Wonder woman

Wonder woman
Akhirnya Lega



Pagi menjelang, Rose mengajak Michelson menemui seseorang yang akan di beri mandat untuk menggantikan posisi dirinya menjadi seorang presiden direktur di perusahaan almarhumah Lani.


"Daddy, temani aku bertemu dengan seseorang di sebuah cafe langganan kita sekarang yuk?" pintanya bergelayut manja di lengan suaminya.


"Hem, memangnya siapa sih? minggu-minggu kok ajak ketemuan denganmu?" tanya Michelson penasaran.


"Bukan dia yang mengajak tetapi aku, Daddy. Karena ada h penting yang harus aku bicarakan dengannya," ucap Rose.


"Sepenting apa sih, mommy?"


Mendengar suaminya terus saja bertanya membuat Rose akhirnya kesal juga.


"Sudah dech, bawel banget sih? tinggal temani saja aku temani ke sana kok, tanya mulu! nanti juga kamu tahu kok," ucapnya sewot.


"Iya-iya, sayang. Begitu saja kok marah?" Michelson mengerucutkan bibirnya.


Diapun segera berganti pakaian begitu pula dengan Rose. Lantas keduanya berjalan beriringan menuju ke pelataran rumah. Dan Michelson segera melangkah ke garasi mobilnya untuk mengambilnya, sementara Rose menunggu di teras halaman.


Beberapa menit saja, Michelson telah ada di hadapan Rose. Rose segera masuk ke dalam mobil dan Michelson segera melajukannya menuju ke cafe dimana saat ini Rose akan bertemu dengan seseorang.


"Selamat siang Pak Arjun, maaf menunggu lama," sapa Rose dengan senyum manisnya setelah menyalami tangan milik pria di hadapannya itu terlebih dahulu.


"Siapa juga, Nona Rose. Nggak terlalu lama kok, saya juga baru sampai. Bagaimana kabar anda, baik bukan? ini siapa Nona Rose, saya lama nggak ke kantor jadi nggak tahu," tanyanya saat melihat sosok Michelson.


"Puji syukur saya baik, pak. Ini suami saya . Daddy ini Pak Arjun orang kepercayaan pemilik perusahaan ya g sebelumnya," ucap Rose memperkenalkan satu sama lain.


"Arjun"


"Michelson"


Ucap keduanya saling menjabat satu sama lain.


"Oh iya, ada apa Nona memanggil saya kemari?" tanya Arjun penasaran dengan maksud Rose menyuruhnya datang ke cafe.


"Begini pak, sebenarnya saya sudah tak sanggup lagi melanjutkan perusahaan milik Almarhum Mamah Lani. ucap Rose membuat kening Arjun berkerut heran dengan apa yang Rose katakan.


"Memangnya kenapa, Nona? apakah ada suatu masalah?" tanya Arjun penasaran sekaligus khawatir jika ada masalah yang minimal perusahaan yang majikannya dulu besarkan dari kecil hingga sebesar sekarang ini.


"Begini, pak. Sebentar lagi kan saya akan punya anak, bahkan bukan satu melainkan dua. Dan saya juga punya usaha sendiri seperti dua butik dan satu garmen. Saya rasa tak bisa menjangkau semuanya itu."


"Sedangkan suami saya juga punya kesibukan sendiri yakni dia punya beberapa perusahaan juga baik yang ada di kota ini juga yang ada di luar negeri."


"Hingga suami saya juga tak bisa meninggalkan perusahaannya jadi saya memutuskan untuk menyerahkan perusahaan itu kepada bapak. "


Ucap Rose akhirnya mengutarakan tujuannya meminta pak Arjun untuk datang menemui dirinya.


"Kenapa harus saya, nona?" tanya Arjun bingung.


"Karena anda lebih berhak dari pada saya, pak. Anda yang ikut membangun perusahaan itu hingga sebesar ini jadi saya rasa andalah orang yang tepat memimpin perusahaan dari pada saya."


"Secara kemampuan bapak lebih berpengalaman dan sudah hapal seluk beluk perusahaan itu jadi saya memilih bapak."


"Bapak mau kan menerima tawaran ini?"


"Bagaimana ya, nona. Sebenarnya saya tak bisa menerima ini karena anda adalah orang yang telah di tunjuk langsung oleh, Nyonya Lani dan saya tak bisa menentang amanat beliau," ucap Arjun begitu menghargai keputusan atasannya dulu saat menunjukbRose sebagai gantinya.


"Saya mohon pak, saya tak bisa terus-terusan begini karena saya juga punya kesibukan tersendiri apa lagi akan lahir baby twins. Dan saya tak ingin urusan anak terbengkalai begitu saja. Saya ingin mengutamakan baby twins kelak jika mereka sudah lahir."


"Mohon bantulah saya karena hanya bapak harapan saya satu-satunya," ucap Rose dengan muka memelas pada pria di hadapannya itu. Arjun yang melihat itupun menjadi tak tega.


"Begini saja, saya mau membantu mengambil alih tugas nona di perusahaan tetapi perusahaan itu tetap milik nona. Dan nona tetap mendapatkan penghasilan dari perusahaan itu."


"Anggap saja saya ini bekerja untuk nona. Nona hanya perlu memantau dari jauh. Bagaimana nona setuju kan dengan saran saya?" tanya Arjun memberikan solusi atas permasalahan yang sedang Rose hadapi.


"Setuju pak sangat setuju. Ucap Rose tersenyum senang akhir ia menemukan solusi atas masalah yang menimpanya.


Michelson ikut senang melihat senyum di wajah istrinya yang kembali terbit di bibir manisnya.


******


Seminggu berlalu setelah memberesksn segala urusannya. Rose mengajak Michelson untuk ke dokter kandungan untuk mengecek kondisi baby twins.


"Bagaimana kondisi kedua calon anak kami, dok?" tanya Michelson dengan antusias. Maklum saja karena ini pertama kalinya Michelson menemani Rose ke dokter kandungan.


"Puji syukur, baby twins sangat sehat dan lincah serta bertambah besa," ucap dokter itu dengan senyum tipisnya.


"Puji syukur, tapi apakah istri saya masih di perbolehkan untuk bekerja ya dok,m atau harus bedress?" tanya Michelson kembali.


"Hem, jenis pekerjaan istri anda apa ya, Tuan?" tanya sang dokter kandungan.


"Istri saya mengelola dua butik dan satu garmen, dok." Jawab Michelson singkat.


"Aman saja asal kondisi ibunya harus fit. Nanti saya bantu resepkan beberapa vitamin untuk menjaga kondisi tubuh ibu dan bayinya." Ucap dokter itu menulis sesuatu di kertasnya.


"Ini...tebus di apotik nanti ya, Tuan." Dokter kandungan itu menyerahkan selembar kertas pada Michelson.


"Kalau begitu kami permisi, dokter."


Pamit Rose dan Michelson setelah meraih tulisan resep itu.


Merekapun keluar dari ruang periksa dan menuju tempat penukaran obat. Setelah itu mereka menuju ke mobil dan lekas kembali ke rumah.


"Sayang, aku senang sekali pada saat melihat baby twins gerak-gerak dengan lincahnya. Terlihat tadi sangat jelas di monitor," ucap Michelson seraya melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Hem iya, Daddy. Dua bulan lagi anak-anak kita akan segera lahir. Doakan ya Daddy supaya aku dan kedua anak kita selalu sehat dan proses melahirkan kelak juga lancar tidak ada suatu halangan apapun," ucap Rose tersenyum bahagia.


"Kita akan kemana lagi, mommy? apakah kamu tak menginginkan sesuatu makanan atau minuman?" tanya Michelson memastikan istrinya sedang tidak ngidam.


"Ada, Daddy. Aku ingin kita makan di sebuah restoran yang baru buka, yang sedang masa promosi. Karena aku juga penasaran bagaimana rasanya," ucap Rose.


"Lantas dimana letak restoran yang kamu sebutkan tadi? aku sama sekali tak tahu, sayang?" tanya Michelson.


"Payah dech, Daddy. Kurang up date, aku saja yang walaupun kerja tahu hal-hal baru," Rose mengerucutkan bibirnya.