Wonder woman

Wonder woman
Curiga Yang Tak Jelas



Tak terasa sudah pagi lagi, dan kebetulan hari ini adalah hari libur kerja.


Sejenak hidung Rose mencium aroma masakan yang sangat wangi dan menggoda selera makannya. Rose pun terbangun dari tidurnya, dia melangkah ke luar kamar.


Rose berjalan ke arah dapur dan bau masakan itu semakin tercium hidungnya. Dia bergegas menuju ke dapur dan di sana ternyata ada Michelson sudah bangun lebih dulu dan tengah memasak makanan untuknya.


"Kamu bangun lebih dulu kenapa tidak membangunkanku, Daddy?" tanya Rose yang kini sudah duduk di meja dapur memperhatikan Michelson yang tengah menunjukkan keahlian memasaknya di hadapan, Rose.


"Aku tidak akan tega membangunkanmu sayang, di rumah nyenyak sekali. Tunggu sebentar ya sayang sebentar lagi sarapan akan siap," Michaelson segera menyelesaikan masakan.


"Drt dr drt "


Sebuah pesan masuk ke dalam layar ponsel Mickelson yang tak jauh dari tempat di mana Rose duduk. Rose melirik sepintas ke layar ponsel tersebut karena penasaran dengan siapa yang mengirim pesan sepagi itu ke ponsel, Michelson.


Namun Rose tak melihat ada sebuah nama kontak di nomor ponsel tersebut, hingga dia semakin penasaran ingin sekali tahu apa isi pesan yang dikirim oleh nomor ponsel yang tidak tepat di ponsel Michelson.


Rasa cemburu dan tak enak hati seketika menyerang dirinya. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi otaknya. Dia ingin membuka chat pesan tersebut tetapi dia tak tahu kode untuk membuka ponsel Michelson. Hingga ras curiga mulai tertanam di benak Rose.


"Silahkan di makan Tuan Putri."


Michelson menyuguhkan makanan yang di buatnya ke hadapan Rose, namun Rose acuh. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari dapur tersebut.


Michelson yang memperhatikan hal tersebutpun merasa heran, ia segera menyusul Rose keluar dari dapur.


"Sayang, ada apa? kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Michelson yang berhasil meraih tangan Rose di depan pintu dapur.


"Aku mau ke kamar untuk siap-siap ke kantor," ucap Rose dingin.


Michelson semakin tak mengerti dengan sikap dingin istrinya tersebut.


"Mommy, kenapa sih kamu marah ya sama aku? karena apa, aku punya salah apakah padamu?" tanya Michelson dengan dahi berkerut karena tak tahu apa yang telah ia lakukan hingga membuat Rose marah terhadap dirinya.


"Kamu pikir sendiri apa salahmu, Daddy. Apa karena aku sudah tak cantik lagi dan aku terlihat gemuk sekali seperti ini hingga kamu berbuat seperti itu," ucap Risee menepis cekalan tangan suaminya dan dia melenggang ke arah kamar dan menutupnya begitu saja.


"Mommy, tolong buka pintunya. Jika kamu tak katakan apa salahku, aku tidak akan tahu. Ayok sayang buka dulu pintunya baru setelah itu kamu jelaskan padaku tentang kesalahanku padamu sehingga aku tahu," bujuk rayu Michelson di balik pintu kamar.


Karena tak ingin seisi rumah merasa terganggu dengan teriakan Michelson akhirnya Rose melangkah dan membukakan pintu kamarnya untuk suaminya.


"Masuk tinggal masuk lagi pula aku tidak kunci pintunya. Nggak usah teriak-teriak apa nggak bisa, malu tahu jika mamah sampai tahu," omel Rose yang masih kesal dengan suaminya.


Ia kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya di ikuti oleh suaminya.


"Maaf..." ucap Michelson lirih seraya memeluk Rose dari arah belakang.


"Awaslah, aku tak sudi di peluk olehmu yang suka berbohong!" Rose menepis pelukan dari Michelson.


"Aku tak peduli, aku akan tetap seperti ini hingga kamu katakan apa sebenarnya kesalahan aku padamu," ucap Michelson seraya mencium tengkuk leher Rose.


Rose hanya diam, ia tengah berusaha meredam emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun.


"Aku minta maaf jika kamu mengatakan aku ini telah bohong padamu, tetapi aku sendiri juga bingung, aku bohong perihal apa? ayohlah sayang katakan jangan seperti ini. Jika kamu tak mau berkata, akan sampai kapan kamu marah padaku," bujuk Michelson.


"Hem baiklah, siapa yang suka mengirimkan chat pesan sepagi ini pada ponselmu? bahkan kamu sengaja ya tak memberi nama nomor ponsel itu supaya tidak terbongkar olehku?" tanya Rose pada akhirnya.


"Pesan?" Michelson mengerutkan dahinya semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan dari Rose.


"Ambil ponselmu dan lihatlah ada pesan masuk. Tadi aku sempat lihat ada pesan masuk tapi pengirimnya nomor ponsel tak terdaftar di ponselmu. Pada saat aku akan buka ponselmu tak bisa karena harus memakai kode."


"Kamu juga sengaja ponsel di beri kode, supaya aku tak bisa membukanya kan?"


Setelah Michelson mengetahui apa yang membuat istrinya marah, dia pun mengambil ponsel yang tertinggal di dapur beserta makanannya juga.


Dan di hadapan Rose dia memberi tahu kode masuk ke ponselnya. Dan tak lupa dia membuka chat pesan masuk yang sempat membuat Rose cemburu.


"Apa nomor ponsel ini yang membuat kamu cemburu? lihatlah isi pesannya supaya kamu tahu, dan tak cemburu lagi."


[Maaf Tuan Michelson, saya mengirim pesan sepagi ini. Saya Rika. Barusan saya kirim pesan ke nomor ponsel, Nona Rose tetapi tidak aktif. Saya hanya ingin memberi tahukan pada anda, supaya anda menyampaikan pada Nona Rose. Jika pagi ini ada jadwal meeting dengan tiga perusahaan tersohor. Terima kasih.]


Setelah Rose membacanya, dia hanya tertunduk malu.


"Ciye-ciye yang cemburu buta," goda Michelson.


"Daddy aku tak mau kehilangan mu lagi. Kita dekat tetapi terasa jauh karena saat itu kamu koma begitu lama. Jauh dwumu membuat hstindan fisikku terluka. Tapi aku bisa bertahan karena anak-anak ini," ucap Rose mengusap perutnya yang begitu besar.


"Setiap malam aku tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan kapan kamu akan segera sadar dari koma. Dan kadang pikiran ini letih hingga sempat berpikiran negatif."


"Tetapi selalu saja ada suatu dorongan di hari seperti ada yang memberi semangat dengan mengatakan jika kamu akan baik-baik saja."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rose, hati Michelson merasa terharu. Dia begitu setianya pada dirinya.


"Sayang, terima kasih ya. Kamu sudah begitu sabar, tegar, dan setia menemaniku bahkan di kala aku sedang sakit begitu lama. Kamu masih setia mendampingi diriku," Michelson memeluk tubuh Rose.


Dia tak menggoda istrinya kenapa menjadi cemburu hanya karena ada satu chat pesan masuk dengan nomor ponsel yang tak terdaftar di ponselnya.


"Daddy, aku minta maaf ya. Aku telah salah paham dengan berprasangka buruk padamu. Aku pikir tadi itu chat pesan dari seorang wanita idamanmu yang lain," ucap Rose tertunduk lesu.


"Hem, memang itu tadi chai pesan dari seorang wanita tapi dia itu sekretaris pribadimu bukan? dan hanya kamu saja yang selalu menjadi nomor satu dan nomor terakhir untuk hidupku."