ALENA

ALENA
25.Obrolan Lelaki



"Kusut amat lu. Masih sakit?" Raja yang menghampiri Hardi yang tengah bersandar di kursi taman, pada jam istirahat siang itu.


"Mendingan sih." Hardi yang masih terpejam.


"Kalau masih sakit mending jangan masuk dulu. Percuma jadi nggak fokus." Raja menasehati.


"Biarpun gue sakit, tapi masih bisa ngikutin pelajaran, kok." Sergah Hardi yang masih bersandar.


"Oh iya gue lupa. Elu kan komputer berjalan. Hehe..." Raja mengejek.


"Tapi gue gak bisa fokus gara-gara hal lain." Hardi tiba-tiba membuka mata, kemudian merubah posisi duduknya sejajar dengan Raja.


"Apa?" Raja menoleh.


Hardi hanya tersenyum menatap rimbunnya pepohonan di depannya. Raja mencibir tau apa yang sedang ada dalam otak sahabatnya itu.


Pletak!! Sebuah pukulan mendarat di belakang kepala Hardi, mengejutkan pemuda itu.


"Dasar mesum!! Siang-siang otak lu udah ngeres!!" Raja mengomel.


"Mesum apaan??" Hardi mengusap kepalanya yang tadi dipukul Raja.


"Heleh!! Lu pikir gue anak TK yang kagak tau arti senyuman elu barusan?"


"Elu lebay!!" Hardi mencibir.


"Bentar lagi kita magang. Jangan sampai konsentrasi lu terpecah. Jangan bikin gue gagal masuk tuh perusahaan!!" Raja mengingatkan.


Hardi terdiam. Mengingat mereka berdua sangat bekerja keras sebagai partner magang di satu perusahaan Design arsitektur yang sama, beberapa minggu lagi.


"Gak usah khawatir. Semua udah siap." Hardi disela lamunannya.


"Heleh, gak yakin gue. Kalau otak lu masih dipenuhin sama Alena." Raja kembali mencibir.


"Lu kenapa sih nyambunginnya kesanaaaa mulu?!" Keluh Hardi, menepuk pundak sahabatnya.


"Gimana nggak? kenyataannya begitu."


Hardi terkekeh. Tapi kemudian dia mendengus pelan. Kembali menyandarkan punggung lebarnya di sandaran kursi.


"Akhir-akhir ini dia sering nolak gue." Hardi dengan nada kecewa.


"Apaan?" Raja menoleh.


"Alena seperti menghindar tiap gue mendekat. Kalaupun udah dekat, di seperti menolak..." menggantung ucapannya.


"Haha!!" Raja tergelak. Hardi hanya melirik.


"***** lu?!" Raja yang masih menertawakan sahabatnya itu.


"Dia kayak ketakutan kalau gue deketin."


"Masa? Bukannya dia tergila-gila sama elu, bro?!" Raja mengejek lagi.


"Apa dia trauma ya?" Hardi mengerutkan dahi seperti sedang berpikir keras.


Raja hanya tertawa melihat raut wajahnya sahabatnya itu. Lucu sekaligus kasihan.


"Mungkin dia cuma lagi jaga diri." Raja sekenanya.


"Jaga diri?" Hardi mengubah lagi posisi duduknya.


"Cewek tuh beda sama cowok kalau hal beginian..." Raja terdiam sebentar, " cowok kalau udah nyoba sekali pengenya lagi dan lagi. Tapi kalau cewek banyak pertimbangan." katanya, seolah dirinya sudah berpengalaman.


"Apa?" Hardi serius menyimak.


"Apalagi?.. Ya dia takut bunting lah!!" Raja terbahak.


"O iya ya..." Hardi terdiam.


"O iyaya?? Lu kagak mikir kesana?Ckckckck!!" menggelengkan kepala. "Lu jadi **** kalo ngomongin yang berhubungan sama tuh anak."


"Jadi gue mesti gimana?" Hardi menatap Raja dengan serius.


Raja balik menatap wajah sahabatnya itu dengan kening berkerut. "Gimana?" Hardi mengangguk. "Ya elu berhenti, ****!! jangan maen lagi sama dia!" kemudian terbahak.


"Aahh.... " Hardi mendesah frustasi, kembali mejatuhkan punggungnya di sandaran kursi yang mereka duduki.


Matanya menatap langit biru yang cerah. Dihembuskannya napas pelan. Otaknya berpikir.


"Apa gue putusin Lasya, ya?" katanya beberapa detik kemudian, membuat Raja menoleh dengan tak menyangka.


"Lama-lama gue merasa bersalah sama Lasya. Kalo lagi sama dia pikiran gue gak bisa berhenti mikirin Alena. Apalagi setelah kejadian itu." menelan ludah kasar, " tapi kalau lagi sama Alena gue tiba-tiba lupa sama Lasya."


"Jiah ... bucin!" Raja mengejek.


"Menurut lu, gue mesti putusin Lasya jangan?" Hardi meminta pendapat.


"Kagak tau. Kan elu yang ngerasain. Lu sayang nya sama siapa?" Raja membalikkan pertanyaan.


Glek!!


"Sayang?" tenggorokan Hardi tercekat.


"Iya. Lu sayang nya sama Lasya atau sama Alena?"


"Itu ... ee ..." Hardi berpikir.


Sayang? Apa ini sayang?


"Gue ...


"Emang lu tega mutusin Lasya demi Alena?"


"Ng ...


"Lu udah lima tahun pacaran sama dia. Apa bisa se gampang itu lu lepasin dia? Sementara Alena baru lu deketin beberapa minggu ini."


"Apa karena lu udah tidur sama dia terus itu menjadikan elu lebih milih Alena daripada Lasya?"


Hardi terdiam.


"Kalau itu alesannya, lu dangkal, bro! Lu cuma punya nafsu doang. Dan itu nggak akan bertahan lama." Raja menghela napas dalam.


"Lu ngomong kayak pernah ngalamin begini aja!" Hardi menyeringai.


Raja terdiam.


"Serius?" Hardi bertanya lagi.


Raja hanya menoleh, mengangkat kedua bahunya bersamaan.


Hardi terbahak, mengerti dengan isyarat sahabatnya.


"*****!! Pengalaman lu dalem, bro!!" Hardi bertepuk seolah sedang menonton pertunjukkan seru.


Kini Raja salah tingkah.


"Bagi pengalaman dong biar aman!!" Hardi setengah mengejek sahabatnya itu.


"Heleh!! Lu jangan ngikutin gue, pea!!"


Hardi tertawa lagi.


-


**************


Hardi mulai berpikir tentang niatnya memutuskan Lasya. Tapi dia ragu, apa semuanya akan baik-baik saja? Mengingat Lasya yang kini sedang meniti karir di dunia modeling. Juga dengan kuliahnya yang sebentar lagi memasuki akhir. Tentu akan membutuhkan konsentrasi yang penuh. Dia takut keputusan nya akan mempengaruhi Lasya terutama.


Tapi dia juga tak boleh terus-terusan begini. Karena tak mungkin selamanya hubungan dirinya dan Alena akan terus menjadi rahasia.


"Arrgghh..." Hardi mengusap wajahnya kasar.


"Mau minum??" sebotol air mineral di sodorkan Alena tepat ke depan wajah Hardi yang kusut.


Pemuda itu mendongak, mendapati wajah manis disamping yang tengah berdiri. Senyum tersungging di bibir mungil gadis itu, membuat sudut bibitnya menerbitkan senyum juga.


Hardi meraih botol air mineral yang disodorkan Alena, membuka tutupnya kemudian menenggak isinya hingga habis setengahnya.


"Habis lari marathon?" Alena dengan dahi mengernyit heran.


Hardi hanya terkekeh. Menutup botol air dan menaruhnya di kursi semen di sampingnya.


Alena menghempaskan bokongnya di atas kursi semen disamping Hardi. Menyandarkan punggung kurusnya disana.


"Al ..."


"Iya?"


"Bulan depan aku mulai magang."


"Oh ..?" Alena melongo.


"Mungkin aku akan sangat sibuk untuk beberapa minggu." Hardi menjelaskan.


"oh iya ya, sebentar lagi Kakak beres kuliahnya." Alena dengan suata agak lemah.


"Belum. Masih satu tahun lagi."


"Iya gitu maksudnya."


"Mau pergi ke suatu tempat sebelum nanti aku terlalu sibuk?" Hardi meraih tangan Alena yang berada di sampingnya, menautkan jari-jari mereka. Perasaan hangat mulai menjalari hati keduanya.


"Pergi kemana?" Alena menatap kedua tangan mereka yang kini saling bertaut.


"Kamu maunya kemana?"


Alena menoleh, nenatap wajah yang juga tengah menatapnya.


"Aku maunya pergi yang jauh. Tapi takutnya gak di ijinin sama kakak aku." Alena dengan wajah sendu.


"Perlu aku yang minta ijin sama kakak kamu?" Hardi tiba-tiba menawarkan diri.


"Hah?? Nggak . nggak usah. biar aku aja."


Sudah pasti nggak akan dapat ijin, kan. Apalagi yang datang minta ijin nya laki-laki. Bisa-bisa aku langsung di kurung.


"Kamu yakin? Kamu bilang gak akan dikasih ijin pergi."


"Yakin. Nanti aku fikirin caranya." Alena meyakinkan.


Bersambung ...


Jangan lupa koment like sama vote. I love you full😘😘😘