A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 58 Melawan Ketakutan



Saat sampai di mobil, Karina tertawa terbahak-bahak, membuat Elang makin takut dan khawatir masalah kejiwaan Karina.


"Riiin...kamu baik-baik sajakan? kita langsung ke Rs lalu diperiksa yaah, kakak khawatir inih" ucap Elang sambil memandang Karina prihatin.


"Karina baik-baik saja kak, gimana akting Karina tadi? meyakinkan tidak?"


"Aktingg???Yaaah ..... jadi kamu tadi cuman akting doang??? bussset Riiiin bikin kakak Shock tahu!!" teriak Elang.


"Kakak sudah takut banget tahu, Sena psikopat terlihat dari mukanya yang brangasan gitu, laaa kamu yang biasa tenang, manja dan lembut kepada pasienmu bisa psiko gitu, gilaaa luh Rin" omel Elang yang semakin membuat Karin tertawa kegirangan.


"Berhasil yaah kalo gitu?hahaha aku pikir kakak gak ketipu aktingku ternyata kakak tertipu juga, mana mungkin toh kak..Karin kan seorang dokter ada sumpahnya juga "


"Seorang dokter tugas mengobati bukan melukai kak"


"La tadi itu kamu buat dia mimisan dan impoten, apa namanya haha?"


"Hahaha biar meyakinkan saja kak, lagipula nggak permanen juga kak" ucap Karina dengan enteng membuat Elang geleng-geleng.


"La tujuanmu apa Rin buat si Raul kaya gitu?"


"Kalau Raul beneran tobat dan mencintai Putri, maka Karina bantu mereka bersatu, kasihan Putri" ucap Karin membuat Elang geleng-geleng.


Elang mengantar Karina ke RS, yang sudah ditunggu Steve didepan kamarnya sambil tersenyum lebar melihat istrinya pulang.


***


Pagi harinya, pengacara Karina membawakan surat perjanjian yang Karina pinta


"Rin...kamu yakin keputusanmu?"tanya Steven


"Iya Stevie, aku butuh bantuan seorang pengacara sepandai Raul "


"Kenapa tidak memakai tim pengacara Rumengkang?"


"Jika melibatkan keluarga Rumengkang, Karina sungkan papa dan mama yang sudah antipati dengan ayah"


"Maaf ya Stevie, tapi Karina ingin menikmati sisa hidup yang diberikan Tuhan ini dengan tenang tanpa adanya perasaan sedih melihat ayah yang sedang sakit di penjara"


Sambil memeluk dan mengusap kepala Karina dengan sayang


"Stevie paham maksud Arin, tapi kalau mereka menyakiti Arin lagi, jangan salahkan aku gunakan kekerasan untuk mereka" ucap Steve sungguh-sungguh.


"Makasih ya Stevie" ucap Karina sambil memeluk tubuh Steve.


"Jangan bilang sisa hidup Ri, kamukan sudah sehat"


"Ya kan aku habis Koma Steve, jadi sdh 25thunku sudah terpakai, tinggal sisanya toh?" jawab Karin sambil nyengir.


"Haizz pokoknya Steve gak mau denger gitu lagi, gak kasihan apa Steve menunggu Arin dari kecil sampai dah segede gini" rajuk Steve dengan muka cemberut dan malah diketawain Karina.


Tok...tok....tok


"Biar aku buka Rin" ucap Steve.


"Pagi Steve..." ucap Raul gugup.


"Masuklah sudah ditunggu Arin didalam" kata Steve dengan muka datar.


"Pagi Rin...aku sudah datang" ucap Raul agak takut dengan Karina meski Karina pagi itu menunjukkan senyum yang cantik andalannya.


"Pagi Ul, baca ini Ul itu yang aku pinta darimu" ucap Karina sambil memberikan berkas kepada Raul, dan diterima Raul yang kemudian dia baca.


"Raul memandang Karina dengan muka terkejut"


"Rin...aku gak keberatan sebagai pengacara mu selamanya, tetapi membuat ayahmu bebas itu sangat sulit karena kejahatannya terlalu banyak, kenapa tidak menggunakan tim pengacara keluarga Rumengkang, mereka sangat kuat." ujar Raul


"Ini urusan keluarga tiriku Ul, rasanya sungkan merepotkan keluarga suamiku. Hanya kamu pengacara hebat yang aku kenal Ul"


Sambil mengusap rahangnya yang dipenuhi bulu tipis dengan kasar, menyesal juga menjanjikan sesuatu kepada gadis seperti Karina, tetapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.


"Baiklah Rin, aku akan berusaha sekuat tenaga menjadi pengacara mu" ucap Raul lemas.


"Makasih Ul, ini adalah tugas pertama dariku, masih ada beberapa tugas lagi yang memerlukan bantuanmu." ucap Karin sambil tersenyum lebar.


"Baiklah Rin, karena sudah selesai a minta pamit ya Rin" setelah menandatangani surat perjanjian dengan Karina, Raul pamit pulang.


***


Hari Senin selanjutnya Raul sudah berada di Rs untuk memberitahukan Karina bahwa dia harus ke penjara untuk meminta tanda tangan Panji sebagai surat pernyataan bahwa Raul sebagai pengacaranya.


"Oke Ul, ayo berangkat"


"Loo siapa yang ngajak kamu Rin, udah kamu di RS"


"Meski kertas yang mengatakan rahimku jadi lemah aku sobek, maksudku biar Steve gak tahu, tapi dasar dr Merry malah kasih tau Steve" omel Karina sambil cemberut.


"Ya udah ayo ikut, kamu dah ijin Steve?"


"Belum, tolong kamu WA Steve ya"


"Kamu gak punya Hp?"


"Gak, Hpku yang lama ikut rusak waktu aku kecelakaan"


"Ya udah ntar sekalian beli Hp yah"


"Oke" ucap Karina ceria.


.


.


.


.


Saat sampai di penjara, Karina menatap Penjara Sukamiskin, penjara untuk para pejabat yang melakukan kejahatan Korupsi.


Panji Suhendar dimasukan disana.



"Kalau ragu, Karin tunggu di mobil saja aki cuman sebentar kok" ucap Raul.


"Aku ikut ya Ul, tapi ntar pinjam tanganmu yah Ul" kata Karina dengan menatap Raul memohon.


"Ayo Rin!" ajak Raul.


Setelah diperiksa, Raul dan Karina menuju ruangan tempat membesuk para napi, lalu menunggu Panji dipanggilkan, karena menurut penjaga lapas Panji tidak pernah ada yang menjenguk.


Karina menunggu dengan perasaan gelisah dengan meremas ujung roknya, Raul melihat itu langsung menggenggam tangan Karina lembut.


"Tenanglah Rin, ada aku...tidak akan berani menyentuh dan menyakitimu yah" bisik lirik Raul.


Kemudian masuklah Panji ke ruang besuk, lalu duduk di kursi di depan Raul dan Karina. Tampak tubuh Panji yang biasa terlihat gagah berwibawa dan rapi, sekarang terlihat kurus, dan terlihat tidak terawat, sehingga terlihat sangat tua.


"Pagi om, perkenalkan saya Raul Ad.." belum selesai Raul bicara sudah dipotong oleh Panji.


"Aku sudah tau siapa kamu, kalo mau menuntutku, silahkan saja" ucap Panji dingin.



"Bukan itu tujuan kami kesini om, saya kesini akan menjadi pengacara anda untuk mengajukan banding" ujar Raul


"Tidak usah mengajukan banding, menghabiskan uang saja aku sudah menerima kondisiku saat ini, jadi tidak perlu"


"Aayaah, Karin mohon sekali ini saja ayah terima dari Karina, setelah ini Karin janji tidak akan menampakkan diri dihadapan ayah lagi"


"Simpan uangmu, dan jangan membuat keluarga suamimu malu"


"Steve sudah tau yah, ayah mau ya menerima bantuan Karin ini saja" ucap Karin dengan wajah ketakutan.


"Baiklah, mana berkas yang harus aku tanda tangani" ucap Panji lalu menandatangani berkas yang disodorkan Raul.


Setelah selesai ditandatangani, Raul segera berpamitan sambil mendorong kursi roda Karina, tetapi sebelumnya Karina memegang tangan Panji


"Ayah jaga kesehatannya, jangan sampai sakit, apabila membutuhkan apa-apa langsung menghubungi Raul, terimakasih ya ayah dan selamat tinggal yah" ucap Karina dengan suara bergetar. lalu pergi meninggalkan Panji yang hanya diam tercenung.


Melihat Karina yang pergi, Panji melihat tangan yang di sentuh tangan Karina yang sangat kurus tadi dengan bergetar dan terasa dingin, membuatnya menangis tersedu-sedu sambil memukul dadanya berkali-kali yang dia rasa sangat nyeri.


...***...


...TBC...


...Terimakasih kasih ya kesayangan sudah mau terus membaca, semoga selalu menjaga kesehatan di kondisi Pandemi saat ini...


...Stay Safe...


...Stay healhty...


...& GBU all...


...Saranghae🙏😘...


...Jangan lupa LIKE...LIKE...LIKE....COMENT & VOTEnya selalu...