
Di Episode ini penuh adegan kekerasan mohon bijak membaca
Flashback On
Setelah menerima telpon Steve, Elang yang sedang dalam perjalanan mencari golongan darah A buat Karina semakin frustasi.
"Cobaan apalagi ini ya Allah, lindungilah dua adikku ya Allah!!!" gumam Elang sambil menarik rambutnya.
Elang menghubungi mata-mata yang selalu mengikuti Sena, ternyata Sena diculik dan dibawa ke rumah kuno yang berada di pinggiran kota Jakarta barat.
Plaaaak....plaakk....buuugggh....bugggh.....
berbagai tamparan dan pukulan diterima Sena dengan muka tersenyum.
"Dasar anak durhaka, anak setaaan....bisa-bisanya kamu menculik ibumu sendiri dan mengambil darahnya untuk anak haraaam itu" sumpah serapah Panji lontar kan kepada Sena.
"Orang bodohpun juga bisa membedakan mana keluarga kandung dan mana yang bukan!!! dasar otak udang!!!"
"Hahaha......benar kata ayah orang bodoh bisa membedakan mana keluarga mana bukan, selama ini siapa yang selalu disisi Senang, saat Sena kecil sakit, saat Sena overdosis, saat Sena kritis bahkan hanya kak Karina yang tahu aku seorang psikopat, sedangkan dimana keluarga kandungku yang ayah bangga-banggakan .....cuuuuih" bentak Sena.
"Ayah yang sibuk berpolitik dan bermain dengan para j***g, bunda yang sibuk dengan arisan dan geng sosialita, apaaa ini yang disebut keluarga yaaah??!?! hahahaha...mimpi !!"teriak Sena penuh emosi
"Hajar anak itu! Anak laknat!!!" teriak Panji.
"Kamu urus sendiri maslah keluargamu Nji, aku tidak mau ikut campur... pakailah anak buahku" pamit Magyo sambil meninggalkan Panji.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan bunyi baagh....buuugh...dan menerjang masuk keruangan tersebut.
"Senaaaa....!!!!"teriak Elang dan Edi Barata serentak dan memukul para algojo-algojo Magyo penuh kesetanan...diikuti pasukan geng Jemar meluluh lantakan orang-orang Magyo.
"Tega-teganya ayah menghajar anak sendiri, apa ayah buta????!!!"
"Senaaaa!!!!!
"Apa yang kamu lakukan dengan anak bungsumuuu Masss !!!" teriak Laras sambil berlari memeluk tubuh Sena yang penuh dengan darah.
"Anakku?!!!hanya Elang anakku, sedangkan Sena anak ibumu dengan gigolo sewaan"kata Panji dengan ketus.
Plaaaak.....dasar pria bodoooh!!!!"
"Hanya Karina yang bukan anakmu, Sena adalah anakmu!!!!apa tidak bisa kamu lihat mukanya sama denganmu waktu masih muda haaah!!!apa kamu buta!!"
"Haaahaaahaa jangan hallu kamu Larasss, setelah kamu melahirkan Karina aku tidak pernah menyentuhmu karena aku merasa jijik denganmu, karena melihatmu aku selalu melihat tubuhmu dinikmati orang Korea biadap itu!!!"
Sambil shock dan menangis mendengar kata-kata Panji, "Apa kamu lupa saat kamu mabuuuk malam saat pemilihan kepala dinas kamu menyentuhku, bisa-bisanya tidak mengakuinya, bahkan kamu bisa tes DNA, dasar manusia tak berotak!!!"
"Kalau kau jijik kenapa tidak menceraikan aku haaah, sudah cukup kesabaranku mendampingimu Panji, aku akan menggugat cerai !!! bentak Laras.
"Bun....nggak usah ngurusin laki-laki tua itu ayo kita bawa Sena!! teriak Elang.
"Kamu akan menyesal Panji Suhendra, kehilangan 2 anak hebat seperti Karina dan Sena...eeh mungkin ketiga anakmu sekaligus!!! Apalah arti sebuah kekuasaan dan kekayaan tanpa ada anak disampingmu....CAMKAN ITU !!!" Ucap Edi Barata sambil mengikuti rombongan Elang.
Lemaassss sudah tubuh Panji, mendengar kenyataan yang ada...menyesal rasanya sudah terlambat.
Flashback off
...***...
Mendengar kondisi Sena yang kritis membuat kemarahan Edi Barata memuncak, meski Sena bukan anak kandungnya, tetapi Edi Barata amat sangat menyayanginya, Edi teringat ketika Sena kecil berusia 10tahun dengan berani melempari batu kepada penjahat yang menyerang Edi Barata yang saat itu dijebak oleh salah satu musuhnya.
Sejak saat itu Edi selalu menolong Sena terlebih karena Sena tumbuh tanpa kasih sayang keluarganya, hanya kakak tirinya yang selalu menolong dan menyayangi Sena.
Ciri khas Edi ketika melancarkan serangannya kepada musuhnya adalah membumi hanguskan musuhnya tak bersisa,
Pertama dengan menghancurkan semua usaha Magyo.
Kedua kebusukan-kebusukkan Magyo dan bukti-bukti kejahatan keluarga Magyo diserahkan ke pihak kepolisian.
Ketiga anak,istri dan istri simpanan Magyo pun ditangkapi polisi.
Keempat menjadikan Magyo menjadi buronan dan Edi akan berburu dan menghabisinya dengan tangannya sendiri.
Karena hal inilah Edi Barata sangat ditakuti, dan disegani para musuhnya.
"Panjii keluar kamu.....!"
"Dasar bajingan kamuu, bisa-bisanya kamu tidak memberitahu ku bahwa bocah kemarin adalah anak angkat kesayangan Edi" teriak Magyo di depan rumah Panji.
"Tangkap Panji dan hajar sampai mati secara perlahan..!! perintah Magyo menyuruh anak buahnya mendobrak rumah Panji dan menangkapnya.
Pada saat Magyo menghajar Panji, tanpa se tau nya Edi dan pasukannya sudah melumpuhkan pasukan Magyo dengan peredam sehingga tidak terdengar.
"Hentikan Gyoo!!!bentak Edi dengan menggelegar.
Kaget lah Magyo mendengarnya "Tunggu bentar Ed aku bunuh orang tak berahklak ini!!!"
"Gak usah kamu bunuh Gyoo, lihatlah tanpa kamu bunuh pun dia sudah hancur karena dia sudah kehilangan keluarganya, biarkan dia hidup dalam neraka dunia"kata Edi bernada sinis dengan seringai mengerikan.
"Ayo kamu ikut aku, ada urusan yang perlu kita selesaikan, semua pengawalmu sudah aku bunuh" kata Edi dengan nada dingin.
Magyo hanya bisa pasrah ketika melihat disekelilingnya dipenuhi oleh geng Jemar.
Setelah Magyo dibawa ke markas
"Ed...aku bisa menjelaskan, aku bodoh tidak memeriksa terlebih dahulu karena tergiur janji si bangsat Panji, maafkan aku Ed aku mengaku salah!!!" kata Magyo sambil bersimpuh dibawah kaki Edi.
"Kamu sudah menghancurkan semua dariku, ampuni aku Ed....meskipun kita musuh bebuyutan sejak dulu, tapi kamu tahu aku selalu tidak pernah mengusik keluargamu, hanya sekali ini, a mohooon Ed....!!!kata Magyo dengan gemetar.
"Kamu tahu kondisi Sena anakku, dia kritis kalaupun dia bisa melalui masa kritisnya dia akan koma....waktu kamu akan membunuh kakaknya aku masih mengampuni mu karena usahamu bisa aku gagalkan, tetapiii ini Senaaaaa!!!! "
"Kamu tahu aku bahwa keluargaku adalah nyawaku, meski Sena bukan anak kandungku tetapi Sena sangat aku sayangi seperti aku menyayangi Galang"
"Sekarang katakan padaku hukuman apa yang mau kamu terima dariku haah??!!!!"
"Biarkan aku hidup Ed, aku mohon !!! aku janji selamanya tidak akan menunjukkan wajahku kepadamu, bisnisku sudah hancur sudah aku relakan sebagai bayaran akan kesalahanku" mohon Magyo.
"Ambil pistol Magyo kita duel!!!" kata Edi dengan dingin.
"Tuaaaan!!!!! Ayaaaaah jangaaan!" kata pasukan Edi dan Galang serentak.
"Ediiii kita sudah tua kamu sudah gila apaaa!!! belum sempat tembak-tembakan encok kita bisa kumat" jawab Magyo ngeri.
"Ambil pistolnya Magyo, tidak usah banyak cincong seperti cewek! ini satu-satunya kesempatanmu untuk bisa hidup "
"Ciiih aku menembakmu sekali, tapi pasukan mu langsung membantaiku sama aja Ed...sudahlah kamu bunuh aku sekarang saja!!"
"Ketika kamu sudah menembak ku, kamu aku bebaskan...dan pasukanku tidak akan menyerang mu, bagaimana Magyo? ini adalah penghargaanku karena kita dulu adalah sahabat" kata Edi
Dengan terpaksa Magyo mengambil pistol
Glock Meyer 22, yang merupakan pistol favoritnya. Pistol ini memiliki panjang 204 mm/8,03 inci, kapasitas tempat mesiu sebanyak 15 putaran. Glock 22 juga termasuk senapan semi otomatis dan senapan mesin.
Sedangkan Edi selalu memakai pistol jenis Raging Bull 454 Pistol ini mampu melakukan tembakan sampai kecepatan 580 meter per detik. Energi yang dilontarkan pistol ini juga tak main-main, hingga 2700 joule.
Setelah sama-sama memegang pistol, keduanya menuju ruang lapang di markas geng Jembar, dimana disekelilingnya kaca dimana Galang dan para bawahan Edi menunggu sambil berdebar, karena Edi sudah lama tidak pernah terjun langsung.
Setelah mereka siap, mereka saling memungguni dan mulai berjalan sambil berhitung 10 langkah lalu door....door tapi dengan gesit mereka saling menghindar meski peluru pertama hanya menyempret lengan mereka.
Beberapa kali mereka saling berguling untuk saling menghindar, pertunjukan duel mereka membuat semua terkagum karena meski sudah tidak muda, tapi kegesitan dan keahlian menembak mereka bisa diacungi jempol, tidak salah kalo mereka menjadi ketua geng mafia terbesar di Indonesia.
Beberapa kali Magyo melakukan tindakan licik dalam menyerang Edi, tetapi karena Edi sudah mengenal Magyo lama, sudah bisa mengantisipasi, meski tangan kanan Edi telah tertembak, tapi kondisi Magyo tidak lebih baik dari Edi.
Beberapa badannya telah terserempet peluru Edi, bahkan paha kaki kirinya sudah terkena tembakan Edi.
Saat Magyo sedang menghela nafasnya berlindung dibalik tembok, tiba-tiba Edi sudah berada di depannya dan door....door..keduanya saling menembak
Lalu Bruuuugh....sesosok tubuh jatuh tak bernyawa sedangkan satunya juga terluka parah di perutnya.....
...***...
Siapa Pemenang duel tersebut yaa???
tunggu di next episode yaah😊