A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 47 Beratnya Perpisahan



Saat sampai di rumah dr Husein disambut tangisan pilu dari Rini, membuat Karina terdiam terpaku dan kemudian ikutan menangis berpelukan dengan Rini


"Mitchiiiieee aku takut...."ucap Rini bergetar.


"Pusi yang kuat yah, demi Kiran heem..." kata Karina sambil terisak.


"Masuklah dulu Rin" ajak dr Murni.


"Kamu dari Rs ya Rin?" tanya Rini saat sadar bahwa Karina masih memakai baju seragam scrubnya dan snelli yang penuh darah.


"Iyaa habis operasi Bayu, dia tertembak tadi malam...."jawab Karina lirih.


"Kamu mau mandi dulu Mitchie? kamu sudah makan?" tanya Rini penuh perhatian membuat Karina langsung memeluk Rini sambil menangis


"Maaaf....maafkan akuuu Rini, malah membubuatmu repot, harusnya aku yang menghiburmu huwaaaa" ucap Karina sambil menangis membuat Rini melihat sahabatnya yang menangis seperti anak kecil membuat Rini yang sedih menjadi terkikik dan tersenyum.


"Makasih yaa Mitchie, kamu sudah disini" ucap Rini sambil memeluk Karina yang membuat Karina makin menangis.


"Udahan Mitchie, makan dulu yuuks liat kamu membuat aku jadi lapar, kasihan nanti Kiran minta minum, asinya gak ada " ucap Rini


Dr Murni melihat persahabatan mereka membuatnya tersenyum, meski sedih tapi setidaknya harus kuat demi menantu dan cucunya.


.


.


.


.


.


Sudah tiga hari berlalu sejak kabar menghilangnya Jendral-jendral pengawal presiden dan Angga belum menemukan titik terangnya, selama itu Karina tinggal di rumah dr Husein mendampingi Rini, dan membantu merawat Kiran, dr Murni harus menjaga Rs karena suaminya dr Husein dan Mike ikut dalam pencarian bersama para tentara termasuk Willy.


"Mitchie aku lihat kamu kalau makan banyak banget ya? kaya tidak makan berhari-hari" tanya Rini keheranan menatap sahabatnya.


"Iya Rin, perutku lapar terus hehehe" jawab Karina sambil meringis.


"Karin kamu hamil ya?" tanya dr Murni yang juga memperhatikan Karina selama tiga hari di rumahnya, selalu ke dapur membuat berbagai makanan karena kelaparan.


"Hehehe iya dokter" jawab Karina sambil tersenyum malu


"Mitchieee selamat yaah, berapa bulan?"tanya Rini.


"Makasih ya, 2bulan Pusi" jawab Karina.


"Enak ya kamu hamil gak muntah-muntah, aku kemaren sampai gak bisa makan, Untung cuman 3bulan habis itu sudah bisa makan" ucap Rini lalu kembali menangis


"Kalau tahu akan seperti ini, selama hamil tidak membentak dan marah-marah sama mas Angga"


"Maafin Rini ya buu!!" tangis Rini mulai pecah kembali kalau mengingat Angga.


Tok...tok...tok


"Biar saya buka ya" ucap Karina langsung beranjak membuka pintu.


"Kak Jooo"


"Sesuai tebakan kakak, saat tadi ke rumahmu tutupan, kamu pasti disini" ucap Johan


"Bagaimana kabarnya kak?" ucap Karina sambil menyilahkan Johan duduk di teras.


"Siapa Karin?" tanya dr Murni.


"Permisi bu dokter " sapa Johan ramah.


"Dr Johan mencari saya bu" jawab saya.


"Oalah ya sudah, saya tinggal dulu ya dr Johan diteruskan" jawab dr Murni.


"Baik bu dokter" jawab Johan.


"Kakak ada apa kemari? mas Willy sedang mencari para Jendral kak jadi selama tiga hari tidak pulang" jelas Karin.


"Iya Rin, tadi saat aku ke rumah sakitmu kakak juga mendengar berita ini, semoga lekas ditemukan ya Rin"


"Oo ya Rin, papa sakit rencananya sih mau jemput kalian untuk menjenguk papa, tapi kondisi seperti ini mungkin tidak bisa yah, bolehkah kakak ikut tidur dirumahmu Rin?"


"Boleh kak silahkan, saya juga tidur disini kok, jadi rumah kosong"


"Mari kak saya bukakan rumah, biar kakak bisa istirahat" ajak Karin


"Maaf ya Rin merepotkan" kata Johan.


Tiba-tiba datang seorang tentara yang langsung memberi hormat


"Apakah anda istri Kapten Angga?" tanya tentara tersebut


"Buuu..bukan sebentar saya panggilkan" jawab Karina, saat berbalik


"Saya istri Kapten Rangga" ucap Rini bergetar


"Ayaaah....mas Anggaaaa tidaaak!!!!!" teriak histeris Rini, lalu terjatuh ditangkap Karina.


Sedangkan tubuh dr Murni ditangkap Johan,


"Karin kita bawa masuk dulu" ucapan Johan.


Karina dan Johan segera memberikan perawatan buat Rini dan dr Murni, dan menenangkan Dirga dan Malika.


Karina dan Johan dengan dibantu para tetangga menyiapkan rumah dan kursi-kursi buat para pelayat.


Tepat pukul 15.00 Jenasah datang dibawa Willy dan dr Husein disambut teriakan memilukan dr Murni, Dirga, Malika dan Rini, Karina selalu mendampingi Rini karena beberapa kali pingsan.


"Mas Anggaaa maafin Rini yaah, Rini belum jadi istri yang baik" teriak histeris Rini


"Ngga kenapa jadi begini anakku sayang, kenapaa harus kamuuu" ujar dr Murni meraung-raung.


"Maafin Karin mas Angga, Karin janji di kehidupan yang akan datang hutang ini akan Karin bayar" ucap Karin sambil menangis disamping petir jenasah.


"Buka petinya, Rini mau lihat ini pasti bukan mas Angga, ya kan Mitchieee....ini bukan mas Angga!!" ucap Rini sambil meraung-raung.


"Pusi tabah yaa, yang kuat yaah kasihan Kiran itu menangis terus" bujuk Karina. Lalu Rini mengambil Kirana yang ikutan menangis seakan tahu bahwa ayahnya telah pergi, dan memeluk bayinya yang masih berusia 3bulan.


Setelah disholatkan, Jenasah Angga langsung dimakamkan bersama 4 jendral dimakamkan bersama di makam pahlawan Kalibata, dengan upacara pemakaman militer dengan diiringi tembakan Salvo tiga kali.


Malam harinya setelah pemakaman Willy bersama Johan pulang ke rumah dimana kemudian mengurung diri dikamar meratapi kepergian sahabatnya dengan memegang foto mereka berdua



Foto saat mereka dilantik tentara dulu.


Took...took " Will buka pintu gih" bujuk Johan


"Ya kak..." ujar Willy sambil membuka pintu


"Istrimu mana Will? kakak tadi melihat saat di pemakaman terlihat pucat, kamu jemput dulu biar istirahat dirumah sana" ujar Johan.


"Yaaa ampuun kak, Willy lu..." belum selesai Willy bicara tiba-tiba


Braaak....


Pintu depan terbuka, terlihat Mike menggendong Karina yang pucat tak sadarkan diri, lalu membawanya masuk ke kamar Mike, membaringkan tubuh Karina dan segera memberikan memeriksa Karina kemudian mencari infus dan memberikan infus ke tubuh Karina.


"Hyuung gimana kondisi Rin rin?" tanya Willy cemas melihat Karina sangat pucat.


Buuugh....buugh


"Kalau tidak sanggup menjaga adikku ngomong, jangan buat adikku seperti inii!!!!"bentak Mike marah.


"Heyyyy...jangan kamu pukuli adikku!!" bentak Johan sambil mendorong Mike


"Willy masih sedih kehilangan sahabatnya ngerti gak sih kamuu!!"


"Huuuh, lebih penting sahabatnya dibanding istrinya yang sedang hamil anaknya gitu???" bentak Mike lagi


"Riin rin hamil???beneran hyung??" ujar Willy dengan mata berbinar saat akan mendekat Karina langsung didorong Mike


"Jangan mendekati adikku!!!" bentak Mike


"Heiii kamu gak berhak menghalangi Willy suaminya!!" bentak Johan


"Suami yang tidak tahu istrinya sedang hamil 2bulan!!! Haaah suami apaaan!!" kata Mike sinis lalu menutup pintu kamar dan mengunci dari dalam mencegah Willy dan Johan masuk.


"Wooii bangsaat buka pintunya, biarkan suaminya yang mendampingi Karin" teriak Johan sambil menggedor-gedor pintu


"Kaak...berhenti biarkan Karina istirahat dalam perawatan hyung"


" Willy memang teledor membiarkan Karina tadi sendirian di makam, pasti dia juga shock kehilangan Aangga apalagi kemarin melihat kejadian di Rumah Jendral Ahmad" ucap Willy yang kemudian masuk ke kamarnya diikuti Johan yang masih terlihat emosi, tetapi dia juga butuh istirahat


Didalam kamar, Mike duduk di samping tempat tidur Karina sambil menggenggam tangan Karin


"Gugurkan bayimu Rin...biarkan kamu tetap hidup Rin" ucap Mike sambil menangis.


.


.


.


.


...***...


...TBC...


...Makasih ya sudah berkenan membaca karyaku ini, semoga berkenan meninggalkan jejak terindah nya berupa LIKE....LIKE...LIKEE...VOTE...VOTEEE...


...GUMAWO🙏😘...