
Ketika terbangun Karina bingung, kenapa sudah berada di kamarnya. Saat kebingungan terlihat Steve yang berdiri di depan pintu yang terhubung dengan taman.
"Stevie...." panggil Karina.
"Arin sudah bangun?" ucap Steve yang mendekati Karina lalu memeluk erat tubuh ringkih istrinya.
"Stevie aku lapar, mau makan " ucap Karina manja.
"Hahaha salah sendiri belum makan sudah tidur" ejek Stevie membuat mulut Karina merucut.
"Stevieeee...gendong!!" rajuk Karina manja membuat Stevie gemas dan mencubit hidung lancip Karina.
"Aaaaaawww....sakit Stevie.." omel Karina.
Steve langsung berjongkok di depan Karina
"Ayo buruan naik" perintah Steven membuat Karina langsung memeluk leher Steven erat, kebiasaan gendong kesukaan Karina adalah piggyback ride (gendong di punggung).
"Stevie berat ndak?"tanya Karina.
"Nggaklah kamu malah semakin ringan....Rin maukah kamu berjanji padaku?" tanya Steve yang terlihat serius sambil tetap berjalan.
"Janji apa Stevie?" tanya Karina ragu.
"Mulai sekarang jangan menangis lagi, aku ingin kamu sering tertawa dan tersenyum bahagia menjadi istriku, makan yang banyak dan jaga kesehatan yah!" ucap Steve
"Heem...iya Stevie Karin tidak menangis lagi" ucap Karin sambil makin erat memeluk leher Steve.
Lalu mereka makan bersama sambil saling bercerita, dan setelah mereka selesai makan Steve mengajak Karina duduk di pinggir kolam ikan dan memberi makan.
"Deeen....Neng...." teriak Burhan tiba-tiba datang sambil ngos-ngosan sehabis lari.
""Ada apa Aa...?" tanya Karina
"Aden dan neng bisa ndak gantiin pak mantri dan bu bidan di balai kesehatan?"
"Bu bidan harus ke desa sebelah membantu kelahiran" jelas Burhan.
" Baiklah , sebentar aku ambil peralatanku." ujar Steve.
"Arin di rumah saja ya" ucap Steve tegas.
"Emang Steve bisa periksa ibu hamil dan bayi?" tanya Karina sambil menaikkan salah satu alisnya.
Steve hanya meringis, "Ayo Steve bantuin Karin nyiapin peralatanku yah" ucap Karin sambil tersenyum senang.
***
Mereka diantar Burhan naik pick up yang biasa dipakai Burhan untuk mengangkut daun teh ke pabrik.
Saat sampai disana, tampak para penduduk sudah banyak yang berdatangan .
Karina dan Steve dipandang kagum oleh orang-orang karena sepasang dokter muda rupawan yang akan memeriksa.
Steve dan Karina memperkenalkan diri dan mulai memeriksa para pasien satu persatu.
Selama memeriksa banyak yang bertanya kepada Burhan siapakah para dokter muda tersebut, dan Burhan menjelaskan bahwa Karina adalah cucu pemilik perkebunan milik keluarga Liem dan yang bersamanya adalah suaminya.
Untuk pertama kali mereka melihat pemilik perkebunan terbesar di daerah ini setelah lama mereka tidak pernah tahu keberadaan cucu pemilik perkebunan, ternyata sangat cantik dan ramah membuat mereka menghormati Karina.
Saat para pasien sudah pada pulang dan Karina dan Steve bersiap pulang, tiba-tiba ada seorang pria berlari tergooh-gopoh
"Apakah anda dokter atau dokter?"
"Kami dokter, bagaimana ada yang bisa kami bantu?" tanya Steve.
"Dokter bantu istri saya mau melahirkan, saya cari bu bidan Noer tidak ada di rumah" ucapan pria tersebut.
"Maaf tapi kami bukan dr kandungan, kami tidak bisa menolong istri anda, maaf ya pak" ucap Steve.
Karina yang mendengar itu, langsung menjawab
"Rumah bapak di mana, tolong tunjukan ke kami" ucap Karina lembut.
"Rin jangan macam-macam kamu, kamu bukan dr kandungan " bisik Steve tajam.
"Tapi Karin sering menolong ibu-ibu melahirkan Seksio Sesarea dan Persalinan Pervaginam. (Seksio Sesarea (sc)adalah melahirkan dengan cara membedah perut ibu untuk mengeluarkan janin. Sedangkan Persalinan Pervaginam adalah melahirkan dengan cara alamiah melalui jalan lahir bayi dan keluar lewat ******.)" ucap Karina tanpa ragu.
"Kapan Rin...Stevie kok tidak pernah tahu" tanya Steve kaget.
"Percayalah sama Karin sekali ini, Karina tidak akan melakukan malpraktik karena Karina pernah melakukan berkali-kali (meskipun dalam hati Karina juga bingung karena beberapa kilasan-kilasan ingatan saat dia menolong wanita melahirkan tetapi tidak tahu kapan terjadinya)"
"Baiklah Rin, ayo Aa Burhan kita ikuti pria tersebut"
"Baik dokter Steve, itu tadi bernama Panji Atmanegara menantu dari keluarga Simorangkir" jelas Burhan.
Mendengar nama Simorangkir membuat nyeri di dada Karina dan membuatnya gelisah.
Saat sampai di rumah pak Panji, dada Karina semakin nyeri dan beberapa kilasan ingatan bermunculan di ingatan Karina.
"Tanteee antiik....horeeee!!!" teriak suara dua anak kecil.
Karina memegang kepala dan dadanya terasa sakit.
"Ariin kamu baik saja? kamu kenapa pucat sekali?"
"Kita pulang saja ya kalo kamu sakit"ujar Steve sambil memeluk Karina.
Kata-kata Steve menyadarkan Karina untuk kembali ke dunia nyata.
"Aku ndak apa Steve, ayo dorong dan bantu aku untuk menolong kelahiran" ucap Karin sambil tersenyum.
Saat masuk kamar, tampak istri Panji sudah kesakitan karena kontraksi.
"Ibu saya cek posisi bayinya yah" ucap Karina lembut.
Pemeriksaan posisi janin biasanya dilakukan dengan maneuver Leopold, yakni meraba fundus atau puncak rahim mama, lalu meraba kedua sisi rahim serta bagian atas tulang panggul depan.
Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui posisi janin, apakah posisinya sungsang, melintang atau siap memasuki jalan lahir. Hal ini menjadi parameter dokter untuk memperkirakan metode persalinan apa yang harus dilakukan, untung saat ini bayinya sudah pada posisi seharusnya dan sudah masuk panggul.
Lalu Karina mengukur tensi apakah mempunyai tensi tinggi atau rendah, ternyata tensi nya hanya 115/75, kemudian menghitung berapa lama jarak kontraksi lama kontraksi sekitar 30-90 detik setiap kontraksi dan jarak per kontraksi semakin lama semakin memendek sebagai tanda sudah mulai dekat waktu melahirkan, ternyata masih 10 menit sekali
Selanjutnya Karina mulai mengecek bukaan leher rahimnya, dan ternyata sudah bukaan ke 8.
"Pak Panji siapkan air panas, baju dan peralatan bayi, ibu sudah bukaan ke delapan, tinggal sebentar lagi, silahkan anda keluar" perintah Karina.
"Jangan mengejan dulu ya bu sebelum saatnya nanti, buang nafas kecil-kecil iiiih....ihhhhh...ihhh...." pandu Karina, Steve yang awalnya meragukan kemampuan Karina, tetapi melihat ketenangan Karina dalam menolong membuatnya tersenyum dan bangga terhadap istrinya.
"Bagus bu kontraksi sudah 5menit sekali, mari kita cek sudah bukaan ke berapa yah" ucap Karina lalu kembali memeriksa ternyata bukannya sudah lengkap 10.
"Steve suruh pak Panji masuk untuk memberi semangat ibu, lalu kamu bantu aku mendorong bayinya keluar" kata Karina.
"Ibu ini nanti saatnya mulai mulas terasa itu waktunya anda mengejan, jangan memaksakan sebelum terasa supaya bayinya turun ya...akan saya kasih aba-aba" terang Karina lembut.
"Sakit dok....saya takut" ucap bu Helena istri Panji.
"Jangan takut bu, saya disini kita berjuang bersama ya" ucap Karina memberi semangat.
"Dokter sudah mulai, saat mengejan air ketiban nya sudah mulai merembes" teriak Helena
" Jangan teriak dan menangis, ayo bu ngejan sekuat tenaga..." ucap Karina memberi semangat
"Kepala bayinya sudah terlihat...berikutnya ngejarnya yang kuat yah"
"Oke ngejan lagi bu yang kuat ....benar bu, yaak sedikit lagi bayi keluar bu...ngejan sekali lagi" ucap Karina sambil membantu bayi itu keluar, dan mulai menjepit tali pusar bayi dan memotongya.
"Ngejan sekali lagi ya bu untuk mengeluarkan ari-ari"
"Steve bantu ibu mengeluarkan ari-ari aku akan membersihkan bayi, setelah dibersihkan, bayi tersebut diukur apgar bayi saat menangis, setelah itu Karina segera membungkus bayi dan menyerahkan diatas dada sang ibu dan ayah sang bayi.
"Selamat ya pak bu, bayi anda laki-laki tampan dan gembul" ucap Karina lalu kembali lagiembersihkan rahim bu Helena, sehingga bersih dan tidak menyebabkan penyakit dikemudian hari.
"Kamu bisa menjahitnya Steve?" ucap Karina yang melihat Steven hanya terdiam melihat Karina yang begitu cekatan.
" Eeh bisa Rin" ucap Steven
"Bagus, aku akan membuat mati rasa sehingga bu Helena tidak merasakan sakit saat kamu Jahit." ujar Karin sambil menusuk ke titik-titik saraf sehingga mematikan rasa (seperti disuntik obat bius ) dan menghentikan pendarahan secara perlahan.
"Setelah itu, Karina membersihkan bu Helena dan darah-darah waktu melahirkan, dan kembali mengukur tensi untuk mendeteksi preeklamasi setelah melahirkan, dan ternyata tensi bu Helena sangat baik.
Setelah selesai, Karina berpamitan kepada bu Helena sambil memberikan obat pereda sakit dan berbagai vitamin penambah darah dan vitamin supaya asi lancar.
"Terimakasih dokter....?" tanya Helena.
"Karina Rumengkang dan ini suami saya dr Steve Rumengkang" ucap Karina sambil tersenyum lembut.
"Terima kasih dr Karina dan dr Steve, dokter muka dokter kenapa mirip sekali dengan nenek buyut saya, namanya juga seorang dokter bernama Karina, dokter bisa melihat lukisan nya diatas piano kuno diluar" ucap Helena.
"Benarkah bu...paling hanya mirip yah...baik bu saya kami pulang terlebih dahulu, jangan dipaksakan jalan, pelan-pelan saja dulu yah dan jangan lupa obat nya" ucap Karina lalu beranjak keluar kamar.
Saat berjalan keluar dan melewati piano tua dirumah itu tampak sebuah lukisan seorang wanita cantik memakai kebaya, dan yang membuat Karina dan Steve tercekat adalah, wajah dalam lukisan itu adalah wajah Karina.
Dada Karina kembali merasa sakit dengan kepala berndenyut sangat menyakitkan membuat Karina jatuh pingsan.
"Ariiiin...." teriak Steve dan segera mengangkat tubuh Karina dari kursi rodanya dan berlari keluar diikuti Burhan sambil mengangkat kursi roda nona mudanya.
...***...
...TBC...
...Maaf ya terlambat upnya....
...Disini Karina mulai mengingat Willy.......
...Duuch gimana dengan Steve yaa???...
...Ayo para pasukan pembela kubu Steve dan Willy angkat jari 😁...
...Jangan lupa LIKE....LIKE...LIKE....VOTE....VOTE....& COMENT nya yah🙏...
...Gumawo 🙏😘😘...