A Moment In The Past

A Moment In The Past
Episode 59 Doa Ibu Yang Terkabul



Setelah masuk di mobil, Karina hanya terdiam dan menatap kosong di jendela


"Rin...kamu baik-baik saja?ini kita pulang ke rumah Steve?atau mau kemana dulu?"tanya Raul kuatir.


"Aku baik-baik saja Ul, untuk pertama kalinya ayah melihatku tanpa berbuat kasar dan berkata kasar padaku, meski belum mau menatapku" ucap Karina sambil tersenyum bahagia.


"Ul maukah kamu mengantar aku di alamat ini?" kata Karina sambil menyodorkan secarik kertas dari tasnya.


"Ini alamatnya siapa Rin?"


"Bunda Ul" jawab Karina singkat.


"Kamu yakin kemari, kita pulang saja yuuk daripada kesini, takut kamu diapa-apain Rin"


"Kan ada eloe Ul, pengacara gue...udah buruan keburu siang ntar Stevie ngomel"


"Haizz....baiklah, gue pengacara woii Rin bukan bodyguard" omel Raul sambil tetap menyetir mobilnya.


Tak beberapa sampailah di perumahan di pinggiran kota Bandung, beberapa kali bertanya, sampailah di sebuah rumah kecil di ujung gang, dimana ada toko kelontong nya.



"Kamu yakin ini rumahnya Ul?" tanya Karina ragu.


"Iyah....tuch .....nomer rumahnya sama kan...kelihatannya bunda ada pintu dan warungnya terbuka, ada motornya juga"


"Assalamualaikum...punteeen" ucap Raul.


"Mangga....sakedap!!!"teriak Laras dari dalam.


Karina langsung meremasss tangan Raul ketakutan.


"Tenang ya Rin.." ucapan Raul menenangkan dan mengusap tangan Karina lembut.


Kemudian tampak Laras keluar dari dalam, memakai kaos hitam, rambut terurai tanpa make up dan perhiasan yang biasa dia pakai, meski begitu masih terlihat sisa-sisa kecantikan dari nyonya besar Suhendar.



"Naon anu anjeun hoyong meser kasep?" tanya Laras ramah kepada Raul...kemudian Laras melihat Karina di kursi roda langsung membuat nya naik pitam.


"Dasaar anak pembawa sial...gara-gara kamu anakku Sena menjadi buta dan aku menjadi jatuh miskin" teriak Laras menerjang dan memukuli tubuh ringkih Karin dengan kalap, membuat Raul kesulitan menarik tubuh Laras menjauh dari Karina.


"Kenapaa kamu tidak matii saja saat kecelakaan dulu, bisa-bisanya koma lama masih saja hidup..."


"Bun...." ucap Karin bergetar dan meneteskan air mata.


"Jangan sok lemah kamu, kamu kesini hanya untuk menghinaku kan? sekarang aku sudah miskin dan kedua anakku tidak mau hidup bersamaku kan dan kamu menjadi menantu orang terkaya seIndonesia....Puaasss..Puaasss kamu??!!" teriak Laras dengan histeris.


"Bukan begitu bun...bukan" ucap Karina tergugu menangis.


"Pergi dari sinii...jangan pernah menemuiku lagi, aku menyesal melahirkan kamu anak pembawa sial...lebih baik kamu mati sekarang juga, sehingga membuat hidupku tenang" ucap Laras lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya keras-keras.


"Kita kerumah Steve atau pulang ke Jakarta?"


"Pulang Ul, Karina pingin bertemu Steve"


"Baiklah kalau begitu kita langsung ke bandara yah"


"Ul tahukah kamu....bahwa doa seorang ibu selalu dikabulkan oleh Tuhan" ucap Karina menatap kosong ke depan.


"Rin jangan dengarkan tante yaah, dia hanya emosi ...tahu sendirikan bahwa orang emosi sering ngawur kalo bicara" ucap Raul menenangkan Karina.


"Doa bunda sudah terkabul Ul...hidupku hanya tinggal sebentar lagi" ucap Karina lirih.


"Kau bercandakan Rin, gak mungkinkan kamu terlihat sehat meski kurusan dan pucat"


"Semua memang baik, selain rahimku menjadi lemah bila mengandung, tetapi yang paling nggak bisa disembuhkan adalah ini" ucap Karina sambil menunjuk dadanya, membuat kening Raul berkerut kebingungan.


"Jantung aku Ul, karena kecelakaan dan racun yang sempat masuk ke tubuh aku membuat jantungku bisa kapan saja berhenti" jelas Karina membuat Raul kaget.


"Dari kecil aku tidak pernah minta bunda memuji-muji aku Ul, cukup anggap aku ada saja aku sudah bahagia....aku tahu diri siapakah aku ini" ucap Karina lirih


"Aku selalu belajar sampai bisa sekolah akselarasi, sehingga dapat kuliah kedokteran dan bisa menjadi spesialis termuda ini semua kulakukan hanya untuk bunda, Karin hanya ingin bunda tahu bahwa putrinya ada dan bisa membuatnya bangga"


"Apakah Karin salah saat Karin tahu hidup Karin tinggal sebentar aku hanya ingin dipeluk bunda dan mengatakan kepadaku bahwa segalanya baik-baik saja sehingga Karin kuat, Kariiin takut Ul" ucap Karin menutup mukanya dan menangis tersedu membuat Raul tidak tega dan memeluk erat Karin.


"Tapi itu hanya impian yang tidak akan terwujud ya Ul....sampai kapanpun Karina tidak berharga, Karin capek Ul....benar kata bunda harusnya kemarin Karin sudah mati, cedera kepala, pendarahan di perut, beberapa rusuk patah....kenapa Karin gak mati" ujar Karina sambil menangis dan memukul-mukul dadanya, langsung dipegang tangannya sama Raul supaya berhenti tidak memukuli diri sendiri.


"Riiin berhenti...dengerin ucapanku hmm..." kata Raul sambil mengangkat dagu Karina supaya melihatnya.


"Karina Kim yang Raul kenal adalah seorang dokter dan gadis terbaik yang aku kenal, sahabat terbaik yang kita punya dan kita sayangi, jangan pernah bilang kamu tidak berharga, kamu sangat berharga bagi kami, apalagi buat Steve, kak Elang dan Sena jangan lupakan juga kedua orang tua Steve dan Putri, kami semua sangat menyayangi dan mencintaimu Rin" ucap Raul sambil menggenggam bahu Karina.


"Tuhan pasti mempunyai maksud dan rencana kamu disadarkan dari komamu, mungkin memberi kesempatan bagimu untuk berpamitan dan menyiapkan ke orang-orang kamu sayangi yang akan kamu tinggalkan" ucap Raul yang sambil memeluk tubuh kurus Karina sambil mengusap air mata Karina.


"Istirahatlah dulu, nanti sesampai di bandara aku bangunkan dan kita makan siang terlebih dulu" ucap Raul yang dijawab Karina mengangguk pasrah, dan terlalu lelah sehingga Karina segera tertidur dimobil.


Raul melirik Karin dan terlihat Karina begitu letih dan rapuh, membuat hati Raul sebagai sahabatnya ikut sedih dan tidak terima atas perlakuan ibu dari sahabatnya.


"Mungkin Tuhan terlalu menyayangimu ya Rin membuat kamu segera dipanggil pulang, kamu terlalu bagi Panji dan Laras Rin" batin Raul sambil tetap menyupir mobilnya menuju bandara udara Husein Sastranegara.


...***...


...TBC...


Jangan lupa patuhi Prokes ya teman, Gbu allah


...Saranghae🙏😘...


Mohon bantuannya untuk pencet like nya dong supaya karya ini terus ada di aplikasi ini


🙏😊Gumao