Wonder woman

Wonder woman
Masuknya Sherly Di Dalam Butik, Rose



Seperti biasa, pagi menjelang. Rose di sibukkan dengan kegiatannya di dapur. Walaupun telah ada banyak asisten rumah tangga, akan tetapi dia tak pernah mengandalkan mereka untuk memasak.


Rose selalu menyempatkan memasak untuk suaminya di sela kesibukannya sebagai seorang pengusaha garmen dan perancang busana.


"Pagi, sayang."


Michelson mengecuo cuping telinga dan leher Rose dari arah belakang.


"Pagi juga suamiku tersayang."


"Mom, kamu masak apa pagi ini. Baunya wangi sekali hingga ke kamar."


Michaelson terus saja memeluk Rose dari arah belakang.


"Gombal banget dech, Daddy. Jarak dari dapur ke kamar kan lumayan jauh. Dady, tidur lagi saja. Ini masih terlalu pagi, loh."


"Nggak ah, jika kamunya susah bangun untuk apa aku tidur lagi?"


"Daddy, malu tuh dilihat si bibi."


"Biarin saja, biar bibi pada iri. Dan meminta seperti ini pada para suaminya. Iya kan, bi."


Dua asisten rumah tangga yang bertugas di dapur hanya saling melempar senyum satu sama lain melihat tingkah majikannya tersebut.


Mereka sudah sangat paham dengan sikap, Michelson pada saat belum beristri. Dia terkenal dengan sikap dingin dan arogant.


Tapi sejak di rumah ada, Rose. Michelson berubah menjadi seorang pria yang ramah, suka bercanda dan tak gampang marah.


Kehadiran Rose di mension memberi dampak positif bagi semua orang yang ada di dalam mension tersebut.


"Bi, tolong nitip masakan ini. Tinggal lima menit atau sepuluh menit lagi matang."


"Daddy, yuk aku siapin keperluan untuk ke kantor."


"Ok, mommy."


Michelson merangkul Rose dengan penuh cinta.


Hal ini sempat membuat iri para asisten rumah tangga yang melihatnya. Di mension Michelson bukan cuma ada satu atau dua asisten rumah tangga. Akan tetapi ada beberapa orang, hingga suasana di mension begitu rame.


Dengan penuh kesabaran, Rose menyiapkan semua yang di butuhkan suaminya. Dari untuk mandi sampai pakaian untuk ke kantor.


"Mommy, terima kasih ya, sudah mengurus segala kebutuhan yang di perlukan untukku."


"Daddy, ini sudah kewajiban seorang istri untuk melakukan semua itu. Jadi tak perlu mengucap terima kasih segala. Justru aku yang minta maaf, karena sampai hari ini belum memberikan momongan padamu."


"Mommy, kamu itu nggak salah. Jika Allah telah berkehendak pasti kita akan cepat di beri momongan. Jika Allah belum mempercayakan pada kita, ya sampai sekarang belum di beri."


"Sabar saja, sayang. Aku percaya kok, pasti kita akan segera di beri momongan. Lagi pula aku tak pernah mempermasalahkan akan hal ini."


"Ada dan tidaknya seorang anak, aku akan selalu menyayangimu dan mencintaimu selamanya."


Rose sangat bersyukur mendengar apa yang di katakan oleh suaminya. Dia sangat beruntung mempunyai suami yang sangat bijaksana.


Michelson seorang pria yang kaya raya, tetapi dia tidak sombong ataupun angkuh terhadap dirinya.


Michaelson juga tidak seperti pria kaya lainnya yang suka bermain wanita atau berfoya-foya. Jika dia sudah selesai urusan kantor, dia langsung pulang ke rumah.


Bahkan jika Rose belum sampai di rumah, dia tak sungkan menyambangi butik atau pabrik garmen milik Rose, hanya untuk bertemu dengan istrinya.


Tak sungkan pula menunggu Rose hingga selesai pekerjaannya supaya bisa pulang bersama-sama.


"Mommy, masak apaan tadi? sepertinya harum masakannya sangatlah menggoda selera."


"Yuk, kita sarapan bareng. Aku juga akan ke butik agak pagi, karena ada beberapa pelanggan ingin memesan ribuan seragam."


Setelah selesai mandi, Rose mengajak suaminya untuk sarapan bersama.


Mereka tak pernah melewatkan makan bersama, dari sarapan, makan siang, atau pun makan malam.


Benar-benar pasangan serasi dan selalu romantis. Di sela kesibukan keduanya sebagai pengusaha, mereka selalu menyempatkan bertemu di jam makan siang.


Tidak pernah ada yang mengeluh, jika dalam kondisi sesibuk apapun. Mereka akan menghentikan aktifitas demi untuk makan siang bersama.


Keharmonisan dan keromantisan sepasang sejoli ini tak lantas membuat semua orang suka. Banyak sekali yang iri dan dengki pada mereka berdua.


Terutama Michelle dan putri dari Tuan Diego yang bernama Sherly.


"Pah, aku sebaiknya ke butik, Rose atau ke mension, Mickelson?"


"Sebaiknya kamu ke butiknya saja, jika ke rumah di khawatirkan, Michelson masih ada di rumah."


Sherly akan melancarkan aksinya guna menyingkirkan Rose secara halus dari sisi, Michelson.


Beberapa jam kemudian, Sherly telah sampai di butik milik, Rose.


"Selamat pagi, Nona Rose."


"Panggil aku, Rose saja."


"Siapa namamu? sepertinya kita seumuran."


"Namaku, Sherly. Saya datang kemari ingin melamar kerja, Nona Rose. Nggak enak saya dengan karyawati yang lain jika memanggil dengan sebutan nama saja."


Sejenak Rose memeriksa CV milik Sherly. Dan dia tanpa ada rasa curiga menerima Sherly bekerja di butiknya. Bahkan tanpa ragu, dia memberikan jabatan kepada Sherly sebagai wakil dirinya atau asisten pribadi di butik tersebut.


"Jika kamu bersedia hari ini juga bekerja di sini sebagai asisten pribadi saya. Karena kebetulan butik yang saya handle tidak cuma satu."


"Jadi jika saya sedang ada keperluan dengan butik yang lain, kamu yang menghandle dan mengurus butik ini."


Mendengar akan hal itu, hati Sherly sangat senang.


"Terasa gampang sekali aku masuk ke butik ini. Aku yakin akan gampang juga jika aku menyingkirkan, Rose dari sisi Michelson," batinnya tertawa riang.


"Waduh, terima kasih Nona Rose. Saya merasa tersanjung dan terhormat dengan jabatan yang anda berikan pada saya."


"Tak usah sungkan, Sherly. Saya memberikan pekerjaan ini karena melihat dari CV yang kamu ajukan jadi tidak sembarangan."


Rose segera menjelaskan pada Sherly tentang apa saja yang harus di kerjakan olehnya.


"Bagaimana, kamu sudah paham atau belum? jika ada yang perlu di tanyakan, katakan saja tak perlu ragu."


"Tidak ada, Nona Rose. Saya rasa semuanya sudah cukup jelas bagi saya."


"Ya sudah kalau begitu, kamunikut saya ke ruang kerjamu."


Saat itu juga Rose bangkit dan diikuti oleh Sherly menuju ke ruang kerja khusus untuk dirinya.


"Ini ruang kerjamu, semoga kamu nyaman dan kerasan kerja di sini. Kamu bisa memulai hari ini dengan mempelajari semua proposal yang ada di mejamu. Semua memang sengaja aku persiapkan terlebih dahulu."


Sherly hanya mengangguk pekan dan masuk ke ruang kerjanya. Seperginya Rose, dia membuka semua berkas yang ada di mejanya.


"Huh, apa ini? sebenarnya aku paling males jika di hadapkan dengan pekerjaan yang sangat membosankan seperti ini."


"Semua aku lakukan demi rasa cintaku pada, Michelson. Jika tidak, aku takkan sudi."


Sherly menggerutu seraya membuka-buka berkas yang ada di meja kerjanya.


Sementara Rose sedang beralih ke butik cabang yang lain. Kegiatan rutin setiap pagi, mengecek ketiga butik miliknya secara bergantian.