
Rose sedang peka, dia tiba-tiba menangis karena teringat dengan perjumpaan singkat dengan, Almarhumah Lani.
Saat ini Rose sedang ada di kantor milik Almarhumah Lani. Dia memang di larang oleh Michelson untuk tidak terlalu cape. Tapi entah kenapa dia ingin sekali berada di kantor tersebut menemani Michelson.
Selagi menangis, Michelson malah menggodanya. Rose menangis hingga tangisnya tak terdengar lagi.
"Sudah menangisnya?" tanya Michelson dengan senyum menggoda pujaan hatinya itu. Rose mengangguk perlahan sebagai jawaban atas pertanyaan Michelson.
"Lihatlah, matamu seperti panda sudah hitam besar pula hhhaaaa," tawa Michelson berusaha menghibur wanita yang ia cintai itu namun Rose malah menjadi kesal, dengan kerasnya ia menginjak kaki suaminya hingga pria itu menjerit kesakitan.
"Aaaduh....sakit sayang, kebiasaan sekali kalau sama aku suka main kekerasan."
Michelson mengusap-usap kakinya yang baru saja di injak oleh Rose
"Sayang, apa kamu lupa jika pada saat aku tidur lama. Kamu selalu merindukan aku kan? tetapi kenapa sekarang kok kumat sih galaknya?" canda Michelson terkekeh.
"Makanya Daddy jangan mengejekku, sekarang rasakan sendiri akibatnya."
Rose mendengus kesal dengan suaminya di hadapannya itu.
Sementara Michelson hanya terkekeh pelan, Rose yang tadinya melow kini galak kembali seperti semula dan itu justru membuat Michelson senang.
"Tadi saja nangis-nangis sekarang cerewetnya minta ampun, mau aku cium nggak?" Michaelson mengedipkan matanya ke arah Rose.
Sementara Rose yang melihat akan hal itu justru memukul bahu suaminya.
"Aduh... kok dipukul sih, aku kan maunya dicium." Michelson mengusap-usap bahunya yang barusan terkena pukulan oleh, Rose.
"Ciuman saja sana sama tembok, aku mau menelpon Rika supaya sekarang bisa meeting dilaksanakan." Rose ingin meraih ponselnya, namun Michelson menahan tangannya.
"Daddy, ada apa lagi sih?" Rose melotot ke arah Michelson.
Namun bukannya takut, Michelson malah menempelkan bibirnya pada bibir Rose. Dia mencium bibir Rose penuh dengan kelembutan sementara Rose hanya mematungdan tak tahu harus bersikap apa. Karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Rose, Michelson pun memutuskan untuk menggigit bibir bawah Rose hingga mulut Rose pun seketika terbuka membiarkan Michelson untuk mengabsen setiap rongga mulutnya.
Karena terbusi Rose pun membalas ciuman Michelson, tangannya mengalung dengan indah di leher Michelson hingga sebuah dering telepon mengganggu kegiatan panas mereka.
Rose mendorong tubuh Michelson agar sedikit menjauhi dirinya kemudian Rose segera mengangkat telepon dari sekretarisnya.
"Hallo, Rika ada apa?" tanya Rose dengan napas sedikit tak beraturan akibat ciuman yang Michelson berikan padanya tadi.
"Maaf nona, mengganggu. Tapi saya hanya ingin mengingatkan nanti tiga puluh menit lagi, ada meeting berikutnya."
Ucap Rika sedikit takut Rose akan marah karena ia mengganggu wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu segera masuk kesini kita selesaikan rapat ini sekarang juga," ucap Rose setelah itu menutup telponnya.
"Siapa?" tanya Michelson penasaran.
"Rika, dia mengingatkan aku nanti tiga puluh menit lagi akan ada meeting,$ ucap Rose.
"Mata Rose yang indah seperti sehabis menangis, terlihat sangat jika matanya sembab. Sedangkan susminya terlihat tersenyum bahagia. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara suami istri di hadapan aku ini? apa iya, susminya telah menyakiti, Rose? kenapa aku jadi tak terima seperti ini?" batin Tuan Kenand dipenuhi dengan tanda tanya.
"Mohon maaf, sebelum meeting di laksanakan. Saya hanya ingin memastikan kondisi, Nona Rose. Apakah anda baik-baik saja nona? dan anda Tuan, jika anda tak bisa membahagiakan istri anda, setidaknya jangan buat dia menangis."
Perkataan yang terlontar dari mulut Tuan Kenand membuat semua orang yang ada di ruangsn tersebut saling berpandangan satu sama lain.
"Heh, apa maksud perkataan anda?" Michelson mulai terpancing emos.
"Hem, saya tak perlu menjelaskan secara mendetail. Sebagai seorang suami pasti anda tahu apa yang saya katakan ini."
Michelson malah semakin tak mengerti dengan yang di katakan oleh Tuan Kenand. Akan tetapi pada saat Michelson akan berkata lagi, Rose mencekal lengannya dan mengedipkan mata memberi sebuah kode.
Hingga akhirnya Michelson mengurungkan niatnya untuk mengatakan banyak hal pada, Tuan Kenand.
Dan meeting pun mulai di laksanakan oleh Rose dan tanpa sadar beberapa kali Tuen Kenand selalu menatap ke arah Rose. Sementara diam-diam Michelson menatap ke arah Tuan Kenand.
"Ehem... seharusnya fokus dengan meetingnya bukan fokus dengan yang menyampaikan materi meeting," sindir Michelson membuat Tuan Kenand gelagapan menahan rasa malunya karena ketahuan sedari tadi mencuri pandang ke arah Rose.
Sementara Rose malah celingukan bingung dengan apa yang barusan di ucapkan oleh suaminya.
Beberapa menit kemudian, meeting telah selesai. Dan saat itu juga Tuan Kenand berpamitan untuk kembali ke kantornya. Seperginya Tuan Kenand, barulah Rose bertanya pada suaminya mengenai apa yang barusan di katakan olehnya.
"Daddy, apa yang barusan kamu katakan?" tanya Rose penasaran.
"Hem, tadi klien mu itu selalu menatap ke arahmu saja tanpa berkedip sama sekali. Masa kamu tak merasakan akan hal itu sih, mommy. Aku rasa dia ada rasa padamu."
Rose malah tersenyum dan pada akhirnya dia terkekeh mendengar apa yang barusan di katakan oleh suaminya.
"Hhee, Daddy cemburu ya? Daddy itu aneh, mana ada pria yang suka pada wanita yang sedang buncit seperti ini?" ucap Rose tak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh suaminya.
"Ya ampun, mommy. Masa kamu tak percaya dengan apa yang aku katakan. Hatiku peka, mommy. Aku bisa melihat jelas di mata pria itu apalagi pad saat dia berkata sesuatu tadi, ingat kan? seolah aku ini telah menyakitimu dan kamu menangis karena aku."
"Aku ingin berkata tapi kamu malah melarangnya kan? padahal aku ingin menjelaskan padanya bahwa aku tak menyakitimu, kamu menangis karena sedang teringat pada almarhumah Tante Lani."
Michelson agsk kesal pada Tuan Kenand yang menurutnya terlalu memperhatikan wajah Rose.
"Daddy, sudahlah tak usah di bahas hal sepele seperti ini. Terpenting kita ini sedang tidak ada masalah apapun. Jadi tak usah di buat pusing."
"Hem, bagaimana kalau kita pulang saja untuk melanjutkan yang tadi sempat terjeda," goda Rose dengan mengedipkan matanya ke arah suaminya.
Hati yang sempat kesal dan merah, mendadak meleleh mendengar apa yang di katakan oleh Rose.
"Dengan senang hati cintaku, mari kita lanjutkan percintaan kita di rumah."
Michelson merangkul bahu Rose dan membawanya melangkah ke luar ruangan tersebut.
Terlebih dulu Rose berpesan pada sekretarisnya bahwa dia akan pulang sejenak dan jika ada hal penting hubungi lewat telepon.