A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 49 Memori Terpatri Di Hati



Genap 5hari sudah Karina bedrest dirumah, dan Willy dengan setia menemani dan melayani Karina.


Setelah diperiksa Mike, akhirnya Karina masih diharuskan banyak istirahat dan tidak boleh capek-capek. Mau bandel tapi dua bodyguardnya sangat mengerikan membuat Karina mati kutu dan hanya bisa menurut.


Malam harinya Karina duduk-duduk dalam pangkuan Willy.


"Rin...mas mau ngomong"


"Ya mas ada apa?"


"Tadi Rin ke RS ya?"


"Iya mas, Rin memberikan surat pengunduran diri dan berpamitan pada semua staf rs." ucap Karina sedih.


"Tidak terasa sudah dua tahun Karin di sini, rasanya baru kemarin Karin datang ke sini, naik sepeda ke rs, mengobati para pasien, para tentara, bercanda sama Rini, para suster, para dokter dan sama mas Angga" ucap Karina sambil menangis tersedu dan memeluk Willy erat.


"Rin jangan sedih terus kasihan dedek bayi kita hemm.."


"Rin akhir bulan ini kita pulang ke rumah mama, tadi mas juga memberikan surat pengunduran diri" ucapan Willy membuat Karina kaget


"Mas ingin mendampingi Rin rin selama hamil, pekerjaan mas mempunyai resiko tinggi, terlebih kondisi saat ini tidak aman"


"Mas gak mau anak-anak mas tumbuh tanpa ayahnya" ucap Willy sambil memeluk tubuh Karina erat.


"Makasih ya mas, mas sudah sayang sama Karina dan anak-anak" jawab Karina sambil menciumi muka Willy.


"Mas apapun yang terjadi mas harus mendampingi anak kita selalu ya mas" kata Karina.


"Iyaa pasti sayang, mas gak akan ninggalin kalian sampai nafas terakhir mas" ucap Willy sambil mengecup kening Karina.


"Meski nanti Karina pergi dulu ya mas" ucap lirih Karina sambil meneteskan air mata.


"Apa Rin?Kamu bilang apa barusan?" tanya Willy.


"Hehehe Karin bilang Karin sayang banget ama mas, dan gak akan pernah menyesal menjadi istri mas"


"Eluuuh eluuuh istri mas makin lama makin gemesin" ucap Willy sambil menciumi muka Karin.


"Sudah malam bobo yuks mas, ntar Oppa ngomelin Karin lagi" ucap Karina sambil cemberut.


" Hahaha iya ayuuk, kakakmu sekarang berubah jadi cerewet banget kalo menyangkut kamu, ngalah-ngalahin ibu-ibu di pasar" bisik Willy takut terdengar Mike.


"Mas gendong belakang yah" rajuk manja Karina membuat Willy makin suka dengan tingkah Karina selama hamil berubah 180Β° mudah menangis, manja dan agak pendiam dibandingkan sebelum menikah.


***


Tiba saatnya akhir bulan tiba, Karina, Willy dan Mike berpamitan dengan keluarga dr Husein, keluarga besar RSUD dan beberapa warga dari tempat penampungan sungai Ciliwung ikut datang mengucapkan perpisahan membuat Karina semakin terharu dan menangis.


Johan membawa mobil dan menyewa truk tentara untuk membantu membawa barang-barang meski tidak semua hanya beberapa saja.


"Dokter terimakasih sudah selalu menolong kami, jangan lupakan kami yah, sering mengirim surat untuk kami" ucapan Marni


"Iya mbak, pasti Karina kabar-kabari, selalu jaga kesehatan, ingat selalu untuk berlatih beladiri jangan sampai mendapatkan kekerasan lagi ya, ajarkan buat wanita yang lain dan anak-anak" ucap Karina sambil memeluk erat Marni yang menangis.


"Kalau Karina ada salah mohon di maafkan ya mbak Marni, Atuk dan pak Sahid" ucap Karina sambil menyalami semuanya.


"Kasih kabar ke kita ya Rin, saat melahirkan nanti kami usahakan menengok kesana" ucap dr Murni.


" Baik bu, ibu juga harus selalu jaga kesehatan yah, kalau Karina ada salah mohon dimaafkan ya bu" kata Karina lalu memeluk erat dr Murni, Malika dan Dirga yang menangis sesenggukan.


"Dirga sayang harus jadi anak yang kuat yah, belajar yang pintar yah" kata Karina sambil mencium kening Dirga


"Jaga istrimu baik-baik Will" ujar dr Husein


"Pasti dok, jangan kuatir"


"Kalau membutuhkan apapun, datanglah kemari ya Will, sampai kapan pun, kamu juga anak Kami" ucap dr Murni sambil memeluk Willy.


Setelah berpamitan, Willy dan rombongan segera berangkat supaya tidak kemalaman sampai disana.


Melihat keberangkatan mereka, dr Murni merasakan sesuatu


"Pak, ibu merasa kenapa rasanya ini pertemuan terakhir dengan Karina yah" ucap dr Murni sedih.


"Itu karena kita sudah terlalu sayang kepada Karin, jadi ketika ditinggalkan rasanya berat banget ya tho bu"


.


.


.


Sampai di perkebunan hari sudah malam, tetapi mama Ina sudah menyambut dengan hangat kedatangan putra dan menantunya.


"Karina sayang" teriak mama Ina langsung memeluk menantunya melewati Willy yang biasanya dipeluk duluan sama mamanya.


Melihat muka Cengo Willy membuat Johan tertawa terbahak-bahak


"Sudah Will terima saja posisimu sudah tergantikan oleh Karina, nanti selanjutnya oleh anak-anak mu, akupun begitu sekarang" ucap Johan sambil menepuk bahu Willy.


Setelah beberapa langkah Karina berjalan digandeng mama Ina, Mike melihat Karina sudah pucat mukanya.


Mike langsung berjongkok di depan Karin lalu berkata


"Naik punggung Oppa Rin"


Karina menuruti perintah kakaknya, karena sudah tidak kuat tubuhnya untuk tetap sadar.


Saat sudah digendongan kakaknya Karina langsung memejamkan matanya.


Hal tersebut membuat Willy baru tersadar muka Karina sudah pucat.


"Bu kamar Karin dimana?" tanya Mike


"Karina kenapa? apakah terlalu capai ya, ayo dibawa kesini nak Mike" ucap Ina cemas melihat menantu kesayangan yang terlihat pucat.


Setelah sampai dikamar, dibaringkannya tubuh Karina di ranjang, dengan cekatan Mike langsung memeriksa Karina dengan teliti dan segera menyuntikkan obat dan memberikan infus kepada Karina.


Diluar dr Hotman, Ina, Willy dan Johan hanya melihat Karina dengan cemas.


Setelah Mike memberikan pertolongan, segera menemui keluarga Willy.


"Maafkan adik saya membuat keluarga dr Hotman cemas, Karina mengalami gangguan anemia setelah hamil ini, jadi kalau terlalu capai bakalan pingsan seperti ini" terang Mike.


"Tetapi sekarang sudah membaik, jadi jangan kuatir"


"Ibu kalau diperbolehkan selama Karina hamil bolehkah saya pinjam dapurnya untuk memasak makanan buat Karina?" tanya Mike.


"Silahkan nak Mike pakai, bolehkah sesekali saya memasakkan makanan buatnya?" ucap Ina.


"Tentu saja boleh bu, asalkan makanan, yang bisa menambah darah" ucap Mike sambil tersenyum tipis.


Setelah itu semua membantu Willy mengangkat barang-barangnya, sedangkan Mike menunggui Karina.


"Kak Jo, apakah kondisi Rin rin berbahaya?" tanya Willy khawatir.


"Anemia memang sering terjadi untuk ibu-ibu hamil, karena itu harus disuplai vitamin penambah darah, beberapa kasus hanya menyerang di kehamilan semester awal, tetapi bisa juga di akhir semester"


"Tetapi untuk kehamilan bayi kembar, sering terjadi ibu mengalami anemia sampai saat melahirkankan, sehingga membutuhkan transfusi darah" terang Johan.


"Makanya dulu disuruh belajar di kedokteran mau, bukannya kabur, nah sekarang istrinya sakit gak bisa ngapa-ngapain toh" ejek Johan.


"Terus...terus....ungkit terus" ucap Willy sambil menggerutu.


"Kak Jo gak priksa Karin tadi?"


"Kakak melihat kepandaian Mike diatas kita terlebih alat-alat kedokteran yang dipakai untuk Karina sangat maju, pasti dia mendatangkan dari luar negeri yah, jadi kakak merasa biarkan Mike saja yang merawatnya."


...***...


...TBC...


...Makasih ya sudah mau membaca novel aku ini...


...Ditunggu LIKE...LIKE..Comment......VOTE....πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜...


...Saranghae😘😘😘...