
Betapa kagetnya Karina dan Steve melihat lukisan di dinding rumah keluarga Simorangkir, terlebih lukisan itu sudah berusia puluhan tahun.
Di bawahan lukisan tersebut banyak pigura foto kuno dan modern keluarga Simorangkir yang ditata secara apik, sampai satu foto yang menarik perhatian Karina.
Sebuah foto anak kembar berbeda gender yang sangat lucu, membuat Karina tersenyum sedih
"Haru dan Hana" ucapnya bergetar.
"Iya dokter itu kakek Haru dan nenek Hana, bagaimana dokter Karina tahu?tidak mungkinkan dokter mengenal mereka, mereka sudah lama meninggal" tanya Panji bingung.
Steve pun juga merasa heran terhadap Karina, sampai kemudian dia melihat salah satu foto
"Bukankah itu kakek Willy, kamu ingat Rin?" tanya Steve.
"Kakek siapa Stevie? apakah Karin mengenalnya?" tanya Karina kebingungan.
Flashback
Saat libur sekolah setelah kelulusan SMA, yah Karina diumur 15tahun sudah lulus dari SMA dan mendapatkan beasiswa kuliah kedokteran di Cambridge, Inggris mengikuti Steve yang terlebih dahulu sudah berkuliah kedokteran disana selama dua tahun.
Karena Karina akan berangkat ke Inggris, maka Karina mengajak Putri dan Steve untuk berlibur di perkebunan, dan selama diperkebunan mereka bersepeda berkeliling dan berbalapan.
Pada saat Karina bersepeda, Karina melihat seorang kakek yang kelihatannya mau di rampok oleh segerombolan preman desa, membuat Karina marah dan segera turun dari sepedanya.
"Woii bang...badan gede doang, tapi beraninya sama yang tua"bentak Karina sambil berkacak pinggang.
"Hahaha gadis kecil, lebih baik nggak usah ikut campur...sana pergi mainan pasaran saja." ucap preman tersebut sambil mendorong tubuh Karina, tetapi bukannya Karina yang jatuh melainkan tangan preman tersebut ditangkap dan dibanting ke tanah, dan segera memukul di titik melumpuhkan lawan.
Melihat temannya dibanting dan tidak berkutik oleh gadis kecil tersebut membuat para preman yang lainnya marah
"Dasar anak kurang ajar, tangkap gadis itu lalu kita nikmati bersama biar jera" teriak pemimpin preman.
Ketika para preman yang badannya besar-besar tidak membuat Karina takut malah tersenyum lebar, membuat pemimpin preman terheran.
Dan semakin terheran saat Karina dengan lincahnya memukul para preman pada titik-titik yang membuat para preman langsung tumbang, menyisakan pemimpin preman yang masih terbengong melihat anak buahnya terkapar pingsan dan tak bergerak.
"Gimana bang?tinggal abang sendiri ini" ejek Karina.
"Brengseeek kamuu, berani-beraninya kamu menantang aku...kamu tahu siapa siapa aku ini HAH?!!!" bentak preman tersebut.
"Karin Gak Tahu dan gak mau tuch " ucap Karina santai dengan tangan dilipat didada, membuat si kakek yang melihat seorang gadis mungil dan cantik meski tingkahnya tidak selembut wajahnya dengan tersenyum.
"Ingat-ingat nama ini Mang Codet alias Kosim" ucap Kosim yang langsung menyerang Karina membabi buta, yang memaksa Karina jumpalitan menghindar.
"Dasar bocah edan jangan cuman bisa menghindar tapi lawan ....takut kan kamu" ejek Kosim.
"Hahaha badan segede gaban, mulutnya lemes kaya ibu-ibu di pasar" ejek balik Karina membuat Kosim makin marah dan kembali menyerang Karina dengan jurus maenpo cikalong
Karina beberapa kali menangkis dan menghindar, karena jelas untuk kekuatan Karina bakalan kalah, jadi Karina mengulur waktu dan mencari celah untuk menyerang.
Saat peluang itu terbuka, Karina langsung menonjok di ulu hati, memukul dari bawah ke arah atas di rahang bawah Kosim, membuat Kosim terjengkang ke belakang, dan dengan segera Karina mengunci leher Kosim dengan kuat dan menotok punggung Kosim sehingga Kosim terjatuh pingsan.
Setelah melihat lawan-lawannya terkapar, Karina segera berlari mendekati kakek tersebut.
"Apakah kakek tidak apa-apa?, apa kakek terluka?"tanya Karina khawatir.
"Aku tidak apa Rin..rin" ucap kakek tersebut sambil tersenyum dan menatap Karina teduh.
"Looh kok kakek tahu nama Karin? apa kita pernah bertemu Kek?" tanya Karina.
"Bukankah tadi Rin rin yang berteriak nantang kosim dengan menyebut namanya" ucap Kakek tersebut membuat Karin meringis.
"Tapi namaku Karina bukan Rin.rin kek" protes Karina sambil cemberut.
"Kalo Karin kan banyak yang manggil gitu, makanya aku panggil Rin rin saja" ucap kakek tersebut.
"Hahaha lucu ih kakek, nama kakek siapa?" tanya Karina.
"William, Rin rin bisa panggil Willy saja " ucap
"Kakek ngapain sendirian disini, bahayakan!! untung ada Karin jadi kakek selamat, coba kalau tidak ada, gimana coba?" omel Karina semakin membuat Willy tersenyum geli.
"Yeeee...kakek mah, ini Karina ngomelin ini...kok malah diketawain sich"
Sambil mengusap pucuk kepala Karina sayang "Cucuku saja gak berani ngomelin, makanya seneng kamu omelin, istriku dulu juga hobinya ngomel persis kaya kamu Rin" jawab Willy sendu.
"Kek...ini rambut Karin jangan diberantakin dong, ntar nggak cantik lagi gimana coba" ucap Karina sambil menggembungkan pipinya membuat Willy semakin tertawa sambil mencubit gemas pipi Karina.
"Udah tidak usah ngomel, rambutmu berantakan gegara tadi kamu bermain tinju-tinjuan ama preman Rin, sini aku benerin rambutmu" ujar Willy lalu membenarkan ikatan rambut Karin.
"Umurmu berapa Rin?"
"15th kek"
"SMP yah?"
"Sudah lulus SMA kek, besok cuss ke Inggris karena Karin dapat beasiswa kuliah di Cambridge University" ucap Karina dengan mata berbinar.
"Oo makanya kamu di usia 23 sudah dua spesialis kamu raih" ucap Willy sambil tersenyum.
"Haah maksud kakek?" tanya Karina
"Gak papa Rin rin, itu gimana nasib para preman?memang kamu hobi bertarung Rin?" ejek Willy dengan mengerling usil.
"Haizz gaklah kek, baru beberapa kali saja hehehe" ujar Karina sambil nyengir.
"Usia kakek berapa?"tanya Karina kepo.
"Coba Rin tebak"
"65/75 yah kaya engkong dan emakku Liem"ucap Karina
"Hahaha emang kelihatan muda ya?usiaku 94 Rin" jelas Willy.
"Hahaha kakek mah boong, masih gagah ganteng gini loo" ujar Karin sambil memukuli lengan Willy pelan.
"Kamu mengingatkan istriku Rin, sering bilang aku ganteng" ujar Willy dengan mata menerawang.
"Nenek emang di mana?"
"Tuch diatas" ucap Willy sambil menunjuk diatas bukit.
"Laah ngapain diatas?"tanya Karina
"Menungguku sebentar lagi aku pulang, apalagi sudah bertemu denganmu"
"Diatas itu makam istriku Rin rin sayang, satu-satunya wanita yang aku cintai sepanjang hidupku" ucap Willy sambil melihat Karina dengan tatapan lembut.
"Maaf kek Karina tidak tahu.....waaaah kakek setia yaah, duuuch senengnya punya suami setia kaya kakek ....coba kakek masih muda" ucap Karina manja sambil menggoyang-goyangkan tangan Willy.
"Ariiiiin!!!!" terdengar suara bariton Steve sambil memandang Karina dengan tatapan tajam.
"Woiii etdaaah, gile loee gue cari-cari malah duduk santuy disini" omel Putri.
...Karina dan Putri saat lulus SMA...
"Kamu habis bertarung lagi yah Rin?" tanya Steve
"Gile loe Rin...semua preman ini loe buat mati" teriak Putri kaget sambil melihat para preman yang terkapar.
"Kagaklah cuman gue buat bokjel aja, salah sendiri nyerang kakek Willy dan ngatain Karin cewek kurang ajar" gerutu Karina
"Apaan itu Rin rin Bokjel?"tanya Willy
"Bobok Jelek kek, kan muka mereka jelek hihihi"
"Ariiin...sudah berapa kali Stevie kasih tahu jangan berkelahi sendiri, kalau ada apa-apa denganmu gimana hemm" ucap Steve meski lembut tapi tegas.
"Iya iya Stevie, Arin minta maaf" ucap Karina sambil menunduk.
"Ayo pulang, siap-siap besok pulang ke Jakarta" ajak Steve.
"Steve naik apa?"
"Tuuch mobil dibawah" tunjuk Steve.
"Stevie gendong, Arin capek" rajuk manja.
"Jelas aja capek wong habis gelut (berkelahi)ogh" omel Putri
"Stevie...... Arin diomelin Putri terus ntuh" rajuk manja Karina.
"Put...udaah jangan kasihan Arin" bela Steve sambil mencium kening Karina, lalu berjongkok sehingga Karina segera memeluk leher Steve dengan manja.
"Bodooo Rin, ini sepeda kita bagaimana, gue ogah bawa dua sepeda.....aku juga capek" omel Putri lagi.
"Udah taruh disitu ajah, biar mang Ikin yang ambilin ntar" ucap Willy lalu segera menuju mobil.
"Woooh iya...berhenti dulu Stevie" ucap Karina sambil tepok jidat, lalu minta turun dari gendongan Steve lalu berlari ke arah Willy.
"Kakek ayo ikutan pulang, Karin anterin pulang" ajak Karina sambil menggandeng lengan Willy erat.
"Rin rin kakek bisa pulang sendiri kok" ucap Willy lembut.
"Yeee....ntar kalo dicegat preman gimana cobaa?? Karin gak mau tahu, kakek harus ikut Karin" ucap Karina sambil memasang muka cemberut.
"Baiklah my princess, ayo pulang" ucap Willy sambil mencubit pipi Karina.
Melihat Karina bisa manja selain dengan orang lain selain dengan Steven selama berjalan menuju mobil....bahkan saling bercanda, membuat heran Putri.
"Kok Karin bisa memegang pria asing bahkan sangat manja selain dengan kita ya Steve?" tanya Putri tetapi Steve hanya diam dan mengatupkan rahangnya dengan keras, lalu mulai masuk membuka pintu mobil untuk Karina.
"Putri duduk di depan yah sama Stevie....ayo Kek" ucap Karina sambil membantu Willy masuk mobil.
Steve langsung masuk mobil dan mencengkram erat setir mobil, membuat Putri takut dan memberi kode ke Karina, tetapi dasar sahabat terlucnut dodol, gak paham kode Putri.
Tiba-tiba datang mang Ikin naik sepeda motornya
"Neng Karin....pulang emak Liem meninggal" kata mang Ikin.
"Mang jangan main-main yaah, tadi emak nggak kenapa-kenapa" teriak Karina panik.
"Tenang Rin rin, ayo kita pulang" ucap Willy sambil memeluk Karina yang menangis histeris
Steve melihat itu membuat dia marah dan langsung tancap gas menuju rumah Emak, dan saat sampai disana rumah sudah penuh orang
"Rin...rin harus kuat dan tabah yaah" ucap Willy lembut sambil memeluk erat Karina.
"Karina sudah tidak punya emak lagi kek hicks" ucap Karina dengan suara terisak.
"Masih ada Steve, Putri dan Engkong...Rin rin akan baik-baik saja hemm percayalah sama kakek.
Steve langsung membuka pintu dan menarik tubuh Karina dari pelukan Willy, lalu membawa Karina masuk, sebelumnya memberikan kunci mobil ke Burhan untuk mengantar Willy pulang.
Saat melihat Karina, Engkong Liem langsung menggandeng Karina ke dalam.
"Steveee..." panggil Willy.
Steve berhenti dan berbalik menatap Willy tajam.
"Jaga Karina baik-baik, jangan cemburu padaku di masa ini jodoh Karina adalah dirimu" ucap Willy kemudian masuk ke mobil dan kemudian pulang ke rumah.
"Ciiih...aku cemburu sama kakek-kakek tua??? Gak Mungkin" ujar Steve sambil tersenyum miris lalu mengusap dadanya yang terasa nyeri.
Siang harinya setelah pemakaman, saat Willy datang ke rumah Karina, dan tampak Karina menolak untuk pulang ke Jakarta dan terbang ke Inggris sambil menangis histeris.
Baru berhenti saat Engkong Liem membentak Karina
"Karina Mitchell Kim...apakah kamu lupa dengan janjimu kepada emak bahwa kamu akan pulang kembali sebagai dokter, ingat kamu adalah keturunan keluarga Kim, jangan membuat malu leluhurmu, dengan menjadi cewek lemah"
"Tapi ngkong emak sudah gak ada, buat apa Karin jadi seorang dokter"
"Emak selalu ada dihatimu dan di sisimu Rin, jangan buat emakmu sedih melihatmu terpuruk dan tidak mau mewujudkan cita-citamu sebagai dokter" ucap Engkong sambil mengusap kepala Karina lembut
"Selalu ingat ucapan Emak, jadilah anak cewek yang kuat apapun yang terjadi, percayalah Tuhan selalu menyertaimu" kata engkong lagi
Karina hanya terdiam dan akhirnya menurut untuk masuk ke mobil Steve dan beranjak meninggalkan rumah emak.
"Selamat jalan Rin rinku sayang, jadilah dokter yang hebat dan sampai bertemu nanti" ucap lirih Willy yang memandang mobil yang membawa Karina pergi dengan meneteskan air mata.
Flashback end
...***...
...TBC...
...Nah sudah bertemu ya Willy, Steve dan Karinπ...
...di Episode selanjutnya Karina mulai mengingat sedikit demi sedikit (spoiler dikit π)...
...Bagaimana ya kelanjutannya yah????...
...Sabaar yess di next episode...
...Jangan lupa LIKE....LIKE....VOTE....VOTE &COMMENTNYA ππ...
...GUMAWOπππ...