A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 51 Last Party



Teriakan para tentara membuat Karina langsung merah dan menyusupkan kepalanya di dada Willy, membuat Willy tertawa dan memeluk istrinya.


"Mas malu iih" bisik Karina sambil mencubit pinggang Willy


"Hahaha gak papa Rin, kan kita udah sah ya kan...ya kan" ucap Willy sambil ke naik menaik kan alisnya.


"Selamat ulang tahun ya Will, ini yah Will istrimu?"


"Jelas saja Hanin kalah, istrimu cantik dan imut begini, bahkan suaranya bagus banget" ujar laki-laki muda yang barusan datang yang bernama Danang.


"Perkenalkan namaku Danang Raharja, teman Willy waktu HIS - SMT" ucap Danang sambil mengulurkan tangannya.


"Woiiii jangan lihat-lihat istriku Nang, sana huss....huss!" ucap Willy sambil menggeser tubuh Karina dibelakang tubuh Willy dan menepis tangan Danang


"Gila luu Will, posesif banget siich gak mungkinlah ganggu istrimu lagipula istrimu kan baru hamil haisss!" omel Danang.


"Nyanyiii lagi dok....nyanyii....nyanyiii!!" teriakan para tentara.


"Yang sudah capek?' tanya Willy kuatir.


"Belum mas"jawab Karina sambil tersenyum.


"Oppa yang main yah, Karin yang nyanyi" ucap Karin lalu menyuruh Mike yang bermain piano, Karina yang menyanyi.



...Rindu aku melihat...


...Binar matamu itu...


...Gugup 'ku tak tersenyum...


...'Ku tak percaya...


...Tak pernah 'ku melihat...


...Sepasang kelembutan...


...Selembut mata itu...


...Haiyaiyaiyaiya ......


...Kini aku melihat...


...Kilau matamu itu...


...Lega aku tersenyum...


...Dan kupercaya...


...Dan masih 'ku melihat...


...Sepasang kehangatan...


...Sehangat mata itu...


...Indah, bersinar, berkilauan...


...Semakin kuat untukku...


...Mata yang paling indah hanya matamu...


...Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah...


...Sinar yang paling indah dari matamu...


...Sampai kapan pun itulah yang terindah...


...Rindu aku melihat...


...Gugup 'ku tak tersenyum...


...Kini aku melihat...


...Lega kutersenyum...


...Dan masih 'ku melihat...


...Dalamnya kerinduan...


...Sedalam mata itu...


...Selalu bersinar berkilauan...


...Semakin kuat untukku...


...Mata yang paling indah hanya matamu...


...Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah...


...Sinar yang paling indahdari matamu...


...Sampai kapan pun...


...Itulah yang terindah...


...Mata yang paling indah hanya matamu...


...Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah...


...Sinar yang paling indah dari matamu...


...Sampai kapan pun itulah yang terindah...


...Mata yang paling indah hanya matamu...


...Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah...


...Sinar yang paling indah dari matamu...


...Sampai kapan pun itulah yang terindah...


...Matamu-Titi DJ...


"Cieeee.....cieeee " teriakan para tentara yang heboh melihat kemesraan Willy dan Karina.


Sedangkan keluarga Willy ikut tersenyum bahagia melihat kemesraan mereka, berbeda dengan Mike yang sudah sangat khawatir karena tahu kondisi Karina sudah sangat lemah, tetapi selalu dipaksakan untuk kuat.


Setelah selesai menyanyi, Karina sudah dilarang Mike untuk bernyanyi kembali, Karina disuruh duduk manis dan makan.


Saat mereka sedang makan, tiba-tiba Nanik berlari mendekati Karina


"Non tolong Asep, anak Saroh tiba-tiba jatuh pingsan itu"


"Ambilkan tasku coklat yang dikamar Nik" perintah Karina.


"Baik non" ucap Nanik lalu segera berlari masuk ke dalam rumah.


"Duduklah Rin, biar aku saja yang periksa" ucap Mike sambil beranjak berdiri.


"Oppa, Karinlah yang dokter anak disini biarkan Karin yang periksa" ucap Karin lembut sambil beranjak berdiri.


"Rin ingat kondisimu" ucap Mike sambil menggeram kesal.


"Percayalah dengan Karin Oppa, biarkanlah Karin melakukan tugas seorang dokter sampai nafas Karina terakhir" ucap Karina tegas membuat Mike tercekat dan membiarkan Karina masuk ke dalam dan memeriksa Asep.


"Istri mu seorang dokter Will? waaah kamu hebat yaah, punya saudara gak Karin? kasihkan ke aku ya Will" ucap Danang


"Ada, saudara Karin juga dokter, dokter bedah pula, cuman orangnya dingin dan kaku" ucap Willy jahil.


"Kalo dingin mah ntar aku angetin, kalo kaku ntar aku buat lemes dech, gak masalah Will orangnya disini juga?"


"Hemm disini"


"Mana...mana ....Will?" tanya Danang sambil menoleh kanan kiri, dan melihat di sekeliling tempat pesta itu.


"Itu yang sedang menunduk pakai baju hitam" ucap Willy sambil menunjuk kearah Mike.



"Cewek baju hitam???? mana Will?kamu bohong yaah?"


"Izz aku gak bohong, itu loo yang memakai kaos dan jaket berwarna hitam, namanya Michael Kim, aku gak bilang cewek loo" ucap Willy sambil menahan ketawa.


"Mati aja loe Will, jelek-jelek gini aku masih doyan cewek" omel Danang sambil ninggalin Willy yang tertawa terbahak-bahak.


***


Setelah diperiksa ternyata Asep panas tinggi, sehingga Karin menginjeksi penurun panas dan anti kejang karena panasnya sampai 39,9°c dan Asep yang ditidurkan di kamar Saroh, dan menginfus Asep supaya tidak dehidrasi.


"Non gimana kondisi Asep?" tanya Saroh cemas.


"Asep panas tinggi, ini tadi sudah saya suntik penurun panas dan anti kejang, Saroh kompres dengan air hangat ya supaya panas tubuh Asep segera turun, setiap 6jam Saroh cek suhunya memakai termometer ini yah, kalau panas segera minumkan paracetamol ini."


"Apabila dalam tiga hari belum menurun, nanti saya priksa kembali, terapi diagnosa pertama saya, Asep hanya radang di tenggorokannya, nanti setelah Asep makan bisa diminumkan obat ini" terang Karina lembut.


"Terimakasih ya non, terimakasih" ucap Saroh sambil bersujud di kaki Karina.


"Saroh berdiri, kalau mau bersujud kepada Allah, jangan dengan sesama manusia yah" kata Karina dengan lembut sambil berdiriin Saroh.


"Aku ke kamar dulu, kalo ada apa-apa jangan sungkan untuk mengetuk pintu kamar saya yah" perintah Karina sambil tersenyum.


"Baik non, sekali lagi terimakasih" ucap Saroh penuh hormat.


Sepeninggal Karina, semua pembantu membicarakan kebaikan dan kepandaian nona muda mereka dan bersyukur memiliki juragan yang sangat baik.


Saat sampai kamar, Karina merasakan bahwa hidungnya mengeluarkan darah lagi, sehingga Karina segera mengambil jarum dan menusuk kan ke titik-titik di tubuhnya dan segera berbaring.


Keadaan diluar masih penuh tawa, Mike yang menunggu adiknya tidak segera keluar kembali langsung merasakan sesuatu yang terjadi dengan Karina, sehingga langsung menuju kamar Karina.


Ketika sampai dikamar, Mike menemukan Karina sudah berbaring di kasur dengan jarum akunpunktur berada di nakas samping kasur.


Mike segera membereskannya, lalu segera memeriksa kondisi Karina, membuat Karina membuka matanya dan tersenyum.


"Kondisimu sudah tidak bisa ditutupi lagi Rin, segeralah beritahu Willy, atau segera keluarkan kedua bayimu itu." ucap Mike tegas.


"Oppa di jaman ini mana ada inkubator, aku tidak mau mengambil resiko untuk kedua bayiku, ini masih 29 minggu kita masih harus menunggu sampai minggu 33 Oppa" ucap Karin lemah sambil meneteskan air mata.


"Haizzz kenapa kamu tidak pernah mendengarkan ucapan kakak, harusnya bayi ini sudah digugurkan dari awal, sehingga kamu tetap hidup" bentak Mike frustasi.


"Oppa....." ucap Karina lemah sambil menangis.


Tanpa mereka sadari ada yang ikut mendengarkan dan menunggu Mike untuk keluar dari kamar.


Setelah perayaan ulangtahun Willy tepat pukul 17.00 selesai dan para tamu sudah kembali pulang, Willy segera masuk ke rumah dan mencari istrinya di kamar.


Saat akan masuk kamar, terlihat Mike keluar kamar.


"Hyung apa Karina pingsan atau terjadi apa-apa dengannya?"


"Tenanglah, Karina sudah aku infus dan sekarang sudah tertidur, nanti dibangunin untuk makan malam ya, aku masakin dulu"


"Makasih ya hyung, maaf selalu merepotkan hyung" ucap Willy tulus.


"Sudah menjadi kewajiban seorang kakak Will, tolong jaga Karina saja" ucap Mike lalu segera ke dapur dan Willy masuk ke kamar.


"Mike kita harus bicara" ucap Johan menghadang Mike.


"Bicara mengenai apa? buruan aku mau nyiapin makanan buat Karin" ucap Mike datar.


"Apa yang terjadi dengan Karin?" tanya Johan


"Seperti yang kamu lihat dia tidak bisa terlalu capai, bawaan bayi kembar biasalah" ucapan Mike acuh.


"Mike kamu lupa, aku adalah seorang dr kandungan jadi tahu mana ibu hamil bawaan bayi kembar dengan ibu yang mengalami gangguan serius" ucap Johan tajam.


"Baiklah kondisi Karina saat ini adalah bayi Karina tumbuh terlalu besar untuk ukuran bayi kembar, sedangkan untuk posisi bayi pertama posisi sungsang dan bayi kedua posisi verteks, sehingga kelak tidak bisa lahir normal harus kita caesar."


"Yang kedua adalah Karina mengalami Anemia sehingga dengan bayi kembar seperti ini semakin membuat Karina melemah dan sering mimisan, sehingga harus di transfusi darah berkali-kali, meski sudah aku bantu dari vitamin dan makanan penambah hb" jelas Mike frustasi.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Johan.


...***...


...TBC...