ALENA

ALENA
77. Sang Mantan



🌻


🌻


Alena tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh sang kakak. Tangisannya terus berlanjut meski ijab kabul telah terlewati.


Hardi pun tak tega mengganggu kebersamaan itu, hanya mampu membersamainya dalam diam.


Dia faham, banyak hal yang telah dia renggut dari kehidupan istrinya sejak pertama kali mereka bersama.


*


*


*


Yang paling membahagiakan adalah ketika melihat orang yang kita cintai juga bahagia.


Meskipun Alena masih belum mau lepas dari kakaknya, tapi setidaknya kini dia tak lagi menangis seperti tadi. Hanya saja dia tak mengijinkan Arya beranjak dari sisinya. Gadis itu masih betah menempel dengan Kakak laki-lakinya tersebut.


Memori masa kecilnya muncul kembali, ketika gadis itu baru saja di tinggal pergi oleh ibunya. Yang dia inginkan hanya menempel dengan Arya, bukan dengan Alya ataupun Anna. Alena terus saja menempel dengan Kakak laki-lakinya kemanapun pria itu pergi. Alena akan sangat histeris jiga dia tak menemukan Arya di sisinya. Selama berbulan-bulan dia tak mau lepas dari pria itu. Sepertinya ketakutan selalu menghinggapi alam bawah sadarnya. Ketakutan ditinggalkan lagi.


"Jangan khawatir, setelah ini dia pasti tidak akan menempel lagi dengan aku, dia pasti akan sangat sibuk dengan kamu." Arya faham kekalutan yang terpancar dari raut wajah Hardi ketika istrinya itu tetap betah di sisinya.


Hardi tersenyum kikuk. Menempelkan punggungnya ke sandaran kursi.


Ada sesuatu yang hangat menyentuh tangannya. Tangan Alena menempel disana. Hardi menoleh, tampak gadis itu tengah tersenyum lembut ke arahnya. Mereka saling berpegangan tangan sekarang. Sebuah senyuman pun terbit di sudut bibir Hardi.


*


*


Sore menjelang, sebagian kerabat telah meninggalkan kediaman orang tua Hardi. Acara kumpul keluarga ini telah selesai.


"Apa Abang harus pergi sekarang?" Alena tampak kecewa ketika Arya, dan kedua kakak perempuannya berniat berpamitan.


"Ya masa mau disini terus."Anna menyela.


Alena cemberut.


"Besok kan bisa main ke rumah," Arya menimpali. "Jemput Dilan." katanya, seraya mengangkat tubuh kecil keponakan lucunya yang dari tadi juga menempel padanya.


"Mau bawa Dilan?" Alena agak terkejut.


Arya mengangguk. "Abang kangen. Udah lama gak ketemu." katanya lagi, menciumi kepala keponakannya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan!!" Alena merengek.


"Kenapa?"


"Nanti aku nggak bisa tidur kalau nggak ada Dilan." Alena dengan polosnya.


"Ck!! Ada bapaknya yang gantiin!!" sahut Vania dengan santainya, membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa.


"Udah, ya. Kita pamit." Alya yang kemudian segera memeluk adiknya, kemudian berpamitan. Begitupun dengan Anna, Vania dan ibunya. Mereka memeluknya bergantian.


"Dada Mama!! Dada Papa!" sikecil pun ikut-ikutan pamit, tak mempan dengan rayuan Alena yang tak rela ditinggal pergi.


Dan mereka pun pergi, meninggalkan sudut hati yang hampa.


Alena masih berdiri di ambang pintu, mengantarkan kepergian keluarganya hingga mereka menghilang di balik pagar.


Sebuah tangan kekar merangkul pundaknya. Alena menoleh. Siapa lagi kalau bukan pemilik hati, jiwa dan raganya. Tersenyum menatap wajahnya yang masih agak sembab, sisa tangisan siang tadi.


"Ayo masuk." ajaknya, kemudian menarik tubuh mungil dalam rangkulannya kedalam rumah.


"Setelah ini, apa nanti aku boleh main ke sana?" Alena menatap wajah Hardi yang penuh senyum keceriaan.


"Memangnya siapa yang mau melarang?" Jawab Hardi, dengan tenang.


"Serius?" Alena antusias.


Hardi mengangguk. Terus berjalan ke arah tangga. Menuju kamarnya.


"Masih sore tahu!!" Alena bergumam.


"Apaan?"


"Cie, yang mau buka kado!!" teriak seorang sepupunya dari belakang, membuat kedua mempelai tersebut menoleh.


Hardi mencebik, mengerti dengan maksud perkataan istrinya.


"Dasar, otak kotor!!" menyentil kening Alena. Yang dimaksud tak dapat menghindar.


"Aduh!! kakak ihh..." Alena merengek.


Seringai jahil pun muncul. Beberapa ide melintas di otaknya.


*


*


Ketukan pintu memecah kegiatan petang itu. Terdengar suara dari luar pintu memanggil.


"Di ... ada tamu!!" Linda berteriak dari luar.


"Hissstt!!! menganggu saja!!" Hardi menggeram kesal, karena kegiatan menjahili istrinya terganggu.


Dengan kesal Hardi melepaskan Alena dari kungkungannya. Membenahi pakaiannya yang sempat berantakan, kamudian turun dari ranjang. Duduk sebentar, menyugar rambut yang terburai.


"Siapa ya?" Alena ikut bangkit.


Hardi menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.


Setelah memastikan semuanya rapi, mereka berdua keluar dari kamar untuk menemui tamu yang dimaksud.


Hardi baru sampai di tangga terakhir ketika mendapati seorang gadis tinggi semampai berdiri di ruang tamu membelakanginya, bersama sepasang suami istri yang duduk di sofa.


Gadis itu berbalik, senyum ceria tersungging di bibir nya.


"Lasya?" keterkejutan tampak di wajah Hardi.


"Hai, Di?!" katanya. Berjalan menghampiri pria yang mematung di depannya.


Hardi menatap Lasya dengan berdebar, menyadari seseorang yang juga tengah berdiri, mengawasi dibelakangnya.


Tanpa aba-aba Lasya menghambur ke pelukannya, menangis tersedu. Membuat semua yang ada di ruangan itu menahan napas karena terkejut.


Hardi berusaha melepaskan kedua tangan Lasya yang melingkar erat di lehernya. Gadis itu terus terisak pilu.


"Maafkan aku, Dii!!" katanya, menenggelamkan wajahnya di dada Hardi.


"Jangan begini, Sya!!" sambil berusaha melepaskan tangan yang melingkar di lehernya.


"Maaf, aku mau kita ...." pandangannya tertuju kepada sosok di belakang Hardi. Perlahan Lasya melepaskan pelukannya.


"Aku sudah menikah, ..." Hardi beringsut mundur. Berpindah ke sisi Alena.


Mereka bertiga terdiam. Lasya menatap nanar sosok disamping Hardi. Mengingat-ingat pernah melihat perempuan itu dimana.


"Ini ... Alena. Istri aku." Hardi mengenalkan. Meraih tangan Alena, menggenggamnya dengan erat.


Lasya memperhatikan gerak gerik keduanya. Dadanya bergemuruh.


"Aku ...


"Maaf, aku nggak ngundang. Karena memang hanya akad nikah aja. Nggak ada pesta atau semacamnya." Hardi menjelaskan. Tangannya terus menggenggam erat lengan gadis yang telah sah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.


"Kami tahu, kami hanya meyakinkan Lasya karena dia tidak percaya kamu akan menikah hari ini." Ibunya Lasya menghampiri, menyentuh pundak anak gadisnya yang berdiri membeku.


"Sayang, sekarang kamu percaya, kan?" Papanya menimpali.


Air mata mengalir begitu saja dari netra Lasya, namun segera diusap dengan punggung tangannya. Gadis itu menarik napasnya kasar.


"Kita pulang, ya?" ajak ibunya, menarik tangan Lasya dengan hati-hati.


Namun gadis itu menepis tangan sang ibu dengan kasar. Dengan pelan dia berjalan mendekati Alena.


"Aku ingat," katanya. Menatap Alena.


"Kamu ... yang ada di foto dengan Hardi waktu itu, ..." katanya lagi. Dia berhenti tepat beberapa langkah di depan Alena.


Alena merasakan nyalinya menciut. Dia mengkeret di samping Hardi. Pemuda itu menyadari, kemudian menarik tubuh mungil istrinya ke belakang punggungnya.


"Lasya..." mamanya kembali memanggil.


Lasya mendengus kasar, kemudian memutar tubuhnya, segera melangkah keluar tanpa berpamitan.


"Maaf, Hardi ..." Ibunya Lasya berujar sebelum mengikuti langkah anak gadisnya.


Sementara Hardi, dan beberapa orang yang berada di ruangan itu hanya terdiam, mengikuti kepergian Lasya dan kedua orang tuanya dengan pandangan masih terkejut.


*


*


Bersambung ....


Lah, kenapa itu si mantan malah nongol??