasa Hardi mengantar Lasya pergi ke Jakarta untuk audisi modeling. Lasya tengah mengejar impian nya sebagai model, cita-citanya sejak kecil.


Lasya, gadis cantik dengan tinggi 170cm. Berkulit putih , bermata bulat. Rambut hitam panjang yang selalu tertata rapi. Tengah mengejar impiannya di ibukota.


Banyak training dan audisi yang sudah diikuti demi mambuka jalan menuju cita-cita nya. Ada beberapa yang sudah terbuka, membuat dia mendapatkan kontrak kerja yang lumayan dengan honor yang tak sedikit.


Hardi yang sejak awal selalu setia menemani dan mendukung apapun langkah yang diambil gadis cantik itu. Menjadi penopang bagi mimpi yang sedang diraih sang kekasih.


"Kamu hati-hati ya?" katanya setelah mengantarkan Lasya ke dalam kantor agensi model yang dituju.


Lasya mengangguk sambil tersenyum.


"Aku pergi." Hardi berbalik.


"Beib,..." Lasya memanggil.


Hardi segera berbalik lagi, "Iya?"


"Kamu yang hati-hati. Jangan nakal!!" katanya.


Hardi mengerutkan keningnya, tapi kemudian dia terkekeh malihat raut wajah imut yang di tunjukkan sang kekasih kepadanya.


****************


Mentari bersinar dengan cerah nya. Berusaha mengusir hawa dingin yang membekukan sabtu pagi itu.


Kampus akhir pekan ini tak terlalu di penuhi banyak orang. Sebagian besar karena tak ada jadwal kuliah seperti hari-hari biasanya.


Alena memasuki kelas karena ada materi pagi ini. Vania sudah berada di kelas beberapa menit lalu.


Ting!!


Ponsel Alena berbunyi, tanda ada pesan masuk.


[Aku sakit.] pesan dari Hardi.


Raut wajah Alena seketika memucat, tampak kekhawatiran memancar dari sana.


"Kenapa?" Vania menyelidik.


"Ng ... nggak. Cuma kak Alya." katanya, buru-buru memasukkan ponsel ke saku jaket.


Sepanjang mata kuliah berlangsung Alena tak bisa fokus. Fikiran nya terus tertuju kepada Hardi. Khawatir.


Kelas berakhir setelah tiga jam kuliah berlangsung. Semua orang bergegas membereskan meja masing-masing, kemudian segera keluar dari kelas.


"Aku duluan ya, Van." Alena yang berjalan terburu-buru.


"Kemana?" Vania dengan kening berkerut.


"Ada urusan sebentar." setengah berlari, kemudian menghilang diantara kerumunan.


Akhir-akhir ini sikap dia agak aneh. Sering menghilang tiba-tiba. Lebih pendiam dari biasanya. Mencurigakan!! Batinnya.


*******


Alena menghampiri Raja yang sedang berbicara dengan teman-temannya. Agak heran melihat gadis itu mendatanginya.


"Ada apa?" membawa Alena menjauh.


"Kak Hardi nggak masuk?" tanyanya, agak berbisik.


"Nggak. Katanya sakit, nggak tau sakit apa. Gue telfonin gak diangkat."


"Oke." matanya melihat sekeliling.. "Kak Lasya?" kata yang mengandung sebuah pertanyaan.


"Nggak ada. Lagi ke Jakarta."


Alena menganggukkan kepalanya pelan.


"Lu mau kesana?" tanya Raja, menatap wajah yang khawatir.


"Mungkin." Alena berpikir.


"Ayo bareng." Raja mengajak.


"Eh??"


"Penasaran gue. Bisa juga tuh anak sakit." Raja bergumam.


Mereka sampai di depan pintu apartemen Hardi. Beberapa kali Raja melakukan panggilan ke nomer sahabatnya itu, namun tak ada tanggapan.


"Dia ketiduran apa pingsan, ya?" Raja bergumam lagi.


"Lu tau nggak nomer pin apartemen ini?"


Alena mencoba mengingat-ingat. Beberapa kali melihat Hardi menekan nomor-nomor di tombol itu.


Klik, pintu terbuka setelah Alena menekan beberapa nomor yang dia ingat.


"Ck!! Daritadi kek. Kan gue gak cape-cape nelponin tuh anak!" Raja mendengus kesal.


Alena hanya mencebik.


"Gue yang tahunan temenan sama dia kagak tau nomer pin apartemennya. Elu yang baru beberapa minggu di deketin udah hafal aja tuh nomer pin. Berasa jadi temen yang di hianati gue!!" Raja mencibir. Sementara Alena hanya mendelik kesal.


Mereka berdua masuk kedalam apartemen. Suasana sepi seperti tak ada penghuni.


Keduanya bergegas menuju kamar.


Benar saja, sang penghuni apartemen sedang terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Beneran sakit kayaknya" Raja berbicara pada dirinya sendiri.


Alena menghampiri. Ditatapnya Hardi yang sedang berbaring. Wajahnya pucat. Disentuhnya kening Hardi dengan punggung tangannya.


"Panas." katanya. Kemudian menoleh ke arah Raja yang berdiri tak jauh darinya.


"Sakit apa lu, Bro?" Raja menepuk kaki Hardi. Namun yang dimaksud tak terganggu.


"Kakak?!" Alena mencoba memanggil. Tetap tak ada reaksi.


"Elu, ngambil air buat ngompres. Gue mau panggil dokter." perintahnya, segera keluar dari kamar dan melakukan panggilan telfon.


****


Dokter yang di panggil Raja telah selesai memeriksa keadaan Hardi. Menuliskan resep obat di sebuah kertas kecil.


"Dia hanya kelelahan. Mudah-nudahan setelah minum obat di resep ini dia segera pulih." kata dokter, menyerahkan kertas resep kepada Raja. Kemudian berpamitan.


Raja mengantar kepergian dokter sampai di ambang pintu.


"Lu nggak apa-apa kalau gue tinggal sebentar? Gue ke apotek dulu." katanya kepada Alena.


Gadis itu hanya mengangguk.


Alena terdiam setelah kepergian Raja. Ditatapnya tubuh tinggi yang sedang terbaring itu. Gerakan samar terlihat dari tubuh jangkungnya. Hardi menggeliat.


Alena mendekat.


Hardi membukan matanya perlahan. Matanya menyipit menghalau cahaya yang masuk. Setelah mengerjap beberapa kali, barulah pandangannya terasa jelas.


Tampak wajah manis Alena tengah menatapnya dengan khawatir.


"Kamu? ..." Hardi berbisik.


Mencoba untuk bangkit tapi tubuhnya terasa tak bertenaga.


"Jangan bangun dulu!" Alena menahan dada pemuda itu agar tak memaksa bangun.


"Kak Raja lagi ke apotek beli obat. Kakak makan dulu ya." katanya.


Hardi hanya mengangguk.


Alena berlari kedapur untuk mengambil makanan yang di buatnya sedari tadi. Kemudian segera kembali lagi kepada Hardi.


"Sudah ..." Hardi menolak di suapan ketiga. Mulutnya serasa tak kuat lagi mengunyah makanan yang di berikan Alena.


Gadis itu tak mampu memaksa.


Beberapa menit kemudian Raja datang dengan membawa satu kantung kecil obat dari apotek.


Memberikannya pada Alena, kemudian diberikannya pada Hardi.


"Bisa sakit juga lu." Raja menggoda.


Hardi hanya menyipitkan matanya kepada sahabatnya itu.


"Berarti lu beneran orang!" Raja terkekeh.


"Apaan??" Hardi menjawab.


"Udah ya, gue mau balik lagi ke kampus. Masih ada jam kuliah sebentar lagi." katanya, melihat jam di pergelangan tangannya.


"Elu mau bareng atau disini dulu, Al?" Raja kepada Alena yang masih terdiam menatap Hardi.


"Ng ... aku nggak ada kuliah lagi hari ini. jadi aku free" Alena mendongak.


"Oke kalau begitu. Gue pamit!" Raja sembari berbalik bermaksud meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti sebentar, "Jangan mesum!! ini masih siang!!" katanya terbahak kemudian berlari mninggalkan dua sejoli yang wajahnya memerah.


Hardi hanya menggeleng pelan.


"Aku mau beresin dapur dulu." Alena berbicara setelah mereka saling diam cukup lama.


Hardi hanya mengangguk.


"Kakak tidur lagi aja!" perintahnya, sambil bangkit dari pinggir tempat tidur.


Secepat kilat Hardi meraih tangannya. Mata mereka bertemu. Ada desiran halus yang menggelitik di dada keduanya.


Alena gugup.


"Jangan pergi dulu!!" pinta Hardi.


"Aku cuma di dapur. Nggak kemana-mana." Alena melepaskan genggaman tangan Hardi. Kemudian keluar dari kamar.


Banyak yang di kerjakan Alena siang itu


Dari mulai mbereskan dapur hingga seisi apartemen yang agak berantakan.


Hingga sore menjelang, semuanya salesai, dia kembali melihat keadaan Hardi dikamar. Tampak pemuda itu tengah terlelap lagi. Mungkin efek obat yang diminumnya tadi siang.


Alena mengendap memasuki kamar yang luas itu. Takut membangunkan tidur si empunya kamar. Namun ternyata Hardi terbangun juga.


"Kakak bangun?" bergegas menghampiri.


"Mau makan?" katanya, duduk di tepi ranjang.


"Boleh." Hardi dengan suara lemah.


Alena mengambil makanan di dapur, kemudian segera kembali ke sisi Hardi.


Menyuapinya makanan, lalu memberinya obat seperti tadi siang.


Hardi bangkit, duduk bersandar di kepala ranjang.


"Udah enakan?" Alena setelah membereskan bekas makan tadi.


Hardi mengangguk.


Alena tersenyum.


Hardi mengulurkan tangan nya meraih tangan Alena , kemudian menautkan jari-jari mereka berdua.


"Makasih." katanya berbisik.


Alena tersenyum, kemudian mengangguk.


Perlahan Hardi menarik lengan Alena agar gadis itu mendekat padanya.


"Sebentar lagi aku pulang." Alena mencoba menghindar dari tatapan mata coklat sayu itu.


"Buru-buru amat." Hardi menggumam, tanpa melepaskan tangannya.


Alena hanya tersenyum.


Tangan itu terus menariknya hingga mereka kini tak berjarak. Terasa suhu tubuh Hardi yang masih menguarkan panas, namun tak sepanas tadi siang. Napas Hardi terdengar berat.


"Kakak panas." Alena berbisik.


"Aku tau." Hardi menjawab.


Alena mencoba menciptakan jarak, menjauhkan tubuhnya dari Hardi, namun pemuda itu tak melepaskannya.


Sebelah tangannya meraih tengkuk Alena, mendekatkan wajah mereka berdua, membuat bibir keduanya bertemu. Saling mengecap dengan rakus. Alena megap-megap hampir kehabisan napas. Hardi menghentikan ciumannya.


"Aku harus pulang." Alena berbisik lagi.


"Sebentar lagi." kemudian meraup bibir mungil Alena hingga keduanya kembali bercumbu.


"Kaakk?!" Alena menghentikan kegiatan mereka. Namun Hardi tampak tak sabar. Dia meraih pinggang Alena sehingga gadis itu semakin merapat dengan tubuhnya.


"Kakak!!" Alena mencoba melepaskan dirinya.


"Jangan!!" Alena menggeleng.


"Jangan tolak aku sekarang!" Hardi berbisik di teling Alena, membuat tubuh gadis itu meremang.


"Kakak kan lagi sakit." Alena yang berusaha menahan Hardi.


Pemuda itu berhenti mencumbu. Menatap wajah Alena yang berjarak beberapa senti darinya.


"Berarti kalau udah sembuh, boleh?" katanya, sumringah.


"Ck!!" Alena berdecak kesal, kemudian menepuk dada bidang Hardi agak keras, hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Sakit tau!!" Hardi protes.


"Rasain!! salah sendiri!!" Alena menepuk dada itu bertubi-tubi.


"Aww ... aduh, aku lagi sakit, Al!!" Hardi mengeluh lagi.


"Tau lagi sakit, masih aja mesum!!"


Bersambung ....


Happy reading. Jangan lupa like koment sama vote nya.. I love you full😘😘😘