ALENA

ALENA
24. Breath



Di minggu siang yang terik Alena berjalan menyusuri trotoar menenteng bungkusan yang berisi makanan. Segera setelah menerima telfon dari Hardi yang siang itu merengek kelaparan.


Sampai di depan pintu apartemen, dia hanya berdiri mematung.


Masuk atau ketuk dulu ya? Betapa tak sopannya kalau aku langsung masuk. Tapi siapa tau dia masih sakit dan tak bisa bangun seperti kemarin saat aku tinggalkan??


Setelah menimbang-nimbang terlebih dahulu, akhirnya Alena mencoba mengetuk pintu apartemen yang tertutup rapat.


Tak ada sahutan dari dalam. Beberapa kali gadis itu menggedor pintu namun tetap Hardi tak membukakan pintu.


Dia khawatir, takut terjadi sesuatu pada pemuda yang sangat di cintainya itu. Akhirnya Alena memaksakan diri menekan tombol-tombol di samping pintu itu.


Klik!! Pintu terbuka. Alena bergegas masuk ke dalam apartemen yang masih sunyi seperti kemarin. Setelah meletakkan bungkusan yang dibawanya tadi di meja makan, Alena langsung menuju pintu kamar yang juga masih tertutup rapat.


Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung saja menerobos pintu, dan masuk ke dalam kamar.


Bersamaan dengan masuknya Alena kedalam kamar, pada saat itu juga keluar lah Hardi dari kamar mandi yang baru saja membersihkan tubuhnya setelah dua hari tak menghirup air.


Dengan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang. Tampak kulit eksotisnya yang masih basah. Ditambah tetesan air yang turun dari rambutnya yang barusaja dikeramas, menguarkan aroma segar.


Pundak yang lebar, dada yang bidang terpampang nyata di depan mata. Ditambah bagian perut yang kotak-kotak membuat Alena tak berkedip untuk beberapa detik.


Mereka berdua sama-sama terperangah. Namun kemudian Hardi bersikap biasa saja.


"Bikin kaget aja!" katanya sambil melenggang ke arah lemari pakaian.


Alena kemudian tersadar, "Maaf." lalu membalikkan badan dengan wajah tersipu malu. Menepuk keningnya beberapa kali. Bermaksud keluar dari kamar, namun karena terlalu tergesa dia tak menyadari pintu yang terbuka, membuat dia menabraknya dan kening sebelah kirinya membentur bingkai pintu tersebut.


"Aduh!!" dia mengaduh kesakitan sambil memegangi keningnya. Tubuh kecilnya terhuyung kebelakang, hampir saja terjungkal kalau saja Hardi tak sigap menghampirinya, menahan tubuh itu.


"Hati-hati dong!!" katanya yang tengah merangkul tubuh mungil Alena.


Mereka dalam posisi berangkulan untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya Hardi menarik gadis itu ke tepi ranjang, mendudukkannya.


"Kamu nggak apa-apa?" katanya setengah berlutut di depan Alena.


"Sakit!!" rengek nya sambil tetap memegangi kening sebelah kirinya.


"Coba lihat?!" Hardi pelan-pelan menyingkirkan tangan Alena dari keningnya.


Terlihat ada luka robek sedikit dan mengeluarkan darah. Tampaknya kening gadis itu terbentur cukup keras.


Dengan masih mengenakan handuk, Hardi segera membuka laci di pinggir tempat tidurnya. Mengambil sesuatu dari dalam sana.


Sebuah kotak yang di dalamnya ada berbagai petalatan kesehatan sederhana.


Sepertinya hidup orang ini begitu terorganisir. Sampai-sampai hal begitu saja tersedia dikamar.


Hardi mengambil kapas dan sebotol rifanol dari dalam kotak. Membasahi kapas tersebut dengan rifanol dan membubuhkannya ke kening Alena yang berdarah.


"Aduh... sakit kak!! pelan-pelan!!" katanya, protes.


"Ini juga sudah pelan." jawab Hardi sambil terus membersihkan luka di kening gadis itu.


Dengan cekatan dia mengobati luka, kemudian menempelkan plester disana. Sementara gadis di depannya tengah menahan gemuruh di dada. Menahan napas karena menatap pemandangan indah persis di depan matanya.


Berkali-kali Alena harus mengerjap menyadarkan dirinya.


"Makannya kalau jalan itu hati-hati. Pakai mata. Jadi nggak sembarangan nabrak, kan?!" Hardi mengomel.


"Aku kaget!!" Alena masih meringis, namun matanya tak lepas dari dada bidang di depannya. Membuatnya menelan ludah kasar.


Hardi tersenyum samar.


"Kakak, pakai baju dulu, kenapa?!" Alena protes.


"Tanggung. Ini dikit lagi." Hardi merapikan plester di kening gadis itu.


Pikiran Alena malah melayang kemana-mana. Membuat kedua pipinya bersemu merah. Udara jadi terasa panas di ruangan itu.


"Pakai dulu baju sana!!" mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa?" berpura-pura polos.


"Aku malu!!" Alena membuang muka.


"Kenapa harus malu? Bukannya kamu sudah pernah lihat semuanya sebelumnya?!" Hardi terdengar mengingatkan kejadian beberapa minggu lalu.


Alena semakin tersipu malu.


"Aku siapin dulu makan." katanya, bangkit dari dudukya dan keluar dari kamar.


Alena meneguk segelas air seketika hingga tandas. Tenggorokkan nya terasa kering. Masih terbayang di kepalanya tubuh basah nan menggoda itu terpampang di hadapannya. Dia menggelengkan kepalanya, kemudian memukul-mukul keningnya.


Mata bodoh!! Kenapa aku harus melihat pemandangan itu. Otakku jadi tercemar begini.


"Kamu kenapa?" Hardi yang baru saja keluar dari kamar dan mendapati tingkah laku gadis di depannya.


Alena kembali terhenyak dengan kehadiran pria itu. Kali ini dengan kaus oblong hitam dan celana joger abu-abu. Namun tak menghilangkan bayangan dikepala Alena dari perut kotak-kotak yang dilihat nya beberapa saat yang lalu.


Gadis itu menelan ludahnya kasar. Hanya menggeleng, kemudian tersenyum canggung.


Berjalan ke arah kulkas dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Aku kira kakak masih sakit. Masih tiduran. Makanya aku langsung masuk aja" Alena mengalihkan perhatian.


"Udah mendingan." Hardi berjalan mendekat.


"Syukur deh." Alena mulai gugup.


Tubuh tinggi itu sudah berada di belakangnya ketika dia berbalik. Membuat gadis itu kembali terhenyak. Hampir tak tersisa jarak di antara mereka. Alena mundur satu langkah hingga kepalanya membentur pintu kulkas di belakang. Gadis itu terjebak.


"Kakak lapar kan??" katanya mencoba mengalihkan perhatian.


"Ya." dengan tatapan yang tak di mengerti gadis itu. Namun tak menggeser tubuhnya sama sekali dari Alena.


"Oke kalau begitu ..." dengan gugup, Alena mencoba menggeser tubuhnya agar keluar dari kungkungan tubuh tinggi Hardi. Namun dengan segera, tangan panjang Hardi menahan tubuh mungil Alena agar tetap merapat di pintu kulkas.


"Kakak!!"


Dengan segera Hardi mendaratkan ciuman di bibir mungil Alena. Membuat gadis itu tergagap mendapatkan serangan tiba-tiba.


Didorongnya tubuh yang hampir membungkuk di depannya itu, namun tenaganya tak sebanding dengan Hardi yang sudah diliputi hasrat.


Tak urung serangan yang dilakukan Hardi pun membuat gadis itu terhanyut dan hampir kehilangan kendali. Membiarkan Hardi menjamah apapun yang bisa di gapainya.


Namun tiba-tiba saja terlintas di ingatannya tentang rasa sakit yang dia rasakan beberapa minggu lalu. Serasa baru kemarin.


Sekuat tenaga Alena berteriak dan mendorong tubuh jangkung itu. "Kakak!!" kali ini berhasil. Hardi melepaskan pagutannya.


Napas keduanya memburu.


"Ak-aku lapar!! Aku mau makan!" berbisik seraya mendorong tubuh tinggi Hardi hingga tercipta jarak diantara mereka berdua.


Hardi mematung, sementara Alena beringsut meniggalkan dirinya di tempat itu.


Hardi mengerjap, mengumpulkan akal sehatnya kembali yang sempat terberai entah kemana.


"Aku juga lapar kalau kamu ada di dekatku!!" gumamnya pelan.


Bersambung ....


Semoga up nya gak lama lagi ya. aamiin.


jangan lupa like koment sama vote nya. I love you full 😘😘😘