A Moment In The Past

A Moment In The Past
S2 Ep 21 My Little Peanut



Setelah kepulangan dari Jepang Steve menjadi sosok pendiam dan mengurung dirinya di rumah yang dia beli karena tidak mau menempati apartemen yang selalu mengingatkannya akan perbuatan yang sangat dia sesali seumur hidupnya.


Hanya Raul dan Putri yang selalu merawat dan memperhatikan Steve, meskipun mereka juga sempat menghujat perbuatan Steve, tetapi rasa sayang mereka kepada Steve membuat mereka terap mendampingi Steve terlebih sudah satu minggu Steve muntah-muntah dan sangat pucat sehingga Raul dan Putri membawanya ke Rs


"Bagaimana dok?kenapa dengan Steve?"tanya Putri


"dr Steve menurut hasil lab dan pemeriksaannya semua dalam kondisi baik-baik saja, lambung...lever dan semuanya baik-baik saja jangan khawatir, ini saya beri obat anti mual dan beberapa vitamin saja" ucap dr Martha yang merupakan dr penyakit dalam.


"Kalau tidak apa-apa lalu kenapa selalu muntah-muntah sampai pucat seperti itu?" tanya Putri kebingungan


"Sebentar dr maaf bukannya saya sok pintar, apakah ada kemungkinan ini disebabkan istrinya hamil?karena dulu saat istri saya hamil anak ke 3 saya juga mengalami seperti Steven, meski tidak separah Steve sampai harus di infus seperti ini" sela Raul


Pertanyaan tersebut membuat Steve n Putri langsung terjengit tegang


"Ooo bisa juga pak Raul, itu namanya Couvede Syndrome atau dalam bahasa Indonesianya kehamilan simpatik, coba dr Steve tanya istrinya, karena di beberapa kasus sang istrinya tidak merasakan tanda-tanda kehamilan karena sudah diambil alih sang suaminya" ujar dr Martha dengan tersenyum.


Hal tersebut membuat dada Steve merasakan nyeri "bagaaimana aku bertanya bila aku tidak tahu dimana istriku" batin Steve sambil mengangguk lemah


"Baiklah kalau sudah tidak ada yang tidak ada yang ditanyakan lagi, saya ijin pamit mau periksa pasien saya yang lain" ujar dr Martha yang segera beranjak meninggalkan kamar rawat Steve.


Sepeninggal dr Martha, Raul dan Putri hanya bisa menepuk bahu Steve untuk menguatkan Steve yang hanya diam dengan pandangan kosong.


"Steve....boleh aku ngomong?" tanya Putri dan dijawab Steve dengan anggukan kepalanya.


"Untuk masalahmu ini hanya Tuhan yang bisa membantu, berdoalah Steve, aku lihat sejak Karin meninggal kamu tidak pernah pergi ke gereja lagi, berdoalah Steve"


" Mintalah Tuhan untuk menolongmu...."


"Tuhan tidak pernah mengabulkan doaku Put...semua orang yang aku cintai diambilNya....membiarkan aku hidup sendiri di dunia ini" ucap Steve penuh kemarahan.


"Ketika Tuhan memberikan kita tetap hidup pasti ada maksud dan berkat yang akan kita terima Steve"


"Bukankah kamu jadi mengenal Cathy, kamu bisa tersenyum kembali...bukankah itu berkat dari Tuhan Steve?"


"Iya...dan aku menghancurkan Ul...apakah Tuhan masih mau memaafkan aku yang sangat berdosa ini" ucap lirih Steve.


"Bahkan Tuhan akan memaafkan pembunuh sekalipun jika mau bertobat dan mau memperbaiki diri....kembalilah berdoa Steve demi anakmu"bujuk Putri dan Raul.


Sejak saat itu Steve kembali mau berdoa dan rajin pergi ke gereja dan memasrahkan hidupnya ke tangan Tuhan.


Sampai suatu malam tiba-tiba hp Steve berbunyi, saat Steve mau memejamkan matanya, sehingga dengan malas Steve mengangkat telpon tanpa melihat siapa yang menelpon


"Hallo...."ucap Steve


"Maas....."


Mendengar suara wanita yang sudah dia rindukan akhirnya dia dengar kembali, dengan suara bergetar Steve menjawab


"Cathy?...benarkah ini Cathy sayang?"


"Bisakah mas datang? Caca mau omong" ucap Cathy


"Bisa...bisa kamu dimana sayang?....makasih mau nelpon mas"


"Alamat aku tulis lewat WA ya mas"


"Iya....iya....aku ganti baju dulu langsung berangkat" ucap Steve.


"Baik...udah dulu ya mas" ucap Cathy lalu menutup telepon.


"Terima kasih Tuhan" ucap Steve sambil berlinang air mata.


Drrrrt....drrrt....terdengar suara dari hp Steve menandakan ada WA masuk, tampak nomer asing yang berasal dari luar negeri


" Amsterdemsweg 405 Arnhem???ini di Belanda?"gumam Steve sambil membaca WA dari Cathy


Lalu Steve segera menghubungi temannya yang bekerja di kedutaan untuk menguruskan visanya lalu memesan tiketnya.


Setelah 4hari urusan surat-surat selesai, maka Steve segera terbang ke Belanda menuju kota Arnhem yang merupakan ibu kota provinsi Gelderland, Belanda.


Sampai disana Steve disuruh Cathy menunggu di alun-alun kota dan akan dijemput oleh Kento.



Maka disinilah Steve, meskipun masih Jet lag dan tubuh belum fit, Steve memaksakan diri tetap menemui istrinya, berbekal 1tas ransel yang berisi peralatan dan baju secukupnya.


"Tuan muda Steve...." sapa Kento sambil menunduk hormat kepada Steve


"Ken....dimana Cat?"tanya Steve


"Mari ikut saya tuan" ujar Kento dengan muka datarnya.


Didalam mobil, mereka berdua hanya terdiam dengan pikiran masing-masing, dan ketika sudah sampai



"Nyonya muda biasanya sedang duduk di pinggir kolam, silahkan anda menemuinya tuan muda" ujar Kento sambil membukakan pintu menuju halaman belakang rumah.


Steve berjalan ke halaman belakang tampak Cathy sedang duduk di pinggir kolam, dengan memakai cardigan rajut, memakai rok sepanjang lutut, rambut yang terurai lepas menampakkan kecantikan Cathy meskipun tanpa riasan sama sekali, sedang memandang ikan-ikan di kolam nya.



"Cat...." panggil Steve saat sudah dekat dengan Cathy


Meskipun terkejut, Cathy segera tersenyum memandang pria yang sangat dia cintai meskipun sudah menyakitinya.


"Duduk mas...." ajak Cathy sambil menunjuk bangku disebelahnya


Tetapi bukannya duduk di bangku, Steve langsung duduk bersimpuh di depan Cathy


"Maafkan aku Cat....maafkan aku....aku tahu perbuatanku tidak termaafkan, tapi aku mohooon maafkan aku" ucap Steve sambil menangis


"Bangun mas...semua sudah aku maafkan mas, duduklah disini" ajak Cathy lalu menuntun Steve duduk dan menyodorkan teh hangat beserta cheese cake



Saat mencium aroma Cheese cake, tiba-tiba Steve menutup hidung dan mulutnya lalu lari menjauh dan memuntahkan semua dari perutnya


Melihat Steve yang muntah-muntah dan terlihat pucat dan lemas membuat Cathy segera mendekati Steve


"Mas...mas kenapa???mas sakit??istirahat dulu ya dikamar"


"Keen!!!"teriak Cathy


"Ya nyonya muda.." ujar Kento sambil berlari mendekat khawatir ada apa-apa dengan nona mudanya.


"Bantuin aku mengangkat mas Steve ke kamar!" ujar Cathy


"Baik nyonya...tuan kenapa?"


"Kelihatannya jetlag dan masuk angin"ucap Cathy.


Setelah dikamar, Cathy mengambilkan baju ganti dan menggantikan baju Steve yang kotor dan membasuh badan Steve supaya segar


"Cat...aku bisa sendiri hemm...." ucap Steve dengan suara bergetar karena merasa dirinya sudah terlalu kotor untuk Cathy yang masih begitu baik dengan dirinya.


"Iya yang bawah, mas sendiri, yang atas biar Caca mas masih lemas banget ini" ucap Cathy yang masih dengan telaten membersihkan tubuh Steve.


"Mandy...buatkan teh jahe dan oatmeal buat suamiku ya!!" ucap Cathy kepada Mandy Art kepercayaan mamanya yang diminta merawat Cathy selama mamanya mendampingi papanya dalam perjalanan bisnis.


Steve semakin sesak dadanya, mendengar ucapan Cathy yang masih mengakuinya sebagai suaminya, padahal menurut pengadilan agama di Indonesia, mereka sudah resmi bercerai, meski Steve waktu itu dipaksa untuk tanda tangan surat cerai.


Setelah membersihkan tubuh Steve dan membaluri dengan minyak gosok, Cathy segera memberikan terapi akunpunktur untuk menghilangkan mual dan mengembalikan stamina Steve.


Setelah Steve membaik, Cathy menuntun Steve ke kamar mandi untuk berganti celana dan menuntun kembali ke kasurnya.


Tok...tok...tok..


"Noon ....Mandy boleh masuk?" teriak Mandy diluar


"Masuk Ndy..." ujar Cathy sambil merapikan selimut supaya Steve nyaman berbaring.


Setelah meletakkan nampaknya di nakas samping tempat tidur, Mandy segera meninggalkan nyonya dan tuannya.


"Mas minum dan makan dulu gih, mas ya yang ngidam?" tanya Cathy sambil tersenyum.


"Cat beneran hamil?" tanya Steve dengan mata berbinar.


"Mas tahu Caca hamil?" tanya Cathy bingung


Lalu Steve bercerita saat di dokter dan diagnosa dari dokter.


"Cat ngidam juga tidak?muntah-muntah?"


"Ndak mas, cuman bawaan ngantuk itu aja sudah kemarin sekarang sudah tidak...my little peanut sangat baik tidak membuat mamanya repot" ucap Cathy sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Little peanut?itu nama bayi kita?" tanya Steve.


"Iya..mas keberatan?"tanya Cathy dan dijawab Steve dengan gelengan kepala sambil tersenyum


"Mas...Caca mau bilang papa mama dan dokter Caca menganjurkan untuk menggugurkan bayi ini, supaya Caca tidak sakit lagi, apakah mas mengijinkan?" tanya Cathy takut-takut membuat Steve kembali pucat wajahnya.


...***...


...TBC...