
Selama dalam perjalanan menuju rumah, Steve
memberikan pertolongan pertama supaya Karina segera sadar.
Saat sampai di rumah tampak keluarga Putri dan Raul, keluarga Rumengkang, keluarga Elang, dr Merry, dr Frans dan dr Arnold, yah rencana mereka ingin memberikan kejutan untuk Karina karena besok pagi Steve ingin meresmikan pernikahan secara agama.
Bukannya berhasil mengejutkan Karina, malah merekalah yang terkejut melihat Karina di gendong Steve dalam keadaan tidak sadar.
Melihat kondisi itu, dr Merry, dr Arnold dan dr Frans langsung tanggap, mereka ternyata mengikuti firasat dr Merry yaitu membawa semua perlengkapan medis dari Rumah sakit dan segera membawa ke kamar Karina.
Steve yang melihat gerakan cepat teman-temannya mulai merasa sebuah firasat tidak enak.
Putri yang melihat kondisi Karina sama seperti serangan pertama kemarin, langsung memeluk Raul dan menangis ketakutan.
"Ul sudah serangan ke dua ini" ucap lirih Putri dan ditanggapi Raul dengan mengangguk sedih.
Semua keluarga terlihat panik melihat betapa pucatnya Karina. Dan mereka menunggu selama 6jam ketiga dokter berusaha menstabilkan kondisi Karina atas serangan jantung untuk ke dua kalinya.
Setelah kondisi Karina stabil, keluarlah dr Merry untuk memberikan kabar kepada keluarganya.
"Kondisi Karin sudah terlepas dari masa kritis, sudah stabil dan sekarang sedang tertidur...jadi jangan khawatir ya bapak dan ibu besok pagi Karin kembali sehat" ucap dr Merry.
Semua menghela nafas, lalu Steve langsung masuk ke kamar Karina, dan memandang Karina dalam diam.
"Kalian dari mana saja? jangan buat dia terlalu capai baru 1bulan dia tersadar dari koma, meski diluar terlihat sehat, tetapi organnya belum bisa beraktivitas terlalu berat" kata dr Merry dengan tegas.
"Katakan sejujurnya Mer kondisi Arin......" ucap Steve dingin sambil tetap menatap Karina.
"Bukankah kamu sudah melihat hasilnya kemarin" jawab Merry singkat
"Apakah kamu lupa aku seorang dokter, kamu sampai membawa semua peralatan dan dr Arnold kesini karena kamu sudah tahu akan begini jadinya bukan dr Merrisiana Suparto?" ucap Steve sambil menatap Merry dengan tatapan intimidasi.
"Ikut aku keluar" ucap Merry singkat
Sesampainya di taman belakang Merry memberikan kertas laporan hasil tes yang di sobek Karina dulu.
Steve membaca kertas tersebut langsung terduduk lemas
"Karena itu aku sudah mengingatkanmu supaya Karina jangan terlalu sedih dan kaget karena itu membuat otot jantung yang pernah mengalami benturan itu menyebabkan Aritmia (ritme detak jantung terlalu pelan)sehingga Karina pingsan, ini sudah serangan ke dua, yang kedua saja tadi sudah sangat susah menstabilkan ritme jantungnya kembali" jelas Merry.
"Berapa lama jantung Arin bertahan bila kita cegah tidak mengalami serangan kembali" ucap Steve bergetar.
"Untuk jantung bermasalah seperti ini waktu kita tidak bisa diprediksi, bisa sewaktu-waktu jantungnya akan berhenti berdetak" ucap Merry sambil menunduk.
"Bagaimana jika transplantasi jantung? apakah bisa menolongnya" kata Steve dengan gusar.
"Mencari transplantasi jantung kita membutuhkan waktu lama, sedangkan untuk Karin kita berpacu dengan hitungan waktu Steve!"
"Akan aku cari dr jantung terbaik sedunia untuk menolong Arinku..." ucap Steve kemudian mulai menelpon semua koneksinya.
"dr Arnold adalah dr spesialis jantung terbaik saat ini Steve" ucap Merry sambil memegang bahu Steve membuat Steven langsung terduduk lemas dan menangis
"Kenapaaaa....apa salahkuuu Tuhaaan, dalam hidupku aku tidak pernah meminta Tuhan apa-apa hanya ingin hidup bersama Karin sampai tua....apa salah??!!!"
"Aaarrrrrghhhh....kenapa Tuhan tidak adil denganku aku hanya menginginkan satu wanita saja dan Tuhan mengambilnya!!!" teriak Steve sambil menangis meraung-raung membuat semua orang keluar dan melihat Steve teriak-teriak histeris menyayat hati.
Putri menangis dalam pelukan Raul, ikut merasakan apa yang Steve rasakan. Kemudian mama Steve, Olivia Rumengkang mendatangi putranya dan memeluknya erat, membuat Steve semakin menangis meraung-raung dalam pelukan mamanya.
"Berserah kepada Tuhan Steve, pasti Tuhan mempunyai rencana indah bagi umatnya...jangan marah ke Tuhan ya Steve" ucap Olivia sambil mengusap-usap punggung Steve.
"Saat ini yang di butuhkan Karin adalah suami yang menyayanginya dan selalu kuat di sisinya, jangan hancur seperti ini" ucap Olivia sambil ikut menangis bersama.
***
Pagi harinya Karina terbangun dan melihat Steve tertidur sambil menggenggam erat tangan Karina, membuat Karina tersenyum.
"Stevieee...." panggil Karina lembut sambil membelai pipi Steve.
"Ariin.." ucap Steve dengan serak lalu tersenyum lembut.
"Aku laper Stevie, makan yuuks" ajak Karina.
"Bentar yah, Stevie ambilkan makannya"
"Gak mau, makan di taman yah" rajuk manja Karin manja.
"Kita belum mandi, cuek ajah yaah" ucap Steven dengan kerlingan nakal.
"Heeh kita masih wangi kok, meski mulut kita bau jigong Stevie hihihihi" ujar Karina sambil terkikik.
"Waiiit......naah makan permen mint aja Rin...jigong bye...bye...." ucapan Steve dengan gaya lebay.
Mendapat serangan tiba-tiba dari Steve membuat kilasan kenangan mulai menyerang Karina, membuat Karina mendorong tubuh Steve dan memegang kepalanya kesakitan dan mendengar suara-suara yang terngiang-ngiang di telinganya.
"Selamat pagi Rin rin sayang"
"Selamat malam Rin rin sayang"
"Rin riiiin mas kangeeen, ciuum duluuu....muaaach" ucap seorang pria tampan yang mencium Karina.
"Aaaargh....." Karina mengalami kesakitan di kepalanya.
"Ariiiin, maaaf....maaaf " ucap Steve panik melihat Karina kesakitan.
"Stevie....apakah aku mempunyai pacar selain kamu?"tanya Karina bingung saat sakit kepalanya berangsur membaik
"Gak ada Rin....kamu hanya selalu bersamaku, kamukan hephephobia" tanya Steve.
"Apakah kepalanya masih sakit, kita priksa yah" tanya Steve khawatir.
"Sakitnya sudah hilang kok Stevie, gendong yaah" ucap Karina dengan manja.
Saat keluar kamar terdengar suara banyak orang, membuat Karina kebingungan
"Stevie kenapa mereka berkumpul yaah" bisik Karina
"Sebenarnya kita mau membuat kejutan lamaran Steve dan mau membuat upacara pemberkatan pernikahan, tetapi kemarin karina pingsan kecapaian, jadi Gatot Rin" ucap tante Mar (mamanya Putri)
"Benarkah Stevie?" tanya Karina dengan mata berbinar.
"Iyaa...maaf ya Rin, kemarin buat kamu kecapean" ucap Steve.
"Bukan salah Stevie kok, Karin yang bandel nolong kelahiran bayi...padahal badan Karin belum fit" ucap Karina sambil mengusap pipi Steve lembut.
Mereka makan sarapan bersama sambil bercanda seakan tidak terjadi apa-apa untuk membuat Karina bahagia.
Setelah mereka sarapan mereka pada berkumpul di halaman depan melihat Rafka dan Wibi berlarian ditemani ayah-ayah mereka.
Sedang tante Mar dibantu Putri memasak dan membuat banyak kue, Karina dipaksa duduk dalam pangkuan Steve meski Karina ngomel, tetap dipaksa oleh Steve sehingga akhirnya mengalah dan membaringkan kepalanya di dada Steve, karena sebenarnya Karina memang masih terasa lemas.
Steve mengobrol dengan dr Arnold, papa Theo dan om Andi, sedang mama Olivia n Merry asyik bergosip tentang artis dan sinetron Mandarin.
Karina hanya menatap kebun tehnya, pemandangan yang selalu dia sukai sejak pertama dia dibawa emak ke sini. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan
"Rin....rin....i loveeeeeee youuuuuuuu!!!!!" teriak Willy dari atas bukit sehingga teriakan itu bergema.
"Ayoo Rin, teriak"
Sambil ragu ikutan teriak "Aaaargh!!!!!" lalu terkikik mendengar suara teriakan bergema.
"Karinaaa mencintai mas Willyyyyy" teriak Karina lagi, lalu dicium lembut oleh Willy.
Karina langsung menegakkan badannya sambil clingukkan
"Stevie dengar sesuatu? ada yang manggil nama Karin"
"Gak denger apa-apa Rin, apa Arin capai? mau tidur di kamar?" tanya Steve
"Oooo eeeh iya Karin ingin tiduran di kamar sebentar ya "
"Ayo Rin" ucap Steve sambil gendong Karina ke kamar, dan ternyata benar, setelah dikasur Karina sudah tertidur nyenyak.
Dalam tidurnya Karina melihat sebuah pemberkatan pernikahan sederhana, yang hadir tidak banyak.Saat Karina mendekat orang-orang yang ada tidak ada melihat Karina, bahkan saat dirinya berjalan mendekati altar dan terlihat appanya Kim Tae Joo berada disana, Karina memanggilnya papanya dan papanya tidak mendengar dan melihatnya
Karina kemudian melihat pasangan mempelainya dan terkejut ternyata pengantin prianya adalah pria yang selalu hadir di kilasan ingatannya.
"Siapakah kamu?" tanya Karina dalam hati, dan semakin terkejut dan kebingungan saat terdengar namanya disebut
"Karina Mitchel Kim terimalah cincin ini, tanda cintaku dan kesetiaanku. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus."
"William Putra Simorangkir terimalah cincin ini, tanda cintaku dan kesetiaanku. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus amin".
Setelah mempelai saling memakaikan cincin Karina mendekati ke arah pengantin wanitanya dan ternyata itu adalah dirinya membuat dirinya terkejut dan terbangun dari tidur siangnya dengan basah oleh keringatnya.
"Mas Willy" ucap Karina sambil menangis dan merasakan rasa nyeri di dadanya.
...***...
...TBC...