Wonder woman

Wonder woman
Lolos Dari Bahaya



Michelson sangat geram, dengan ulah pria yang menabrak dirinya.


"Sialan, seharusnya aku sudah bisa mendapatkan bukti kejahatan Sherly. Supaya Rose tak selalu percaya padanya! gara-gara pria itu, gagal sudah rencanaku ke laboratorium!"


Terus saja, Michelson menggerutu sepanjang perjalanan pulang ke butik Rose. Sesampainya di butik, Michelson pasang wajah murung dan tatapan tak suka pada, Sherly.


"Daddy, ada apa? kenapa cepat pulang, apakah sudah di periksa di lab?"


"Boro-boro di periksa, pada saat aku keluar dari mobil tiba-tiba ada seorang pria menabrak aku hingga gelas terjatuh dan pecah! aku yakin orang ini ada hubungannya dengan, Sherly. Dia di bayar supaya menggagalkan rencanaku!"


"Daddy, sudahlah. Jangan terus marah-marah itu nggak baik buat kesehatanmu."


"Ya, mom. Terima kasih nasehatnya."


Rose memberikan segelas air putih supaya Michelson agak reda emosinya. Sementara saat ini Sherly bisa bernapas lega, tetapi dia sama sekali tak berani keluar dari ruangannya karena di luar ada, Michelson.


"Michelson, aku melakukan ini karena aku sayang padamu dan ingin memiliki dirimu seutuhnya. Tetapi kamu menolaknya, makanya aku gunakan cara licik seperti ini. Tapi sayangnya kamu menggagalkan usahaku ini."


Dari balik hordeng, Sherly menatap wajah Michelson yang sedang murung sembari melamun. Tak sengaja Michelson menoleh ke arah hordeng dan Sherly lekas menyingkir.


"Hem, mau apa Sherly mengamati diriku? apa dia ingin merencanakan hal buruk lagi?"


"Coba saja tadi aku bisa buktikan kejahatannya, pasti istriku sudah memecatnya!"


Michelson terus saja menggerutu menatap ke arah hordeng dengan luapan api amarah.


"Daddy, bagaimana kalau hari ini kita makan di luar tetapi yang suasana asri, adem. Seperti di puncak gunung."


"Hem, bolehlah sayang. Aku tahu maksudmu supaya pikiran aku juga adem kan?"


"Heee, Daddy pintar dech."


Sejenak Rose menyelesaikan urusan butik terlebih dahulu, setelah itu mengajak pergi suaminya. Kali ini Michelson sendiri yang mengemudikan mobilnya.


Hanya beberapa menit saja telah sampai di sebuah puncak gunung yang suasana sejuk dingin menyegarkan pikiran dan menenangkan hati.


"Segar banget ya, mom. Kamu pintar juga menyarankan kita kesini, membuat amarahku luluh lantak bagaikan tersiram air es pegunungan."


Michelson tertawa terkekeh membuat Rose ikut pula terkekeh.


"Nah, kalau seperti ini kan aku suka denganmu Daddy. Tetapi kalau seperti tadi aku malah takut padamu, Daddy."


Michelson hanya menyunggingkan senyum seraya menggaruk tengkuk yang tak gatal. Dia tak dapat berkata lagi, karena memang dia barusan terbawa emosi.


Rose pintar membuat suaminya mereda emosinya, hingga tak sampai berlarut-larut. Mereka segera memesan makanan dan minuman sambil menikmati udara yang berhembus dari puncak gunung yang membuat dingin tulang.


Rose sengaja mengajak ke tempat tersebut agak lama, supaya suaminya benar-benar mereda emosinya dan melupakan kekesalannya.


Hingga dua jam berlalu, barulah Rose mengajak pulang suaminya. Kini suasana hati, Michelson sudah stabil dan tak emosi lagi.


Michelson melanjutkan niatnya untuk pergi ke kantor walaupun waktu sudah siang.


"Sayang, ingat segala pesan aku ya? jangan makan atau minum dari pemberian orang. Intinya makanlah yang benar-benar kamu bslawa sendiri dari rumah."


"Siap, Tuanku raja. Hamba akan menjalankan titah dari Baginda raja," goda Rose terkekeh.


Kini mereka berpisah, Rose di butik dan Michelson di kantor. Seperginya Michelson barulah, Sherly berani berkutat di luar ruang kerjanya.


"Sherly, kenapa dari tadi kamu di dalam ruangan saja? apa karena ada suamiku di sini?"


"Jujur saja iya, Nona Rose. Saya takut sekali dengan suami anda."


"Aneh, seharusnya kamu tak perlu takut jika memang kamu tak melakukan kejahatan seperti yang di tuduhkan oleh suamiku. Lantas kenapa pula kamu tiba-tiba ingin membuatkan susu hamil untukku?"


"Hem, sudahlah. Maaf aku membahas hal ini lagi. Tolong kamu handle dengan benar butik ini, karena aku akan mengecek garmen."


"Baiklah, nona. Hati-hati di jalan."


Tanpa sepengetahuan, Rose. Kembali lagi Sherly telah merencanakan hal buruk untuk, Rose. Dia diam-diam menelpon anak buahnya untuk menghabisi Rose yang dalam perjalanan menuju ke garmen.


"Aku yakin kali ini usahaku akan berhasil," Sherly menyeringai licik.


Sementara, Michelson merasa hatinya tak tenang. Tiba-tiba dia memikirkan kondisi, Rose dan janin nya. Dia pun memutuskan untuk menelpon, Rose hanya ingin mengetahui kabarnya saja.


"Sayang, kamu sedang ada dimana?"


"Aku sedang dalam perjalanan ke garmen, Daddy. Ada hal penting yang harus aku urus di garmen."


"Dengan siapa kamu pergi?"


"Aku pergi sendiri saja, Daddy."


"Aduh, lain kali kamu jangan pergi sendiri. Apa kamu lupa kejadian tadi, aku sangat yakin susu itu mengandung racun. Dan aku takut, Sherly akan melakukan hal jahat lainnya padamu."


"Daddy, tak usah terlalu khawatir denganku. Percaya saja aku akan baik-baik saja."


Akan tetapi, laju mobil baru seperempat jalan terpaksa harus terhenti. Mobil Rose dihadang oleh beberapa pengendara sepeda motor.


"Sayang, ada apa? apa ada masalah?"


"I-iya, da-daddy. Aku di kepung sekawanan pengendara motor di jalan Q, bisa tolong aku Daddy."


Setelah itu tiba-tiba ponsel Rose terjatuh, dia akan melanjutkan obrolannya dengan Michelson sudah tak bisa.


"Tok tok tok " buka cepat!"


"Heh, Nona! buka atau aku rusak mobil mahalmu ini!"


Teriakan para pengendara motor tersebut bisa terdengar oleh Michelson karena sambungan telepon masih tersambung sedangkan ponsel terjatuh.


Rose semakin ketakutan karena tidak ada satupun orang yang menolong dia. Karena saat ini, Rose berada di sebuah jalan raya yang sangat sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor.


"Benar kan, apa yang aku takutkan terjadi. Saat ini istriku dalam bahaya."


Michelson langsung menugasi beberapa anak buahnya untuk datang ke lokasi guna menolong, Rose. Dia juga tak tinggal diam ikut pula datang ke lokasi.


Semuanya melajukan kendaraannya dengan laju cepat supaya lekas sampai. Sementara kaca mobil yang di tumpangi Rose sudah mulai di pecahkan oleh para pengendara motor tersebut. Sementara Rose tetap bertahan di dalam mobilnya.


"Heh, dasar banci kalian! beraninya dengan perempuan, dan keroyokan pula! sini kalau berani satu lawan satu!" tantang salah satu anak buah Michelson yang telah datang di lokasi.


Melihat begitu banyak anak buah suaminya, Rose sudah bisa bernapas lega. Apa lagi dia juga sempat melihat kedatangan suaminya.


Rose baru berani membuka pintu mobilnya karena ada, Michelson. Dia langsung berhambu ke pelukan Michelson.


"Aku takut, Daddy."


"Sudahlah, mom. Tak perlu takut lagi, sekarang kamu ikut pakai mobil aku saja. Tolong jangan ceroboh lagi dengan pergi sendiri tanpa ada satu pengawal pun!"


"Tolong dengarkan aku ya, mom. Selalu bawa pengawal kalau perlu kemanapun."


"Lah, berarti jika aku ke toilet juga di bawa pengawalnya?"


Michelson hanya bisa menepuk jidatnya sendiri."


Para pengendara motor tidak berani melawan para anak buah, Michelson. Mereka lari kalang kabut dengan sepeda motor nya.