
Dengan gelisah Lasya menunggu kedatangan Hardi di kaffe dekat kantor magang kekasihnya itu. Sebuah amplop besar berwarna cokelat dia taruh di kursi di sampingnya, yang sesekali dia buka dan melihat isinya. Membuat hatinya terasa diremas.
Beberapa menit kemudian seorang pemuda dengan stelan rapi menghampiri Lasya. Selalu tampan seperti biasa.
"Udah lama?" Hardi menyapa terlebih dahulu.
Lasya hanya mengangguk sambil tersenyum dibuat semanis mungkin. Sementara jantungnya berdentam tak karuan.
Makanan yang dipesan sudah terhidang di meja. Tanpa menunggu lama keduanyapun melahap makan siang mereka dengan suasana hening.
"Gimana syutingnya, lancar?" Hardi memecah keheningan.
"Lancar." Lasya mengangguk pelan.
"Maaf nggak bisa antar kamu akhir-akhir ini." Hardi menyelesaikan makannya.
"Nggak apa-apa. Aku ngerti." menelan ludah kasar. "Kamu sibuk." Lasya menekan kata sibuk, membuat Hardi mengerutkan kening.
Hardi segera meminum air putih di sebelah kirinya, mengelap mulutnya dengan tisyu.
"Hh... so, ada apa?" katanya setelah menyelesaikan acara makannya.
Lasya menatap wajah yang selalu dia rindu itu.
"Apa aku nggak boleh bertemu dengan pacar aku sendiri?" matanya berkaca-kaca.
Hardi tertegun. Menerka apa yang sedang dimaksud kekasihnya itu.
"Apa aku nggak boleh rindu sama pacar aku sendiri?" suaranya bergetar.
"Apa aku nggak boleh meminta kamu datang menemui aku?" hampir menangis.
"Lasya, maksud aku ....
BRAAKKK!!!
Lasya melempar amplop besar yang sedari tadi dia simpan di kursi kosong disampingnya ke hadapan Hardi. Isinya berserakan diatas meja.
Beberapa foto dirinya dengan seorang gadis yang wajahnya tak tampak jelas. Yang dalam keadaan samar pun Hardi sudah mengenalinya. Wajah yang selalu tersembunyi di balik hoodie ataupun masker yang selalu gadis itu kenakan setiap mereka pergi keluar.
"Maksud kamu apa?" Hardi mulai bereaksi.
"Harusnya aku yang tanya begitu sama kamu." balik bertanya.
Dia sudah tahu. Tapi bagaimana bisa? Selama ini dia menyuruh orang untuk memata-matai?? Batin nya.
"Sudah berapa lama?" Lasya tanpa basa-basi.
Hardi menatap wajah cantik itu yang selama lima tahun ini selalu menemani hari-harinya.
Mungkin ini sudah saatnya. Walau jalannya harus seperti ini, ...
"Maaf." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Bibir Lasya bergetar menahan tangis. Kedua sudut matanya mulai mengalirkan titik-titik air.
"Aku tanya, sudah berapa lama?!" suaranya mulai meninggi.
"Aku ...
"Kamu tega!!" menangkupkan kedua tangannya di wajah, menyembunyikan tangis yang kian menyeruak.
Hardi menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Bersiap mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
"Maafkan aku yang nggak bisa menjaga hati ini. Aku lemah. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini. Sekali lagi maaf."
Lasya tersedu. Tak ada pembelaan yang keluar dari mulut Hardi. Pemuda itu mengakui segala kesalahannya selama beberapa bulan terakhir ini. Tanpa ragu, tanpa berusaha menutupi, dia mengakui perselingkuhan yang dilakukannya.
"Siapa dia?" Lasya disela isak tangisnya.
Hardi mengernyit. Dia belum tahu?
"Apa satu kampus? satu angkatan? adik kelas?" Lasya tersedu.
Hardi bungkam.
"Aku ingin tau."
"Nggak perlu. karena...
"Apa yang membuat kamu berpaling?"
"Apa dia cantik?? Apa dia lebih menarik? Apa dia...
"Cukup Lasya, .. nggak penting aku buka semuanya sama kamu." Hardi menghela napas.
"Apa dia ... memberikan apa yang nggak aku beri?"
"Nggak penting untuk dibahas."
Lasya meraih tangan kokoh itu, menyentuhnya untuk mengingatkan betapa mereka saling mencintai, dulu.
Hardi bergeming.
"Maaf. Aku akan menyakiti kamu kalau tetap bertahan dalam hubungan ini. Aku harap kamu mengerti." Hardi mengusap jemari lentik yang sedang menyentuhnya.
Tangan Lasya luruh seketika. Tangisnya pecah. Beberapa pasang mata mulai menoleh ke arah mereka.
Hardi membereskan foto yang terserak di meja, memasukkannya kembali ke amplop besar tadi.
"Aku antar pulang." katanya seraya meraih lengan Lasya yang terkulai.
Setelah membayar makanan dan mengambil barang milik Lasya di meja, Hardi pun membawa Lasya pulang kerumah nya.
Sepanjang perjalanan gadis itu tak hentinya menangis. Ada perasaan bersalah dalam hati pemuda itu. Namun dia tak mampu berbuat sesuatu untuk menenangkannya.
"Aku mohon ..." Lasya mencicit dalam tangisnya.
Hardi tetap tak bergeming.
Hingga setelah tiga puluh menit berlalu, mereka telah sampai di depan rumah Lasya yang asri.
Tangis gadis itu mulai mereda. Namun isakan nya masih tersisa. Hardi beberapa kali memberikan tisyu untuk menyeka airmata dari wajahnya.
"Apa kita akan tetap berteman?" Lasya setelah mampu menguasai dirinya.
"Tentu. kita akan tetap berteman." Hardi menyentuh tangan Lasya sambil tersenyum lembut.
"Aku akan selalu sayang sama kamu, Di!!" dengan mata yang masih sembab.
"Aku tau. Kamu orang baik. Maaf aku jahat sama kamu." Hardi mengusap lembut kepala Lasya.
"Jadi, lima tahun ini nggak ada artinya buat kamu?" Lasya mencoba mencari celah.
Hardi menghela napas pelan.
"Semuanya berarti. Hanya saja ..." tenggorokkan nya tercekat. "Aku yang lemah." kembali, Hardi menyalahkan dirinya.
"Aku antar kamu kedalam. Aku bicara sama Om dan Tante." Hardi beringsut dari dalam mobil. Berjalan ke arah kursi penumpang, membukakan pintu untuk Lasya, dan membimbingnya keluar.
"Bisakah kamu untuk nggak bilang kalau putusnya kita karena ada orang lain?" Lasya meminta.
Hardi berpikir sebentar.
"Aku cuma takut papa marah sama kamu." bahkan setelah rasa sakit yang ditimbulkannya pun, Lasya tetap peduli padanya.
Hardi mengangguk. "Aku akan cari alasan lain." katanya.
Kedatangan mereka disambut oleh kedua orangtua Lasya dengan senyum ramah seperti biasa. Namun senyum mereka surut ketika mendapati wajah putri nya yang sembab menyisakan bekas tangisan.
Tak sepatah katapun keluar dari mulut Lasya ketika Hardi menjelaskan tentang perpisahan mereka.
Hanya permintaan maaf yang terus keluar dari mulut Hardi karena tak lagi mampu berdiri disamping putri mereka. Dengan alasan kesibukan yang dijalani keduanya.
Walau dengan raut kecewa, mereka tetap menerima keputusan itu.
Usai berpamitan dengan sedikit deraian airmata dari ibunya Lasya, Hardi pun segera pergi, kembali pada aktifitasnya di kantor tempat dia magang. Mengerjakan tugasnya bersama partner kerjanya, Raja.
Dengan perasaan yang sulit di terangkan. Merasa bersalah karena membuat gadis yang selama lima tahun ini menemani hari-harinya menangis tersedu. Namun juga lega karena telah mengeluarkan segala kegundahan hatinya selama beberapa bulan ini.
Sementara Lasya memilih menghindar dari tatapan kedua orangtuanya yang meminta penjelasan versi dirinya. Memilih mengurung diri dikamar. Menutup pintunya rapat-rapat agar tak seorangpun masuk dan menghentikan tangisannya di bawah selimut. Hanya dia. Hanya Lasya sendirian. Menikmati perihnya patah hati dalam keremangan.
Bersambung ......
Lagi ... nggak akan bosen untuk ngingetin untuk like, koment sama vote. Biar aku tau kalau kalian udah mampir.
Terimakasih.
I love you full 😘😘😘😘