ALENA

ALENA
72. Menuju Pernikahan



*


*


Yang paling bersemangat dalam hal menyiapkan pernikahan adalah tentu saja Linda. Wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang sudah tak muda lagi. Mengetahui putra bungsunya akan segera menikah membuatnya begitu bahagia. Tak ada hal lain yang dipikirkannya selain pernikahan Hardi dan bagaimana bahagianya putranya tersebut. Namun ada satu hal yang membuatnya agak kecewa. Yaitu penolakan Alena tentang pesta yang ingin dibuatnya.


Gadis itu tak ingin mengadakan pesta walau hanya resepsi kecil-kecilan. Baginya, ijab kabul di kantor KUA saja sudah cukup. Tidak perlu mengadakan pesta lagi. Sudah berbagai cara dia juga suaminya membujuk Alena agar mau dibuatkan acara kumpul keluarga, tapi tetap saja gadis itu menolak. Sementara Hardi, menyerahkan segala keputusan kepada calon istrinya tersebut. Baginya, kenyamanan Alena adalah yang paling penting.


"Mama cuma ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudaranya, Al." Hardi berujar saat mereka duduk di bangku taman belakang rumah orang tuanya, mencoba membujuk calon istrinya itu sekali lagi atas permintaan Linda.


"Aku nggak nyaman, Kak." keluh Alena.


"Nggak nyaman kenapa?" menautkan jari-jari mereka.


"Aku malu." Alena dengan pipinya yang merona.


"Malu kenapa?" Hardi terkekeh.


"Aku takut ... akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan aku nggak akan bisa menjawabnya." katanya, menghela napas pelan.


Hardi menoleh, menatap si mata bulat yang sedang menerawang ke angkasa yang menguning.


"Tentang Dilan?" Hardi bertanya.


Alena menoleh, kemudian mengangguk pelan.


"Yang datang cuma kakak dan adik-adiknya mama, juga kakak dan adiknya papa. Udah." Hardi menjelaskan.


"Berapa orang?" tanya Alena.


"Dari keluarga mama empat, keluarganya papa lima."


"Sembilan orang, ya." Alena nenoleh.


Hardi mengangguk.


"Ditambah suami atau istrinya, ditambah anak-anak dan menantunya." Alena menghela napas pelan. "Banyak, ya." tambahnya, lesu.


Hardi kembali terkekeh.


"Ini Indonesia, kak. Dimana perempuan yang memiliki masa lalu yang buruk akan selalu dicap buruk. Entah apa latar belakang dan usaha mereka dalam menjalani kehidupan nya." Alena menyandarkan kepalanya di pundak Hardi. Mengingat pengalamannya disaat awal kehadiran Dilan yang dianggap aib oleh sebagian orang yang mengenalnya. "Akan selalu ada cibiran ..."


"Not my family." Tukas Hardi, memotong perkataan calon istrinya.


Melepaskan tautan jari mereka. Kemudian memindahkan tangannya ke pundak gadis itu. Merangkulnya.


"Keluargaku nggak sekolot itu."


"Kakak yakin?" Alena menatap manik coklat lembut itu.


Hardi mengangguk.


"Kakak janji?" katanya lagi.


"iya, sayang!!" mengeratkan pelukannya.


Agak lama gadis itu berpikir.


"Kalau begitu, baiklah." akhirnya Alena mengalah. Hardi pun tersenyum. Menoleh ke arah belakang dimana orangtuanya tengah mengintip, mengacungkan jempolnya sambil tersenyum pula.


Yang dimaksud bertepuk tangan kegirangan.


*


*


*


Sudah seminggu Alena dan Dilan tinggal dirumah orang tuanya Hardi di Jakarta. Selama itu pula dia tak bertemu dengan sang calon suami yang memang bekerja di Bandung.


Linda tak mengijinkan Hardi membawanya pulang ke Bandung, setidaknya sampai ijab Kabul dilangsungkan di Jakarta. Linda ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya. Walaupun tanpa pesta dan tanpa resepsi seperti keinginan calon mantunya tersebut.


Semua data yang diperlukan untuk administrasi pernikahan mereka telah dimasukkan ke Kantor Urusan Agama tempat Alena dan Hardi akan melangsungkan pernikahan. Tinggal menunggu waktu yang telah ditentukan.


*


*


"Kakak udah makan?" tanya Alena ketika dia dan Hardi sedang melakukan panggilan video saat malam hari setelah Hardi pulang dari kantornya.


"Belum." calon suaminya tersebut menggeleng.


"Kenapa? Ini udah lewat jam makan malam kakak lho." Alena mengingatkan.


"Nggak ada makanan. Nggak ada yang masakin." jawab Hardi agak cemberut.


"Beli kan bisa. Biasanya juga order online, kan.?" Alena melanjutkan.


Hardi kembali menggelengkan kepalanya pelan. "Aku udah terbiasa makan masakan kamu, jadi kalau makan buatan orang lain apalagi beli rasanya beda." katanya, setengah merajuk.


"Lebay." Alena mencibir calon suaminya tersebut.


"Serius, Al." Hardi menunjukkan wajah sendunya.


Alena tergelak.


"Al ...?" sapanya.


"Iya?" Alena menatap layar ponselnya dengan serius seperti orang di seberang sana.


"Aku kangen." Hardi mengucapkannya dengan lembut, hampir berbisik.


"Ayo katakan!!" Hardi menuntut.


"Apa?" Alena mengerutkan dahinya sehingga kedua alisnya bertemu.


"Ayolah... jangan pura-pura nggak ngerti." Hardi merajuk.


"Apa kak?" Alena bingung.


Hardi terdiam cukup lama.


"Kamu nggak kangen aku gitu?" akhirnya dia kembali berbicara.


Alena terkekeh geli dengan kelakuan calon suaminya tersebut.


"Kakak kayak anak baru gede!!" cibirnya, kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi suami nya tersebut.


Hardi mencebik.


"Kita nikah berapa hari lagi sih?" Hardi dengan frustasinya.


"Seminggu lagi kalau aku nggak salah hitung." jawab Alena, masih dengan senyum geli nya.


"Hhhh ...." mendengus kasar. "Masih lama!" katanya, mengusap wajahnya kasar. Alena tergelak.


"Al ..." panggilnya lagi, padahal Alena masih tetap di depan layar ponsel pintarnya.


"Hmmm?"


"Mama jahat, ya?" katanya, mulai mengeluh.


"Kenapa bilang mama jahat?" gadis itu kembali mengerutkan keningnya.


"Mama tega misahin kita sampai selama ini." katanya, sedih.


Alena kembali tergelak. Hampir tak percaya pria yang hampir berumur 27 tahun itu berbicara seperti remaja yang baru mengenal cinta.


Gadis itu tertawa hingga mengeluarkan airmata.


Ya Tuhan!! Hardi Pradipta yang aku cintai ternyata secengeng ini!! Batinnya.


"Jangan nangis, Al!! Aku juga sedih." katanya, mengira airmata yang keluar dari netra calon istrinya sebagai tangis kesedihan.


Alena tak mampu lagi menahan tawanya walaupun ia dengan susah payah menutupi wajahnya. Air matanya pun terus keluar. Wajahnya kini semerah tomat.


Hardi di seberang sana hanya terdiam. Malah merasa sedih dengan apa yang dilihatnya di layar ponsel. Dia mendengus frustasi.


"Apa aku ke Jakarta nya sekarang aja ya?" katanya, setelah Alena terlihat tenang dan mampu menguasai dirinya lagi.


"Eehh. . kenapa mau pulang?" Linda yang tiba-tiba muncul dibelakang Alena, yang mendengar calon menantunya tersebut tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kan harus kerja!!" katanya lagi, menatap tajam anak bungsunya tersebut.


"Aku mau ambil cutinya dari mulai besok aja!" Hardi yang kemudian cemberut.


"Kelamaan!! Minggu depan aja. Lagian kamu mau ngapain lama-lama disini? Kerjaan kamu itu banyak, kan?" Linda dengan tegasnya.


"Ada Raja ini." jawab Hardi, menjadikan sahabatnya sebagai tameng.


"Nggak boleh!! Kamu kerja aja. Cari uang yang banyak. Biar anak sama istri kamu nggak kekurangan." Linda mengintimidasi.


Hardi mendengus kasar.


"Mama jahat sama aku dan Alena!!" katanya, kepada sang Mama.


"Lho?? kenapa bilang begitu?" Linda mendekatkan wajahnya ke ponsel pintar milik Alena.


"Mama udah misahin aku sama Alena." katanya, dengan polosnya.


"Lah, ... misahin apanya?" Linda makin mendekatkan wajahnya.


"Mama nggak biarin Alena pulang dengan aku."


"Yee... nanti juga kan ketemu lagi."


"Ck!! Lama!" Hardi mendelik.


Linda tertawa melihat tingkah anak laki-lakinya tersebut.


"Udah dulu ya , Al. Nanti aku telpon lagi kalau mama udah pergi." katanya, kemudian mengakhiri panggilan video mereka.


"Kenapa sih dia itu, Al?" Linda menatap heran ke arah calon menantunya tersebut.


Alena hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Dasar aneh!!" Linda menggelengkan kepalanya. Mereka berdua tertawa bersamaan.


*


*


Bersambung...


Wah wah ... Hardi udah kebelet kayaknya. Wkwkwk ....


Like koment sama vote nya jangan lupa ya.


I love you full😘😘