
Saat sampai di bandara, Raul membangunkan Karina.
"Rin, dah sampai bandara bangun dulu yah, nanti di pesawat tidur lagi yah" ucap Raul lembut.
"Udah sampai ya Ul?" tanya Karina dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Dengan perlahan Raul membopong Karina dari mobil, kemudian mendudukkan ke kursi roda, dan mendorong masuk ke bandara.
Sambil menunggu pesawat, Raul membelikan makan di bandara yaitu nasi ayam kolonel kesukaan Karina.
"Ul maukah kamu menolongku sekali lagi?"
"Heem...kamu butuh apa Rin?"
"Bantu merubah semua kepemilikan perkebunan,pabrik dan rumah perkebunan atas nama Sena"
"Rumah Jakarta buat kak Lang, karena kak Lang sangat suka rumah itu"
"Rumah di Rempoa, yang Karina beli dari hasil kerja Karina selama menjadi dokter tolong kamu ubah atas namanya menjadi nama bunda dan ayah, kasihan mereka masa tuanya di rumah yang tidak layak" ucap Karina pelan.
"Ul...apakah kamu masih menikah dengan Elenor?"
"Sejak aku tahu Putri hamil anakku, aku sudah memproses perceraian kami karena Elen sudah selingkuh bertahun-tahun dibelakangku, miris kan Rin aku pikir aku selingkuh dengan Putri ternyata Elen duluan yang berselingkuh" ucapan Raul sambil tersenyum miris.
"Tetapi saat kehamilan Putri di usia 8bulan Elenor mengatakan bahwa dia hanya istri ke dua, membuat Putri tersakiti"
"Padahal demi Allah Rin, kami sudah bercerai karena aku hanya ingin hidup dengan Putri dan anakku, tetapi Putri dengan kekuatan keluarga Darmawan dibantu keluarga Rumengkang menceraikan aku" kata Raul sedih.
"Apakah kamu mencintai Putri?apakah kamu mau berjuang sekali lagi?" tanya Karina
"Aku selalu berjuang Rin, tetapi loe tahukan kerasnya Putri"ucap Raul putus asa.
"Berjuanglah sekali lagi hmm...demi anakmu, tumbuh tanpa keluarga itu berat, percayalah padaku Ul" ucap Karina dengan muka sendu.
"Aku janji Rin, kamu jangan khawatirkan Putri sekarang buatlah dirimu bahagia di sisa hidupmu hemm....segala urusan lain biarlah aku bantu mengurusnya" ucap Raul sungguh-sungguh sambil memeluk Karina sayang.
"Ayo Ul kita masuk pesawat" ajak Karina sambil tersenyum.
***
Sambil mendorong Karina menuju ruangannya
" Habis ini istirahat hemm...besok gak usah kemana-mana, tadi Steve bilang padaku mau ngajak nonton film Korea apa gitu" ucap Raul pura-pura galak.
"Hahaha iya bapak pengacara Karin laksanakan" ucap Karina sambil sambil memberi hormat lalu tertawa bersama.
"Selalulah tertawa dan tersenyum Rin hemm, jangan menangis lagi" ucap Raul sambil me berantakan rambut Karina membuat Karina ngomel-ngomel.
Setibanya di kamar inap Karina, tampak Putri sedang gelisah menunggu Karina, melihat Karina dan Raul bercanda membuatnya marah
"Dari mana saja nyonya muda Rumengkang???ini sudah jam 9 malam dan kamu masih kelayapan"
"Oooo....apakah bajingan ini meminta bantuanmu untuk mendekatiku?!"
"Jangan sok jadi pahlawan kamu Rin!!"
"Bukan begitu Put, dengerin Karin dulu" ucap Karina sambil berusaha meraih tangan Putri tetapi langsung ditepis kasar.
"Putrii, jangan kasar" ujar Raul sambil menarik kursi roda Karina agak menjauh
"Ooooo....setelah gagal denganku kamu mendekatiku kamu berusaha mendekati sahabatku hahaha dasar buaya sok kecakepan!"
"Lihat dirimu, kamu itu tidak sebanding dengan keluarga Rumengkang!!"
"Puuut, tolong berhenti dengerin duluu"
"Kamuuu Riin, meski kamu sahabatku dan saudaraku satu-satunya untuk saat ini BACKKKK OFFFF!!!kamu ngertiii!!" bentak Putri di depan muka Karin
Karina langsung memucat dan memegang dadanya
"Rin kamu baik-baik saja?" ucap Raul panik.
"Bawa aku ke kasur Ul, pasangkan selang nafas" bisik lirih Karina.
Raul langsung mengangkat tubuh Karina dan membawanya masuk ke kamar
"Jangan sentuh Karina Bangsaat!!!"
"Diam PUTRI!!" bentak Raul lalu memasakan selang oksigen di hidung Karina dan langsung memencet tombol kondisi darurat di atas ranjang Karina.
"Karin kenapa???...Riiin!!" ucap Putri panik
Braaak....
"Apa yang terjadi dengan Arin???" tanya Steve masuk sambil berlari dan memberi pertolongan buat Karina.
"Maaf Steve ini salahku" ucap Putri ketakutan.
Kemudian masuklah dr Merry dan dr Arnold dan segera memberikan pertolongan, Putri ditarik Raul keluar kamar, diikuti Steve karena sudah ditangani dr Karina.
"Apa yang kamu lakukan HAAaah!!" bentak Steve sambil mencengkram bahu Putri.
"Maafkan aku Stevee" ucap Putri sambil gemetar melihat kemarahan Steve.
"Maaf katamu!!!" bentak Steve sambil menghempas tubuh Putri sampai terjatuh
"Wooo....woooo brooo tenang, dia cewek jangan kasar" ucap Raul sambil membantu Putri untuk bangun.
"Persetan dengan cewek, sampai ada apa-apa dengan Arin istriku, jangan salahkan aku jika kamu hancur"
Crieeet...pintu kamar Karina terbuka
"Gimana Mer Karina?"tanya Steve panik.
"Tenanglah Steve, Karina dah stabil tolong jangan buat pasien tegang, sedih dan harus berpikir keras, sehingga otak terlalu bekerja keras, sehingga gerak jantungnya terganggu ini sangat berbahaya buat pasien" terang dr Arnold
"Buatlah kondisi Karina senang dan tenang" ucap dr Merry lalu bersama dr Arnold meninggalkan Steve.
"Jangan pernah kamu menengok Karina, lekas pergi sebelum aku berbuat kasar" ancam Steven dingin.
Putri segera bergegas pergi bersama Raul, sedangkan Steve langsung masuk ke kamar Karina.
Putri hanya pasrah saat ditarik Raul pergi, sambil masih terisak.
"Kamu naik apa?"
"Aku bawa mobil kok"
"Kamu yakin bisa mengendarainya?" tanya Raul ketika melihat Putri tangannya masih bergetar.
"Aku anterin saja, ada yang perlu kamu tahu tentang Karina" ucap Raul tegas sambil berjalan meninggalkan Putri yang masih bengong.
"Buruan Put sudah makin malam, kasihan Wibi sendirian dirumah"
"Oooh iya.." ucap Putri terbatas lalu segera berlari mengikuti Raul.
Setelah di mobil, Raul segera melajukan mobilnya dengan kecepatan stabil
"Tadi kalian darimana?" tanya Putri pelan.
"Kita dari Bandung, meminta tanda tangan om Panji dan menengok tante Laras"
"Haaah???? kamu serius Ul?" tanya Putri kaget
"Apakah mereka menyakiti Karin?? katakan jujur Ul" ucap Putri sambil menggoyangkan tangan Raul.
"Om Panji tidak meski tidak ramah, tetapi beliau terlihat tidak marah melihat Karina, tapii...."
"Nenek sihir itu pasti yang menyerang Karin kan?!! kenapa siich kamu ijinkan Karin kesana sich Ul"
"Karena ini adalah pertemuan dengan mereka yang terakhir Put.." ucap lirih Raul.
"Bagusss...akhirnya sahabatku sadar bahwa mereka sampah harus segera dibuang, terlebih Karina sudah memiliki keluarga Rumengkang"
ucap Putri menggebu-gebu membuat Raul melirik bekas istrinya meringis.
"Eeeh tapi Ul ngapain kamu minta tanda tangan si Panji? apakah surat perjanjian supaya tidak mengganggu Karina lagi?"
"Bukan...Karina meminta aku untuk mengajukan banding sehingga om Panji bisa menjadi tahanan di luar karena kondisi kesehatan om Panji"
"Haaah, apakah Karin sudah gila dan kenapa sich kamu mau menurutinya, apakah kamu lupa bagaimana usaha Panji untuk membunuh Karin? bagaimana jika nanti dia berusaha lagi Haaah!!" bentak Putri.
"Dia sudah tidak lagi memiliki power untuk melakukan itu, lagi pula ini keinginan terakhir Karin"
"Dia ingin pada saatnya nanti orang-orang dia tinggalkan dalam keadaan bahagia" ucap Raul sambil masih menyopir.
Putri terkaget dan teringat kondisi Karina tadi
"Jangan katakan apa yang aku pikirkan betul Ul...aku salahkan Ul??? katakan Ul!!" ucap Putri histeris sambil menggoyangkan tangan Raul.
Raul segera menepikan mobilnya menuju hotel milik keluarga Wynata, lalu memikirkan mobilnya.
"Apa yang kamu pikirkan benar Put...sangat benar" ucapan Raul sedih
"Kamu bohongkan Ul...kamu bohong" teriak Putri sambil memukul-mukul tubuh Raul yang hanya terdiam menunduk membiarkan bekas istrinya memukuli tubuhnya.
Setelah Putri tenang meski masih menangis
"Berapa lama lagi Ul?"
"Waktunya tidak bisa ditentukan, karena bisa sewaktu-waktu jantung Karina berhenti Put" ucap Raul lemah.
"Apa yang harus kulakukan Ul...aku gak bisa ditinggal Karin lagi"
"Kamu harus kuat, jadilah Putri yang gila dan ceria sehingga Karin menjadi kuat, bolehkah aku meminta tolong kepadamu sekali ini saja"
"Apapun demi Karin katakan apa yang bisa aku tolong"
"Kita harus kerja sama supaya terlihat hubungan kita membaik tidak bermusuhan lagi, maukah? karena yang membuat Karina berat meninggalkan yaitu kamu dan Steve"
"Kamu tidak moduskan Ul?" ucap Putri sambil meneliti mata Raul untuk mencari kebohongan, tetapi Putri tidak menemukannya bahkan yang ada keputus asaan dan kesedihan.
"Baik...deal tapi jangan grepe-grepe mesum kamu..."ancam Putri.
"Tidaklah Karina sangat pandai, dia bakalan curiga jika kita langsung mesra-mesraan, lebih bagus kita terlihat canggung seperti saat pertama kita pacaran, gimana Put?"tanya Raul.
"Baiklah Ul, makasih ya kamu sudah jujur mengatakannya kepadaku.
"Aku terlalu takut dan berat Put, aku pria brengsek yang hanya tahu foya-foya dan selalu super power sebagai pengacara kuat, tetapi saat bersama Karina seharian tadi membuat aku merasa untuk pertama kalinya aku tidak tahu harus berbuat apa-apa untuk menolongnya" ucapan Raul yang kemudian pecah menangis terguguk.
Putri baru sekali ini melihat Raul sesosok pria yang biasanya kuat dan angkuh ternyata saat ini terlihat putus asa membuatnya memeluk Raul dan menangis bersama for the first time mereka bisa memahami satu sama lain sampai di titik ini selama pernikahan mereka.
...***...
...TBC...
Please....please LIKE....LIKE....COMMENT & VOTE YAH🙏😘