
Setelah sejenak diam, Reyhan baru menjawab apa yang papahnya pinta.
"Aku tidak mau, pah. Sudah cukup papah memperalat aku." Reyhan menolak kemauan papahnya.
"Rey, aku ingin membunuhnya pada saat itu juga. Tapi aku tak tahu jika wanita itu ternyata licik dan cerdik. Dia sudah memasang bom di sekitar makam papahnya Michelson. Dan jika aku nekad membunuhnya, nyawaku akan melayang begitu saja."
"Aku tak masalah jika aku mati, tapi bagaimana dengan dirimu? Dia mengancam jika aku dan dirinya mati. Kasus kita ini akan tetap naik ke pengadilan dan reputasi kita akan hancur. Dan bukan itu saja, kamu yang akan menerima hukuman itu sendiri."
"Aku mana tega membiarkanmu menerima hukuman itu sendiri. Kita melakukan pembunuhan itu bersama, maka kita akan menerima hukuman itu bersama."
Ucap Jason mengutarakan isi hatinya pada anaknya, supaya Reyhan mau membantunya.
"Jika dia tak mengancam papah, kenapa papah tak mengancam balik? dengan mengatakan kita akan mencelakai ibu dan adiknya. Pasti dia akan membatalkan rencana untuk memenjarakan kita jika mendengar akan hal itu."
Jason kembali menghela napasnya, kemudian dia menatap Reyhan tajam.
"Kamu pikir aku bodoh, aku sudah mengatakan hal itu. Dan kamu tahu apa jawaban wanita itu. Dia bilang sama sekali tak peduli dengan ibu dan adiknya, toh mereka hanya ibu tiri dan adik tiri saja."
Mendengar akan penuturan papahnya, Reyhan sudah tak bisa berkata lagi. Bahkan Reyhan hampir tak percaya jika Rose bakal tega pada ibu dan adiknya.
"Wanita itu benar-benar sudah gila, kenapa kita tak tahu sejak dulu saat Michelson menikah dengan Rose. Jika kita mengetahui hal itu dulu. Mungkin kita bisa mencegah semua ini terjadi, pah. Seharusnya dulu kita tak membiarkan wanita itu masuk ke dalam kehidupan, Michelson dan menghancurkan rencana kita."
Ucap Reyhan yang menyesali perbuatan Jason yang telah membiarkan Michelson menikah dengan Rose.
"Apa kamu lupa, Rey. Kita bukannya waktu itu sedang ada di luar negeri untuk memonopoli perusahaan Michelson yang ada di sana. Hingga kita tak fokus dengan kehidupan pribadi, Michelson."
"Papah, pikir Michelson hanya menikahi gadis desa yang lugu dan tak tahu apa-apa. Mana aku tahu jika ternyata dia seperti itu, Rey."
"Aku tak menyangka sama sekali, di balik keluguan dan sifat penurutnya itu ternyata dia menyimpan kecerdikan dan kelicikan yang tak pernah kita bayangkan."
"Sekarang kita hanya pasrah saja menunggu polisi datang," ucap Jason yang sudah pasrah jika polisi sudah datang nanti.
"Ya nggak bisa begitu dong, pah...kita harus segera menemukan dimana persembunyian, Tante Berta. Atau kita harus pergi dari negara ini. Kita harus kabur sebelum polisi menangkap kita," Protes Reyhan yang tak mau mendekam di penjara seumur hidup.
"Mau kabur kemanapun pasti polisi menemukan kita, Rey. Kita sudah kalah terima saja soal itu. Anggap saja ini hukuman bagi kita yang telah melenyapkan, papahnya Michelson."
Tukas Jason lirih karena khawatir pembicaraannya di dengar orang lain.
Reyhan sama sekali tak percaya jika papahnya akan menyerah begitu saja.
"Pah, bukannya papah yang mengatakan sendiri jika kita bisa menyingkirkan, Tante Berta. Pasti kita akan lolos dari jerat polisi. Kenapa papah menyerah seperti ini? sebaiknya kita bergegas mencari dimana saat ini, Tante Berta di sembunyikan oleh Rose."
"Jika perlu, kita juga cari kembali dimana keberadaan Paman Mike dan anak buah papah yang berhasil di tawan oleh, Rose. Jangan hanya pasrah seperti ini, pah. Perang baru di mulai papah sudah mundur dulu. Masa kalah hanya dengan wanita seperti, Rose."
"Gampang banget kamu berkata, kamu pikir mudah melumpuhkan wanita seperti, Rose? jika memang gampang, coba kamu yang sekarang melakukan semuanya. Kamu saja melumpuhkan perusahaan, Michelson sampai detik ini belum bisa kan? apa lagi untuk menghadapi wanita cerdik seperti, Rose."
"Padahal Michelson mudah di perdaya, tapi kamu masih belum bisa memperdayainya. Ini karena kamu terlalu lamban dan kebodohanmu mebihi, Michelson!"
Reyhan malah mendapat omelan dari Jason. Dia pun tak mau di rendahkan begitu saja. Dia menerima tantangan dari papahnya.
"Baiklah, pah. Aku yang akan menjalankan semua misi ini. Aku yang akan mencari tahu keberadaan, Tante Berta dan Paman Mike serta anak buah papah yang di tawan oleh, Rose. Lihat saja, pah. Aku akan buktikan pada papah jika aku tak sebodoh yang papah pikir selama ini. Justru aku bertindak penuh dengan kehati-hatian dan penuh dengan perhitungan!"
Jason hanya mencibir perkataan anaknya tersebut, karena dia sudah hapal dengan sikap dan perilaku anaknya seperti apa.
"Hem, coba saja kamu lakukan. Semoga saja kamu bisa membuktikan bualanmu itu!"
Jason berlalu keluar dari ruang kerjanya. Dia tak memperdulikan adanya Reyhan. Dia sedang bingung bagaimana caranya menyingkirkan, Rose. Karena sejujurnya dia tak ingin masuk penjara.
"Apa aku coba saja dengan menangkap Siska dan ibunya ya. Aku sandera mereka dengan jaminan supaya Rose membebaskan anak buahku dan menyerahkan Paman Mike serta Berta?"
"Sebaiknya aku coba saja cara ini. Aku tidak yakin Rose tidak peduli dengan keselamatan ibu dan adiknya. Mungkin saja dia hanya menggertakku saja."
Akhirnya Jason mencoba caranya sendiri yakni menyandera Siska dan mamahnya. Saat itu juga, Jason memerintah anak buahnya untuk menyandera Siska dan mamahnya.
Jason lekas menelpon beberapa anak buahnya untuk mendatangi rumah Siska malam itu juga.
********
Malam menjelang, anak buah Jason datang seperti maling ke rumah Siska. Mereka langsung saja menyergap Siska dan mamahnya.
"Hey, kalian ini siapa? dan kalian mau bawa kami kemana?" teriak Siska mulai ketakutan saat dirinya dan mamahnya di seret paksa oleh segerombolan orang yang tak di kenal dan memakai kain penutup.
"Sudah tak usah banyak tanya!kalian diam saja kalau tak ingin nyawa kalian melayang!" ancam salah satu anak buah Jason.
Mereka membawa Siska dan mamahnya ke suatu tempat yakni sebuah rumah kosong. Dengan keduanya di tutup matanya memakai kain hitam serta tangan mereka di ikat pula.
"Siska, bagaimana ini? mamah takut sekali, mamah tak ingin mati sia-sia karena mamah belum bisa mewujudkan keinginan jadi orang kaya," rengeknya ketakutan.
"Mah, sudah tak usah berisik. Nanti malah mereka marah kira cepat dihabisi oleh mereka," bisik Siska lirih.
Mendengar bisikan dari Siska, mamahnya pun kini terdiam. Dia takut apa yang Siska katakan akan menjadi kenyataan.
Sementara Jason tersenyum riang, dia pikir rencananya akan berhasil begitu saja.