A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 44 Melawan Takdir 1



Pagi harinya, udara masih sangat dingin, Karina masih nyaman dalam pelukan suaminya, tetapi dia teringat dia dirumah mertuanya, tidak enak bila dia bangun siang.


Melihat wajah tampan suaminya tertidur nyenyak, dengan perlahan dia mengusap muka Willy sambil meneteskan air mata.


"Apakah salah Tuhan, jika aku egois sekali ini saja. Belum pernah aku merasakan se bahagia seperti saat inih" ucapan Karina dalam hati dan segera mengusap air matanya dan mengecup bibir suaminya pelan dan beranjak ke kamar mandi dan berganti baju.


Ketika Karin menuju dapur, bertemu Atik yang juga akan bersiap membantu mama Ina dan bi Lastri masak.


"Pagi mbak" ucap Karina riang.


"Laah kamu kok sudah bangun Rin, masih pengantin baru udah sana bobok lagi" ucap Atik sambil mengerling nakal.


"Izzz mbak Atih mah" ucap Karina sambil tersipu malu.


"Emang sudah gak sakit Rin, kalo masih sakit buat istirahat dulu, aku saja dulu 3hari gak bisa jalan" ucap Atik


"Pria keluarga Simorangkir memang terkenal ganas, mama Ina saja katanya sampai seumur papa, masih ganas sampai kuwalahan" bisik Atik sambil nyengir membuat Karin bergidik ngeri untuk membayangkan.


"Tapi jangan kuatir, pria Simorangkir untuk kesetiaan bisa diacungi jempol, bahan juniornya hanya bisa merespon untuk istrinya saja, yang lainnya gak bisa"


"Aah masak mbak beneran?"


"Iyaa sudah mama dan aku buktiin, mau tau karena apa???"


"Apaa...apaaa mbak?" tanya Karina Kepo.


"Dulu ada ompung boru dari keluarga Simorangkir karena kesal dengan anaknya yang suka selingkuh mengucapkan kutukan bahwa sampai kapanpun dalam keturunan Simorangkir seorang anak laki-laki yang sudah beristri senjatnya tidak akan berdiri selain dengan istrinya yang sudah dia nikahi secara resmi didepan para tetua atau pemuka agama"jelas Atik dengan semangat.


"Itu bukan tahayul mbak?"


"Bukan...sudah banyak buktinya loo Rin, duda yang ditinggal mati istrinya kalo gak ikutan nyusul mati istrinya, dia jadi impoten dan nggak menikah sampai dia mati"


Dengan mulut ternganga "Busyeeet mbak...la kalo diceraiin istrinya gimana dong mbk? rugi dong impoten sendiri hihihi" ucap geli Karina.


"Karena itu pria Simorangkir kalo cari bini selektif, gak asal comot karena takut kaya gitu"


"Looh Rin...kok sudah bangun" tanya ma Ina yang tiba-tiba datang.


"Udah gak sakit gituuu?


"Hihihi ndak mah, mama masak apa, boleh Karin bantuin??" tanya Karina


"Boleh....boleh...duh senengnya mama akhirnya punya dua anak cewek yang bantuin mama masak" kata ma Ina sambil menggandeng erat tangan Atik di kiri dan Karina di sebelah kanannya.


Dapur keluarga Simorangkir ramai dengan suara bercandaan wanita-wanita keluarga Simorangkir.


Tak beberapa lama masakan jadi, saat akan menata di meja, muncul Bagas sambil masih mengusap-usap matanya dan Kenya dalam gendongan Johan yang juga masih dengan mata 5watt


"Maaa..." rajuk Bagas minta digendong


"Yang ini Kenya minta minum susu" ucap Johan dengan suara serak habis bangun tidur.


"Udah mbak sana, biar Karin yang membawa ke meja" ucap Karin sambil tersenyum melihat mbak Atik dengan sabar dengan anaknya.


Baru saja Karina membalik badannya menuju dapur, tiba-tiba dari belakang ada yang langsung memeluk Karina posesif.


"Rin..rin mas kok ditinggal sich" rajuk Willy sambil mengusap-usapkan hidungnya di ceruk leher Karina.


"Maas iiih maluu ada mama dan kak Jo" ucap Karina dengan muka merah.


"Iiih biarin, kan sudah sah jadi istri mas" ujar Willy santai.


"Ya udah, sekarang bantuin Karina menata ke meja makan yuk" bujuk Karina.


"Ntar mas minta upah cium yaah" bisik Willy manja yang langsung diangguki Karina.


Melihat polah putra bungsunya, dr Hotman berbisik di telinga istrinya


"Kaya papanya nggak, bahkan sampai setiap ini aja masih aja manja" gerutu mama Ina yang ditanggapi dr Hotman dengan cengiran sambil menggaruk tengkuknya.


.


.


Setelah selesai sarapan bersama, Willy mengajak Karina bersepeda melihat kebun teh



pura-pura nya itu Karina dan Willy yah


Sepanjang jalan, banyak pekerja di kebun menyapa dengan hormat tuan muda mereka yang pulang membawa istrinya.


"Kita mau kemana mas?" tanya Karina yang duduk di sepeda bagian depan.


"Mas tunjukin tempat indah diatas bukit itu, dulu waktu kecil mas sering kesana, kalau baru suntuk, sedih ato buat belajar" ujar Willy


Ketika tepat di kaki bukit, Karina turun dari sepeda dan menuntun sepeda mereka untuk naik keatas.


Akhirnya sampai juga diatas bukit, Karina melihat kebawah terlihat hamparan hijau kebun teh, Karina teringat akan kebun teh milik emaknya juga terlihat indah, dimana para pekerja memetik dan merawat kebun teh juga terlihat dari atas.



Sambil memeluk Karina dari belakang "Rin..rin bahagia menikah dengan mas?"


"Heem mas..." ucap Karina sambil mengusap lembut tangan Willy yang melingkar di pinggangnya.


"Rin....rin....i loveeeeeee youuuuuuuu!!!!!" teriak Willy dari atas bukit sehingga teriakan itu bergema.


"Ayoo Rin, teriak"


Sambil ragu ikutan teriak "Aaaargh!!!!!" lalu terkikik mendengar suara teriakan bergema.


"Karinaaa mencintai mas Willyyyyy" teriak Karina lagi, lalu dicium lembut oleh Willy.


"Mas bolehkah Karina egois bila tidak mau kehilangan cinta ini mas?" ucap Karina sambil menahan tangis karena mulai terasa ketakutan kehilangan Willy.


"Bukankah mas memang milik Karina, cinta mas hanya milik Karina gak bakal hilang hemm" ucap Willy sambil memeluk erat Karina.


Setelah puas menikmati pemandangan, Willy mengajak naik sepeda lagi, tapi posisi Karina di belakang karena jalannya menurun supaya tidak terjatuh.


Willy menuruni bukit, karena jalannya agak curam sehingga sepeda seakan didorong dari belakang laju sepedanya menjadi kencang, pada awalnya Karina ketakutan, tetapi kemudian tertawa kesenangan bersama Willy.


Karina dan Willy di perkebunan selama 3hari, selama itu setiap hari mereka bermain di perkebunan, di sungai mencari ikan dan membakar ikan, Karina juga memeriksa anak-anak petani perkebunan dan jangan lupa setiap malam Willy selalu meminta upah karena seharian sudah mengajak main Karina.


Setelah tiga hari, mereka berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Dengan berat hati mama Ina melepas kepergian mereka sambil menangis.


Sebelum berangkat Karina mendengarkan cerita mama Ina, bahwa mama selalu mengkhawatirkan putra bungsu. Sebenarnya mama Ina tidak merestui Willy menjadi seorang tentara, tetapi Willy bandel saat tes di sekolah Stovia malah tidak mau mengerjakan tesnya, malah ikut tes tentara.


"Karin sayang terimakasih sudah menerima putra bungsu mama yang keras kepala, nitip anak kesayangan mama ya Rin, kalian saling menjaga, selalu menghargai, dan mencintai ya Rin" ucap Mama Ina


"Ya ma, Karina akan selalu menjaga, menghormati dan mencintai Mas Willy sampai maut memisahkan kita ma" janji Karina.


Karina teringat di buku autobiografi yang dibacanya saat Karina smp, buku yang ditulis sendiri oleh dr Hotman menceritakan bahwa orang tuanya tidak merestui menjadi tentara dan Karina itu tahu bahwa mama Ina 1tahun setelah Willy meninggal, menyusul meninggal dengan rasa penyesalan karena kurang tegas mencegah putra bungsunya menjadi tentara.


Setelah tiga hari tinggal bersama membuat Karina ikut merasakan ketakutan kehilangan Willy, terlebih Karina tahu bahwa ketakutan itu akan terjadi yang sebentar lagi akan terjadi.Hal itulah membuat Karina terisak menangis bagaimana memenuhi janjinya kepada mama Ina untuk menjaga Willy.


...***...


...TBC...


...Makasih ya sudah mau membaca kisahku ini, semoga berkenan dan jangan lupa tinggalkan jejak indah berupa Like...tinggal pencet ok...


...Saranghae🙏😘...