A Moment In The Past

A Moment In The Past
Extra Part 1



Di waktu yang sama di sebuah persidangan terakhir Panji, Panji dari pagi mempunyai perasaan tidak enak sehingga mengikuti persidangan dengan gelisah.


"Bapak tenang saja, saya yakin kita bisa memenangkan sidang ini, tinggal tunggu putusan sidang 3hari lagi" jelas pengacara Ahmad Lubis bawahan Raul.


"Mas Ahmad, mas Raul dimana ya?"


"Pak Raul baru menghadiri pernikahan putra tunggal keluarga Rumengkang dengan dokter cantik yang beberapa kali jadi host acara dr Oz di tv itu pak, dr Karina Kim"


"Oooh, acara besar-besaran yah?"


"Tidak pak, hanya keluarga dekat saja mengingat kondisi nyonya muda kan baru sadar dari koma"


"Apakah Karina sehat-sehatkan mas? terakhir ke sini sangat kurus"


"Setahu saya sehat pak, kalau kurus kan selama 2tahun koma pak jadi ya wajar pak"


"Iya..iya"


"Baik pak saya undur diri dulu, sampai bertemu 3hari lagi ya pak" ujar pengacara Ahmad lalu beranjak meninggalkan Panji yang dibawa polisi ke penjara.


Saat selesai makan dan di ruang santai para napi, Panji yang biasanya tidak pernah tertarik melihat tv bersama para napi lainnya, entah kenapa hari ini dia ingin melihat tv sambil meminum teh hangat dan pada saat Panji melihat televisi baru menyiarkan sebuah berita


"Anda menyaksikan breaking news malam ini memberitakan telah meninggal dengan tenang siang hari tadi tepatnya pukul 13.00WIB menantu dari pengusaha ternama Theo Rumengkang di rumah peristirahatan keluarga di perkebunan teh Jawa Barat, kita terhubung dengan reporter Rahma dari tempat kejadian, silahkan reporter Rahma" ucap Anchor News Syarif Umar.


"Baik, siang tadi tepatnya pukul 13.00 telah meninggal dr Karina Rumengkang, atau kita lebih mengenal dengan dr Karina Kim, almarhum pernah beberapa kali menjadi host di dr Ozz beberapa kali."


"Almarhum meninggal pada usia 25tahun merupakan istri dari dr Steve Emanuel Rumengkang yang tepatnya adalah putra tunggal pengusaha ternama Theo Rumengkang, menurut kabar yang saya terima almarhum meninggal karena jantung"


"Dan menurut kabar yang saya terima dr Karina 1,5bulan yang lalu baru tersadar dari komanya selama 2tahun akibat kecelakaan yang almarhum alami" ucap Reporter Rahma


"Reporter Rahma, kapan almarhum dikebumikan?" tanya Syariff


"Baik rekan Syarif, menurut kabar saat ini almarhum telah diterbangkan ke Jakarta, dan dini hari nanti diterbangkan kembali kemari untuk diadakan pemberkatan jenazah dan akan di kebumikan di samping Emak Liem, yang merupakan nenek dari dr Karina Kim, demikian info dari kami, reporter Rahma mengundurkan diri" lapor Rahma.


"Baik terimakasih reporter Rahma atas info terkini....untuk berita selanjutnya akan segera kita tayangkan di breaking news selanjutnya, dengan Syarif Umar dari tvOne News kami undur diri selamat malam" ucap Syarif menutup berita.


Prankkkk......gelas yang dibawa Panji terjatuh pecah


" Tidaaak....berita itu tidak benarkan?" teriak histeris Panji sambil menangis lalu mengganti channel lainnya dan semua channel memberitakan berita duka tersebut, banyak yang menyiarkan saat dr Karina menjadi host di acara dr Oz.



Melihat itu semua membuat Panji semakin menangis meraung-raung.


"Heeiiii tenang....kamu kenapa?" tanya salah satu napi.


"Namanya breaking news ya benar to ya!?" ucap napi yang lain.


"Memang dia siapa? kok kamu histeris begitu? " ejek salah satu napi.


"Dia putriku....dia putriku" ucap Panji sambil masih menangis meraung-raung membuat Panji dibawa masuk ke selnya.


"Kenapa kamu pergi duluan Rin...ayah belum mengucapkan minta maaf....kenapa???" isak Panji.


***


Tiga hari sesudahnya, Panji menerima putusan pengadilan bahwa Panji dinyatakan sebagai tahanan rumah dan melanjutkan pengobatan untuk penyakit emfisema (Emfisema adalah penyakit kronis akibat kerusakan kantong udara atau alveolus pada paru-paru. Seiring waktu, kerusakan kantong udara semakin parah sehingga membentuk satu kantong besar dari beberapa kantong kecil yang pecah. Akibatnya, luas area permukaan paru-paru menjadi berkurang yang menyebabkan kadar oksigen yang mencapai aliran darah menurun. Kondisi ini juga membuat paru-paru membesar secara perlahan akibat udara yang terperangkap di dalam kantong dan sulit dikeluarkan. Pada kasus Panji emfisema nya karena Panji selalu merokok tanpa henti.)


Panji keluar penjara bingung harus kemana, karena semua hartanya di sita tanpa ada sisanya, disaat Panji kebingungan


"Selamat siang pak Panji, mari ikut saya " ucap pengacara Ahmad.


"Kita kemana mas Ahmad?"


"Kita jemput bu Laras lalu menuju rumah yang sudah dibelikan Nyonya muda Rumengkang untuk anda"


"Karinkah maksud anda?"ucap Panji ragu.


"Iya pak, ini beberapa surat kepemilikan rumah dan ada surat dari nyonya muda untuk anda dan bu Laras" ucap Ahmad sambil menyerahkan amplop coklat kepada Panji.


Panji menerima amplop tersebut dengan tangan bergetar membuka amplop itu yang berisi surat kepemilikan rumah dan ada amplop putih yang terjatuh.


Panji memungut amplop tersebut dan membuka amplop tersebut lalu membaca surat tersebut.


...Kepada...


...Yth. Ayah Panji...


...Assalamualaikum ayah,...


...Maafkan Karin memberanikan diri untuk menulis surat kepada ayah itupun Karin titipkan ke Raul untuk diberikan ke ayah saat ayah sudah bebas....


...Ayah terimakasih karena ayahlah aku bisa hidup dan tumbuh dewasa seperti ini, maafkan Karin ya Yah kehadiran Karin menghancurkan keluarga Ayah dan Bunda....


...Selamat tinggal ayah, maaf Karina tidak bisa berpamitan secara langsung dengan ayah, jagalah kesehatan dan selalu berbahagia ya ayah, terima kasih sudah menjadi satu-satunya ayah yang Karin tahu sampai sekarang....


...Jangan mengkhawatirkan tentang pengobatan ayah untuk terapi kesehatan Karin sudah menyiapkan team dokter yang akan selalu memantau kesehatan ayah dan mencarikan donor paru-paru untuk ayah....


...Wa'alaikumsalam wr.wb...


...Karina...


Setelah membaca surat Karina, Panji kembali menangis sambil memukul dadanya.


Tak beberapa lama sampailah Panji di rumah Laras, dari kejauhan Panji menatap mantan istrinya yang sedang melayani pembeli.


Setelah semua pembeli sudah pada pergi, barulah Panji mendekati Laras.


"Assalamualaikum Rasti...."sapa Panji.


Mendengar suara mantan suaminya membuat Laras menatap sinis kepada Panji


"Oooo kamu sudah bebas....ngapain kesini? mau ikut numpang hidup hah???!" ucap Laras ketus.


"Ras...maafkan semua kesalahan yang mas perbuat, akuu tahu banyak dosa dan kesalahan mas...bisakah Rasti kasih mas 1kesempatan lagi untuk mas untuk memperbaiki semua kesalahan mas dan memulai dari awal?"


"Hahaha...heeeh Panji jangan sok kamu, kamu baru ingat aku setelah kamu sudah tidak punya apa-apa"


"Pergilah kamu, melihat mu mengingatkan kehancuran hidupku dan hidup Sena putra bungsu ku"


"Ras...hiduplah bersamaku, kita tinggal di rumah kecil kita, bukankah kontrakan rumahmu ini sudah habis"


"Rumah kita???! Haaah jangan hallu kamu Panji, apakah kamu lupa semua hartamu sudah di sita pengadilan? sudahlah pergi sana, aku lelah"


" Baiklah...tapi bacalah surat ini, jangan kamu sobek"


"Surat apa ini?" lalu Laras membaca surat Karina, langsung menyobek dan membuang di muka Panji.


"Surat nggak jelas dari anak sialan itu...ngapain kamu kasihkan ke aku, menyebalkan"


"RASTIIIIII, kamu boleh menghujat aku...tapi aku mohon jangan kamu hujat Karina...tidak adakah rasa kasih terhadap anakmu sendiri yang kau kandung selama 9bulan?"


"Dia memang pembawa sial, gara-gara kehadiran dia, keluargaku yang dulunya bahagia menjadi hancur...kenapa dulu aku kamu larang menggugurkan bayi itu"


"Berhenti Ras....jangan kamu hujat Karin lagi, kasihan Karin dia sudah bahagia di surga...selama dia hidup kita selalu menyakiti nya setidaknya setelah dia meninggal, jangan kita sakiti Karin lagi Ras" ucap Panji sambil bergetar dan menangis.


"Apa maksudmu??? Tidak mungkin Karina meninggal...kemarin dia sempat kesini, dia sehat meski memakai kursi roda" teriak Laras lalu teringat.


"Dasaar anak pembawa sial...gara-gara kamu anakku Sena menjadi buta dan aku menjadi jatuh miskin" teriak Laras menerjang dan memukuli tubuh ringkih Karin dengan kalap, membuat Raul kesulitan menarik tubuh Laras menjauh dari Karina.


"Kenapaa kamu tidak matii saja saat kecelakaan dulu, bisa-bisanya koma lama masih saja hidup..."


"Bun...." ucap Karin bergetar dan meneteskan air mata.


"Jangan sok lemah kamu, kamu kesini hanya untuk menghinaku kan? sekarang aku sudah miskin dan kedua anakku tidak mau hidup bersamaku kan dan kamu menjadi menantu orang terkaya seIndonesia....Puaasss..Puaasss kamu??!!" teriak Laras dengan histeris.


"Bukan begitu bun...bukan" ucap Karina tergugu menangis.


"Pergi dari sinii...jangan pernah menemuiku lagi, aku menyesal melahirkan kamu anak pembawa sial...lebih baik kamu mati sekarang juga, sehingga membuat hidupku tenang" ucap Laras lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya keras-keras.


Teringat semua ucapan terakhirnya kepada Karina membuat Laras menangis histeris.


"Ya Allah...ibu apakah aku ini sampai menyumpahi putriku...." teriak Laras sambil memukuli dadanya.


"Panji kamu bohongkan Karina tidak mungkin sudah meninggalkan? dia masih 25 tahun, masih cantik, barusan menikah"


"Kenapa Tuhan tidak mengambil aku saja yang banyak dosanya ini" ucap Laras sambil jatuh terduduk di tanah dipeluk Panji sambil menangis bersama.


"Kapan Karina meninggal?"tanya Laras dengan suara bergetar.


"Tiga hari yang lalu, semua berita di tv mengabarkannya Ras" ucap Panji lirih.


Laras memunguti surat pertama dan terakhir dari Karina, lalu memeluk surat tersebut sambil menangis


"Maafkan bunda sayang...maafkan bunda putri kecilku yang cantik" ucap lirih Laras.


..."Seorang anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya, mereka bahkan tidak meminta untuk dipuja-puja dan dihormati secara berlebihan....


...Cukup diberi kasih sayang, dihargai dan dianggap ada" ...


...Jadi selama mereka masih hidup, cintailah dan hargailah sebelum kita menyesalinya....


...***...