
Pagi harinya saat Steve terbangun, Cathy sudah tidak tampak di sofa tempat dia tidur semalam. Steve langsung terbangun dan melihat meja makan tampak nasi goreng beserta lauk pendampingnya.
Saat Steve kebingungan mencari Cathy, tampak sesosok pria yang membuat Steve insecure dengannya, yaah itu Inder pria muda india yang tampan, dengan badan dipenuhi tato dan terlebih dahulu kedatangannya dan sudah diterima di keluarga Cathy
"Ca...ayolah maafin Inder, aku akan bercerita semuanya oke" bujuk Inder kepada Cathy yang terlihat marah.
"Nggak mau...sudah menghilang, datang-datang langsung melamar ke papa mama, yang mau dinikahin papa mama gitu" bentak Cathy.
"Ya elah Ca...kan waktu di panti aku sudah nglamar kamu, kamu malah ngrayu cowok lain terus pergi ke Hongkong tanpa kabar, aku takut kehilangan kamu Ca makanya aku nekat melamarmu ke om dan tante...dan kamu sudah pake cincinku bukan?" ucap Inder sambil menunjuk tangan Cathy.
"Iniiih cincin dari kamu!!!! haizz....papa nipu aku" gerutu Cathy
"iyaa itu cincin dari aku, emangnya kamu tidak lihat ada tulisan di dalam cincinnya?" tanya Inder
"Haaah tulisan?" lalu Cathy melepas cincin dan terlihat inisial ISC yang berarti Inder Sarang Cathy, melihat itu membuat pipi memerah.
"Ca...beri kesempatan aku yaah" tanya Inder sambil menakup wajah Cathy dengan lembut.
"Jelaskan semua dulu ya, tanpa ada rahasia lagi" tanya Cathy pelan sambil menempelkan dahinya ke dahi Inder
"Iya no secret, Inder Janji" ucap Inder lalu merengkuh tubuh Cathy.
Steve yang melihat itu hanya merasakan nyeri di dadanya
"Sainganmu beratkan dok...." ucap Yara yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Steve sambil menepuk bahu Steve"
"Bukan saingan kok nyonya, mereka sudah sama-sama mencintai" kata Steve sambil tersenyum kecut.
"Kamu yakin? usiamu bukankah sudah matang untuk bisa membedakan wanita yang mencintai dengan tulus bukan dr Steven!" ucap Yara membuat Steve merasa tertohok.
"Percaya sama Oma, cucuku sebenarnya mencintaimu aku sangat mengenal Caca dari kecil"
"Sekarang tinggal dirimu, jika kamu mencintai kejarlah Caca dan cintailah dengan segenap hatimu" ucap Yara lalu menggandeng Steve ke meja makan yang ternyata Adhiaksa sudah duduk terlebih dahulu.
"Selamat pagi tuan Adhiaksa" sapa Steve ramah.
"Duduklah dokter, mari kita makan dulu" ajak Adhiaksa.
"Opaaa!!" teriak Cathy yang berlari lalu memeluk Adhiaksa
"Haizz...dari kecil gak berubah loo, kalian berdua apa bisa memanjakan cucu kesayangan ku ini? kalau tidak mampu buruan mundur" ucap Adhyaksa
"Opa bilang apa sich!"
"Tentang tadi malam, semua berita sudah Opa hilangkan....jadi sekarang semua kembali ke keadaan awal dokter Steve bisa tenang"
"Maafkan kesalahan cucuku ya dok" ucap Adhyaksa
"Tidak ada yang perlu yang dimaafkan tuan" jawab Steve sambil tersenyum
"Inder, sekarang tugasmu menjaga Caca" ucap Adhyaksa
"Jangan kuatir Opa, Caca adalah calon istri Inder pasti akan Inder jaga" ucap Inder sambil mengecup tangan Cathy,membuat Cathy tersenyum tipis sambil melirik Steve yang sibuk makan, membuat Cathy hanya menghela nafas panjang menahan nyeri di dadanya.
Segala reaksi Cathy tidak luput dari pengamatan Adhiaksa dan Yara.
Setelah selesai makan, Inder dan Cathy berpamitan kepada Yara dan Adhiaksa
"Opa, oma kami pergi dulu yah"
"Hati-hati di jalan sayang....jika terlalu berat jangan dipaksa sayang" bisik Yara di telinga Cathy.
"Tidak kok oma, kita mencoba menjalani terlebih dulu" ucap Cathy pelan dengan tersenyum.
"Oom...Caca pamit dulu ya, terimakasih atas semua bantuannya" ucap Cathy sambil mengulurkan tangannya ke Steve.
"Sama-sama Cat, hati-hati di jalan dan semoga berbahagia" jawab Steve sambil membalas uluran tangan Cathy.
Tanpa disangka Steve, tamgannya digenggam erat Cathy dan dengan berjinjit Cathy mencium pipi Steve sambil berbisik "I will om, bye om dokterku"
Lalu segera Cathy masuk ke dalam mobil Inder, Inder yang melihat itu mengeratkan rahang
"Terimakasih OM sudah menjaga calon ISTRIku" ucap Inder sambil memberi penekanan di setiap katanya dan tetap tersenyum.
"Jangan sampai lengah kalo tidak ingin Cathy aku rebut kembali" jawab Steve tenang.
Aura permusuhan sangat terasa diantara mereka membuat Yara dan Adhiaksa geleng-geleng.
Yara dan Adhiaksa melihat kepergian cucunya dan dua pria tersebut sambil menghela nafas
"Aku gak berani sayang, cukup Gendhis dan El dulu membuat hubunganku dengan Abi sempat renggang, dia sekarang selain jadi putra menantuku sekarang juga menjadi besanku jadi aku harus menghormati keputusan dia di dalam keluarganya" jawab Adhiaksa
"Jika Steve benar-benar mencintai cucuku maka dia harus berjuang sendiri sayang, Caca sangat layak diperjuangkan seperti kamu sayang" ucap Adhiaksa sambil mencium kening Yara lembut
"Mas iih, makasih ya mas" ucap Yara manja sambil memeluk erat suaminya.
.
.
.
.
"Kita kemana Inder?"
"Ke rumah bibi ya, bibi rindu sama kamu, lalu aku ceritakan semuanya Ca" ucap Inder.
"Baiklah..." kata Cathy lalu memandang kosong ke jendela samping.
Ketika sampai di rumah bibi Inder, tampak bibi Salwa sudah menunggu mereka sambil tersenyum.
"Bibi...." sapa Cathy lalu memeluk tubuh ringkih bibi Salwa
"Caa..makin cantik saja kamu sayang" ucap Salwa sambil memeluk tubuh Cathy erat.
"Maaf ya bi, Caca baru sempat tengok bibi"
"Haiz gak papa Ca...asal kamu sehat bagi bibi itu cukup sayang"
"Kalian sudah makan?"
"Kalo sarapan udah atuh bi hihihihi"
"Makan siang Markijah hiiih!" ucap Inder gemas.
"Inder kamu tuch ikut-ikut Onah dech" gerutu Cathy sambil pukuli Inder
"Ya...ya...dunia milik berdua yang lainnya kontrak" ucap bibi Salwa sambil beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan sepasang anak yang masih riweh sendiri.
"Biii tunggu atuh!!" teriak Cathy dengan suara cemprengnya.
"Kalian mau dimasakin bibi apa?"
"Ikan bakar bii!!" ucap Cathy dan Inder serempak sambil nyengir.
"Oke...Inder sana nyemplung ambil ikan" perintah bibi Salwa yang ditanggapi Ketawa Cathy terbahak-bahak.
" Kok Inder sih bi!" protes Inder
"Laaa kan cowok sendiri kamu Nder lagipula dari kecil kamukan hobi maen diempang" ucap bibi Salwa.
"Hahaha makanya kamu item ya Ndeer " ejek Cathy
"Buset loe Ca ngata-ngatain calon suami itu dosa Ca"
"Idiiih ke pedean, akukan gak bilang mau jadi istrimu weeek" elak Cathy sambil menjulurkan lidahnya.
"Heleh bilang gak tapi cincin dari aku dipake terus" ejek Inder
"Ya gimana lagi, cincinnya bagus banget sich jadikan sayang kalo gak dipake"
"Wuuu dasar cewek Matre"
"Biariiin...hari gini realistis aja Nder, tanpa uang gak bisa hidup, kenapa nyesel ngasih cincin ini buat Caca" tantang Cathy sambil berkacak pinggang.
"Indeer buruan nyemplung keburu siang makin panas ntar kamu gosong loo" suruh bibi Salwa diiringi ketawa Cathy yang semakin nyaring
Karena gemas Inder langsung menggendong Cathy dan masuk ke dalam kolam ikan bibi Salwa membuat Cathy teriak-teriak karena jadi ikutan basah bersama Inder.
"Dasar kalian itu ya seperti anak kecil" ujar bibi Salwa tertawa lalu membukakan pintu karena mendengar bel pintunya berbunyi.
"Inder kamu ya minta di gibeng" teriak Cathy lalu menyerbu Inder dan mendorong Inder sampai terjatuh teejengkang ke belakang dengan tubuh Cathy diatas.
"Mommy....Daddy...." ucap suara anak kecil lucu menatap Cathy dan Inder
...***...
...TBC...