
Rose begitu kesal melihat garmennya di makan si jago merah. Bahkan dia sama sekali tak bisa masuk ke dalam garmen karena apinya terlalu besar.
Setelah apinya tak begitu besar, Rose memanggil salah satu anak buah kepercayaan di garmen tersebut.
"Erik, bagaimana semua ini bisa terjadi? jam berapa kebakaran ini terjadi?" tanya Rose menatap tajam anak buahnya.
"Tadi pagi, Nona Rose. Tepatnya jam tujuh pagi, tapi saya belum sempat melaporkannya pada anda. Saya pikir saya lebih penting menyelamatkan berkas-berkas yang ada di garmen." Erik tertunduk ketakutan.
"Lantas awal mulanya bagaimana, sampai terjadi kebakaran?"
"Entahlah, nona. Tiba-tiba api datang begitu saja dari arah ruang utama garmen. Menurut salah satu pemadam kebakaran, ini karena konsleting listrik. Arus pendek katanya," tukas Erik.
"Hem, tidak mungkin! Garmen ini berdiri sudah cukup lama. Baru kali initejadi hal seperti ini, pasti ini unsur kesengajaan yang di lakukan oleh seseorang tapi kalian tidak tahu! apa ada orang asing diam-diam masuk?" tanya Rose menyelidik.
"Seingat saya tidak ada, nona. Bukannya sekitar jam tujuh garmen masih di tutup. Di bukanya juga sekitar jam delapan pagi." Tukas Erik.
"Coba panggilksn security-nya untuk kemari!" pinta Rose.
Tak berapa lama Erik datang membawa dua security yang bertugas di malam itu hingga pagi.
"Bagaimana sih tugas kalian, masa ada hal seperti ini tidak tahu? seharusnya kalian bisa mendeteksi sebelum sampai terjadi kebakaran ini!' Rose sangat kesal.
'Maaf, nona. Ini juga di luar kendali kami, entah kenapa semalam kami sangat mengantuk dan kami tertidur pulas. Hingga kami sadar jam tujuh api sudah membakar garmen," Jawab salah satu security seraya tertunduk ketakutan.
"Astaga, aku bayar kalian bukan untuk tidur! tapi bekerja, dan ada waktunya sendiri untuk kalian berdua tidur!" Rose semakin tak bisa mengendalikan emosinya.
"Ma-maafkan kami, nona. Kami siap menemani hukuman atas keteledoran kami. Jika kami harus di pecat juga nggak apa-apa," tukas salah satu security.
"Enak sekali kamu mengatakan hal itu! seperti tidak ada rasa tanggung jawabnya sama sekali! sudahlah pefilsh kalian, bantu yang lainnya membersihkan puing-puing bekas kebakaran. Dan cari sesuatu yang kira-kira masih bisa di selamatkan!" pinta Rose.
Dia tak tega jika harus memecat dia security tersebut. Rose menghela napas panjang dan memijit pelipisnya yang mendadak pusing lagi.
"Nona, coba cek CCTV. Siapa tahu ada petunjuk yang bisa kita ambil untuk menangkap pelaku kebakaran ini," saran dari Celine.
"Oh iya, kenapa aku tidak terpikirkan dari tadi." Rose langsung meraih ponselnya untuk mengecek rekaman CCTV di garmen.
Sejenak dia terdiam, ternyata dugaannya benar jika ada yang membakar garmennya.
"Sialan, siapa mereka ini. Hem, pantas saja dua security tertidur pulas karena di minuman mereka di bubuhi sesuatu. Sayang sekali wajah mereka tertutup masker dan topi, sehingga tidak bisa untuk kita cari petunjuknya lagi," ucap Rose geram.
"Dengan begini aku tak bisa menyelidiki lebih lanjut orang yang ada di balik semua ini! sialan sekali, satu aset berhargaku terbakar habis seperti ini!" Rose terus saja mengomel karena kesal.
Sementara di suatu tempat, seseorang yang telah melakukan aksi tersebut tertawa terbahak-bahak karena usahanya telah berhasil.
"Hhaaa, kerja yang sangat sempurna. Hanya dalam waktu sekejap saja garmen, Rose terbakar hebat. Ini satu pembalasan dariku atas kematian mamahku! tunggu, Rose. Aku akan melakukan hal keji lainnya padamu, sampai kamu benar-benar tak punya usaha lagi! dan aku juga akan membuatmu kehangan janin di dalam kandunganmu itu!" ucapnya senang.
"Paman, terima kasih telah membantu usahaku membakar garmen milik, Rose."
"Sama-sama, kamu kan keponakan Paman. Anak dari kakak kandung ku, aku juga nggak rela Merry mati mengenaskan karena ulah, Rose. Aku akan selalu membantumu." Tukas Paman Sam.
"Langkah selanjutnya apa, Paman?" tanya Siska penasaran.
"Kita jangan langsung beraksi dulu, supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Kita tunggu beberapa Minggu, setelah kasus kebakaran ini sudah hilang barulsh kita lanjutkan aksi kita lagi."
"Jika kita langsung beraksi lagi, pasti saat ini Rose sudah berjaga-jaga dan waspada. Kita tunggu hingga dia lengah lagi, baru kita beraksi lagi," tukas Paman Sam.
"Ya sudah, terserah Paman saja. Yang terpenting aku saat ini sangat puas karena Rose pasti alami kerugian besar karena garmennya terbakar," Siska menyeringai puas.
"Paman, apa kiranya kita bisa bantu Reyhan dan papahnya kabur dari penjara. Supaya kita bertambah kekuatan?" tanya Siska.
"Untuk apa membantu mereka yang tak punya apa-apa lagi. Semua harta mereka sudah di ambil alih oleh, Michelson. Seharusnya kamu mencari pria kaya ya g merupakan musuh, Michelson. Pasti dia punya banyak saingan bisnis. Kita bisa meminta dukungan dari beberapa saingan bisnisnya supaya kita lebih mudah menghancurkan, Rose dan suaminya." Tukas Paman Sam.
Siska sangat setuju dengan saran pamannya dan dia pun mulai beraksi mencari tahu siapa saja pesaing bisnis, Michelson. Dia benar-benar ingin melihat kehancuran di alami oleh, Michelson dan Rose.
Berita kebakaran garmen milik Rose sempat terdengar ke telinga Michelson. Dia pun lekas meninggalkan kantornya dan meminta Roy melajukan mobilnya ke arah garmen.
Hanya beberapa menit saja, Michelson sudah ada di pelataran garmen yang kini sudah tinggal arang dan puing-puing saja.
"Astaga, mommy. Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Michelson terperangah heran menatap garmen sudah rata.
"Entahlah, Daddy. Yang jelas ini ulah orang yang tak suka padaku, tapi entah siapa."
"Apa mungkin Siska atau Sherly?" Michelson mengira-ngira.
"Sepertinya mereka tak mungkin bisa melakukan hal seperti ini, Daddy. Aku kenal betul bagaimana, Siska. Dia itu gadis manja dan penakut. Dia hanya bisa menggoda pria," tukas Rose.
"Dia tak bisa melakukan sendiri, tapi kan dia bisa memerintah orang?"
"Tapi dia tak punya uang, Daddy. Jika memerintah orang kan pasti tidak gratis harus bayar. Lantas dari mana dia dapat uang?" Rose masih saja belum percaya jika Siska di balik semua itu.
"Hem, dia kan punya seorang paman. Apa kamu melupakan hal itu?"
Entah kenapa Michelson sangat curiga pada, Siska.
"Paman Sam maksud, Daddy? dia itu juga tak punya apa-apa, karena waktu itu saja pernah meminta aku untuk memberinya pekerjaan padanya. Mana mungkin dia punya uang?" Rose masih saja tak percaya jika dalang di balik semua itu Siska dan Paman Sam.
Tetapi Michelson tetap saja berpendapat jika yang melakukan pembakaran garmen adalah Siska di bantu oleh Paman Sam.