
Michelson terpesona dan tersihir oleh penampilan, Rose. Wanita itu begitu cantik dan menawan, rambutnya yang panjang di gulung ke atas hingga memperlihatkan leher putih jenjangnya.
"Kalau melihat penampilanmu seperti ini, aku jadi ingin mengurungmu di kamar saja, mom." Michelson meraih pinggang istrinya dan berbisik di telinganya.
"Hem, Daddy mulai dech otak mesumnya keluar. Dasar bayi besarku yang mesum."
Rose mencubit pinggang suaminya hingga pria tersebut berjinggat merasakan sakitnya yang sesaat.
"Sakit, mom. Katanya lagi nggak mau mencubit atau memukulku hari ini. Tapi kenapa aku di cubit juga hari ini?" Protes Michelson mengerucutkan bibirnya kesal. Sementara Rose hanya tersenyum tipis.
"Sudah jangan protes, ayok kita berangkat sekarang. Dede bayi sudah lapar. dari tadi sudah minta makan. Rose menarik tangan Michelson keluar dari kamarnya menuruni tangga yang menghubungkan lantai kamar itu dengan ruang tamu.
"Mau kemana kalian?" tanya Paman Mike.
"Kami akan keluar sebentar, Paman. Ingin sejenak makan malam di luar. Paman tetap di dalam rumah saja ya, jangan kemana-kemana," pesan Michelson.
"Baiklah, Tuan Muda. Kalian berdua yang hati-hati ya, karena musuh masih berkeliaran di luar sana," pesan Paman Mike.
"Baiklah, Paman." Serentak Michelson dan Rose menjawab.
Sejak adanya Paman Mike dan Tuan Rangga, rumah Michelson di jaga ketat. Bahkan Jason maupun Reyhan tidak di izinkan datang ke rumah dengan Michelson memberikan alasan yang macam-macam.
Setelah masuk ke dalam mobil, Roy segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran mewah yang sudah siap reservasi untuk makan malam bersama dengan istri tercintanya.
Sepanjang perjalanan mereka lalui dengan diam tak ada sama sekali obrolan diantara keduanya hingga akhirnya mereka sampai pada tempat tujuan mereka.
"Ayo turun, mom. "
Ucap Michelson setelah keluar lebih dulu dari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya .
Rose turun berjalan beriringan bersama Michelson setelah menutup pintu mobil itu terlebih dahulu. Sementara Roy langsung melajukan mobilnya lagi menuju ke tempat parkiran mobil.
"Daddy, apakah kita makan di sini?" tanya Rose yang masih setia menggandeng tangan Michelson.
"Iya, mom. Aku harap kamu menyukainya."
Michelson mengecup kening istrinya di depan umum.
"Daddy, kenapa menciumku di depan umum? Rose protes seakan tak suka dengan hal itu.
"Memangnya kenapa, mom? biasanya aku juga langsung menciummu dan kamu tak masalah akan hal itu. "
Michelson merasa heran pada istrinya.
"Tapi tak di depan umum seperti ini juga, Daddy. Apa kamu tak lihat para pengunjung tadi memperhatikan kita." Oceh Rose seraya menatap Michelson dengan penuh kesal.
"Maaf, mom. Aku tak bisa menahannya untuk tidak menciummu karena kamu begitu cantik malam ini." Puji Michelson yang berhasil membuat pipi Rose bersemu merah.
"Dasar mulut buaya, manis sekali jika sudah berkata," gumam Rose di dalam hatinya.
Tak lama mereka pun sampai di atap gedung restoran yang sudah di sulap menjadi tempat makan malam yang romantis dengan beberapa kain putih dan juga lampu-lampu kecil yang cukup terang dan berkelas kelip.
Mata Rose melebar melihat pemandangan indah itu, baru pertama kali dalam hidupnya ada pria yang memberinya kejutan seindah dan seromantis itu.
"Mom, apa kamu suka?" bisik Michelson di telinga, Rose.
Rose mengalihkan pandangannya pada suaminya, wanita itu perlahan menyunggingkan senyumnya dan perlahan mengangguk pelan. Tanda bahwa ia menyukai kejutan manis yang Michelson siapkan untuk dirinya.
"Ayok kita duduk di sana."
Ajak Michelson menarik pergelangan tangan istrinya menuju sebuah meja bulat yang sudah di hiasi lilin dan bunga mawar tersebut.
"Ini sangat indah, terima kasih sudah menyiapkan makan malam seindah ini," ucap Rose di iringi lagu yang saat ini tengah di mainkan oleh pemusik yang berada di atap gedung tersebut.
"Sama-sama, mom. Aku senang jika kamu senang. Aku sungguh mencintaimu, jangan pernah meninggalkanku ya sayang."
Ucap Michelson seraya mengusap pipi mulus Rose dengan perlahan dan penuh kasih sayang.
"Aku juga mencintaimu, Daddy."
Pria tersebut meraih kotak di saku celananya kemudian ia menyerahkan kotak tersebut kehadapan Rose.
"Apa ini?" tanya Rose menatap kotak beludru itu dengan pandangan berkerut.
"Dulu aku tak memilihkan cincin pernikahan kita dengan benar, aku memilihnya dengan asal karena saat itu pernikahan kita di adakan secara mendadak hingga tak ada persiapan sebelumnya."
"Tetapi sekarang aku akan memberikan cincin pernikahan yang lain untuk menggantikan cincin pernikahan kita itu."
"Aku memilihnya dengan sepenuh hati , dan aku harap kamu menyukainya."
Ucap Michelson membuat Rose terdiam sejenak.
"Mommy, kenapa kamu diam? aku minta maaf ya, selama kamu menjadi istriku aku baru kali ini menyempatkan waktu untuk makan malam seperti ini. Aku terlalu di sibukkan dengan urusan kantorku."
Michelson meraih jemari tangan Rose.
"Daddy, aku sama sekali tak mempermasalahkan hal ini. Bagiku perhatian dan kesetiaanmu selama ini sudah cukup bagiku. Kamu adalah suami yang sangat tanggung jawab."
Rose menatap lekat manik hitam Michelson.
"Aku akan menerima ini tapi aku tak bisa memakainya?"
Ucapan Rose membuat Michelson menatap tajam dirinya. Pria tersebut tak terima dengan jawaban dari, Rose.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tak mau memakainya karena ini pasti sangat mahal. Di lihat dari desain juga berlian di tengahnya ini sudah menggambarkan jika cincin ini sangat mahal."
"Tak usah takut, uang bukan masalah bagiku. Pakailah..jika hilang kita beli yang baru lagi." Tukas Michelson.
Seketika Rose menepuk jidatnya sendiri mendengar perkataan suaminya. Bagaimana tak tepuk jidat, jika pria dihadapannya itu
begitu menganggap remeh uang yang ia miliki.
Meski ia tahu uang itu tak akan habis sampai tujuh turunan atau bahkan lebih tapi tetap saja Rose tak suka jika suaminya terlalu menghambur-hamburkan uangnya sembarangan.
"Astaga, semudah itu kamu bilang jika hilang tinggal beli lagi. Dari pada kamu menghamburkan uangmu seperti itu lebih baik kamu gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat."
Rose menasehati suaminya.
Michelson tak menjawab atau membantah perkataan istirnya. Justru ia menarik telapak tangan Rose hingga membuat si pemilik tangan terkejut dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu.
"Daddy, kamu mau apa?" Rose melotot pada suaminya.
Michelson tak menjawab, ia melepaskan cincin pernikahan di jari manis Rose dan menggantinya dengan cincin yang baru.
"Mommy, aku hanya ingin memasangkan cincin di jarimu bukan untuk macam-macam jadi jangan melotot seperti itu. Masa kita sedang dinner romantis kamu malah melotot dan memarahiku sih?"
Michelson terkekeh pelan melihat raut wajah Rose yang begitu tegang.
"Daddy, aku kan sudah bilang akan menyimpannya tetapi kenapa kamu memasangkannya?"
Rose akan melepaskan cincin pernikahan itu, tetapi Michelson melarangnya.
"Jangan membantah..oke kali ini saja apa kamu tak ingin menuruti permintaan suami tercintamu ini?"
Michelson menyunggingkan senyum seraya menaik turunkan alisnya.
"Sudahlah jangan senyum terus nanti bibirmu pegal, lebih baik kita makan terus pulang. Aku sungguh lelah hari ini."
Tukas Rose yang sudah merasa sangat lapar.
"Baiklah tuan putri."
Ucap Michelson setuju.
Merekapun makan dengan tenang tanpa ada sepatah kata lagi.