A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 57 Always To Be Our Sister



Dalam perjalanan Karina hanya duduk terdiam sambil memandang jalanan Jakarta yang padat kendaraan.


"Dulu di sini masih banyak becak, sekarang sudah tidak adalagi" ucap Karina.


"Haaah???!!!Seumur-umur kita mana ada becak di Jakarta Rin, yang masih ada di daerah-daerah seperti Yogya, Solo, Semarang"


ucap Elang bingung.


"Oooo iya ya...yang aku ingat bukan Jakarta yah hehehe maaf ya kak, banyak kenangan yang Karin bingung dan bercampur " ucap Karina penuh sesal


"Jangan terlalu dipaksa mengingat Rin, nanti juga ingat pelan-pelan hmm..." ucap Elang sambil menggenggam tangan Karin untuk memberinya kekuatan.


Setelah Sena sehat, Sena tinggal di rumah Karina warisan dari nenek Liem selain rumah diperkebunan, ditemani beberapa asisten rumah tangga.


Saat sampai dirumah, Karina melihat Sena hanya duduk termenung di kebun belakang rumah, rambut Sena yang biasa rapi sekarang gondrong dengan jambang dan kumis yang belum dicukur.



"Hallo Tengiiil" teriak Karina memanggil Sena.


"Kakak??...Kak Karin???Benarkah itu kak Karin?" ucap Sena yang kaget.


Sambil di dorong Elang. Karina mendekati Sena dan Karina langsung memeluk adik kesayangannya erat.


"Kangen kamu ngil" ucap Karina sambil menangis terharu.


"Kak Karin dah sehat?kakakku sudah sadar" ucap Sena sambil tergugu dalam pelukan.


"Iya tengil, kakakmu hebat kan " ucap Karina sambil teekikik.


Tiba-tiba Sena teringat " Kaak tunggu yah, Sena mau bercukur, nanti kakak takut Sena sekarang seperti ayah" ucap Sena


"Kakak bantu cukur yaah"


"Emang kakak bisa?"


"Bisalah cuman cukur jenggot kan dan kumis mah kecil, dulukan kakak sering potong rambut si ciko"


"Buset kak..ini adikmu masak disamain sama anjing pudel kakak"


"Hahaha tehniknya sama, ayoo gak usah berisik"


"Kak Lang ambilkan alat cukur kumis nya sekalian clipper ya, dikamar Karin"


"Kakak kok sampai punya clipper?" tanya Sena bingung


"Kan dulu Stevie suka minta tolong potong rambut kalo gak sempat ke salon" terang Karina.


"Oooo"


Setelah di ambilkan sama Elang, Karina mulai merapikan kumis Sena dan memotong rambut Sena perlahan.



"Nah sudah selesai, duuuch adik tengil kesayanganku jadi ganteng" ucap Karina sambil menciumi pipi Sena gemas.


"Kakak...iiih Sena dah gede, masih aja loo kakak gemesi Sena kaya bayi" omel Sena.


"Hahaha sampai kapanpun kamu adik kakak yang comel punya kakak, lagipula mumpung kamu belum punya pacar atau bini, jadi kakak puas-puasin gemesin kamu" ucap Karina membuat Elang tertawa.


"Iya Sen, jadi keinget kamu waktu kecil paling gendut dibanding kita berdua...inii aku selalu simpen di dompetku"


"Jiaah...kakak tuch kurang kerjaan banget sich" gerutu Sena.


Sambil ketawa Elang menyodorkan foto Sena ke Karin.



"Loooh Dirga!!" ucap Karin bingung.


"Kok Dirga sih Rin, itu mah si Tengil Sena" ucap Elang bingung.


"Eeeh iya ya...lalu Dirga itu siapa ya kak?" kata Karina sambil kebingungan.


"Waktu dipoto itu saat kita suruh jaga halaman depan rumah pak Suryo saat kita mencuri mangga nya, itu di poto om Harjo karena lihat Sena lucu, nggak tau kalau kakak-kakaknya melakukan pencurian mangga" ucap Elang.


Semua tertawa, kemudian Senang ngomel " Nyebelin banget tuch Sena tuch yang disuruh pasang muka melas dan ngenes sehingga kita mendapatkan makanan enak, begonya lagi Sena mau"


"Hahaha yang sampai sekarang aku heran kok orang-orang percaya sama Sena kalau kelaparan padahal badannya segede Gaban gini" ucap Karina.


"Itu pinter-pinternya Sena berakting kak jadi semua percaya."


Tak terasa waktu makan siang dah dianter Gafood yang dipesan Elang, sehingga mereka bertiga saling bercanda.


Melihat Sena untuk pertama kalinya sejak sadar dari koma melupakan dirinya buta dan bisa bercanda dengan kedua saudaranya


Karina menyuapi Sena dengan telaten


"Kak aku cuman buta bukan lumpuh, tetap bisa makan sendiri"


"Gak papa lah, ini terakhir dech kakak suapin kamu besok-besok lagi kakak gak bisa nyuapin kamu lagi, terlebih kalo kamu sudah bisa melihat lagi" ucap Karin sambil tersenyum lembut.


"Haizz..cari donor mata buat Sena susah kak, Sena mah sudah bisa terima keadaan Sena kok"


"Jangan kuatir Ngil 2-3bulan ini pasti bakalan ada donor buatmu, sekarang makan yang banyak masak seorang Bima badan kurus kering gini Izzzz....izzzz.....izzzz" ucap Karin.


"Kok Bima sih Kak Bratasena, hobi kok ganti nama adiknya" protes Sena sambil cemberut.


Pleeeetaaaak.....


"Kaaaak...siapa yang nyentil kepala Sena, sakiit tauuu!!!"


"Laaa kamu tuch terlalu kok...Bratasena, Bima dan Wekudoro itu sama, salah satu Pandhawa di pewayangan" ujar Elang emosi.


"Sudah tahu adiknya bodoh masih ajaa dibahas" gerutu Sena.


Setelah selesai makan, Karina berpamitan dengan Sena


"Kak setelah sehat kakak balik ke rumah inikan kak?"tanya Sena.


"Kurang tahu Ngil, pingin kakak sih tinggal di rumah emak di perkebunan, tapi Stevie kan dr jadi manut dia saja"


"Baiklah kak, sering main sini ya kak...apapun yang terjadi You're always to be our sister forever" ucap Sena sambil memeluk kakaknya membuat Karina terharu dan meneteskan air mata.


"Ngapain Rin"


"Karin ada hal yang mau dibicarakan dengan Raul" ucap Karin


"Kamu sudah buat janji Rin?Karena pengacara sebesar dia, harus pakai janji"


"Hari ini Jumat, menurut kebiasaannya hbis Jumatan, dia cuman di kantor hanya untuk tanda tangan beberapa dokumen saja dan tidak mau ngapa-ngapain"


"Kamu tahu dari Putri ya?"


"Heemm kak, kak nanti diam saja biar Karin saja yang ngomong"


"Iyaa...beres"


Setelah sampai dikantor, Karina menuju ke resepsionis


"Selamat pagi ibu bisa kami bantu?" tanya resepsionis dengan ramah.


"Katakan kepada tuan Raul, dr Karina Kim ingin bertemu mbk"


"Apakah ibu sudah ada janji? kalau belum, maka tuan tidak bisa menemui" ucap resepsionis itu lagi.


"Telponlah tuan Rahul atau sekretarisnya mas Anton atau mbak Hanin" ucap Karina masih bersabar.


"Ooh baik ibu sebentar yah" lalu resepsionis itu segera menelpon dan tak beberapa lama


"dr ditunggu, tuan Rahul menuju kemari" ucap resepsionis itu lagi.


Beberapa waktu kemudian tampak pria muda keturunan Turki-Indonesia bernama Raul Adya Winata seorang pengacara muda yang sedang naik daun karena sepak terjangnya dalam memenangkan semua kasus, berlari-lari menuju Karina dan Elang.


"Riiin....kamu sudah sehat ??"


"Iya Ul, bisa kita bicara Ul?"


"Boleh-boleh ayo ke ruanganku"


"Ganggu loe gak Ul?"


"Haizz gaklah, kaya sama siapa sih"


Setelah sampai di ruangan Raul langsung duduk di kursinya, tetapi Karina berkata


"Ul bisa gak loe duduk dekat sini, rasanya gak enak aku di kursi roda gini kita hadap-hadapan gini"ucap Karin


"Oooh iya ya...baiklah Rin" ucap Raul sambil tersenyum, memang hubungan Raul dan Karina sangat dekat, Rahul selalu memandang Karina sebagai gadis yang menyenangkan dan lembut berbeda dengan mantan istrinya yang ceplas-ceplos.


Saat sudah duduk didekat kursi yang berdekatan dengan kursi roda Karin, tiba-tiba dengan gerakan cepat Karina menotok di titik-titik tubuh Raul yang membuat Raul diam membeku tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Raul Adya Winata, bukankah dari pertama dulu, Karin sudah bilang bila sampai menyakiti Putri maka harus berhadapan denganku" ucap Karina dingin sambil memegang tangan Karin dan menekan di titik yang membuat Raul amat sangat kesakitan tetapi tidak bisa bicara karena Karina menotok mulutnya.


Raul menatap Karina dengan ketakutan dan shock bahwa gadis yang biasanya lembut dan pendiam ketika bersama Putri sekarang menampilkan sosok yang sangat dingin dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kental.


"Sakit ini untuk rasa sakit yang dirasakan Putri, lalu untuk menipu Putri dan memainkan rasa cinta Putri, enaknya bagian mana ya yang harus Karin lukai?" ucap Karin sambil membelai muka Raul yang sudah pucat menahan sakit dan sudah berkeringat.


"Bagaimana jika memecahkan nadi di hidung" sambil menekan saraf di bawah mata, sehingga langsung dari hidung mengeluarkan darah .


"Uuups...kepencet dech" ucap Karin sambil menutup mulutnya, kemudian tersenyum mengerikan membuat Elang shock juga karena tidak mengira adiknya yang manja dan lembut ternyata memiliki sisi yang mengerikan seperti Sena.


"Atau.....membuat ayam jagomu tidak berkokok lagi?" pertanyaan absurb Karin membuat Raul kebingungan.


Melihat reaksi kebingungan Raul membuat Karina tertawa terbahak-bahak


"Bingung yah sama maksud Karin?"


Sambil mengarahkan telunjuk Karin dari atas, turun ke dada, lalu ke perut dan akhirnya berhenti di Raul Junior.


"Itu ayam jagonya Raul" ucap Karin sambil menunjukkan smirk mengerikan, membuat Raul langsung menggeleng-gelengkan kepalanya panik.


"Riiin...berhenti yaah, jangan berbuat kejahatan, ingat kamu seorang dokter bukan penjahat psikopat" ucap Elang yang ngeri melihat Karina.


"Kak apakah kamu tahu bahwa psikopat itu turunan, jadi kalau adikku seorang psikopat tentu saja aku juga" ucap Karina sambil tersenyum lebar, membuat Raul semakin panik.


"Rin jangan nekat, nanti kamu bisa ketangkep polisi dan masuk penjara"


"Tenang kak, nanti aku bisa buat Raul seolah kena stroke karena tensi nya Karin buat tinggi dan buzzzzzh kena stroke dech, tidak ada yang membuktikan ini ulah Karin karena ruangan Raul ini tidak ada cctv dan Karin tidak memakai jarum hanya jari ini" ucap Karina sambil tersenyum tenang.


Raul yang panik berusaha bicara dan meng geleng-gelengkan kepalanya dengan wajah semakin pucat.


"Haaah kamu mau bicara gitu yah?" jawab Karina yang langsung direspon Raul dengan menganggukkan kepalanya.


"Huffft baiklah" ucap Karina sambil menotok titik dibawah rahang Raul.


"Jangaaan Riiin....aku memang salah, aku sudah mendapatkan hukuman Rin...aku tidak bisa menemui putraku sejak dilahirkan, jangan bunuh aku atau sakiti aku...ini sakit banget " mohon Raul.


Tangan Karin yang masih memegang tangan Raul satunya merasakan detak jantung Raul untuk mendeteksi kebohongan.


"Bukankah dulu kamu bilang sendiri nyawamu sebagai taruhannya jika kamu menyakiti Putri, bahkan kamu menandatangani perjanjian dihadapan pengacaraku pak Iyan, kamu masih ingat bukan"


Gleeg...Raul semakin panik dan ingat bahwa dulu dia sesumbar dihadapan gadisnya, tetapi tidak mengira bahwa yang dihadapi adalah seorang Karina Kim yang sangat perhitungan.


"Aku mohon jangan bunuh aku, aku belum bertemu dengan putraku dan meminta ampun kepada Putri" ucap Raul dengan penuh permohonan.


"Kalau aku mengampunimu, apa untungnya buat aku?" tanya Karina sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Apapun yang kamu minta aku turutin Rin"


"Apapun??!! kamu yakin??"


"Iya Rin apapun!!" jawab Raul yakin dan pasrah.


"Baiklah besok pagi datang ke RSku dan sebagai jaminan bahwa kamu tidak akan berbohong maka aku buat kamu impoten dulu, baru setelah kamu gak bohong baru aku sembuhkan" ucap Karina sambil menotok dipaha bagian dalam dan dibawah pusar Raul. Setelah itu baru menotok supaya Raul bisa bergerak kembali.


"Ayo kak, kita pulang" ucap Karina tenang seperti tidak terjadi apa-apa membuat Elang dan Raul bergidik ngeri.


...***...


...TBC...


Naaah sudah thoor kabulkan ya yang minta panjang dan yang seru, semoga berkenan yah😊😁


...Jangan lupa LIKE....LIKE.....& COMENT +VOTE YAH🙏😘...